Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 143 - Perawan Atau Janda


__ADS_3

Author menyapa. Bagi yang ingin visual istri Ling Zhen dan Gong Ning bisa masuk grup ya dan jangan lupa follow author. Hari ini satu chapter dulu ya.


____


Melepaskan pakaian ungu yang dikenakan Gong Ning kebawah sembari meremas dua gundukan kenyal yang besar dan ini merupakan pengalaman pertamanya meremas gundukan kenyal lebih besar dari milik para istrinya. Ling Zhen menikmati sensasi baru ini dan terus mencium bibir lembut Gong Ning tanpa memberikan nafas pada wanita itu.


“Emmmssss...” Hanya itu yang keluar dari bibir Gong Ning saat dua gunung besar miliknya diremas lembut dan keras secara bergantian oleh Ling Zhen.


Setelah merasa kehabisan nafas Gong Ning menepuk pundak Ling Zhen dan menegur pemuda itu, “Hentikan... Kita telah melewati batas... Aku memang ingin berterimakasih padamu tetapi aku belum siap karena aku adalah janda...”


Kenikmatan yang diberikan Ling Zhen membuat bagian pribadinya basah, tetapi Gong Ning sadar dirinya tidak bisa menyerahkan tubuhnya kepada Ling Zhen walaupun dalam hati dia ingin merasakan sensasi hubungan ini. Hatinya berkecamuk antara menyerahkan atau menghentikan.


Ling Zhen menggelengkan kepalanya, “Aku tidak peduli kau janda atau bukan, Bibi Gong. Aku akan bertanggung jawab, kita sudah sejauh ini sayang. Kita sama-sama menikmati ini, aku akan melakukannya penuh kelembutan.” Ling Zhen mengecup singkat bibir Gong Ning sambil meremas lembut gunung besar wanita itu.


“Aaahhhh... Apa yang kau lakukan? Aku belum mengenalmu lebih dekat!” Gong Ning memberontak. Ling Zhen menahannya dan menatap Gong Ning penuh makna. Wajah dewasa Gong Ning membuatnya teringat akan sosok Ling Fanmin.


Ling Zhen menggigit bibir bawahnya, “Kenapa kau menyembunyikan kebenarannya selama ini?!” Ling Zhen menjauh dan setengah berteriak sambil menjambak rambutnya.


“Maaf, Nyonya...” Ling Zhen berdiri. Mata Gong Ning melebar saat melihat pakaian bawah Ling Zhen menonjol. Terlebih tonjolan itu sangatlah besar dan membuatnya penasaran.


Ling Zhen ingin melampiaskan semuanya, tetapi dia memiliki janji kepada istri pertamanya jika akan melakukan hubungan badan dengan wanita yang dinikahinya.


“Tunggu!” Gong Ning menghentikan langkah Ling Zhen.


“Nyonya, jangan menggodaku. Aku tidak akan menahan diri jika kau menatapku seperti itu.” Ling Zhen mengingatkan Gong Ning karena bagaimanapun tubuh wanita dewasa itu sangat menggiurkan terlebih ukuran gunung kembar yang indah untuk digenggam.


“Jika kau berjanji akan menyelamatkan Tuan Putri, aku akan memberikan tubuhku padamu malam ini.” Gong Ning bingung ingin meminta tolong pada siapa, jika Ling Zhen pergi maka tidak ada orang yang bisa menolong dirinya ataupun Jia Ruan dan adik angkat Ibu Jia Ruan yakni Yuan Ruyun.


Ling Zhen menatap nanar tubuh Gong Ning. Kesempatan ini terlalu indah untuk dia lewatkan, pikirannya kacau karena tidak menerima Ling Fanmin bukanlah Ibunya. Ling Zhen mendekat dan memeluk erat tubuh Gong Ning.


“Nyonya, usahakan untuk tidak berteriak.” Tangan Ling Zhen melepaskan pelukannya dan membuka pakaiannya kemudian dia membaringkan tubuh Gong Ning ke ranjang.


Mata Gong Ning terbelalak melihat tombak sakti yang gagah menyentuh perutnya. Batinnya berkecamuk antara takut dan bergairah membuat sesuatu dibawah sana semakin basah.

__ADS_1


“Wangi badanmu sangat memabukkan, Nyonya. Bagaimana milikku ini? Katakan padaku apa kau menyukainya?” Ling Zhen tersenyum sambil mencium leher jenjang dan mulus Gong Ning sambil menekan-nekan miliknya ke perut Gong Ning.


“Akh! Zhen‘er, jangan digigit nanti ketahuan!” Gong Ning takut akan pandangan orang-orang terhadap bekas kemerahan dilehernya. Ling Zhen tidak peduli dan justru menghisapnya kuat-kuat membuat Gong Ning menggoyangkan badannya semakin keras menolak perlakuan Ling Zhen.


Ling Zhen segera melepaskan pakaian Gong Ning dan kain terakhir yang melindungi celah sempit dan lembab yang sudah basah.


“Bibi Gong, ini sangat basah... Bukankah sudah kukatakan untuk tidak berteriak karena aku takut orang-orang diluar terganggu dengan suaramu.” Ling Zhen kembali mencium bibir Gong Ning dan mengecap manisnya lalu melepaskannya.


“Semua ini salahmu... Oooohhh, Zhen‘er apa yang kamu lakukan sayang?” Gong Ning terkejut saat Ling Zhen kembali menggigit lehernya sementara tangan pemuda itu sudah meraba salah satu gunung kembarnya dan yang satunya meraba aset mahkota berharganya.


“Aaaahhhh... Zhen‘er!” Gong Ning merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan. Dia pernah membiarkan mendiang suaminya memeluk tubuhnya dengan kondisi tanpa busana, namun perlakuannya sangat berbeda dengan Ling Zhen.


Terlebih soal ukuran milik Ling Zhen lebih perkasa dan jauh diatas dibandingkan milik mendiang suaminya. Gong Ning semakin kacau, suaranya parau dan melengking saat sesuatu mengucur dengan derasnya dijari Ling Zhen.


“Zhen‘er... Kita istirahat dulu sayang. Bibi Gong lelah...” Mata sayu Gong Ning terpejam untuk sesaat sebelum kembali terbuka lebar saat mulut Ling Zhen mencium ujung gunung kembarnya yang besar dan bermain disana.


“Ini besar dan indah. Kau sangat cantik Bibi Gong.”


Ling Zhen membenamkan wajahnya disana. Gunung kembar yang besar dan padat ini membuatnya semakin bergairah. Sensasi kenyal dan kelembutan yang bersentuhan langsung dengan wajahnya membuat sesuatu semakin menonjol dan itu jelas bukan bakat.


“Zhen‘er berhenti, Bibi Gong lelah... Ini aneh, ada yang keluar... Tunggu sebentar!” Gong Ning mengerang lemah dan menjerit kecil sambil mencengkeram lengan Ling Zhen.


“Sayang, aku tidak akan memasukkannya. Jika kau siap menjadi istriku, aku akan membawamu terbang lebih tinggi dari ini. Apa kau bersedia menjadi istriku malam in, sayang? Aku akan bertanggung jawab...” Ling Zhen mengecup bibir Gong Ning dan kembali menggesekkan tubuhnya dengan tubuh Gong Ning.


“Tidak! Ini tidak benar! Kita hentikan ini!” Mulut Gong Ning menolak, tetapi tubuhnya menerima perlakuan Ling Zhen bahkan membalasnya.


“Tetapi kau sudah berjanji akan memberikan tubuhmu padaku malam ini bukan? Jangan menyiksaku sayang!” Ling Zhen meremas kuat-kuat gunung kembar Gong Ning dan mencubit ujungnya.


“Haaakk! Zhen‘er, itu... Aaaahhhh!”


Ling Zhen sudah tidak dapat mengontrol dirinya. Dia ingin menghentakkan tubuhnya sekuat mungkin, namun dia kembali mengurungkan niatnya saat melihat tubuh Gong Ning mengejang hebat.


“Akh! Oooohhh!” Lenguhan panjang Gong Ning menandakan wanita itu sudah melayang dan terkulai lemas. Ling Zhen menelan ludah dan membiarkan Gong Ning menikmati sensasi kenikmatan yang diberikan dirinya.

__ADS_1


“Zhen‘er, katakan padaku apa aku masih menarik walaupun aku seorang janda?” Dengan suara lemas Gong Ning bertanya. Ling Zhen membaringkan tubuhnya disamping Gong Ning dan memeluk perut wanita itu.


“Kau masih cantik, Bibi Gong. Kau tidak kalah cantiknya dengan istri-istriku.” Ling Zhen menggigit daun telinga Gong Ning dan kemudian menggesekkan tubuhnya diantara celah paha besar Gong Ning.


“Hnnngh! Geli Zhen‘er, jangan digigit sayang!” Gong Ning menggeliat manja saat Ling Zhen menggerakkan tubuhnya dengan cepat.


“Zhen‘er, siapa saja istrimu itu?” Gong Ning mengira Ling Zhen berbohong, namun setelah merasakan sendiri kenikmatan yang diberikan Ling Zhen, Gong Ning tidak memungkiri jika dirinya telah jatuh kedalam pelukan Ling Zhen.


Ling Zhen memberitahu nama istrinya dan itu membuat mata Gong Ning melebar. Nama Li Hua, Xue Lianhua dan Que Mi menjadi perhatiannya namun yang lebih mengejutkan adalah Chu Xiulan.


“Emmmmsss... Apa yang kau lakukan? Jangan- jangan dimasukkan! Jangan diremas kuat, sakit!” Gong Ning panik saat Ling Zhen meremas kuat dadanya serta menggerakkan tubuhnya semakin cepat.


“Kau masih menggoda dan cantik. Kita memang baru saling mengenal, tetapi aku akan bertanggungjawab sebagai lelaki jika setelah kejadian ini kau meminta pertanggungjawaban dariku, sayang. Aku akan menikahimu.” Ling Zhen tidak berbohong atas perasaannya. Dia menghentakkan tubuhnya keras sebelum mengerang hebat.


Perut Gong Ning basah. Nafas Ling Zhen terengah-engah karena menahan diri untuk tidak merasakan gerbang kenikmatan Gong Ning sambil tangannya masih bermain di gunung kembar yang besar nan indah.


“Zhen‘er, kau mengatakan itu karena kita sedang melakukan ini. Maaf, aku tidak bisa menjawab perasaan palsumu itu. Kau sudah mempunyai istri-istri yang lebih cantik dariku.” Gong Ning memegang perutnya yang basah dan beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.


Ling Zhen menatap tubuh Gong Ning dan memejamkan matanya, “Apa yang telah kulakukan? Wanita itu benar-benar membuatku gila! Dia meminta berhenti setelah dirinya mendapatkan pelepasan! Sementara aku?”


Ling Zhen menyusul Gong Ning dan menatap tubuh wanita dewasa itu, “Bibi Gong, aku tidak bercanda. Aku serius, apa kau membutuhkan bukti?”


“Tidak, Zhen‘er. Ini salahku karena telah menggodamu tetapi perasaanmu itu palsu.” Mendengar jawaban Gong Ning membuat Ling Zhen mendekat dan mencium bibir tipis wanita itu.


“Apa ini palsu? Aku menjaga kehormatanmu dan tidak memasukkannya. Katakan padaku, apa aku hanyalah seorang bocah dimatamu? Jika kau tidak memiliki perasaan padaku, mengapa kau membiarkanku menciumku dan menjamah tubuhmu?” Ling Zhen menyentuh pipi Gong Ning dan menggerayangi tubuh wanita itu.


“Itu...” Gong Ning merasakan debaran jantung yang hebat. Pandangan Ling Zhen membuatnya luluh terlebih hatinya memang menaruh perasaan khusus kepada Ling Zhen.


“Zhen‘er, jika kau berhasil membebaskan Tuan Putri dan Nyonya Yuan. Aku akan bersedia menjadi istrimu dan memberikan kehormatanku ini padamu, sayang. Buat aku percaya agar aku siap menerima lelaki lain selain mendiang suamiku untuk memiliki kehormatanku ini.” Gong Ning mencium lembut bibir Ling Zhen dan memeluk tubuh pemuda itu.


“Sayang, aku menjadikanmu istriku.” Ling Zhen menyentuh pipi Gong Ning dan melepaskan ciumannya. Gong Ning kembali menciumnya setelah mendengar jawaban Ling Zhen barusan.


Ling Zhen membalasnya dan memeluk erat tubuh Gong Ning. Lidah keduanya mulai saling melilit satu sama lain. Ling Zhen ingin menuntaskan gairahnya malam ini walaupun tidak melakukannya dengan Gong Ning secara sungguhan.

__ADS_1


Erangan Gong Ning terdengar beberapa kali dikamar mandi, keduanya mengakhiri kegiatan itu setelah rambut dan badan Gong Ning basah. Keduanya mandi dan saling membasuh tubuh satu sama lain sebelum tidur seranjang dan saling memeluk tubuh satu sama lain memberikan kehangatan.


__ADS_2