Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 57 - Setan Rakus Dan Taring Kerakusan


__ADS_3

“Aku akan melahap kepalamu itu, pemuda kurang ajar!” Setan Rakus memainkan pedangnya dengan brutal dan membuat kerusakan yang hebat pada jalanan.


Sementara Setan Rakus menyerang Ling Zhen dari depan secara langsung, Taring Kerakusan mengayunkan goloknya dengan gemulai dan mengincar bagian belakang Ling Zhen saat lengah.


“Apa hanya segini kemampuan kalian?” Ling Zhen dapat mengimbangi permainan pedang Setan Rakus yang brutal.


Dari belakang terlihat Taring Kerakusan hampir mengenai punggungnya, namun Ling Zhen dengan lincah bergerak dan menghalau serangan dari berbagai arah.


Sadar tebasannya dihalau Ling Zhen, dengan cepat Taring Kerakusan mundur kebelakang beberapa langkah sambil menyatukan kedua tangannya dan mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar.


“Aku akan memperlihatkan padamu mengapa orang-orang memanggilku Taring Kerakusan!” Terlihat Taring Kerakusan menyeringai tajam sebelum bergerak cepat menyerang Ling Zhen bersama Setan Rakus.


Ling Zhen melihat pergerakan Taring Kerakusan yang semakin cepat, namun permainan goloknya dapat dia imbangi bersama permainan pedang Setan Rakus.


Saat Ling Zhen berniat memotong golok Taring Kerakusan, justru pedangnya ditahan dengan gigitan mulut Taring Kerakusan.


Mata Ling Zhen melebar melihat itu, “Heh, menarik...” Bukannya ketakutan, Ling Zhen justru tertawa pelan dan mengalirkan sejumlah tenaga dalam.


“Mari kita lihat seberapa kuat gigimu itu.” Ling Zhen menendang perut Setan Rakus sebelum memberikan tebasan tajam pada Taring Kerakusan.


“Tidak mungkin, pemuda itu dapat mengimbangi Setan Rakus dan Taring Kerakusan!”


Terdengar bisikan para pendekar Lentera Kerakusan yang tercengang melihat Setan Rakus dan Taring Kerakusan tidak terlalu mendominasi pertarungan.


Salah satu pendekar yang mengepung Ling Zhen hendak memberitahu para pemimpin Lentera Kerakusan, namun tubuhnya terbakar api hingga habis saat melewati lingkaran api milik Ling Zhen.


Melihat kematian salah satu pendekar Lentera Kerakusan yang mengenaskan, semua mata tertuju pada Ling Zhen. Tak lama Hei Yang kembali memucat wajahnya.


“Tidak mungkin!” Hei Yang tidak habis pikir dirinya akan bertindak gegabah untuk mengurus orang yang membuat keributan digerbang Kota Heidong dan pelabuhan ini.


“Hanya Pendekar Bumi Tahap Puncak yang dapat melewati lingkaran api milikku. Tidak perlu takut, bukankah kalian semua berjumlah lebih dari seratus?” Ucapan Ling Zhen terdengar seperti ejekan dan itu membuat Setan Rakus geram.


Seketika permainan pedang Setan Rakus semakin brutal dan menajam. Setiap Ling Zhen menahannya, maka gelombang kejut tercipta dan membuat kerusakan besar dijalanan.


Pertukaran serangan Ling Zhen dan Setan Rakus berlangsung lama sebelum Taring Kerakusan melakukan serangan kombinasi dengan Setan Rakus.

__ADS_1


Baik Setan Rakus ataupun Taring Kerakusan sama-sama melepaskan aura pembunuh berjumlah besar hingga membuat para pendekar Lentera Kerakusan termasuk Hei Yang berkeringat dingin, namun tidak dengan Ling Zhen.


“Rasakan ini!” Taring Kerakusan melepaskan tebasan golok yang memancarkan cahaya berwarna merah.


Ling Zhen menangkisnya dan memainkan pedangnya lebih lincah dari sebelumnya sebelum mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar.


“Aliran Sembilan Naga Pertama ~ Satu Auman Halilintar!”


Melihat kilatan petir yang terang benderang dan mendengar suara yang menggelegar, seketika konsentrasi Setan Rakus dan Lentera Kerakusan pecah.


Ling Zhen memanfaatkan situasi tersebut untuk melancarkan serangan berikutnya. Tanpa ampun Ling Zhen tidak langsung membunuh keduanya dan berniat membuat keduanya memberitahu markas Lentera Kerakusan.


“Aliran Sembilan Naga Kedua ~ Hitam Putih Kehampaan!”


Setan Rakus berniat menangkisnya namun justru tangan kanannya putus, sedangkan Taring Kerakusan yang berusaha menahannya justru mendapatkan tebasan yang membuat dadanya terluka.


Keduanya segera menjaga jarak dari Ling Zhen dan menyuruh para pendekar Lentera Kerakusan yang mematung dan menonton pertarungan mereka untuk menyerang Ling Zhen.


“Bodoh! Kenapa kalian diam saja! Cepat serang pemuda ini!” Setan Rakus berteriak geram pada pendekar Lentera Kerakusan yang takut pada Ling Zhen.


Melihat dirinya terkepung dari segala arah Ling Zhen hanya tersenyum tipis, bahkan saat dia melihat Hei Yang menyuruh Setan Rakus dan Taring Kerakusan untuk membuka jalan dari lingkaran api.


“Sudah aku katakan, seribu tikus bergabung sekalipun tidak akan bisa melukai harimau!” Ling Zhen tersenyum lebar dan menyambut setiap tebasan yang datang satu demi satu padanya.


Suara pedang yang saling bersentuhan dan teriakan menggema, darah bertaburan dan layaknya hujan gerimis, seketika pelabuhan menjadi aliran darah yang menggenang dijalanan.


Seratus lebih pendekar Lentera Kerakusan tergeletak tak bernyawa, sementara tubuh Ling Zhen penuh dengan noda darah, Hei Yang memucat wajahnya begitu juga dengan Setan Rakus dan Taring Kerakusan.


“Sensasi ini...” Ling Zhen memejamkan matanya dan menikmati setiap tetesan darah yang mengenai wajahnya. Walau terlihat menikmati pembunuhan, yang sebenarnya Ling Zhen rasakan adalah rasa sakit yang menggenggam hatinya.


Rasa sakit yang mencekik dan membuatnya tersenyum adalah salah satu cara bagi Ling Zhen agar tetap kuat menjalani hidup ini.


“Pada akhirnya aku sama seperti mereka...” Ling Zhen bergumam pelan sebelum menghilang dari pandangan Hei Yang, Setan Rakus dan Taring Kerakusan.


Tatapan Ling Zhen kosong saat mengayunkan pedangnya memotong kepala Hei Yang dan membelah tubuh pria itu menjadi dua bagian.

__ADS_1


Nasib Setan Rakus dan Taring Kerakusan kurang lebih sama seperti Hei Yang, dimana tidak dapat berkutik sedikitpun saat Ling Zhen menebaskan pedangnya pada tubuh mereka.


Cipratan darah bak hujan gerimis membuat Ling Zhen menekan aura tubuhnya, seketika lingkaran api menghilang dan membuat para penduduk yang melihat kejadian di pelabuhan menjerit histeris.


Ling Zhen sebisa mungkin tidak ingin melibatkan penduduk, tetapi dia tidak bisa menghindarinya karena para pendekar Lentera Kerakusan melakukan pekerjaan didekat permukiman penduduk.


Setelah suasana hening, Ling Zhen baru menyadari jika dirinya melupakan sesuatu yang penting.


“Tunggu, ada yang kulupakan. Senior Yue, bukan...” Ling Zhen bergumam pelan lalu memejamkan matanya cukup lama, sebelum muncul bayangan Rubah Putih didalam kepalanya.


Seketika dia menjambak rambutnya dan menggertakkan giginya, tidak bisa dia percaya dirinya melupakan Rubah Putih karena ciuman pertamanya direbut Ratu Chu, terlebih setelah sampai di Kota Jihao, Ling Zhen mengarungi malam pertama dengan Ji Yanran, hanya karena dua hal itu dia melupakan Rubah Putih.


Dalam hatinya, Ling Zhen merasa menyesal, tetapi dia sama sekali tidak mengingat Yue Rou menyinggung soal Rubah Putih saat dirinya kembali dari Ibukota Qinghong.


Mengingat itu membuat Ling Zhen mendecakkan lidahnya, “Senior Yue, dimana kau sembunyikan Rubah Putih? Sial, seharusnya aku bertanya padanya!”


Saat Ling Zhen hendak melangkahkan kakinya menuju kapal besar yang berisi budak, seekor rubah berwarna putih datang berlari dan melompat ke kepalanya.


‘Bocah manusia! Perempuan bernama Yue Rou meninggalkanku!’ Dengan cepat Ling Zhen memeluk tubuh Rubah Putih.


“Rubah Putih, kupikir kau telah mati!” Ling Zhen bernapas lega melihat Rubah Putih, tetapi dia heran mengapa Rubah Putih tidak ada di Kota Jihao, dan berada di Kota Heidong.


Ling Zhen menanyakan hal itu pada Rubah Putih dan meminta penjelasan tentang Yue Rou yang meninggalkannya.


‘Dia sering berbicara padaku tentang dirimu. Namun pada saat itu pasangan pria dan wanita dari Sekte Pemuja Iblis hendak menyerang Kota Jihao, dan saat itulah perempuan bernama Yue Rou menyuruhku untuk membuntuti pasangan pria dan wanita itu...’


Rubah Putih menambahkan jika beberapa hari setelah kepergian Ling Zhen dari Kota Jihao, Yue Rou mencari suasana untuk menenangkan dirinya dengan berjalan-jalan keluar kota, saat itulah Yue Rou bertemu dengan pasangan pria dan wanita yang dimaksud Rubah Putih.


Yue Rou sempat melakukan pertarungan singkat, tetapi pasangan pria dan wanita itu berhasil melarikan diri. Menurut Yue Rou pasangan pendekar pria dan wanita itu tidak memiliki niat jahat seperti anggota Sekte Pemuja Iblis pada umumnya.


‘Lalu dia menyuruhku mengejar pasangan itu...’ Rubah Putih kembali melompat ke kepala Ling Zhen dan menjelaskan dirinya berhasil menemukan lokasi keberadaan pasangan pendekar pria dan wanita.


‘Mereka berdua adalah kakak beradik, keduanya berasal dari Negeri Ezzo...’ Mendengar ucapan Rubah Putih yang terakhir, Ling Zhen mengangkat alisnya.


“Negeri Ezzo?”

__ADS_1


__ADS_2