
Dengan kemampuan Yue Rou yang sekarang, tentu melacak keberadaan Hewan Buas Iblis bukanlah hal yang sulit, namun setelah melihat sendiri bagaimana Rubah Putih menghilang darinya tanpa meninggalkan jejak bau dan kaki tentu membuat Yue Rou kebingungan.
Akhirnya Yue Rou memilih untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Dia berharap Ling Zhen segera datang menemuinya, namun hingga pagi datang kembali, Ling Zhen tidak datang menyapa bahkan tidak ada tanda-tanda kehadirannya.
Yue Rou menjadi khawatir sehingga dia pergi menemui Chu Xiulan setelah mandi pagi. Terlihat Chu Xiulan membicarakan sesuatu dengan Penasehat Xiong. Setelah melihat kehadiran Yue Rou ke ruang makan pribadi Chu Xiulan, segera Penasehat Xiong pergi.
Yue Rou menatap Penasehat Xiong dengan tatapan tidak suka, ‘Apa yang tua bangka ini lakukan di ruang makan Ratu?’
“Ratu, apakah anda melihat Zhenzhen?” Yue Rou bertanya dengan penuh antusias dan berharap Chu Xiulan mengetahuinya.
Chu Xiulan menggelengkan kepalanya, “Aku tidak melihatnya. Bukankah kalian tadi malam melakukan itu, justru aneh jika kau bertanya padaku?”
Chu Xiulan sengaja menggoda Yue Rou. Melihat tangan kanannya itu tersipu malu membuat Chu Xiulan tertawa cekikikan. Namun perasaan bersalah merayapi sekujur tubuhnya.
Andai Yue Rou tahu orang yang telah membuat Ling Zhen menghilang adalah Chu Xiulan, tentu perempuan ini tidak akan tersipu malu mengingat kejadian semalam dimana dirinya dan Ling Zhen diranjang.
“Kami belum melakukannya...” Yue Rou menjawab begitu pelan.
Chu Xiulan memberi tanda pada Yue Rou untuk duduk dan sarapan pagi bersamanya.
“Yue Rou, hari ini temani aku mengunjungi makam Ibunda.” Ajak Chu Xiulan sambil menatap Yue Rou dengan tatapan memohon.
“Aku ingin kau seharian ini bersamaku, Yue Rou.” Chu Xiulan menambahkan.
Sebenarnya Chu Xiulan mengikuti perkataan Penasehat Xiong yang menyuruhnya untuk bersama Yue Rou selama seharian penuh.
Bagi Penasehat Xiong sosok Yue Rou merupakan batu terbesar yang akan menghalangi rencananya. Perempuan yang gagal dibunuh anggotanya itu tentu akan menyebabkan masalah jika mengetahui Chu Xiulan akan mengajaknya mendatangi Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
Yue Rou mengangguk dan menerima permintaan Chu Xiulan yang meminta dirinya untuk bersama perempuan itu selama seharian penuh.
“Baiklah, Ratu. Tetapi aku mengkhawatirkan Zhenzhen.” Yue Rou duduk disamping Chu Xiulan sambil berharap cemas tentang keadaan Ling Zhen.
Mendengar itu Chu Xiulan tersenyum kecut, ‘Kau sungguh beruntung bisa jatuh cinta pada pria sebesar itu, Yue Rou. Sementara aku hanya memanfaatkan Ling Zhen karena ingin lari dari bayang-bayang kematian Ibunda.’
Chu Xiulan terlihat sedih dan menundukkan kepalanya. Melihat itu, Yue Rou memegang lembut tangan Chu Xiulan dan menggoyangkan badannya pelan karena Chu Xiulan terlihat melamun.
__ADS_1
“Ratu? Apakah anda baik-baik saja?” Yue Rou memperhatikan wajah Chu Xiulan yang sedikit memucat.
Chu Xiulan segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “Aku tidak apa-apa Yue Rou. Hanya saja aku merindukan sosok Ibunda, besok adalah peringatan kematiannya bukan?”
Yue Rou menganggukkan kepalanya dan bisa melihat kesedihan Chu Xiulan. Dia sendiri mengetahui Chu Xiulan yang sering bercerita padanya ingin menemui mendiang Ibunya.
“Yue Rou, menurutmu jika aku mati apakah aku bisa bertemu dengan Ibunda?” Chu Xiulan bertanya. Tidak ada perasaan bercanda diwajah Chu Xiulan.
“Ratu, bunuh diri bukanlah pilihan. Bukankah kita sudah sepakat untuk hidup bersama dan melawan semuanya bersama.” Yue Rou memegang tangan Chu Xiulan yang gemetar.
“Yue Rou, maafkan aku. Maaf...” Chu Xiulan menangis dipelukan Yue Rou.
Pada akhirnya Chu Xiulan dan Yue Rou mengunjungi makan mending Ibu Chu Xiulan. Keduanya menghabiskan waktu untuk membersihkan makam, setelah itu mereka menghabiskan waktu dikamar Chu Xiulan untuk tidur berdua.
Yue Rou memeluk tubuh Chu Xiulan yang menangis. Selama seharian Chu Xiulan menangis layaknya anak kecil. Yue Rou ingin mencari Ling Zhen yang tiba-tiba menghilang, namun dia tidak tega meninggalkan Chu Xiulan begitu saja karena bagaimanapun dia pernah melihat sendiri bagaimana Chu Xiulan mencoba bunuh diri saat merasa kesepian.
Hingga tak terasa pagi datang kembali. Pagi itu Chu Xiulan berpamitan pada Yue Rou untuk pergi bersama Penasehat Xiong untuk membahas masalah perekonomian walau yang sebenarnya Chu Xiulan mengajak Penasehat Xiong menuju Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
Sementara itu Yue Rou pergi mencari keberadaan Ling Zhen diseluruh sudut Ibukota Chudong, namun dia tidak menemukannya.
“Nona Yue, kemarin anda kemana saja? Apakah anda tidak tahu jika diriku menunggu kedatanganmu sendiran disini?” Lei Wei melihat Yue Rou penuh makna.
Yue Rou menjelaskan kepada Lei Wei jika dirinya menemani Chu Xiulan dan tidak bisa meninggalkan Ratu Chu begitu saja.
“Kalau begitu aku tidak perlu terlalu khawatir, karena kupikir anda pergi bersama pemuda itu.” Lei Wei tersenyum dan terlihat lega.
Yue Rou menatap tajam Lei Wei karena ucapan pria itu, “Apa maksudmu?”
“Tidak ada apa-apa, Nona Yue. Bukankah anda ingin mengetahui obrolan Ratu dan Penasehat Xiong? Aku mendengar Penasehat Xiong memaksa Ratu Chu untuk membunuh pemuda bernama Ling Zhen.” Lei Wei kembali tersenyum penuh siasat setelah melihat reaksi Yue Rou.
“Tidak mungkin...” Yue Rou terlihat tidak percaya, “Kau akan kubunuh jika bercanda!”
Yue Rou tidak segan-segan melepaskan aura pembunuh berjumlah besar kepada Lei Wei.
“Bukankah anda seharusnya menyambut kedatanganku ini? Lebih bagus jika kita berdua mengobrol didalam.” Lei Wei menoleh ke arah Istana Chu yang nampak begitu sepi.
__ADS_1
Yue Rou baru menyadarinya karena bagaimanapun dia tidak melihat Pasukan Awan Merah berjaga disekitar Istana Chu. Tentu semua ini membuatnya merasa khawatir dengan kondisi Chu Xiulan.
“Baiklah mari kita kedalam. Ngomong-ngomong dimana Pasukan Awan Merah? Dan mengapa para pelayan tidak ada?” Yue Rou bertanya.
“Bukankah tadi pagi Ratu menyuruh seluruh pelayan Istana Chu beserta kasim untuk pulang. Sedangkan untuk Pasukan Awan Merah, mereka sedang mendapatkan tugas dariku untuk mengawasi Penasehat Xiong.”
Lei Wei menjelaskan kepada Yue Rou jika Penasehat Xiong menyuruh Ratu Chu membawanya ke Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
Mendengar itu Yue Rou terkejut, tangannya memegang gagang pintu dengan gemetaran, “Ratu, sebenarnya apa yang anda pikirkan? Bukankah Reruntuhan Kuno Dewi Malam tidak boleh dikunjungi oleh siapapun kecuali orang bermarga Chu. Bahkan aku sekalipun...”
Lei Wei masuk kedalam ruang makan dan membuat teh hangat, lalu menaruh sedikit racikan perangsang kedalam teh yang akan dia sajikan pada Yue Rou.
“Nona Yue, sebaiknya kita minum dulu. Aku akan menjelaskan semuanya tentang sesuatu yang kudengar.” Lei Wei duduk sambil menaruh dua teh hangat dimeja makan.
Yue Rou menuruti ajakan Lei Wei dan melihat pria itu menyeruput teh hangat dengan nikmat. Kemudian dia meneguk secara perlahan teh hangat yang disajikan untuknya.
“Baiklah, aku akan menceritakan tentang obrolan Penasehat Xiong dan Ratu Chu...” Lei Wei mulai bercerita Chu Xiulan yang menuruti keinginan Penasehat Xiong karena ingin mendiang Ibunya dibangkitkan dari kematian.
Terdengar sangat mustahil, namun Chu Xiulan menuruti semua perintah Penasehat Xiong termasuk membunuh Ling Zhen, mengajak Yue Rou mengobrol seharian agar tidak bisa melihat gerak-gerik Penasehat Xiong termasuk membawanya ke dalam Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
Lei Wei memperhatikan Yue Rou yang gelisah seiring berjalannya waktu, dia berjalan mendekati Yue Rou dan memegang bahu perempuan itu.
“Dan aku adalah salah satu orang yang akan memanfaatkan kebaikan Ratu...” Lei Wei berbisik di telinga Yue Rou dan menghembuskan nafasnya penuh nafsu.
“Aku adalah pemimpin Klan Dewi Malam yang berniat menumbalkan Ratu Chu sebagai persembahan untuk Sekte Pemuja Iblis, sayangku...” Kembali Lei Wei menghembuskas nafasnya penuh nafsu.
Yue Rou berdiri dan menatap tajam Lei Wei yang menyerupai, “Kau jangan kurang ajar, Lei Wei!”
Lei Wei tertawa dan melepaskan pakaian atasnya, “Sebaiknya kita kekamarmu, Rou‘er!”
Lei Wei menarik paksa Yue Rou, tidak ada perlawanan berarti dari Yue Rou yang telah dibawah pengaruh efek perangsang.
Ditendangnya pintu kamar Yue Rou dan dilemparnya dengan kasar tubuh perempuan itu. Lei Wei menutup pintu dengan kasar dan menatap penuh makna tubuh Yue Rou yang tergeletak diatas ranjang.
“Kau sangat cantik malam ini, Rou‘er...” Lei Wei mendekati tubuh Yue Rou dan mulai menindih tubuh perempuan yang telah lama menjadi obsesinya itu.
__ADS_1
“Tidak!” Yue Rou menjerit saat tubuhnya ditindih Lei Wei.