
Selama tujuh hari, Ling Zhen menetap di Paviliun Bulan Biru untuk menikmati masa-masa pertamanya dengan Ji Yanran. Hampir setiap hari Ling Zhen selalu meminta Ji Yanran untuk mencapai alam surgawi yang indah.
Ling Zhen menyadari dirinya masih memiliki banyak kekurangan. Seharusnya setelah menggunakan Mata Dewa dan Tanda Mata Dewa, Ling Zhen akan lumpuh total, tetapi dia tidak menyangka sosok Ratu Chu menghisap semua itu lewat ciuman pertamanya.
“Zhen‘gege, mari makan...” Ling Zhen menoleh kebelakang dan membuka matanya secara bertahap. Berdiri perempuan dewasa dengan wajah berseri-seri membawa sepiring nasi kepal dan teh hangat.
Ling Zhen tersenyum melihat Ji Yanran. Dia tidak pernah berpikir akan menjadi suami seorang perempuan secepat ini. Namun dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri karena bagaimanapun setelah melewati malam yang panjang dengan Ji Yanran, akhirnya dia memutuskan untuk memiliki keluarga dan membangkitkan keluarga Ling kembali.
“Hari ini kau tampak lebih cantik, Ran‘er...” Ling Zhen membelai rambut Ji Yanran lembut, lalu diduduk disampingnya.
Ji Yanran tersenyum manis, “Aku merasa bahagia karena kau menjadi suamiku, Zhen‘gege.”
“Aku juga merasa bahagia, Ran‘er.” Ling Zhen dan Ji Yanran meminum teh hangat setelah berbincang singkat.
Keduanya memakan nasi kepal sambil bercerita ringan diiringi suara tawa lirih Ji Yanran. Setelah selesai memakan nasi kepal, Ling Zhen menjelaskan tujuannya kedepan pada Ji Yanran.
“Ran‘er, aku akan mendatangi Kota Heidong dan Kota Wangdian sebelum pergi ke Kekaisaran Chu...” Ling Zhen menambahkan jika dirinya sekarang akan membalaskan dendam keluarganya dan akan mengakhiri sejarah mengerikan dunia persilatan dengan menghancurkan Lentera Kerakusan.
Ji Yanran menutup mulutnya, dia merasa khawatir Ling Zhen akan menjauh darinya dan menghilang. Namun rasa khawatirnya menghilang karena pemuda yang telah menjadi suaminya itu memeluk lembut dirinya.
“Setelah urusanku di Kekaisaran Chu selesai, aku akan mengajakmu menemui Ibuku. Aku yakin dia senang setelah mengetahui kau menjadi istriku, Ran‘er.” Ucapan Ling Zhen membuat Ji Yanran membalas pelukannya dan menangis sesenggukan.
__ADS_1
“Aku ingin bertemu Bibi Ling secepatnya.” Ji Yanran hendak menyeka air matanya, namun Ling Zhen terlebih dahulu menyekanya.
“Aku memang ingin secepatnya memberi perhitungan pada keluarga Hei dan keluarga Wang, tetapi kekuatanku sekarang belum cukup.” Ling Zhen tertawa pelan dan menambahkan jika dirinya akan berada di Paviliun Bulan Biru selama beberapa hari sampai menguasai Tubuh Raja Neraka dan beberapa teknik yang ada diingatan Roh Dewa.
Dengan Tubuh Raja Neraka, maka tubuh Ling Zhen akan kebal terhadap segala racun. Dan itu yang menjadi pertimbangan utamanya menguasai Tubuh Raja Neraka.
Selain itu dengan Mata Dewa dan Tanda Mata Dewa, Ling Zhen dapat meningkatkan kekuatannya dalam waktu singkat. Itu juga menjadi target utamanya berlatih di Paviliun Bulan Biru sebelum memberi perhitungan pada keluarga Hei dan keluarga Wang.
Selama seharian penuh, Ling Zhen melatih semua yang telah dia pelajari bahkan beberapa gerakan terbang saat dia dalam wujud Phoenix juga dipelajari ulang.
Setelah itu dia bermeditasi memusatkan segala konsentrasinya untuk menggunakan Mata Dewa dalam kurun waktu tiga puluh menit.
Selepas dapat mempertahankan Mata Dewa selama tiga puluh menit, Ling Zhen mencoba memperpanjang menjadi satu jam penuh. Semua itu memakan tenaga dan pikirannya, namun dia berhasil melakukannya.
Selama beberapa hari Ling Zhen terus melatih Mata Dewa sebelum beralih ke Tanda Mata Dewa. Sementara Ling Zhen berlatih, Ji Yanran melihatnya dari teras dan membawakan cemilan untuk mereka berdua makan.
Hingga satu minggu telah berlalu, Ling Zhen duduk bersila dan bermeditasi selama sehari sebelum memulai untuk menguasai Tubuh Raja Neraka.
Didalam kepalanya muncul ingatan Roh Dewa yang sebelumnya belum pernah dia lihat. Andai Rubah Putih mengajarinya, mungkin Ling Zhen tidak perlu repot-repot melakukan ini.
Tetapi Ling Zhen menghargai semua keputusan Rubah Putih, karena bagaimanapun dirinya harus mendapatkan pengalamannya sendiri.
__ADS_1
“Pengalaman adalah guru terbaik...” Saat Ling Zhen mengingat perkataan Rubah Putih dialam bawah sadarnya, seketika dia merasakan aura mengerikan memenuhi tubuhnya dan itu membuat tubuhnya bersimbah darah dalam posisi duduk bersila.
Selama semalaman, Ling Zhen tetap duduk bersila dan melakukan konsentrasi secara penuh, sementara Ji Yanran berusaha membangunkannya karena merasa khawatir bahkan perempuan itu menangis selama semalaman karena melihat tubuh Ling Zhen bersimbah darah.
Saat pagi tiba, Ling Zhen membuka matanya dan mendapati Ji Yanran yang memeluknya bersama dengan para pendekar Paviliun Bulan Biru yang ada dibelakang perempuan yang telah menjadi istrinya itu.
“Jangan menangis, Ran‘er...” Ucap Ling Zhen lirih sambil menyeka air mata yang ada dipelupuk mata Ji Yanran.
“Zhen‘gege!” Ji Yanran memeluk tubuh Ling Zhen sangat erat dan menangis lebih keras dari sebelumnya.
Ling Zhen mengusap rambut Ji Yanran dan tersenyum, dia sadar telah membuat Ji Yanran khawatir, tetapi tidak pernah dia sangka dirinya akan membuat Ji Yanran khawatir seperti ini.
Cukup lama Ji Yanran memeluk Ling Zhen, sebelum keduanya mandi bersama di kolam air panas dan sarapan pagi.
Keduanya berbincang ringan hingga sore hari, Ling Zhen tersenyum mendengar cerita Ji Yanran yang khawatir pada dirinya.
Ling Zhen yang berniat akan menuju Kota Heidong dan Kota Wangdian pada besok hari membuat Ji Yanran memeluk tubuhnya erat saat mendengarnya.
Ling Zhen membalas pelukan Ji Yanran sebelum mengecup lembut bibir tipis itu. Mata Ji Yanran terbuka setengah dan membalas kecupan itu hingga keduanya melakukannya lebih dalam.
Napas Ling Zhen dan Ji Yanran tidak teratur, Ling Zhen menarik tangan Ji Yanran menuju kamar dan melepaskan hasrat mereka.
__ADS_1
Ling Zhen menikmati setiap alurnya, begitu juga dengan Ji Yanran hingga tanpa sadar pakaian yang mereka kenakan sepenuhnya terlepas.
Malam itu Ling Zhen dan Ji Yanran melakukan pergumulan panjang hingga Ji Yanran kehabisan energi dalam tubuhnya dan terbaring lemas tidak berdaya diatas Ling Zhen.