Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 120 - Hadiah Ulang Tahun II


__ADS_3

Keesokan harinya Ling Zhen menemukan dirinya berada diranjang seorang diri tanpa Qian Yu yang semalan tertidur lemas disampingnya.


Nampak Qian Yu sedang membuat sarapan pagi dan merebus air hangat. Qian Yu juga membuat minuman hangat yang tercampur dari madu, telur Elang Halilintar, Jahe Dewa dan Ginseng Naga.


Ling Zhen yang mencium aroma makanan segera bangkit dari tempat tidurnya. Bukan hanya Ling Zhen yang terbangun, bahkan Xue Lianhua ikut terbangun.


Xue Lianhua merasakan perih disekitar pahanya sehingga terlihat wanita itu kesulitan berjalan. Bukan hanya Xue Lianhua saja, bahkan Qian Yu sendiri merasakan pinggang dan kedua pahanya sakit.


Semalam merupakan hal indah yang Qian Yu rasakan. Seluruh tubuhnya terasa ringan saat tertidur, namun saat menjelang pagi Qian Yu baru merasakan sensasi sakit yang menjalar disekitar pinggang dan pahanya.


“Lian‘er, mari mandi...” Ling Zhen mengusap matanya dan menguap pelan membuat Xue Lianhua menghela nafas panjang.


“Aku sungguh tidak percaya melihatmu bertingkah seperti anak kecil...” Xue Lianhua menegur Ling Zhen yang tertawa kecil.


Ling Zhen melihat Qian Yu yang malu-malu berbicara padanya, bahkan dirinya juga ikut malu menegur Qian Yu. Ingin rasanya Ling Zhen langsung memeluk Qian Yu saat melihat pakaian yang digunakan wanita paruh baya itu terlihat begitu anggun dan sopan. Namun dimata Ling Zhen pakaian itu terlihat menggairahkan.


Tetapi Ling Zhen tidak ingin hubungan canggung ini terus berlanjut mengingat semalam keduanya sudah mendekat. Ling Zhen berjalan menghampiri Qian Yu yang sedang mempersiapkan mangkuk dan makanan pagi.


“Pagi, Yu‘er...” Ling Zhen ingin melihat lebih dekat ekspresi malu Qian Yu.


“Pagi Zhen‘er-” Qian Yu tidak melanjutkan perkataannya dan menatap wajah Ling Zhen sambil tersenyum, “Pagi, Gege.”


Ling Zhen membantu Qian Yu menyiapkan sarapan pagi, sedangkan Xue Lianhua terlihat kembali kekamar mengambil kain dan bergegas mandi.


Ling Zhen segera menyusul Xue Lianhua, Qian Yu yang melihat itu hanya tersenyum dan menunggu keduanya selesai. Beberapa menit akhirnya Ling Zhen dan Xue Lianhua datang kembali.


“Kenapa dia bisa bersikap seperti biasa?” Qian Yu tidak habis pikir Ling Zhen bersikap seperti biasa seolah-olah telah melupakan kejadian semalam.


Sekitar tiga puluh menitan, Ling Zhen dan Xue Lianhua datang. Wajah Ling Zhen terlihat cerah, sedangkan Xue Lianhua terlihat begitu lelah bahkan wanita itu berulang kali menghela nafas ringan.


Qian Yu curiga, ingin bertanya tetapi dia mengurungkan niatnya. Kurang lebih dia paham dan mengetahui apa yang Ling Zhen dan Xue Lianhua lakukan saat mandi. Ekspresi Xue Lianhua menjelaskan semuanya.


“Mari makan, Gege, Lian‘er.” Qian Yu mengajak Ling Zhen dan Xue Lianhua untuk sarapan pagi bersama, “Keburu dingin supnya.”


“Maaf, Bibi-” Ling Zhen duduk dikursi tengah sebelah Qian Yu, sedangkan Xue Lianhua duduk disampingnya, “Maaf membuatmu menunggu, Lian‘er.”


Xue Lianhua menatap Ling Zhen curiga, “Bibi?” Tatapan Xue Lianhua aneh karena melihat ekspresi malu Qian Yu.


“Ah, Lian‘er, ada apa?” Qian Yu tersenyum canggung, segera Ling Zhen meminum minuman buatan Qian Yu yang dibuatkan secara khusus untuknya.


“Bibirku terasa panas." Ling Zhen memegang bibirnya beralasan dan melirik Xue Lianhua yang sudah memasang ekspresi tidak curiga.


‘Sepertinya aku yang terlalu curiga padanya...’ Xue Lianhua memasang wajah tersenyum sebelum membalas ucapan Qian Yu.


“Tidak apa, Bibi Qian. Hanya saja aku merasa kalian berdua lebih dekat sekarang. Aku senang melihatnya.” Xue Lianhua berkata dengan jujur membuat Ling Zhen lega. Ucapan Xue Lianhua terdengar seperti mengizinkan dirinya untuk lebih dekat dengan Qian Yu.


Qian Yu tersipu malu namun wanita paruh baya itu tetap menjaga sikapnya. Setelah itu mereka bertiga mulai menikmati hidangan dengan lahap. Berbeda dengan Ling Zhen yang sarapan dengan porsi cukup, Xue Lianhua dan Qian Yu terlihat begitu lahap.


Kedua wanita itu seperti ingin mengisi tenaga mereka yang terkuras habis. Selesai sarapan pagi, Xue Lianhua kembali ke kamar untuk kembali beristirahat.


“Bibi Qian, Gege, aku ingin istirahat. Hari ini aku benar-benar merasa lelah.” Xue Lianhua menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menguap pelan, “Semalam benar-benar melelahkan...”


“Istirahatlah, Lian‘er. Perlu kutemani?” Ling Zhen mengajukan diri setelah meminum air hangat buatan Qian Yu. Tubuhnya terasa begitu hangat dan merasakan rasa letihnya menghilang.


Xue Lianhua mendengus kesal, “Gege, jika kau menemaniku. Aku tidak akan bisa tidur. Aku tidur sendiri, lebih baik kau gunakan waktumu bersama Bibi Qian.”


Xue Lianhua beranjak berdiri dan berjalan menuju kamar dengan langkah yang tertatih. Melihat Xue Lianhua kesulitan berjalan membuat Ling Zhen tersenyum tipis.


“Sepertinya aku terlalu kasar padanya...” Gumam Ling Zhen sambil memperhatikan cara Xue Lianhua berjalan.


Setelah pintu kamar ditutup, Ling Zhen menatap Qian Yu penuh makna. Wanita paruh baya yang menjadi istri ketujuhnya itu sedang mencuci piring dan mangkuk didapur.


Saat Qian Yu sedang menata piring dan mangkuk, Ling Zhen memeluk tubuhnya dari belakang dengan langkah kaki yang tak bersuara membuat Qian Yu tidak sadar.


“Lepaskan Zhen‘er! Jika Lian‘er melihatnya, aku malu!” Qian Yu menegur saat pemuda itu mengelus perutnya dan meraba gundukan kenyal miliknya.


“Kau sangat manis saat seperti ini, Bibi Qian...” Ling Zhen justru menggigit daun telinga Qian Yu membuat wanita paruh baya itu mendesah lirih.

__ADS_1


“Zhen‘er! Berhenti! Aku sedang tidak bercanda!” Qian Yu menatap Ling Zhen tajam.


Ling Zhen tersenyum melihat ekspresi marah Qian Yu yang baginya justru semakin terlihat menantang, “Cantik...” Ling Zhen berbisik lirih membuat Qian Yu semakin menatap tajam dirinya.


“Zhen‘er!” Kini Qian Yu memberontak, tetapi Ling Zhen mempererat pelukannya.


“Bibi Qian, apa aku boleh memintanya disini? Kau sangat menggoda dengan pakaian ini.” Ling Zhen sendiri rindu pada kenikmatan yang dimiliki Qian Yu. Padahal semalam keduanya baru saja melakukan pergumulan hebat membuat Qian Yu lemas dan kesulitan berjalan. Sekarang Ling Zhen kembali memintanya.


“Apa? Disini?” Qian Yu menggelengkan kepalanya tidak percaya, “Tidak, Zhen‘er. Aku sadar diumurmu yang sekarang kau memiliki nafsu yang tinggi, tetapi melakukan disini itu...”


Kata-kata Qian Yu terhenti saat telapak tangan Ling Zhen meremas keras salah satu gunung kembarnya. Kedua jari Ling Zhen mencubit ujungnya dan memilin lembut dari luar pakaian Qian Yu.


“Sebenar saja, Bibi Qian. Aku mau sekarang, tubuhmu ini membuatku candu...” Wajah memelas Ling Zhen membuat Qian Yu tidak tega, “Boleh?”


Qian Yu menarik nafas panjang dan menghembuskannya ringan, “Aku tidak pernah melakukan ini ditempat terbuka seperti ini, Zhen‘er. Aku malu, apa tidak bisa menunggu sebentar malam?”


“Tidak, Bibi Qian. Aku mau sekarang...” Ling Zhen merengek membuat Qian Yu kebingungan.


“Zhen‘er, tidak. Kita tidak boleh melakukannya disini. Bibi tidak pernah.” Qian Yu menatap Ling Zhen memohon.


Ling Zhen hanya tersenyum dan mulai melepaskan pakaian bawah miliknya dan Qian Yu. Pemuda itu meraba tubuh Qian Yu dari belakang dan sudah memposisikan miliknya memasuki bagian pribadi Qian Yu.


“Sssshhhh... Mmmmhhh... Akh!”


Tidak ada penolakan dari Qian Yu. Wanita paruh baya itu memekik kesakitan saat benda yang menyapanya semalam kembali memenuhi tubuhnya.


“Ssssudah... Apa sudah masuk semua?” tanya Qian Yu disela-sela desahannya yang tertahan.


Ling Zhen tersenyum, “Belum, Bibi Qian... Milikkmu ini masih sempit, benar-benar membuatku ketagihan...” Wajah Qian Yu tersipu malu. Perkataan Ling Zhen membuat dirinya bangga karena tidak menyangka diumurnya yang sekarang Ling Zhen benar-benar menikmati tubuhnya dan memperlakukan dirinya seperti seorang gadis.


Ling Zhen mengelus punggung dan pinggang Qian Yu menikmati kehalusan kulit putih yang mulai mengerut itu namun masih terasa mulus, lalu telapak tangannya terus bermain-main dan mulai menggenggam erat lengan mungil wanita paruh baya itu.


“Aku gerakkan ya?” Kembali Ling Zhen berkata dan Qian Yu mengangguk lembut, namun selang beberapa saat wajah Qian Yu nampak terkejut.


“Argh!” Ling Zhen meringis merasakan miliknya dicengkeram begitu erat, pemuda itu memandang wajah tegang Qian Yu yang khawatir, gelisah, takut dan menahan rasa sakit. Tetapi jelas ada kenikmatan disana hanya saja wanita paruh baya itu menjaga sikapnya.


Ling Zhen menggerakkan tubuhnya dengan tempo cepat dari belakang. Berulang kali dia menghentakkan tubuhnya dengan kuat membuat Qian Yu mendesah bercampur teriakan lembut yang menawan.


“Akh!” Qian Yu menjerit saat Ling Zhen menghujamkan tubuhnya dengan bertenaga dari belakang. Qian Yu menggigit bibir bawahnya menahan erangannya, ada kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Wanita paruh baya itu sebisa mungkin tidak ingin mengeluarkan suara-suara desahan karena tidak ingin membangunkan Xue Lianhua.


Ling Zhen meredam desahan Qian Yu dengan bibirnya, kedua telapak tangannya sibuk memainkan gunung kembar wanita paruh baya itu. Sementara tubuhnya terus bergerak dengan gerakan yang berubah-ubah membuat Qian Yu semakin melayang.


Lantai dapur sudah basah penuh dengan peluh Ling Zhen dan Qian Yu yang terus memacu tubuhnya menuju puncak kenikmatan. Qian Yu sendiri sudah beberapa kali melepaskan kenikmatan yang tertahan dalam dirinya, sedangkan Ling Zhen menahan hasratnya dan belum mau menuntaskannya membuat Qian Yu semakin lemas dan tidak percaya dengan stamina pemuda itu.


“Mmmppp!” Qian Yu menggoyangkan pinggulnya kuat karena kehabisan nafas, Ling Zhen yang menyadarinya segera melepaskan ciuman dan menghentakkan tubuhnya dengan kuat membuat Qian Yu memekik dengan suara tertahan.


Tubuh Qian Yu lunglai hampir ambruk, Ling Zhen segera mengangkatnya dan duduk diatas kursi. Wajah Qian Yu bersemu merah saat tubuhnya duduk diatas pangkuan Ling Zhen.


“Zhen‘er, apa belum?” Lemas Qian Yu meladeni keinginan Ling Zhen. Tubuhnya terasa remuk mengikuti keinginan pemuda gagah yang sekarang memangku tubuhnya.


Ling Zhen menatap nanar kedua gunung kembar yang terlihat masih menantang untuk digenggam. Telapak tangan Ling Zhen meremas keras dan terkadang lembut, bahkan pemuda itu tak segan-segan membenamkan wajahnya kedalam sana membuat Qian Yu merasa geli.


“Emmmhhh... Aaahhh...” Wajah Qian Yu pucat lemas mendapatkan perlakuan Ling Zhen yang memainkan gunung kembarnya penuh gairah.


“Zhen‘er, pelan! Geli, ah!” Qian Yu menjambak rambut Ling Zhen membuat pemuda itu semakin bergairah.


“Sayang, pelan!” Qian Yu dengan manja mendesah.


“Katakan padaku Bibi Qian...” Ling Zhen melepaskan kegiatannya dan menatap wajah Qian Yu penuh makna, “Apa kau merasa bahagia menjadi istriku?”


Qian Yu memalingkan wajahnya untuk sesaat karena malu, kemudian dia mengecup bibir Ling Zhen.


Kedua tangan Qian Yu melingkar dilehet Ling Zhen dan berbisik lirih, “Aku merasa bahagia karena menjadi istrimu, Zhen‘er. Kau membuat Bibi Qian menjadi wanita yang merasakan jatuh cinta kembali. Tubuh dan hatiku milikmu.”


Qian Yu merasakan sesuatu dalam tubuhnya semakin membesar, wajahnya merah padam karena mengetahui Ling Zhen belum menuntaskan hasratnya. Ingin melanjutkan, tetapi harus Qian Yu akui sekarang tubuhnya sudah begitu lelah.


“Zhen‘er, biarkan Bibi Qian memberikan hadiah spesial untukmu...” Qian Yu berdiri dengan menantang dihadapan Ling Zhen sebelum berjongkok dihadapan suaminya itu.

__ADS_1


“Bibi Qian...” Ling Zhen memperhatikan Qian Yu yang terlihat ingin melakukan sesuatu padanya.


“Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, kau telah membuatku merasa menjadi seperti ini, bocah nakalku...” Senyuman menggoda Qian Yu membuat Ling Zhen membuka lebar kakinya.


‘Aku tidak menyangka Lian‘er sanggup melakukan ini...’ Qian Yu mengingat jelas bagaimana pergumulan yang dilakukan Ling Zhen dan Xue Lianhua karena dirinya mengintip.


Qian Yu menelan ludah melihat benda tumpul yang tegak menantang tanpa lawan didepan matanya. Dengan posisi jongkok, Qian Yu menarik beberapa helai rambut hitamnya ke belakang telinganya dan mulai membenamkan kepalanya disana.


Ling Zhen menelan ludah tidak percaya. Wanita paruh baya yang bersikap ramah itu benar-benar berinisiatif memanjakan dirinya.


“Sayangku, kau sangat memanjakan suamimu...” Ling Zhen memuji Qian Yu sambil mengelus rambut wanita paruh baya itu penuh kasih sayang.


Mulut Qian Yu menelan sesuatu yang lebih besar dan membuatnya tersedak. Ling Zhen membelai rambut hitam Qian Yu dan mengusapnya kepalanya lembut.


Mendapatkan perlakuan sayang dari Ling Zhen membuat Qian Yu mencoba membenamkan kepalanya lebih dalam, tetapi lagi-lagi dirinya tersedak.


Ini adalah pengalaman pertama Qian Yu. Dia tidak pernah melakukan ini pada Hu Gu. Qian Yu merasa sangat bahagia karena telah menjadi istri Ling Zhen. Perhatian pemuda itu membuat Qian Yu ingin suami mudanya merasa terpuaskan atas pelayanannya.


Ling Zhen mengerang nikmat menerima pelayanan Qian Yu. Sementara wanita paruh baya itu batuk dan tersedak, bahkan merasa mual. Qian Yu berlari kearah dapur dan muntah. Ling Zhen tertawa kecil dan berjalan menuju dapur, setelah itu Ling Zhen menggendong tubuh Qian Yu menuju kamar yang digunakan Xue Lianhua untuk tidur.


“Eh, Zhen‘er? Kau membawaku kemana?” Qian Yu kebingungan melihat tindakan Ling Zhen. Tak lama wanita paruh baya itu memberontak menggunakan sisa tenaganya.


Ling Zhen tersenyum dan mendorong pelan kamar pintu menggunakan kaki kanannya. Setelah itu membaringkan tubuh Qian Yu disamping Xue Lianhua.


Mata Qian Yu mendelik menatap tajam Ling Zhen. Pemuda itu hanya tersenyum tipis dan mulai menindih tubuh Qian Yu.


“Zhen‘er, kumohon-” Mata Qian Yu terbuka lebar saat benda kesayangannya memasuki tubuhnya. Walaupun tidak sepenuhnya masuk, tetapi tubuh Qian Yu terasa penuh.


Ling Zhen melirik Xue Lianhua dan menggerakkan tubuhnya dengan pelan, “Sebentar Bibi Qian, jangan berisik.” Ling Zhen membungkam mulut Qian Yu dengan telapak tangannya dan menggerakkan tubuhnya lebih cepat.


“Mmmpppphhhh!”


Qian Yu tidak percaya dengan tindakan Ling Zhen. Beberapa menit kemudian pemuda itu mengerang nikmat dan menindih tubuhnya. Napas Qian Yu terengah-engah dan wajahnya bersemu merah.


Sementara Ling Zhen mendiamkan miliknya didalam sana, “Maaf, Bibi Qian, apa kau marah” Ling Zhen membaringkan tubuhnya kesamping dan tangannya memeluk perut Xue Lianhua.


Mata Xue Lianhua terbuka sayu, “Gege, aku masih lelah. Nanti malam ya...” Suara lirih Xue Lianhua membuat jantung Qian Yu berdetak kencang karena takut. Tak lama Xue Lianhua kembali memejamkan matanya.


Qian Yu bimbang, dirinya merasa marah sekaligus merasakan sensasi baru. Dirinya tidak berani menatap Ling Zhen yang masih tersenyum kearahnya dan mengelus perutnya.


“Bibi Qian, aku ingin kau dan Lian‘er menyusul Rou‘er dan Xiu‘er....” Ling Zhen jongkok dan mengecup perut Qian Yu, “Semoga saja aku bisa mendapatkan anak darimu.”


Mata Qian Yu berair, dia sudah mendambakan seorang anak. Diumurnya yang tidak lagi muda, Qian Yu berharap memiliki anak dengan Ling Zhen.


Ling Zhen merasa bersalah dan mencium mata Qian Yu, lalu menempelkan pipinya ke wajah Qian Yu.


“Bibi Qian, aku akan membuatmu menjadi seorang Ibu untuk anakku.” Ucapan Ling Zhen membuat Qian Yu kembali terisak.


“Zhen‘er...” Qian Yu memeluk tubuh Ling Zhen lama. Ling Zhen membiarkan istrinya ini menangis didadanya.


Setelah beberapa menit akhirnya Qian Yu berhenti menangis, Ling Zhen memandang wajah Qian Yu dan mengusap buliran air mata yang masih menetes pelan.


“Zhen‘er, terimakasih...” Qian Yu tersenyum manis membuat Ling Zhen kembali bergairah. Tetapi pemuda itu sadar saat ini Qian Yu sudah kelelahan.


“Persiapkan dirimu nanti malam, Bibi Qian.” ucap Ling Zhen.


Kemudian Ling Zhen berdiri dan mengecup kening Qian Yu. Sebenarnya dirinya masih ingin melanjutkan kegiatannya, tetapi Qian Yu sudah terlihat tidak mampu melanjutkannya bahkan Xue Lianhua sudah tidur pulas tak bertenaga.


Niatnya malam ini Ling Zhen berniat akan menggempur keduanya habis-habisan. Pemuda itu berjalan keluar kamar dan memakai pakaian bawahnya sebelum pergi menuju Kolam Lima Warna.


Sementara didalam kamar Qian Yu terdiam membisu tidak percaya. Mengingat kata-kata Ling Zhen barusan. Bukan tidak mungkin dirinya akan melayani pemuda itu bersama Xue Lianhua.


Membayangkannya saja sudah membuat Qian Yu gelisah. Wanita paruh baya itu menghela nafas berat sebelum tertidur pulas disamping Xue Lianhua. Keduanya tidur berpelukan tanpa sadar beberapa jam kemudian.


Qian Yu dan Xue Lianhua terlihat begitu kelelahan. Ling Zhen kembali ke kamar membawa pakaian bawah Qian Yu, tetapi sesampainya dikamar dirinya terkejut melihat kedua istrinya itu saling berpelukan dimana keduanya sama-sama tertidur pulas.


Ling Zhen tersenyum cerah dan menaruh pakaian bawah Qian Yu diranjang sebelum kembali ke Kolam Lima Warna.

__ADS_1


____


__ADS_2