
“Bagaimana Ratu? Apakah pemuda itu sudah kau bunuh?” Penasehat Xiong bertanya sambil menatap wajah jelita Chu Xiulan yang kosong menunjukkan kesedihan.
Chu Xiulan mengangguk pelan sebelum tatapan mata berubah dingin, “Jadi bisa kita mulai ritual itu?”
“Anda tidak usah terburu-buru, Ratu.” Penasehat Xiong menjelaskan jika ritual untuk membangkitkan Ratu Chu dari kematian harus dilakukan di Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
Penasehat Xiong telah lama mencari keberadaan Reruntuhan Kuno Dewi Malam. Dia sadar jika untuk memojokkan Chu Xiulan butuh waktu yang lama bahkan sepuluh tahun lebih karena kemampuannya menjadi seorang pendekar sempat lumpuh, begitu rekan-rekannya.
Namun sekarang Penasehat Xiong sangat yakin jika dirinya yang sekarang dapat memojokkan Chu Xiulan di Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
“Aku akan menunjukkan tempat itu. Tempat yang seharusnya hanya boleh masuki anggota Keluarga Chu.” Jelas Chu Xiulan.
“Terimakasih, Ratu. Aku sangat terhormat.” Mata Penasehat Xiong menatap pisau yang dipegang Chu Xiulan.
Pisau yang berdarah itu merupakan bukti Chu Xiulan telah membunuh Ling Zhen.
‘Aku mempunyai firasat pemuda itu akan mengganggu rencana kami. Tetapi sekarang tidak ada perlu yang dikhawatirkan karena perempuan jelita ini akan menjadi milikku.’ Penasehat Xiong menyembunyikan kesenangannya karena telah berhasil memanipulasi hati Chu Xiulan.
Penasehat Xiong memberikan penawaran kepada Chu Xiulan jika perempuan itu membunuh Ling Zhen, maka Penasehat Xiong akan membangkitkan mending Ibu Chu Xiulan dari kematian.
Chu Xiulan menerima penawaran Penasehat Xiong untuk membunuh Ling Zhen. Ratu Chu ini tidak sadar jika dirinya dimanfaatkan Penasehat Xiong, dimana dirinya hanya akan menjadi budak nafsu Penasehat Xiong setelah sampai di Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
Chu Xiulan kembali ke kamar meninggalkan Penasehat Xiong yang berdiri didekat tangga Istana Chu.
Baik Chu Xiulan ataupun Penasehat Xiong tidak menyadari keberadaan seseorang yang menekan seluruh hawa keberadaannya.
“Penasehat Xiong, orang ini semakin mencurigakan. Selama dia tidak mengganggu rencana kami untuk mengambil Tombak Langit, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Pria berumur tiga puluhan tahun dengan seragam militer berwarna merah keluar dari balik bangunan dan menyapa Penasehat Xiong.
__ADS_1
“Selamat malam, Tuan Xiong.” Pria itu membungkuk dan memberi hormat.
“Oh, Lei Wei, sedang apa malam-malam disini?” Penasehat Xiong sempat terkejut karena bagaimanapun dia tidak menyadari kehadiran pria yang dipanggil Lei Wei itu.
“Sebagai Komanan Pasukan Awan Merah aku harus memastikan Istana Chu dalam keadaan baik-baik saja.” Lei Wei menjawab sambil menatap sinar rembulan.
“Bukankah akhir-akhir ini bulan terlihat sangat indah?” Lei Wei tersenyum dan menatap dalam bulan purnama.
Penasehat Xiong mengerutkan keningnya, ‘Aku tahu seluruh anggota Pasukan Awan Merah merupakan pendekar yang dikalahkan Chu Xiulan, tetapi aku tidak menyangka pemimpin kelompok ini memiliki kemampuan yang tidak terduga olehku sebelumnya. Aku harus berhati-hati dengannya.’
Lei Wei melirik Penasehat Xiong dan kembali memberi hormat, “Selamat menikmati malam yang indah, Tuan Xiong. Aku pamit undur diri.”
Penasehat Xiong hanya tersenyum melihat Lei Wei pergi menjauh darinya. Sementara Lei Wei mengingat obrolan Chu Xiulan dan Penasehat Xiong yang menyinggung sebuah tempat yakni Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
‘Reruntuhan Kuno Dewi Malam, akhirnya penantian kami tidak berakhir sia-sia. Sisanya hanya tinggal memberi tanda pada beliau untuk melakukan penaklukan.’ Lei Wei tersenyum menyeringai setelah menjauh dari Penasehat Xiong.
___
Namun pemuda itu tidak kunjung datang, “Kemana dia?”
Yue Rou beranjak berdiri dan memakai pakaiannya kembali sambil membawa kedua pedangnya keluar kamar.
Namun didepan kamar terlihat Rubah Putih yang sedang berjalan kesana-kemari, dan setelah pintu kamar terbuka segera Rubah Putih melompat ke kepala Yue Rou.
“Ada apa rubah imutku? Apa majikanmu itu meninggalkanmu? Baiklah, mulai sekarang biar aku yang merawatmu...” Yue Rou menggelitik bulu-bulu halus Rubah Putih.
‘Betapa beruntungnya bocah manusia itu karena perempuan ini benar-benar mencintai dirinya.’ Rubah Putih memasang ekspresi menggemaskan sambil menatap wajah Yue Rou.
__ADS_1
Lalu Rubah Putih turun dari kepala Yue Rou dan berlari menuju sungai di Ibukota Chudong sambil mengendus bau badan Ling Zhen.
Melihat Rubah Putih berlari, Yue Rou kebingungan. Namun setelah dirinya mengejar hingga didepan pintu gerbang Istana Chu, disana terlihat Lei Wei tengah berbincang dengan dua orang anggota Pasukan Awan Merah.
Lei Wei menoleh ke belakang dan melihat Yue Rou dengan tatapan penuh takjub, “Nona Yue, apa yang anda lakukan tengah malam disini?”
Yue Rou menyadari jika Lei Wei menyukai dirinya karena pria itu pernah secara blak-blakan ingin memiliki anak dari perempuan yang kuat seperti Yue Rou.
“Aku sedang mencari suamiku.” Jawaban Yue Rou membuat Lei Wei memasang ekspresi buruk.
“Nona Yue, jangan bercanda. Perempuan sehebat dan sekuat anda pasti bisa memilih pria yang pantas untuk anda.” Lei Wei tersenyum kembali.
Yue Rou menggelengkan kepalanya, “Walau sekarang kami belum menikah, tetapi dia sudah kuanggap sebagai suamiku.”
Lei Wei tersedak, “Anda serius?” Lei Wei ingin memastikan Yue Rou tidak sedang bercanda. Dia sempat melihat sendiri sosok Ling Zhen, namun dimatanya, Ling Zhen tidak pantas menjadi pendamping hidup perempuan bermata merah dengan kecantikan yang menandingi Chu Xiulan ini.
“Aku serius. Lei Wei, apakah kau melihat Ratu?” Yue Rou bertanya, walau sebenarnya dia ingin menanyakan Lei Wei melihat Ling Zhen atau tidak.
Lei Wei mengangguk lembut, “Aku tadi melihat Ratu sedang mengobrol dengan Penasehat Xiong. Dan aku mendengar obrolan menarik dari mereka.”
Lei Wei mengetahui Yue Rou yang tidak terlalu menyukai Penasehat Xiong, sehingga dia berniat mengajak Yue Rou untuk mengobrol semalam dengannya.
‘Malam ini aku harus bisa melakukannya. Apa kau tahu perasaanku ini, Yue Rou? Kau membuatku cemburu!’ Hati Lei Wei berteriak.
Yue Rou menggelengkan kepalanya, “Malam ini aku sedang ada urusan. Jika kau mau, besok malam kita bisa mengobrol.”
Mendengar tawaran itu, Lei Wei terlihat antusias, “Baiklah, Nona Yue.”
__ADS_1
Yue Rou hendak mengikuti Rubah Putih, namun dalam sekejap keberadaan Rubah Putih sudah menghilang.
‘Bukankah tadi dia disini? Aku tidak bisa melacaknya? Rubah imut ini sebenarnya hewan apa?’ Yue Rou keheranan.