Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 142 - Melupakan Masalah


__ADS_3

Di Ibukota Jiayang, disalah satu kediaman mewah terlihat seorang wanita paruh baya diperkosa oleh petinggi Aliansi Bulan Darah.


“Inikah rasanya menikmati wanita terakhir dari keluarga Yuan?” Sosok Hei Yuan menyeringai lebar dan terus menghentakkan tubuhnya secara kasar.


“Tidak pernah bosan kita melakukan ini! Sebagai ganti kami tidak melukai Jia Ruan, kau harus melayani kami setiap hari Yuan Ruyun! Jangan memasang wajah lemas sialan!” Sekarang Situ Tang yang mengambil giliran.


Wanita paruh baya itu hanya pasrah dan berharap semua ini berakhir, ‘Tolong akhiri penderitaan ini Dewa!’ Wanita paruh baya itu memilih mati dibandingkan harus merasakan semua ini, sementara diatas tubuhnya penuh akan peluh keringat para petinggi Aliansi Bulan Darah setelah selesai menikmati keindahan tubuhnya.


____


“Menurut Hua‘er, seluruh kota bangsawan telah binasa. Para bedebah hanya menyisakan perempuan dan istri dari kepala keluarga. Situasi di Kekaisaran Jia sudah diambang batas. Aku harus melakukan sesuatu.” Ling Zhen terbang dengan kecepatan tinggi menuju Ibukota Jiayang.


Bagi Ling Zhen yang sekarang jarak antara Kota Limeng dan Ibukota Jiayang tidaklah terlalu jauh. Setelah terbang selama dua hari penuh akhirnya Ling Zhen melihat Ibukota Jiayang.


Ibukota Jiayang memang dalam proses pembangunan akibat pertempuran melawan Sekte Pemuja Iblis satu tahun yang lalu, terlebih dirinya terlibat. Namun sekarang Ibukota Jiayang nampak sangat kacau.


Hanya beberapa bangunan milik Aliansi Bulan Darah saja yang megah. Ling Zhen menyelinap masuk dengan cepat, kemudian dia berjalan mengelilingi Ibukota Jiayang mencari informasi. Saat dia sampai didekat Istana Jia, terlihat beberapa pendekar mengelilingi wanita berumur tiga puluhan tahun keatas.


“Jadi dia yang bernama Gong Ning? Beraninya kau melarikan diri saat Kaisar Jia Bao hendak melakukan pelelangan pada tubuhmu!” Salah satu pendekar hendak menampar wanita itu, segera Ling Zhen menahannya.


“Kau terlalu kasar pada seorang perempuan.” Ling Zhen menatap dingin seluruh pendekar yang mengelilingi wanita itu.


“Kau! Kau siapa?!” Pendekar yang dicengkeram erat tangannya oleh Ling Zhen meronta saat mengetahui Ling Zhen mematahkan tangannya.


“Kalian akan mati disini...” Ling Zhen sudah bergerak dengan kecepatan tinggi menghabisi satu demi satu pendekar Aliansi Bulan Darah.


Mata wanita dewasa itu melebar melihat aksi Ling Zhen terlebih saat Ling Zhen membawa tubuhnya dengan cepat meninggalkan Istana Jia.


“Lepaskan aku! Aku tidak ingin tubuhku disentuh laki-laki!” Wanita itu meronta. Ling Zhen mendarat disebuah gang sempit dan menurunkan tubuh wanita itu.


“Apa kau tidak sadar jika tindakanmu akan membuat gempar?! Petinggi Aliansi Bulan Darah akan memburumu setelah ini!” Wanita itu justru memarahi Ling Zhen bukannya berterimakasih.


“Tenang saja, aku akan membunuh mereka semua.” Enteng Ling Zhen menjawab membuat wanita itu memarahinya.


“Cukup. Kita tidak saling mengenal dan kau memarahi orang yang menyelamatkanmu. Aku akan pergi dan setelah ini jangan biarkan dirimu terjebak dalam situasi tadi, Nyonya.” Ling Zhen berpamitan dan hendak pergi namun tangannya ditahan.


“Apa kau tidak mendengar ucapanku, Nyonya?!” Ling Zhen menatap tajam wanita itu. Postur tubuhnya serta sisi keibuannya mirip sekali dengan Ling Fanmin dan Qian Yu. Mengingat itu membuat pikiran Ling Zhen kacau.


“Terimakasih...” ucap wanita itu malu-malu.


“Aku mendengar besok akan ada diadakan lelang di Rumah Golok Perawan. Aku ingin mencari penginapan untuk mengumpulkan informasi.” Ling Zhen menghempaskan pegangan tangan wanita itu.


“Pelelangan? Apa tujuanmu kesana?!” Wanita itu sekarang menatap Ling Zhen curiga.

__ADS_1


“Aku tidak memiliki hak untuk memberitahumu.” Ling Zhen tegas menjawab. Lagipula dia tidak ingin terlibat dengan wanita berumur saat dirinya tidak bisa menerima kenyataan masalah hidupnya.


“Aku memiliki informasi untukmu sebagai orang yang melarikan diri dari Rumah Golok Darah. Aku akan memberitahumu tetapi kau harus berjanji padaku akan membawa Ruan‘er, tidak Tuan Putri apapun yang terjadi!” Wanita itu tiba-tiba kembali lagi mencengkeram erat telapak tangan Ling Zhen.


“Ruan‘er? Tuan Putri? Tunggu, bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Ling Zhen mengerutkan keningnya.


“Hmmm...” Wanita itu justru heran mengapa Ling Zhen terlihat seperti orang yang mengenal sosok Tuan Putri.


“Apa kau mengikuti pelelangan untuk membawa Tuan Putri Jia Ruan?” Wanita itu bertanya, Ling Zhen menganggukkan kepalanya pelan.


“Baiklah, sebaiknya kau membawaku ke penginapan. Aku akan menjelaskan semuanya disana.” Wanita itu tersenyum untuk sesaat dan menatap Ling Zhen tajam.


Ling Zhen menggaruk kepalanya dan segera berjalan menuju Penginapan Bulan Madu. Nama penginapan ini membuat Ling Zhen dan wanita itu terlihat mengerutkan keningnya.


“Sepertinya Nyonya sepemikiran denganku.” Ling Zhen tertawa pelan saat melihat ekspresi wanita itu.


“Hei, kau harus memanggilku Bibi Ning atau Bibi Gong. Namaku Gong Ning, aku adalah pengasuh Tuan Putri Jia Ruan.” Wanita itu memperkenalkan dirinya. Umur Gong Ning adalah tiga puluh dua tahun.


“Maaf Bibi Ning, aku sempat berperilaku lancang. Izinkan aku memperkenalkan diri.” Dengan sopan Ling Zhen memperkenalkan dirinya dan mengatakan dirinya berumur sembilan belas tahun.


“Umurmu kurang lebih sama seperti Tuan Putri. Bagaimana aku memanggilmu?” Gong Ning nampak akrab setelah Ling Zhen memperkenalkan namanya.


“Terserahmu, Nyonya.”


Ling dan Gong Ning saling menatao satu sama lain sebelum akhirnya keduanya memesan kamar. Terlebih sisa kamar di Penginapan Bulan Madu hanya menyisakan satu. Ling Zhen dan Gong Ning berbagi kamar.


“Anak muda, bisakah kau ceritakan padaku bagaimana dirimu mengenal Tuan Putri?” Gong Ning bertanya sambil duduk ditepi ranjang.


Ling Zhen menutup pintu kamar dan berdiri didepan jendela sambil memperhatikan suasana sore di Ibukota Jiayang.


“Aku mengenal Tuan Putri Jia setelah diriku keluar dari Pegunungan Longxue...” Ling Zhen menceritakan semuanya karena Gong Ning merupakan pengasuh Jia Ruan. Lagipula Ling Zhen tidak mendeteksi keanehan aura yang menandakan Gong Ning akan membocorkan identitasnya atau menipunya.


Setelah Ling Zhen menyelesaikan ceritanya, sontak saja Gong Ning berdiri. Gong Ning menatap rumit Ling Zhen sebelum membuka suara.


“Jadi kau orang yang setahun lalu menyelamatkan Ibukota Jiayang? Terlebih kau merupakan pemuda yang selama ini dicari Tuan Putri.” Gong Ning masih tidak percaya.


Ling Zhen mengusap wajahnya dan berjalan menuju kamar mandi mengabaikan Gong Ning yang masih tidak percaya dengan ceritanya.


‘Dia memiliki kemampuan yang tinggi dan baik... Aku sempat kasar padanya... Apa dia marah padaku?’ Gong Ning melihat Ling Zhen yang menutup pintu kamar mandi dan tak lama terdengar suara guyuran air.


Tak beberapa lama Ling Zhen keluar dan sudah berpakaian. Ling Zhen mempersilahkan Gong Ning untuk mandi. Gong Ning menuruti perkataannya, sedangkan Ling Zhen keluar mencari makanan.


“Wanita itu...” Ling Zhen tersenyum tipis mengingat Gong Ning. Kemudian dia membeli beberapa makanan pedas dan manis sebelum kembali ke penginapan.

__ADS_1


Apa yang menantinya didalam kamar adalah tubuh Gong Ning yang hanya dililit kain putih tipis.


“Tidak!” Gong Ning menjerit karena kaget mendengar suara pintu tiba-tiba terbuka.


Ling Zhen keluar kamar dan menunggu Gong Ning selesai berpakaian. Tak lama terdengar suara Gong Ning dari balik pintu.


“Aku sudah selesai.” Segera Ling Zhen masuk kedalam kamar dan menyiapkan hidangan.


“Sebaiknya kita mengisi tenaga kita sebelum membicarakan tentang Rumah Golok Perawan, Nyonya.” Ling Zhen mengajak Gong Ning makan malam bersama.


“Ah, kau masih memanggilku Nyonya.” Gong Ning menghela nafas panjang dan duduk disamping Ling Zhen.


Keduanya mulai menyantap makanan yang dibeli Ling Zhen. Gong Ning menyukai makanan pedas sama seperti Ling Zhen sehingga makanan manis yang dibeli Ling Zhen masih tersisa.


“Terimakasih karena telah menyelamatkanku dan memberiku makan.” Gong Ning menceritakan bahwa dirinya belum makan selama seminggu ini karena dikurung didalam penjara bawah tanah Rumah Golok Perawan.


Ling Zhen memejamkan matanya dan masih menikmati makanan manis.


Tangan Gong Ning menyentuh tangan Ling Zhen. Wanita itu kembali berkata, “Apa kau marah padaku karena saat pertama aku tidak berterimakasih padamu dan memarahimu?”


Gong Ning kembali menceritakan karena dirinya bermimpi ingin mempunyai seorang anak, dia selalu memarahi Jia Ruan jika gadis itu melakukan kecerobohan. Marahnya Gong Ning adalah tanda kasih sayang, itu yang dikatakan Gong Ning kepada Ling Zhen dan membuat Ling Zhen membuka matanya serta tersenyum.


“Tanda kasih sayang? Apa kau sayang padaku, Nyonya?” Ling Zhen bertanya.


“Itu...” Gong Ning kesulitan menjawab.


“Aku belum mengenalmu terlalu jauh. Dimataku kau sama seperti Tuan Putri.” Gong Ning menambahkan.


“Aku mengerti. Aku menyelamatkanmu karena kebetulan, Nyonya jadi tidak usah diambil pusing.” Tidak ada ucapan lain dari Ling Zhen selain itu.


“Tidak, bagimu itu sebuah kebetulan tetapi bagiku itu sangat berarti. Kau mungkin tidak mengetahuinya, tetapi aku selalu berharap ada orang yang menyelamatkanku dan Tuan Putri. Katakan padaku bagaimana aku harus berterimakasih padamu?” Gong Ning menatap wajah Ling Zhen dari dekat.


‘Ini terlalu dekat...’ Ling Zhen memperhatikan wajah Gong Ning. Bibir tipis alami berwarna merah muda itu merekah.


Tanpa sadar Ling Zhen mendekatkan kepalanya dan memejamkan matanya. Melihat Ling Zhen hendak menciumnya, Gong ikut memejamkan matanya.


Namun setelah beberapa detik tidak ada tanda-tanda Ling Zhen akan menciumnya. Pemuda itu membuka matanya begitu juga dengan dirinya.


“Nyonya, maaf karena aku hendak melampiaskan masalahku padamu.” Ling Zhen tidak ingin tenggelam dalam masalah hidupnya. Saat dirinya hendak menjauh, Gong Ning justru menciumnya. Mata Ling Zhen melebar untuk sesaat sebelum akhirnya dia terpejam dan membalas tindakan Gong Ning.


Gong Ning mengerti apa yang diinginkan Ling Zhen. Jika dengan pria lain, Gong Ning akan menolaknya tetapi entah mengapa berada didekat Ling Zhen membuat kewanitaan Gong Ning bangkit. Walaupun statusnya janda tetapi Gong Ning adalah seorang perawan karena beberapa jam setelah pernikahannya, kudeta yang dilakukan Kaisar Jia Bao menewaskan suaminya.


Sekarang Gong Ning membiarkan tubuhnya dijamah pria yang lebih muda tiga belas tahun darinya. Tangan Gong Ning memegang wajah Ling Zhen, sedangkan Ling Zhen memeluk pinggang ramping Gong Ning dan mulai meraba punggungnya.

__ADS_1


“Emmmhhsss...” Suara kedua insan yang dimabuk cinta lupa akan status mereka mulai saling menindih. Ling Zhen berada diatas, sedangkan Gong Ning berbaring pasrah jika Ling Zhen akan mengambil mahkotanya malam ini.


__ADS_2