
IW 154 - Pertemuan
Ling Zhen dan Jia Lun sedang membicarakan masa depan mereka. Ling Zhen sendiri tidak pernah berpikir sebelumnya jika dirinya akan menjadi seorang Kaisar Jia.
Sementara Jia Lun ingin menjadikan Ling Zhen sebagai seorang Kaisar Jia dengan keperkasaan pemuda itu. Kini keduanya akan menuju tempat keberadaan Jia Ruan.
Jia Lun menyembunyikan Jia Ruan di sebuah rumah sederhana yang ada di Ibukota Jiayang. Ling Zhen tidak pernah menyangka jika selama ini Jia Ruan baik-baik saja, dia mengira gadis itu akan hidup lebih menderita.
“Apa benar ini tempatnya?” Ling Zhen memandang sebuah bangunan sederhana yang dihuni kalangan menengah.
Jia Lun mengangguk lembut, “Benar, Zhen‘er. Kenapa tidak kau coba ketik pintunya?”
Jia Lun tersenyum hangat dan mulai mengetuk pintu rumah tersebut.
“Ruan‘er, ini Bibi Lun.”
Tidak ada sahutan dari dalam rumah selama dua detik sebelum akhirnya suara Jia Ruan terdengar dan membius Ling Zhen.
“Tunggu sebentar, Bibi Lun.”
Jia Ruan membuka pintu rumah dan menatap Jia Lun dengan ekspresi bahagia. Sedangkan Ling Zhen menatap jelas gadis cantik yang berdiri di hadapan Jia Lun.
Pandangan Jia Ruan dan Ling Zhen bertemu, Jia Ruan melebar matanya melihat wajah yang tidak asing itu.
“Kau-” Suara Jia Ruan tercekat dan segera dia menghamburkan tubuhnya kepelukan Ling Zhen.
“Maafkan aku! Selama ini aku ingin meminta maaf secara langsung padamu! Tetapi...” Jia Ruan meneteskan air matanya mengingat bagaimana perpisahannya dengan Ling Zhen yang sangatlah menyakitkan.
Ling Zhen mengusap air mata Jia Ruan dan tersenyum kecut, “Pasti sangat menyakitkan bukan? Maaf karena aku tidak ada, maaf karena aku tidak mengetahuinya...”
Jia Lun menjauh saat Ling Zhen dan Jia Ruan terlihat saling merasa bersalah. Keduanya saling memeluk tubuh satu sama lain melepaskan kerinduan dan semua perasaan yang terpendam dibenak masing-masing.
__ADS_1
‘Masa muda memang sangat indah...’ Jia Lun tersenyum sendiri melihat momen manis Ling Zhen dan Jia Ruan.
‘Aku jadi merasa bersalah karena telah melakukan itu dengan Zhen‘er...’ Sedikit perasaan bersalah hinggap di benak Jia Lun mengingat bagaimana dirinya Ling Zhen memadu cinta.
“Maaf Bibi Lun...” Jia Ruan menjadi malu karena melupakan Jia Lun disekitar mereka.
“Tidak apa, Ruan‘er. Sepertinya kau sangat merindukan Zhen‘er.” Jia Lun sengaja menggoda Jia Ruan membuat pipi gadis itu bersemu merah.
“Tidak, aku hanya...” Jia Ruan menjadi malu karena memang selama ini dirinya sangat merindukan Ling Zhen.
“Bibi Lun sendiri mengapa bisa mengenal dia?” Jia Ruan mengalihkan pembicaraan dan kini Jia Lun yang kebingungan.
Jia Lun tersedak dan sebisa mungkin tersenyum hangat, ‘Aku tidak bisa mengatakan kepada Ruan‘er jika diriku ini telah jatuh hati pada bocah nakal itu.’
“Bibi Lun?” Jia Ruan yang awalnya hendak mengalihkan pembicaraan justru menjadi curiga.
“Aku yang menyuruhnya memberitahu keberadaanmu. Kau sudah mendengar insiden baru-baru ini bukan? Selain itu aku memastikan keamanan Bibi Gong.” Ling Zhen memotong pembicaraan Jia Ruan dan Jia Lun.
Harus Jia Ruan akui, sekarang Ling Zhen memiliki paras yang rupawan dari yang dia ingat. Selain itu pemuda itu juga terlihat sangat bisa diandalkan. Karena seingat Jia Ruan sendiri sosok Jia Lun sangat membenci laki-laki bahkan Jia Lun pernah mengatakan jika dirinya tidak akan pernah jatuh cinta kepada laki-laki.
Tetapi sekarang Jia Ruan melihat bagaimana kedekatan Jia Lun dan Ling Zhen yang menimbulkan pertanyaan besar dalam benaknya.
“Mari masuk.” Jia Ruan terlihat cemberut dan langsung masuk kedalam rumah.
Jia Lun menatap Ling Zhen panik, “Bagaimana ini Zhen‘er?”
“Bibi Lun, kalian tidak memiliki hubungan sedarah bukan?” Ling Zhen bertanya dan Jia Lun menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu tidak masalah karena aku akan bertanggung jawab atas hidup kalian berdua. Aku akan menjelaskan kepadanya.” Ling Zhen tidak terganggu dan langsung masuk kedalam rumah Jia Ruan meninggalkan Jia Lun yang menganga mendengar ucapannya.
‘Aku senang, tetapi aku tidak pernah berpikir harus berbagi suami dengan Ruan‘er.’ Jia Lun memerah wajahnya saat melangkah memasuki rumah Jia Ruan.
__ADS_1
Jia Ruan menyiapkan teh dan cemilan, kemudian dia menatap Ling Zhen penuh makna dan harap.
“Ling Zhen, aku ingin kau jujur padaku. Ceritakan padaku semua tentang dirimu setelah kita berpisah.” Jia Ruan dengan penampilan Tuan Putri manja yang cemburu mendominasi. Ling Zhen tersenyum karena Jia Ruan masih sama seperti biasanya.
“Baiklah, Tuan Putri. Tetapi sebelum itu, aku ingin bertanya padamu.” Ling Zhen menatap lurus Jia Ruan saat Jia Lun duduk disampingnya.
“Silahkan bertanya.” Jia Ruan dengan ekspresi acuh menjawab.
“Ruan, apa kau memiliki perasaan khusus padaku? Jawab dengan jujur karena itu aku akan membuatku bahagia.” Ling Zhen menatap Jia Ruan penuh makna membuat gadis itu salah tingkah.
“Aku... Jangan salah paham-” Jia Ruan ingin menyangkal perasaannya, tetapi saat pandangan matanya bertemu dengan Ling Zhen, sekejap Jia Ruan terbius dan tidak dapat berkata apa-apa.
“Aku... Aku mencintaimu, Zhen. Sejak pertama kali kita bertemu. Tetapi aku mengkhianati perasaanku, melukaimu dan aku benar-benar membuatmu menderita saat itu.” Jia Ruan merasa lega setelah mengungkap perasaannya. Tetapi sekarang ekspresi wajahnya benar-benar merah padam.
“Kau membuatku mengatakannya! Kau juga harus menjawab dengan jujur tentang hubunganmu dengan Bibi Lun dan Bibi Gong!” Setelah berteriak, Jia Ruan memejamkan matanya dan menutup wajahnya yang merah padam menggunakan telapak tangannya.
“Sangat manis...” Jia Lun tersenyum sendiri melihat tingkah dan pengakuan Jia Ruan.
“Baiklah, aku akan menceritakan kisahku padamu. Ruan, aku berharap kau bisa menerima kondisiku karena sekarang aku bukanlah orang yang kau kenal. Aku telah memiliki seorang istri dan anak.” Ling Zhen mengatakan itu untuk melihat reaksi dan perasaan Jia Ruan.
Jia Ruan yang sedang meminum teh hangat secara terkejut menjatuhkan cangkirnya karena mendengar ucapan Ling Zhen.
“Istri... Anak...” Jia Ruan menelan ludah lalu menatap Jia Lun.
“Kamu salah paham Ruan‘er, aku... Bibi Lun belum resmi menjadi istri Zhen‘er-” Jia Lun tidak melanjutkan perkataannya karena keceplosan berbicara.
Jia Ruan menatap Ling Zhen penuh permusuhan, “Bisa jelaskan padaku?”
Ling Zhen tersenyum tipis karena melihat ekspresi pucat Jia Lun.
Ling Zhen mengangguk dan mulai bercerita.
__ADS_1