Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 107 - Perjalanan Lin‘er Dan Mi‘er


__ADS_3

“Mi‘er, Lian‘er, kalian berdua sangat membantuku. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan kalian berdua.” Dalam perjalanan menuju Kekaisaran Chu, Ling Zhen selalu membahas tentang perasaannya yang sangat bahagia memiliki enam istri yang menerima dirinya.


Xue Lianhua membalas, “Andai saat itu kau tidak keluar dari Lembah Dewa, mungkin kami berdua tidak bisa menjadi istrimu seperti sekarang ini. Dan kemungkinan besar, kita tidak akan saling mengenal satu sama lain.”


“Andai saja aku keluar dari Lembah Dewa lebih cepat, maka Sekte Lembah Perawan tidak akan berakhir...” Ling Zhen bergumam lirih. Suaranya terdengar memendam penyesalan yang mendalam.


“Jangan merasa bersalah, Gege. Lagipula kita hanya bisa merencanakan sesuatu dan tidak bisa mengetahui hasil akhirnya. Dibalik semua itu, ada pelajaran yang bisa kita ambil. Salah satunya adalah dirimu yang langsung membantuku.” Xue Lianhua tersenyum dan berusaha memberikan semangat kepada Ling Zhen.


Ling Zhen tersenyum tipis, “Aku mengerti itu, Lian‘er.” Mungkin karena umurnya lebih muda, Ling Zhen menerima nasehat Xue Lianhua walaupun dia adalah suami dari wanita tersebut.


“Gege, apa kau akan kembali mengejar Sekte Pemuja Iblis setelah mencapai tujuanmu dalam dua tahun?” Que Mi bertanya. Ada kekhawatiran dalam ucapannya.


Ling Zhen menatap Que Mi lekat, “Mi‘er, aku akan mengakhiri kekejaman Sekte Pemuja Iblis dan menjaga perdamaian di benua ini. Tujuanku bukanlah Sekte Pemuja Iblis saja, melainkan Negeri Ezzo...”


“Ezzo?” Que Mi terkejut, bahkan Xue Lianhua sekalipun terkejut mendengarnya. Ling Zhen belum pernah menceritakan hal ini kepada mereka berdua.


“Ada apa dengan reaksi kalian berdua itu?” Ling Zhen menatap Que Mi dan Xue Lianhua yang sama-sama terkejut mendengar ucapannya.


Ling Zhen mengetahui jika ada rumor tentang Negeri Ezzo dan Negeri Jisa yang merupakan negeri tertutup dari dunia luar. Tetapi bagaimanapun di Benua Lima Warna terdapat lima negeri yang hidup berdampingan, termasuk Negeri Ezzo dan Negeri Jisa.


Ling Zhen mengetahui kabar tentang Negeri Ezzo dan Negeri Jisa yang dijajah setelah Hei Long menyelidikinya dengan berbagai informasi yang didapatkan dari keluarga Hei.


Saat mengetahui Sekte Pemuja Iblis berasal dari luar Benua Lima Warna, Ling Zhen menyadari ancaman terbesar Benua Lima Warna berasal dari luar benua.


“Sejarah dan semua hal diluar benua ini, aku ingin mengetahuinya. Jadi, Mi‘er, Lian‘er, kalian berdua tidak perlu khawatir padaku. Aku pasti akan menemukan jawaban dari pertanyaanku ini...” Ling Zhen mengatakan hal yang membuat Xue Lianhua dan Que Mi terdiam.

__ADS_1


Baik Xue Lianhua ataupun Que Mi, keduanya sama-sama dibuat tertegun dengan ucapannya. Tindakan Ling Zhen tidak pernah mereka berdua tebak, bahkan saat pemuda itu terdiam dan melamun, Xue Lianhua dan Que Mi pemasaran dengan apa yang dipikirkan oleh pemuda yang menjadi suami mereka berdua itu.


Mereka bertiga terus melanjutkan perjalanannya menuju Kekaisaran Chu. Perjalanan ketiganya berjalan lancar tanpa halangan suatu apapun.


Tak terasa beberapa hari telah berlalu, kini Ling Zhen, Xue Lianhua dan Que Mi telah berada di Kekaisaran Chu. Lebih tepatnya mereka bertiga telah sampai di depan gerbang Ibukota Chudong.


Xue Lianhua dan Que Mi baru pertama kali pergi ke Kekaisaran Chu. Ini merupakan pengalaman yang baru untuk keduanya. Kedua wanita itu terlihat begitu antusias disetiap perjalanannya.


Ling Zhen sendiri menikmati setiap momen bersama Xue Lianhua dan Que Mi. Bagi dirinya setiap detik bersama kedua istrinya itu adalah waktu yang sangat berharga dalam hidupnya.


Menjadi kebahagiaan tersendiri baginya saat melihat istrinya tersenyum. Dan Ling Zhen akan melakukan apapun demi menjaga senyuman dari setiap istrinya.


Dibandingkan saat dirinya meninggalkan Ibukota Chudong beberapa bulan yang lalu. Kini Ibukota Chudong terlihat sudah pulih secara bertahap dengan terbentuknya berbagai macam bangunan megah dan sederhana.


Xue Lianhua baru menyadari hal itu. Dia mengira Ibukota Chudong memang memiliki bentuk seperti ini, tetapi setelah mendengar ucapan Que Mi akhirnya Xue Lianhua menyadari hal tersebut.


“Benar, dibandingkan dengan Ibukota Jiayang, kota ini terlihat lebih kecil. Tetapi tata letak setiap bangunan disini sangat rapi dan teratur.” Xue Lianhua memperhatikan jalanan Ibukota Chudong yang terlihat begitu rapi dan teratur, bahkan para penduduk terlihat saling bahu-membahu, bergotong-royong dan saling membantu satu sama lain.


Ling Zhen pun tersenyum mendengar pertanyaan Que Mi. Akhirnya dia menceritakan kejadian beberapa bulan lalu saat Ibukota Chudong mengalami pergejolakan hebat.


Ling Zhen juga turut menceritakan sosok Rubah Putih kepada Que Mi dan Xue Lianhua. Sebuah pilihan sulit yang membuat dirinya harus kehilangan Rubah Putih itu akhirnya membuka mata Ling Zhen sekali lagi untuk memperbaiki kesalahannya.


Xue Lianhua dan Que Mi tidak percaya Ling Zhen melalui semua itu. Pemuda itu terlihat begitu tegar menghadapi kerasnya kehidupan. Tidak pernah menunjukkan kesedihannya dan selalu membuat orang disekitarnya tersenyum.


Sisi itu yang membuat Xue Lianhua dan Que Mi semakin jatuh hati kepada Ling Zhen.

__ADS_1


Saat Ling Zhen menceritakan dirinya yang mengalami kelumpuhan, Xue Lianhua dan Que Mi bergetar tubuhnya karena tidak menyangka Ling Zhen akan berbuat sejauh itu demi melindungi penduduk kota yang bahkan tidak dia kenal.


Alis Xue Lianhua dan Que Mi berulang kali mengerut saat mengetahui Ling Zhen membunuh anggota Sekte Pemuja Iblis. Dan akhirnya mereka berdua mengetahui bagaimana Ling Zhen terkena Kutukan Roh Dewa Kematian.


Perjanjian yang dibuat Kutukan Roh Dewa Kematian membuat Ling Zhen mengambil keputusan sulit. Tetapi pemuda itu sama sekali tidak menyesalinya.


“Aku dibuat berhenti bernafas mendengar ceritamu, Gege. Tetapi bagian akhir tentang kutukan itu membuatku khawatir...” Xue Lianhua menghela nafas panjang sebelum menatap Ling Zhen yang terlihat sedang memandang Ibukota Chudong dari atas punggung Elang Halilintar.


“Tujuh belas? Itu bukanlah jumlah yang sedikit. Apa ada wanita lain selain kami berenam yang mau denganmu, Gege?” Que Mi tertawa cekikikan mengeledek Ling Zhen.


Cukup santai Ling Zhen menanggapi, “Siapa yang tahu? Kau tidak keberatan kan jika aku menambah lagi, Mi‘er?”


Sekarang Que Mi yang merasa diledek oleh Ling Zhen. Gadis muda itu mengembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya.


Xue Lianhua menatap Ling Zhen tajam dan berkata, “Apa kau tidak bertanya padaku? Jangan hanya karena aku selalu menuruti perkataanmu, membuatmu berpikir jika aku tidak akan menentangnya?!”


Ling Zhen menelan ludah sebelum menjawab, “Maaf, tadi aku hanya ingin mengeledek Mi‘er.”


Xue Lianhua ikut mengembungkan pipinya dan cemberut. Ling Zhen menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dan menghela nafas panjang.


‘Apa aku mengatakan hal yang salah? Kenapa aku selalu salah dimata mereka?’ Ling Zhen menatap tatapan sengit dari Xue Lianhua dan Que Mi yang sedang cemberut.


Akhirnya Elang Halilintar terbang rendah dan mendarat tepat di depan Istana Chu. Kedatangan Ling Zhen disambut langsung oleh Ibunya yang berdiri disamping Ji Yanran, Yue Rou dan Chu Xiulan beserta Mizuhara.


Sambil melompat kebawah, Ling Zhen menyapa mereka berlima, “Aku datang.” Ucapnya sambil tersenyum bahagia karena melihat mereka berlima dalam kondisi baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2