
Tergeletak lemah wanita paruh baya yang merupakan Tetua Agung dari Sekte Lembah Perawan.
“Senior!” Wajah Tan Bai tampak cerah saat melihat pria paruh baya berdiri dengan gagahnya diatas langit.
Ling Zhen menebaskan pedangnya dan mundur ke belakang karena melihat Tan Bai melompat dengan kecepatan tinggi berlindung disamping pria paruh baya itu.
Ling Zhen menghampiri Xue Lianhua dan Que Mi yang terlihat sedang mencoba menolong wanita paruh baya.
“Minumlah ini...” Ling Zhen mengambil air Danau Pengobatan yang dia simpan di Ruang Dewa, lalu memberikannya pada sosok Tetua Agung Sekte Lembah Perawan yang sekarat.
Xue Lianhua dan Que Mi terkejut karena Ling Zhen mempunyai sumber daya yang begitu langka.
‘Bocah manusia, hati-hati dua orang itu menuju kemari!’ Rubah Putih mengingatkan.
“Saudari Xue, maaf karena ini tidak bisa menyembuhkannya...” Ling Zhen sadar jika organ dalam tubuh Tetua Agung Sekte Lembah Perawan mengalami luka yang sangat fatal dan itu tidak bisa disembuhkan bahkan menggunakan kekuatan Phoenix sekalipun.
Xue Lianhua berdiri dan melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar, namun Ling Zhen menepuk pundak sang gadis yang diselimuti kemarahan itu.
“Serahkan mereka padaku, aku berjanji akan membunuhnya!” Ling Zhen menghela napas panjang setelah berkata demikian, sebelum bergerak cepat menyambut tusukan tombak Tan Bai dan tebasan pedang pria paruh baya.
Xue Lianhua terperanjat kaget melihat ekspresi marah Ling Zhen, kemudian dia mengikuti perkataan Ling Zhen dan membawa Tetua Agung Sekte Lembah Perawan serta Que Mi menuju tempat yang aman.
Terlihat Rubah Putih mengikuti Xue Lianhua dari belakang, melihat itu Ling Zhen merasa tenang.
“Mencoba melindungi mereka? Apa kau menjadi bertindak sebagai seorang pahlawan?” Pria paruh baya yang menggunakan pedang menatap dingin Ling Zhen, “Bocah, katakan padaku darimana asalmu?!”
“Asalku? Itu tidak penting, karena aku telah berjanji padanya untuk membunuhmu!” Ling Zhen melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan membalas tatapan pria paruh baya itu.
Walau Ling Zhen berkata penuh percaya diri, tetapi dia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari pria paruh baya dihadapannya.
Biarpun telah mendominasi serangan, Ling Zhen sama sekali belum memberikan luka fatal pada pria paruh baya yang merupakan salah satu dari tiga pemimpin Aliansi Bulan Darah.
__ADS_1
“Senior Situ Tang, dia adalah orang yang telah membunuh adik anda!” Saat melakukan pertukaran jurus, Tan Bai yang terdesak memberitahu pada pria paruh baya yang bernama Situ Tang jika Ling Zhen lah orang yang membunuh Tang Chu.
“Kejam...” Mata Situ Tang dipenuhi kemarahan, “Kau benar-benar kejam, bocah! Dengan membunuhmu saja aku tidak akan puas!”
Serangan Situ Tang yang agresif memaksa Ling Zhen ke posisi bertahan. Dan serangan dari belakang yang dilepaskan Tan Bai membuat pergerakan Ling Zhen terhambat karena sempitnya ruang gerak.
‘Tidak ada pilihan lain...’ Ling Zhen mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar pada bilah pedangnya dan melepaskan jurus Satu Auman Halilintar yang merupakan Aliran Sembilan Naga Pertama.
Situ Tang dapat menangkisnya dengan mudah menggunakan, Tebasan Sabit Berdarah. Situasi yang membuat Ling Zhen terdesak dimanfaatkan Situ Tang untuk melancarkan serangan selanjutnya.
“Aku belum pernah mengalami pertempuran seperti ini setelah sekian lama. Tidak kusangka, aku bisa melihat pendekar misterius sepertimu di Sekte Lembah Perawan!” Situ Tang menyeringai sambil mengayunkan pedangnya secara agresif.
Ling Zhen menerima serangan demi serangan yang dilepaskan Situ Tang, lalu mulai memperagakan jurus Hitam Putih Kehampaan yang berhasil membunuh Situ Chu.
“Cengkeraman Berdarah!” Situ Tang menyadari aura yang dilepaskan sangat berbahaya sampai-sampai menahannya menggunakan teknik tapak tangannya.
“Kau sangat menghibur, bocah!” Situ Tang mendekati Ling Zhen sebelum melepaskan tiga tebasan yang membentuk bulan berwarna merah, “Tiga Gaya Bulan!”
“Lima Gaya Bulan!”
Serangan tipuan yang dilakukan Situ Tang sempurna membuat Ling Zhen terkena cukup telak karena menahan tebasan pedang itu.
Jika bukan karena bilah Pedang Sembilan Naga, mungkin dadanya sudah hancur. Berkat pertarungan ini, Ling Zhen mendapatkan beberapa pengalaman penting.
“Orang ini berbahaya, sepertinya aku harus mengurus pengganggu itu!” Ling Zhen menarik napas panjang sebelum bergerak cepat ke tempat Tan Bai.
Tubuh Tan Bai bergidik saat merasakan aura pembunuh yang kuat dari Ling Zhen. Dengan kecepatan tinggi, Tan Bai terbang berniat melarikan diri dan menjauh dari Ling Zhen.
“Berniat melarikan diri? Aku tidak tahu jika bedebah seperti kalian sepecundang ini?!” Ling menatap Tan Bai yang terbang cukup jauh bahkan melewati Situ Tang begitu saja.
“Ini akan menguras tenagaku, tetapi cukup untuk membunuhnya...” Ling Zhen menyarungkan pedangnya dan membuka telapak tangannya sambil melepaskan aura dalam jumlah besar.
__ADS_1
Kilatan petir berwarna ungu memenuhi tubuh Ling Zhen, “Petir Ilahi ~ Tombak Penghakiman!”
Seketika itu Ling Zhen mengayunkan tombak itu ke arah Tan Bai. Walau Situ Tang berusaha menahannya, tetapi kecepatan tombak petir yang menancap dikepala Tan Bai begitu cepat.
Raut wajah Situ Tang memburuk, ‘Aku tidak akan menang dengan mudah. Walau berhasil membunuhnya, aku akan mengalami luka fatal. Sepertinya pergi dari sini adalah pilihan yang tepat!’
Ling Zhen tidak berhenti sampai disitu, setelah membunuh Tan Bai. Sekarang dia telah berada dihadapan Situ Tang.
“Petir Ilahi ~ Kilat Petir!”
Kecepatan Ling Zhen bertambah, terlebih saat tangannya menarik Pedang Sembilan Naga dan mulai memainkan dengan lincah.
Situ Tang dipaksa Ling Zhen ke dalam posisi bertahan dan tidak berkutik sedikitpun.
‘Ini buruk!’ Situ Tang tidak dapat mengimbangi kecepatan Ling Zhen hingga dadanya tertebas dan mengalami luka yang cukup fatal.
“Tidak kusangka, kau mempunyai ilmu yang begitu tinggi...” Situ Tang menatap Ling Zhen sambil melepaskan segenap aura tubuhnya yang berwarna merah darah.
Saat bilah pedangnya berwarna merah menyala, Situ Tang sudah bersiap mengambil sesuatu didalam jubahnya setelah melepaskan teknik pedang miliknya.
“Purnama Merah Nyala!”
Tebasan yang meledak saat Ling Zhen berusaha menahannya itu membuat Situ Tang dapat memulihkan kondisinya.
Namun dibandingkan memilih untuk memulihkan kondisi tubuhnya, Situ Tang bergerak cepat dengan tangan yang merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan racun ke arah Ling Zhen.
“Kau memang berhasil melukaiku, tetapi setelah terkena racun ini masa depanmu tidak akan ada lagi!” Situ Tang tertawa dan mengeluarkan sekitar sekitar puluhan pisau kecil ke arah Ling Zhen sebelum terbang dengan kecepatan tinggi meninggalkan Sekte Lembah Perawan.
Ling Zhen mengejar Situ Tang, namun dia tidak menyangka akan terkena sebuah serangan karena dirinya kurang waspada.
“Apakah ini racun yang mematikan? Aku bahkan sama sekali tidak merasakan sakit!”
__ADS_1
Mata Situ Tang melebar melihat Ling Zhen sudah mengejarnya tepat dibelakang, “Dasar pemuda monster!”