
Jun Fan yang berniat Ling Zhen habisi terlebih dahulu justru melakukan pertarungan hebat melawan Gao Yang.
Serangan tapak api Jun Fan membuat ledakan dahsyat yang menggema. Gao Yang yang terkena serangannya mati seketika saat tapak api Jun Fan mengenai dadanya.
Ling Zhen yang melihat bagaimana Gao Yang berakhir menajamkan seluruh aura dan tenaga dalamnya saat Jun Fan melesat kearahnya.
“Melawan dua orang yang berada ditahap Pendekar Langit bukanlah hal yang mudah. Sepertinya kau sudah kehabisan tenagamu.” Jun Fan tersenyum lebar sebelum melepaskan dua serangan tapak api yang membentuk kepala ular dari kejauhan.
Ling Zhen menarik Rantai Raja Neraka dan menaruhnya kedalam Ruang Raja, lalu dengan cepat menangkis dua tapak yang membentuk kepala ular itu.
“Kau sepertinya salah paham, Jun Fan.” Ling Zhen mengolah Seni Napas Phoenix sambil mengalirkan sejumlah aura pada bilah pedangnya, “Aku masih sanggup membunuhmu!”
Dengan penuh konsentrasi, Ling Zhen memanipulasi aura yang berkumpul pada bilah pedangnya menjadi api.
Sebuah tebasan yang dialiri api berbenturan langsung dengan tapak api Jun Fan. Selepas kedua serangan berbenturan, baik Ling Zhen maupun Jun Fan kembali melakukan pertukaran serangan.
Tebasan demi tebasan yang dialiri api terus disambut tapak api yang membara. Ling Zhen kembali menajamkan permainan pedangnya saat melihat Jun Fan mampu menahan tebasan pedangnya.
“Sepertinya pedangmu ini perlu diasah?” Jun Fan menyeringai sambil melepaskan tenaga dalam berjumlah besar sebelum mengarahkan tapak tangannya kearah pedang Ling Zhen.
Tubuh Ling Zhen terpental kebelakang, sementara Jun Fan mengejarnya dan melepaskan sejumlah tapak api pada tubuh Ling Zhen.
Ling Zhen tersadar dan segera menangkis serangan tapak api yang hendak mengincar jantungnya, “Setiap orang yang meragukan kemampuan berpedangku selalu berakhir dengan kematian. Mungkin kau salah satunya, Jun Fan.”
“Masih memiliki kemampuan untuk berbicara?” Jun Fan kembali mengalirkan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya hingga kedua tapak tangannya itu terlihat membentuk mulut harimau api.
“Terima ini!” Jun Fan melepaskan serangan dan berniat mengakhiri hidup Ling Zhen dengan serangannya.
Sementara Ling Zhen melakukan kuda-kuda yang santai, namun kokoh. Kemudian mengolah pernapasan sambil bersiap melepaskan jurus Pedang Sembilan Naga.
Saat tapak api Jun Fan mendekat dan Jun Fan berada dalam jangkauan serangannya, segera Ling Zhen menajamkan matanya serta mengalirkan aura dan tenaga dalam terakhir yang dia miliki.
“Dua jam sudah terlewati...” Ling Zhen bergumam sambil memejamkan matanya. Sedikit air mata yang menggenang diujung kedua bola matanya yang tertutup saat merasakan tubuhnya diselubungi aura hangat.
“Aliran Sembilan Naga Keempat ~ Menghunus Langit!”
__ADS_1
Sebuah tebasan yang membelah udara itu menghempaskan tapak api Jun Fan, lalu melesat dengan kecepatan tinggi memotong tubuh Jun Fan menjadi dua bagian.
Bersamaan dengan itu, dinding api memudar dan tubuh Ling Zhen sempoyongan. Beberapa saat kemudian Rubah Putih terbangun dan wujudnya mulai memudar.
‘Bocah manusia, kau telah bertekad dan memutuskan ini. Kutukan Roh Dewa Kematian dan Pedang Pencabut Nyawa akan menggantikan diriku...’ Rubah Putih menghilang sepenuhnya dan berubah wujud menjadi sebilah pedang berwarna hitam pekat dengan corak naga api disekeliling bilah dan sarungnya.
Ling Zhen memegang pedang itu bersamaan sebuah tanda naga berwarna hitam dan putih yang melingkar dipunggungnya.
Secercah cahaya masuk kedalam tubuhnya. Seketika itu Ling Zhen mengetahui kekurangannya dalam mempelajari ilmu yang dia pelajari di Lembah Dewa.
“Rubah Putih, kenapa kau tidak mengajariku saat itu?” Ling Zhen ingin menanyakan tentang ini, tetapi Rubah Putih sudah tiada.
Matanya menatap Pedang Pencabut Nyawa yang dia genggam ditangan kirinya, lalu dia menaruh Pedang Sembilan Naga yang dia genggam ditangan kanannya sambil memperhatikan anggota Klan Dewi Malam yang mengelilingi dirinya.
“Rencana kita untuk mengambil Tombak Langit digagalkan olehnya! Kita harus menghabisinya apapun yang terjadi!”
“Kemampuannya pasti telah melemah, kita serang dia bersama-sama!”
Sejumlah pendekar Klan Dewi Malam menyerang Ling Zhen dari berbagai arah. Sebuah tebasan pedang maupun golok datang secara bersamaan.
“Pedang ini!” Ling Zhen tersentak kaget, beruntung dia memiliki aura dan tenaga dalam milik Rubah Putih yang diberikan untuknya sebelum menghilang.
Ling Zhen mencoba menyesuaikan dirinya dengan Pedang Pencabut Nyawa. Dan dalam satu kali ayunan tebasan pedangnya membuat kerusakan yang besar pada bebatuan dan tanah di Reruntuhan Kuno Dewi Malam.
Bahkan seluruh pendekar Klan Dewi Malam yang mengepungnya mati seketika dalam kondisi tubuh terpotong. Terlebih Pedang Pencabut Nyawa juga menyerap aura dari orang yang dibunuh menggunakan pedang itu.
Hanya ada satu kata yang terlintas dipikiran Ling Zhen ’menakutkan’. Bagaimanapun Pedang Pencabut Nyawa sangat haus darah, selain itu Kutukan Roh Dewa Kematian membuat pikirannya kacau dan Ling Zhen merasa dirinya diawasi oleh sesuatu yang mengerikan dari dalam dirinya sendiri.
Saat Ling Zhen sedang menyesuaikan diri dengan Pedang Pencabut Nyawa, Xiong Ni melompat ke udara dan menuju permukiman penduduk Ibukota Chudong disusul Feng Zhimao dari belakang.
Seluruh pendekar Bendera Iblis Hitam yang tersisa meninggalkan Reruntuhan Kuno Dewi Malam, sementara itu pendekar Klan Dewi Malam telah musnah sepenuhnya.
Ling Zhen mengejar Xiong Ni dan Feng Zhimao dengan kecepatan tinggi. Terlihat suasana di Ibukota Chudong dari kejauhan nampak begitu sepi, Ling Zhen merasa lega sekaligus khawatir.
“Rou‘er, Xiu‘er...” Pikiran Ling Zhen tertuju pada Yue Rou dan Chu Xiulan.
__ADS_1
Namun sesampainya di permukiman kota Ibukota Chudong, tidak ada satupun penduduk kota yang terlihat selain kebakaran yang melahap kawasan kaum bangsawan serta pejabat pemerintahan.
Ling Zhen mengejar Xiong Ni dan Feng Zhimao dengan kecepatan tinggi, namun keduanya mendarat di permukiman penduduk dan kembali bertarung dengan hebat. Ling Zhen berniat menuju kearah keduanya, namun dia mengurungkan niatnya saat merasakan sesuatu.
Samar-samar Ling Zhen merasakan aura Yue Rou dan Chu Xiulan, segera dia melesat kesumber aura, sesampainya disana dia dikejutkan dengan mayat para pejabat dan kaum bangsawan yang berserakan.
“Mereka!” Ling Zhen melihat dua sosok pria yang melakukan pertukaran serangan dengan Yue Rou dan Chu Xiulan.
“Senior Lin! Senior Shi! Aku telah melakukan apa yang kalian perintahkan! Tolong tangkap perempuan itu dan biarkan aku memilikinya!” Dari belakang terlihat Xiong Ni berteriak sementara Feng Zhimao mengejarnya dengan kecepatan tinggi.
Ling Zhen menoleh karena tidak menyangka kedua orang itu menuju ketempat dimana Yue Rou dan Chu Xiulan berada.
“Kerja bagus.” Pria yang tersenyum lebar dalam sekejap berada dibelakang Ling Zhen dan memegang kepala Feng Zhimao.
“Kalau begitu, biarkan aku membunuh orang yang mengejarmu!” Telapak tangan pria itu mencengkeram kepala Feng Zhimao dan menghancurkannya.
Ling Zhen melebar matanya dan secara refleks menaikkan kewaspadaannya saat mengetahui pria yang barusan membunuh Feng Zhimao kembali bergerak.
“Kau urus perempuan itu, Xiong!” Pria itu memberi perintah sambil menyeringai lebar.
Dan pria itu mengeluarkan aura hitam pekat yang menyebar ke seluruh udara.
Ling Zhen merasakan Chu Xiulan bergerak cepat kearahnya sehingga dia memejamkan matanya dan melakukan konsentrasi secara penuh sebelum mengayunkan Pedang Pencabut Nyawa dan memotong tangan kanan pria yang hendak menyerangnya.
Yue Rou dan Chu Xiulan terkejut melihat Ling Zhen yang mampu bergerak setelah melihat kemampuan pria dari Sekte Pemuja Iblis itu.
Pria itu tertawa dan menatap lebar Ling Zhen, “Menarik, menarik! Tetapi kau tidak akan bisa membunuhku!”
Tangan kanan pria itu kembali beregenerasi, “Seluruh perwakilan yang sesungguhnya tidak akan bisa mati! Kau tahu, kami ini abadi!”
“Kau...” Ling Zhen menjaga jarak dan melepaskan aura pembunuh berjumlah besar, “Menjijikan!”
Yue Rou dan Chu Xiulan terdiam mendengar reaksi Ling Zhen yang sama sekali tidak terkejut dengan yang barusan terjadi justru merasa jijik melihat regenerasi anggota perwakilan Sekte Pemuja Iblis itu.
Pria itu berhenti tertawa, “Kau bilang apa?! Menjijikkan, katamu?”
__ADS_1