Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 140 - Li Hua


__ADS_3


[Li Hua] [ Sumber Pinterest]


____


Ling Zhen menghisap manis dan indahnya kelembaban yang ada dicelah kerapatan paha Li Hua. Walaupun sudah menggebu-gebu, Ling Zhen ingin memberikan pengalaman terindah untuk Li Hua.


Nafas Li Hua terengah-engah, tidak teratur dan kacau. Perlakuan Ling Zhen membuat badan Li Hua menggeliat-geliat tak karuan, akhirnya Ling Zhen kembali memposisikan miliknya tepat diujung sesuatu yang basah dan cukup lembab itu.


“Sssshhhh... Zhen‘gege, pelan!” Li Hua terbelalak saat melihat ujung milik Ling Zhen bertemu dengan miliknya. Suara ludah terdengar bersamaan dengan Ling Zhen yang menggesekkan tubuhnya.


“Hua‘er, tahan sayang...” Ling Zhen mencium singkat bibir Li Hua, jarinya menjentik menciptakan formasi penyegelan kedap suara bersamaan dengan tombak panjang yang menguak pintu gerbang tersegel.


“Akhh! Sakit!” Refleks Li Hua menjerit keras. Beruntung Ling Zhen telah membuat ruangan kamar ini menjadi kedap suara sehingga suara teriakan Li Hua tidak akan terdengar Li Jingshan ataupun Li Rong.


“Uuuhhh!” Ling Zhen melenguh nikmat. Dia memandang wajah Li Hua yang terlihat menahan rasa sakit.


“Zhen‘gege! Sakit! Hiks, sakit!” Li Hua menangis saat Ling Zhen membenamkan tubuhnya lebih dalam membuatnya merasakan penuh sesak saat tubuhnya terasa seperti tidak ada celah atau ruang yang tersisa.


Ling Zhen sudah lembut melakukannya, namun memang milik Li Hua terlalu indah dan sempit menerima dirinya. Terlihat disana ada darah segar yang membasahi tombak yang menembus gerbang rapat.


“Hua‘er, maaf sayang.” Ling Zhen mencium bibir Li Hua saat melihat wajah istrinya itu meringis kesakitan dan menangis, “Sepertinya kita terlalu cepat memulainya, sayang.”


Li Hua memegang lengan Ling Zhen dan menggelengkan kepalanya, “Zhen‘gege, bimbing aku dan bawa aku terbang, suamiku.”


Kedua paha Li Hua melebar, gadis itu menyentuh pipi Ling Zhen dan tersenyum manis sambil menyeka air matanya, “Kamu sudah mengambil mahkotaku, jadi bertanggungjawab lah.”

__ADS_1


Ling Zhen tersenyum kemudian dia menggerakkan tubuhnya secara perlahan. Ling Zhen merasakan sensasi kenikmatan yang berbeda saat melakukannya bersama Li Hua. Miliknya dibelai lembut dan diremas erat, cengkeraman kuat itu membuat Ling Zhen menggerakkan tubuhnya dengan pelan walaupun sulit untuk masuk lebih dalam.


Li Hua berulang kali menjerit dan mengerang, sedangkan Ling Zhen sedang berusaha untuk melakukannya selembut mungkin. Setelah memastikan miliknya masuk kebagian terdalam Li Hua, Ling Zhen diam sejenak.


“Ugh!” Li Hua mengatur nafasnya dan menatap wajah Ling Zhen yang memandangnya penuh makna sayang. Li Hua bisa merasakan milik Ling Zhen sangat keras dan besar memasuki tubuhnya.


Matanya yang sayu terbelalak saat mengetahui milik Ling Zhen tidak bisa masuk sepenuhnya, namun miliknya sudah benar-benar penuh.


“Sssshhh...” Desisan lemah Li Hua terdengar saat Ling Zhen menariknya.


“Hnggghhh, Akh!” Pekikan Li Hua terdengar saat Ling Zhen kembali membenamkannya.


Ling Zhen menarik pelan kemudian mendorongnya. Setelah dilihat Li Hua mulai terbiasa dan melakukan penerimaan ramah, akhirnya Ling Zhen menaikkan tempo hentakannya hingga ranjang tempat keduanya bergulat berderit keras.


Hanya dua gerakan itu yang dilakukan Ling Zhen, semakin bersemangat dirinya menikmati kegiatan ini dan semakin basah dan merdu teriakan Li Hua menerima tubuh Ling Zhen.


Ling Zhen tersenyum dan membawa Li Hua terbang hingga keduanya melupakan waktu dan segala permasalahan yang ada. Ling Zhen dan Li Hua terus mengerang dan mendesahh bersahut-sahutan.


Hingga akhirnya Ling Zhen memompa tubuhnya lebih cepat dan menghentakkan tubuhnya sedalam mungkin. Tubuhnya menindih tubuh Li Hua yang terngkurap.


“Haaaakk!” Li Hua memekik saat mencapai pelepasan yang entah keberapa kali bersamaan dengan Ling Zhen yang telah melepaskannya perasaannya didalam sana.


“Hua‘er, terimakasih sayang.” Ling Zhen masih mendiamkan miliknya didalam sana menikmati sensasi belaian lembut milik Li Hua.


Li Hua menjawab dengan suara tidak beraturan dan gumaman tidak jelas. Rumit perasaan Li Hua saat mengetahui dirinya bukan lagi seorang perawan.


“Hua‘er, aku ingin lagi...” Ling Zhen ingin menghentikan kegiatan ini, namun saat dirinya hendak melepaskan penyatuan, tiba-tiba masalah kehidupan tentang Ling Fanmin muncul.

__ADS_1


“Bantu aku melupakan kebenaran ini.”


Ling Zhen menggerakkan tubuhnya dengan lembut. Li Hua hanya diam dan membiarkan Ling Zhen berbuat semaunya pada tubuhnya.


Hingga tak lama Li Hua mendesis, “Ssshhh.... Zhen‘gege sudah... Aku lelah...”


Ling Zhen menghentakkan tubuhnya dengan kuat sebelum akhirnya melepaskan penyatuan. Li Hua terkejut milik Ling Zhen masih tegak berdiri menantang jurang yang telah lelah.


“Tidurlah, Hua‘er. Terimakasih.” Ling Zhen tidak memaksa.


Li Hua merasa tidak enak dan mengambil inisiatif. Tangannya memegang sesuatu yang keras, kokoh dan tegak. Matanya rumit menatap telapak tangannya karena menggenggam sesuatu yang lebih besar dari genggaman telapak tangannya.


“Hua‘er?” Ling Zhen bingung namun sensasi kelembutan telapak tangan Li Hua membuatnya mengambil inisiatif untuk membimbing Li Hua memanjakan dirinya.


Li Hua mengikuti arahan Ling Zhen. Kepalanya menunduk dan dengan penuh keraguan Li Hua mulai mencoba melakukannya. Awalnya Li Hua tersedak beberapa kali bahkan merasa mual, namun akhirnya Li Hua terbiasa saat Ling Zhen mengelus kepalanya dan memanggil namanya penuh makna sayang.


Ling Zhen memegang belakang kepala Li Hua, berniat menekannya namun dia tidak tega sehingga Ling Zhen menarik kepala Li Hua dan merebahkan tubuh istrinya itu lalu dari samping Ling Zhen menyatukan tubuhnya.


“Akh!” Li Hua memekik saat tubuhnya merasakan penuh sesak. Hanya beberapa gerakan saja Ling Zhen sudah melepaskan erangan dan memeluk tubuh Li Hua erat.


“Hua‘er, aku ingin kamu menerimanya.” Ling Zhen mengelus perut Li Hua dan tersenyum.


Li Hua mengangguk lemas karena dirinya mengetahui Ling Zhen melepaskannya didalam berulang kali.


‘Apa aku akan hamil?’ Li Hua tersenyum saat memikirkan itu, ‘Tetapi aku tidak dalam masa subur sekarang...’


Keduanya terdiam dalam hening dengan suara nafas tidak beraturan. Ling Zhen dan Li Hua tenggelam dalam perasaan masing-masing sebelum akhirnya keduanya tertidur pulas setelah kegiatan malam pertama mereka.

__ADS_1


__ADS_2