
Hujan dan suara petir yang saling bersahutan memenuhi daratan hijau padang rumput.
Sedangkan tak jauh dari seorang pemuda yang tengah membaringkan tubuhnya dibawah guyuran hujan bersama Rubah Putih, terlihat sekelompok yang sedang menuju kota perbatasan Kekaisaran Chu dan Kekaisaran Qing.
“Lihat, bukankah disana itu manusia?” Salah satu orang dalam kelompok menunjuk siluet pemuda yang tertidur dibawah guyuran hujan.
“Apa yang dilakukan orang bodoh saat hujan-hujan seperti ini? Tidur? Aku tidak pernah melihat manusia sebodoh ini.” Pria berbadan kekar yang memiliki wibawa menggelengkan kepalanya. Terlihat dari perawakannya, pria ini merupakan pemimpin kelompok tersebut.
“Tetua She, kita juga sedang hujan-hujanan, bukankah kita juga bisa dibilang bodoh?” Seorang yang baru gabung dengan kelompok itu menyahut.
Tetua She menarik pedangnya dan memotong kepala orang tersebut, “Siapa yang kau sebut bodoh?! Saat ini kita akan menuju Kota Luohan untuk membahas rencana penaklukan Istana Chu! Apa kau tidak tahu sosok Ratu Chu yang kecantikannya nomor satu di Benua Lima Warna?!”
“Bodoh, kenapa dia menanggapi ucapan Tetua She?”
“Dia adalah orang yang baru bergabung dengan Klan Tengkorak Jalanan.”
“Pantas saja. Lebih baik kita diam atau akan mati karena menanggapi ocehan tidak jelas dari Tetua She.”
Orang-orang dikelompok itu yang merupakan seorang pendekar saling berbisik, namun tak lama ada pendekar yang baru bergabung dengan Klan Tengkorak menanggapi ucapan pria yang dipanggil Tetua She tersebut.
“Sejak kapan Ratu Chu dijuluki kecantikan nomor satu di Benua Lima Warna? Aku rasa banyak perempuan yang tidak kalah cantik dengan dia.” Seketika Tetua She menatap tajam pendekar baru tersebut.
“Apa kau meragukan perkataanku?!” Tanpa basa-basi Tetua She mengayunkan pedangnya.
Mendengar keributan yang ada disekitarnya membuat pemuda yang sedang tidur dibawah guyuran hujan itu terbangun.
“Rubah Putih, aku tidak sadar kehujanan setelah melakukan meditasi dan menghafal beberapa teknik dari Raja Neraka...” Ling Zhen menatap langit yang gelap diiringi suara petir yang menggelegar serta hujan.
__ADS_1
Rubah Putih menguap dan terlihat begitu malas, ‘Bocah manusia, pelajarilah semuanya, hingga aku bisa pergi dengan tenang jika kau telah dapat kulepas tanpa pengawasan.’
Mendengar ucapan Rubah Putih, Ling Zhen mengerutkan keningnya, “Jangan mengatakan hal yang menyedihkan. Bukankah kau hanya tidur saja pekerjaanmu.”
Ling Zhen mendecakkan lidahnya, dia menyadari suatu saat Rubah Putih akan menghilang. Tetap bagaimanapun pikirannya menolak keras perkataan Rubah Putih.
Saat Ling Zhen dan Rubah Putih berbincang, Tetua She menginjak perut Ling Zhen dan menatapnya garang.
“Apa kau orang gila hah?! Tidur saat hujan petir begini! Dimana otakmu berada?!” Tetua She menghunuskan pedangnya keleher Ling Zhen, namun dengan lincah Ling Zhen menghindar.
“Keparat! Kau seenak jidat menginjak perutku lalu mencoba membunuhku! Justru dimataku kau yang terlihat seperti orang gila!” Ling Zhen berdiri dengan cepat lalu mengambil Rubah Putih dan menaruhnya dikepala.
“Enyah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran!” Ling Zhen menatap tajam Tetua She beserta seluruh pendekar dari Klan Tengkorak Jalanan.
“Aku akan membunuhmu dalam satuan tebasan-”
Gerakan Ling Zhen begitu cepat saat menendang kepala Tetua She dan menginjaknya, “Oi! Enyah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran!”
Semua bawahan pria yang dipanggil Tetua She terkejut melihat Ling Zhen dengan mudah menjatuhkan pemimpin mereka.
Tetua She dengan cepat berdiri walau sempoyongan. Dia menatap Ling Zhen dengan seksama sebelum berlari menuju bawahannya.
“Oi!” Ling Zhen memanggil Tetua She yang bergidik ketakutan.
“Ya!” Tetua She menjawab dengan suara terkejut.
“Apa didekat sini ada desa atau sebuah kota? Jika ada sebaiknya kalian tunjukkan jalan menuju kesana padaku!” Ling Zhen berjalan mendekati rombongan Tetua She yang terdiam mematung mendengar ucapannya.
__ADS_1
Tetua She dengan cepat mengeluarkan kertas yang menunjukkan lokasi Kota Luohan, sebuah kota perbatasan yang ada di Kekaisaran Chu dan merupakan kota yang paling dekat dengan Kekaisaran Qing.
Ling Zhen mengambil kertas itu lalu melompat keatas dan terbang dengan kecepatan tinggi menuju Kota Luohan, mengabaikan hujan petir yang menghalangi perjalanannya.
Tetua She menelan ludah melihat sosok Ling Zhen. Baru kali ini dia dapat dikalahkan hanya dengan satu kali tendangan.
“Kemampuannya setara dengan pemimpin. Aku harus melaporkannya. Terlebih dia menuju Kota Luohan, entah apa yang dipikirkan sialan seperti dia!” Tetua She menatap langit dan melihat bayangan Ling Zhen yang telah menghilang.
Tetua She menatap seluruh anggotanya yang terlihat masih menatap langit, seolah-olah melihat bayangan Ling Zhen.
“Semuanya! Kita harus bergegas menuju Kota Luohan dan menemui pemimpin!” Dengan lantang Tetua She berteriak.
“Baik!” Serentak bawahan Tetua She menjawab. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju Kota Luohan.
___
Jarak antara padang rumput dan Kota Luohan memakan waktu satu hari. Ling Zhen dan Rubah Putih mengobrol panjang dalam perjalanan.
Rubah Putih menjelaskan kepada Ling Zhen jika sosok Ratu Chu merupakan manusia istimewa, begitu juga dengan Yue Rou. Kedua perempuan itu menurut Rubah Putih merupakan Jelmaan Dewi.
“Jelmaan Dewi? Jadi apakah benar dunia atas telah musnah, Rubah Putih?” Ling Zhen penasaran dengan maksud Rubah Putih.
“Ya, itu hanya asumsiku saja. Dunia atas belumlah musnah sepenuhnya, jika kau ingin mengetahuinya, jadilah kuat dan lihat sendiri apa yang ada dibalik sana dan mengapa aku berakhir seperti ini.” Ucapan Rubah Putih meninggalkan pertanyaan besar dihati Ling Zhen. Setiap dia menanyakan hal penting tentang misteri diluar Benua Lima Warna, maka Rubah Putih menjawab dengan berbagai teka-teki.
Ling Zhen menghembuskan nafasnya pelan, lalu menatap Kota Luohan yang nampak sepi karena hujan deras mengguyur wilayah ini.
“Sebaiknya kita cari penginapan dan menghangatkan tubuh.” Ling Zhen memasuki Kota Luohan tanpa biaya administrasi. Dia heran karena tidak ada satupun penjaga gerbang yang berjaga, terlebih suasana kota yang sepi itu membuat Ling Zhen merasakan bau menyengat aroma seorang pendekar.
__ADS_1
‘Aroma ini, tidak salah lagi. Ada sesuatu yang terjadi di kota ini...’ Ling Zhen membatin sambil menyelusuri kota dan berhenti didepan sebuah penginapan.