
Setelah Chu Xiulan menusuk perutnya, Ling Zhen masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Chu Xiulan pada dirinya.
Racun teh hangat buatan Chu Xiulan sebenarnya tidak mempan terhadap dirinya, namun tusukan pisau Chu Xiulan hampir merenggut nyawanya.
Tetapi Chu Xiulan seperti sengaja tidak menusuk bagian vital perutnya. Ling Zhen menyadari itu sehingga dia bertanya-tanya tentang maksud dari tindakan Chu Xiulan.
Sekarang dirinya terdampar dipinggiran sungai diluar Ibukota Chudong. Sambil mengobati luka sebisa yang dia lakukan, Ling Zhen memusatkan seluruh tenaga dalamnya tepat diperutnya yang tertusuk pisau.
Setelah menunggu kedatangan Rubah Putih, akhirnya Ling Zhen mengetahui alasan mengapa Chu Xiulan menusuk perutnya dan berniat membunuhnya.
Rubah Putih menjelaskan rencana busuk Penasehat Xiong yang berniat menguasai Kekaisaran Chu. Dan yang mengejutkan adalah identitas Penasehat Xiong yang merupakan Patriark Bendera Iblis Hitam.
Sementara itu Lei Wei yang menjabat sebagai Komandan Pasukan Awan Merah merupakan pemimpin Klan Dewi Malam. Tujuan Klan Dewi Malam adalah mengambil Pusaka Dewa yakni Tombak Langit yang ada di Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
Selain itu kedua kelompok ini memiliki hubungan dengan Sekte Pemuja Iblis. Rubah Putih berasumsi jika kekacauan di Ibukota Chudong akan lebih parah dari yang dia perkirakan.
“Apa menurutmu akan banyak korban berjatuhan?” Ling Zhen bertanya. Jujur dia membenci jika pertarungan antar pendekar membuat penduduk tak bersalah harus kehilangan nyawanya.
‘Menurutku bahkan seluruh Ibukota Chudong akan mengalami pergejolakan yang hebat. Bocah manusia, kau tidak bisa menyelamatkan semua nyawa, tetapi setidaknya kau bisa menyelamatkan beberapa nyawa. Aku hanya tidak ingin kau menyalahkan dirimu atas ketidakmampuanmu itu.’ Rubah Putih menambahkan jika Ling Zhen terlalu tergesa-gesa memikirkan balas dendam hingga tidak menyadari banyak musuh yang lebih kuat dari dirinya diluar sana.
‘Jurus Dewa yang kau pelajari juga belum sempurna, dua perempuan itu adalah orang yang tepat untuk jawabanmu itu.’ Rubah Putih menambahkan.
Ling Zhen memegang perutnya dan menatap luka yang kian menutup karena dirinya memusatkan seluruh tenaga dalam untuk menutupi luka selama dua hari ini.
Setelah mengetahui rencana Penasehat Xiong dan Lei Wei, segera Ling Zhen terbang menuju Ibukota Chudong dengan kecepatan tinggi.
Rubah Putih yang berada dikepala Ling Zhen menjelaskan jika tidak ada kesempatan untuk Ling Zhen menyelamatkan semuanya.
“Aku akan menggunakan Tanda Mata Dewa..." Ling Zhen menanggapi penjelasan Rubah Putih.
‘Kau bisa saja lumpuh dan akan menjadi cacat seumur hidupmu, bocah manusia.’ Rubah Putih menggelengkan kepalanya karena bagaimanapun Tanda Mata Dewa sangat tidak efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan dalam waktu singkat.
‘Tetapi, kau bisa mengatasi semua itu jika dirimu lumpuh, bocah manusia.’ Rubah Putih kembali menjelaskan kepada Ling Zhen jika melakukan hubungan badan dengan pemilik Badan Perawan Suci, maka Ling Zhen titik meridian dalam tubuh Ling Zhen akan kembali terbuka jika pemuda itu lumpuh akibat menggunakan Tanda Mata Dewa secara berlebihan.
‘Selain itu perempuan bernama Yue Rou memiliki Tubuh Dewi Perang. Kau harus bersyukur bocah manusia karena diberkati perempuan yang mencintaimu dengan tulus, walau mereka tidak sadar dengan perasaan itu.’ Kembali Rubah Putih menambahkan.
Ling Zhen mengangkat alisnya mendengar ucapan Rubah Putih dan bergerak menuju Istana Chu, “Sejak kapan kau menjadi seperti ini, Rubah Putih?”
__ADS_1
‘Sejak aku diam-diam memperhatikan perempuan bernama Yue Rou...’ Rubah Putih menjawab singkat.
“Sebenarnya apa yang kau dengar dari Senior Yue...” Ling Zhen mendarat didepan Istana Chu namun suasana disana benar-benar sangat sepi, “Tidak ada penjaga dan suasananya sangat sepi. Bukankah ini mencurigakan?”
Ling Zhen berjalan memasuki Istana Chu dan samar-samar dia merasakan aura tubuh Yue Rou tidak tenang. Segera Ling Zhen bergerak cepat masuk kedalam ruangan pribadi Yue Rou.
“Tidak!”
Seketika Ling Zhen mendengar suara jeritan Yue Rou dan suaranya terdengar dari arah kamar perempuan itu. Raut wajah Ling Zhen menjadi dingin dan dalam satu kali tendangan, pintu kamar Yue Rou hancur berkeping-keping.
Disana terlihat Yue Rou meronta saat tubuhnya ditindih seorang pria, segera Ling Zhen mengeluarkan Rantai Raja Neraka dari Ruang Raja dan melilitkan rantai itu ke tubuh pria yang menindih Yue Rou.
“Beraninya kau menyentuh wanitaku, sialan!” Ling Zhen menatap dingin pria yang tak lain adalah Lei Wei.
Nafsu Lei Wei sudah berada di ubun-ubun namun Ling Zhen menggagalkan aksinya. Terlebih pakaian bagian bawahnya masih terpasang dengan rapi walau sesuatu dalam tubuhnya meronta-ronta.
“Keparat! Beraninya kau masuk tanpa permisi!” Lei Wei berusaha melepaskan diri dari lilitan Rantai Raja Neraka.
“Kau yang tidak punya sopan santun, keparat! Menyentuh wanita orang lain dan berniat merusaknya, aku tidak akan membiarkannya!” Ling Zhen menarik Rantai Raja Neraka kearahnya sebelum memberikan pukulan yang dilapisi api dari tangan kanannya ke wajah Lei Wei.
Pukulan Ling Zhen terus berlanjut dan mengincar wajah Lei Wei. Tatapan Ling Zhen begitu murka setelah mengetahui Yue Rou hampir diperkosa oleh Lei Wei.
“Aku tidak akan membiarkan rencanamu berjalan sesuai rencana!” Ling Zhen menendang kepala Lei Wei. Tentu dia tidak akan membiarkan rencana Penasehat Xiong dan Lei Wei berjalan sesuai rencana, karena bagaimanapun Chu Xiulan dan Yue Rou adalah dua perempuan yang memiliki tempat dihati Ling Zhen.
“Kau!” Lei Wei tidak percaya dalam sekejap Ling Zhen sudah memiliki kemampuan seorang Pendekar Langit Tahap Menengah.
Ling Zhen hendak membunuh Lei Wei, namun Yue Rou menahan tangannya.
“Biar aku yang membunuhnya!” Ucap Yue Rou kepada Ling Zhen. Setelah itu Yue Rou menarik kedua pedangnya yang sudah dialiri tenaga dalam berjumlah besar.
“Jurus Pedang Ganda - Gerhana Kehancuran!”
Yue Rou memotong-motong tubuh Lei Wei dengan sangat rapi setelah Ling Zhen menarik Rantai Raja Neraka kembali. Tubuh Lei Wei tertebas menjadi potongan-potongan kecil.
Ling Zhen segera memegang tangan Yue Rou dan memeluk perempuan itu, “Apa dia sudah melakukannya padamu?”
Tatapan Ling Zhen nanar terlihat jelas pemuda itu terbakar cemburu. Yue Rou menggelengkan kepalanya dan meneteskan air matanya.
__ADS_1
“Belum. Terimakasih karena kau datang tepat waktu, Zhenzhen-” Ling Zhen memegang dagu Yue Rou dan mengecup lembut bibir tipis perempuan itu.
Yue Rou melebar matanya untuk sesaat sebelum kedua matanya terpejam saat ciuman Ling Zhen semakin dalam menari-nari dalam rongga mulutnya, mengisap manisnya dan membuat pikiran Yue Rou melayang.
Ling Zhen melepaskan ciumannya dan tersenyum, “Maaf, aku hanya ingin menghisap seluruh efek perangsang dalam tubuhmu.”
Ling Zhen tersenyum menggoda melihat Yue Rou yang memerah wajahnya. Bagaimanapun barusan merupakan ciuman pertama Yue Rou, dan Ling Zhen telah merebutnya.
“Mari pergi, kita harus menyelamatkan Xiu‘er." Ling Zhen menarik tangan Yue Rou dan membawanya keluar Istana Chu.
Sebelum terbang, Yue Rou menahan tangan Ling Zhen yang hendak melepaskan genggaman tangannya.
“Xiu‘er? Apa hanya Ratu yang mendapatkan panggilan sayang itu, Zhen‘gege?” Baru pertama kali Yue Rou menunjukkan sisi manjanya kepada Ling Zhen.
Ling Zhen tersedak melihat raut wajah Yue Rou yang sempurna menggoda dirinya.
“Rou‘er, kau juga adalah wanitaku. Tidak peduli seberapa kuat dirimu dan jauh perbedaan umur diantara kita, aku ingin kau bergantung padaku.” Ling Zhen mengelus rambut Yue Rou sebelum melompat keatas.
Yue Rou berdetak kencang jantungnya mendengar ucapan Ling Zhen. Dia menatap Ling Zhen yang sudah terbang, segera dia menyusulnya.
Rubah Putih tersenyum sendiri melihat kejadian barusan, ‘Bocah manusia, aku tidak pernah mengajarimu merayu perempuan. Sepertinya kharisma ingatan Roh Dewa akan membuatmu memiliki banyak perempuan.’
Ling Zhen terkekeh pelan, “Aku tidak keberatan. Lagipula untuk seorang bangsawan banyak yang memiliki seorang istri dan selir. Selama mereka menerimaku, aku akan menerima semuanya.”
Rubah Putih tersedak mendengarnya saat melihat tatapan Ling Zhen yang sengaja mengeledeknya.
“Bercanda. Aku sendiri tidak terlalu memahami perasaan ini, tetapi bersama mereka...” Ling Zhen memejamkan matanya mengingat pertemuannya dengan Xue Lianhua, Que Mi, Li Hua, Ji Yanran, Yue Rou dan Chu Xiulan membuat dirinya merasa nyaman karena bagaimanapun dalam hatinya yang terdalam Ling Zhen merasakan kesepian dan membutuhkan kasih sayang.
“Aku merasa menemukan alasan hidupku.” Ling Zhen melanjutkan perkataannya dan tidak sadar Yue Rou berada disampingnya.
“Zhen‘gege, kenapa kau berbicara sendiri?” Yue Rou menatap Ling Zhen keheranan.
Ling Zhen masih belum terbiasa dengan panggilan baru Yue Rou pada dirinya, sehingga bagaimanapun suara lembut Yue Rou benar-benar menggetarkan hatinya.
“Tidak, aku hanya ingin mengucapkan padamu, karena aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu, Rou‘er.” Jawab Ling Zhen asal, namun ucapannya itu berhasil membuat Yue Rou salah tingkah.
Rubah Putih menggoyangkan ekornya pelan, ‘Bocah manusia, disana adalah kunci menuju Reruntuhan Kuno Dewi Malam. Kau akan menemukan sesuatu yang menarik disana.’
__ADS_1
Ling Zhen melihat tempat pemakaman yang luas. Tempat yang ditunjuk Rubah Putih tentu sangat aneh menurutnya, tetapi setelah melihat ada obor yang menyala di pemakaman menuju gua, Ling Zhen segera mendarat kesana disusul Yue Rou dari belakang.