
Kekacauan di Ibukota Jiayang memakan korban jiwa dari penduduk kota. Serangan mendadak dari salah satu perwakilan Sekte Pemuja Iblis membuat Ibukota Jiayang dipenuhi kepanikan.
Saat Ling Zhen tengah menghadapi situasi yang tidak terduga, di Istana Jia telah sepi karena anggota keluarga bangsawan berhasil melarikan diri.
Li Jingshan membawa anggota Keluarga Jia menuju penginapan yang ada diujung kota, namun situasi tak terkendali dimana seluruh Ibukota Jiayang dipenuhi kepanikan membuat Li Jingshan sulit mengambil keputusan selanjutnya.
Li Jingshan percaya jika Ling Zhen dapat memukul mundur pembunuh dari Rumah Gaya Bulan, bahkan dihalaman Istana Jia sudah tidak ada satupun pembunuh yang bertahan hidup.
Yang tersisa sekarang hanyalah tiga orang yang sedang terbang diudara. Semua mata memandang penuh ketakutan akan satu orang yang melepaskan serangan ke sembarang arah.
Dalam rombongan Li Jingshan juga ada Jia Ruan, Jia Zheng dan Yuan Mei. Setelah melihat sosok ketiganya, tentu kondisi di Ibukota Jiayang semakin tidak terkendali.
“Ayah, bukankah tadi Tuan Ling yang terkena serangan itu?” Li Hua bertanya karena dia melihat siluet Ling Zhen yang terkena tombak petir.
Li Jingshan juga tidak ingin berpikir yang tidak-tidak tentang Ling Zhen, “Hua‘er, percayalah pada Pendekar Ling...”
Sekilas Jia Ruan mendengar obrolan kedua ayah dan anak itu, gadis ini tengah mengalami perasaan yang bergejolak. Kondisi mentalnya hancur karena tunangan sekaligus pria yang selama ini menjadi sosok yang mengisi hatinya menunjukkan sifat aslinya.
Terlebih Zhong Feng adalah orang yang ikut mendalangi rencana pembunuhan kakek dan neneknya. Jia Ruan masih tidak menerima kenyataan, bahkan kenyataan tentang dirinya yang salah menilai sosok Ling Zhen.
Saat kepanikan terjadi dimana-mana, langit malam yang berapi-api di Ibukota Jiayang mendadak semakin terang saat sebuah cahaya berwarna ungu dan merah melesat cepat ke arah salah satu perwakilan Sekte Pemuja Iblis.
“Ayah, bukankah itu...” Li Hua tersenyum cerah saat mengetahui Ling Zhen masih hidup, begitu juga dengan Li Jingshan.
“Iya, Hua‘er. Pendekar Ling adalah pemuda yang telah ayahmu ini akui.” Li Jingshan berkata dengan bangga, sementara Li Rong hanya tersenyum mendengar ucapan suami dan anaknya itu.
___
__ADS_1
Sebuah padang rumput yang dekat dengan Ibukota Jiayang terlihat ada seorang pria paruh baya yang berumur delapan puluhan tahun sedang berjalan seorang gadis.
Keduanya memakai jubah bermotif bunga berwarna biru dan putih, sementara tudung berwarna putih yang menghiasi kepala mereka membuat wajah keduanya sulit dilihat.
“Yaya, apa kau merasakan aura pembunuh ini? Sepertinya di Ibukota Jiayang terjadi sesuatu?” Ucap pria paruh baya yang menatap langit Ibukota Jiayang berwarna gelap kemerahan.
Gadis yang berjalan disampingnya menganggukkan kepalanya, “Aku juga merasakan aura pembunuh mengerikan dari arah yang berlawanan, kakek.”
“Sebaiknya kita kunjungi Ibukota Jiayang. Lagipula aku sudah lama tidak melihat-lihat kota itu.” Pria paruh baya melangkahkan kakinya menuju Ibukota Jiayang bersama gadis yang bersamanya.
Diwaktu yang bersamaan, terlihat pertarungan sengit dilangit Ibukota Jiayang. Jurus yang beradu, bahkan dentuman suara petir terus menggelegar.
“Kalian berdua, apakah orang ini yang menggagalkan rencana kita?” Pria berambut putih dengan pedang berwarna ungu bertanya pada Hei Yuan dan Jian Gu.
“Senior Lin Zi, dia orangnya. Dia yang membantai seluruh anggota Rumah Gaya Bulan.” Hei Yuan dan Jian Gu menjawab bersamaan.
Ling Zhen yang melihat reaksi keduanya terkejut, karena bagaimanapun kemampuan Lin Zi jauh diatasnya. Tetapi saat melawan salah satu orang yang membantai keluarganya, Ling Zhen termakan amarah.
“Bedebah sialan ini!” Ling Zhen menatap tajam Lin Zi dan melepaskan segenap kekuatannya yang tersisa, sebuah cakaran kaki yang diselimuti api berhasil ditahan hanya dengan satu telapak tangan Lin Zi.
“Kemampuammu ini sangat menarik. Jika Iblis Kerakusan yang melihat ini, aku yakin dia akan membunuhmu dan menggeledah isi tubuhmu!” Lin Zi tertawa dan melepaskan sebuah pukulan yang diselimuti angin memadat pada perut Ling Zhen.
Darah segar keluar dari mulut Ling Zhen bersamaan dengan tubuhnya yang terhempas kebawah menabrak bangunan kota.
‘Sejauh ini perbedaannya?’ Ling Zhen tifam percaya jika dirinya tidak dapat berkutik sedikitpun dihadapan orang yang membantai keluarganya.
“Dengar, sepertinya urusanku di kota ini selesai. Lagipula kekacauan ini cukup untuk menghilangkan jejak kami.” Lin Zi menggelengkan kepalanya dan tertawa cekikikan.
__ADS_1
“Kalian berdua pergilah ke tempat Aliansi Bulan Darah, bilang pada mereka aku yang mengutus kalian berdua.” Lin Zi menatap Hei Yuan dan Jian Gu yang mematung.
“Terimakasih, tetapi mengapa anda tidak melakukan pertarungan seperti biasanya?” Hei Yuan bertanya karena ada sesuatu yang berbeda dari Lin Zi.
Pertanyaan Hei Yuan membuat Lin Zi berhenti tertawa, sorot mata tajam mengarah pada Hei Yuan yang bertanya.
“Maafkan aku, seharusnya aku tidak bertanya-”
“Aku baru saja menembus Pendekar Langit Tahap Awal. Tetapi karena ulah perempuan itu, aku telah kehilangan banyak energi. Apa ada yang perlu ditanyakan lagi?” Lin Zi menatap Hei Yuan dan Jian Gu yang seakan tidak percaya dengan perkataannya.
“Jika tidak ada, cepat tinggalkan tempat ini karena aku akan memberikan sebuah kenangan pada kota indah ini sebelum pergi...” Saat Lin Zi berkata demikian, sebuah badai berputar disekelilingnya.
“Tidak akan kubiarkan!” Ling Zhen mengeluarkan Pedang Sembilan Naga dan berniat menahan serangan tersebut, namun hal itu justru membuat Lin Zi menyeringai penuh ejekan.
“Satu tiupan ini akan meratakan yang ada dihadapanku ini.” Lin Zi menarik napas panjang. Seketika badai dan pusaran angin menghilang.
Saat mulut Lin Zi menghembuskan napas, sebuah angin yang dipenuhi tenaga dalam menghancurkan bangunan bahkan membuat tubuh Ling Zhen terlempar.
Namun saat tiupan angin itu hampir membunuh orang-orang, sebuah pedang menyambut dan seketika angin itu menghilang.
“Ternyata kau melarikan diri ke tempat ini.” Perempuan yang memakai penutup wajah dan tudung membuat Lin Zi mendecakkan lidahnya.
“Sialan! Apakah ratumu itu yang mengutusmu?! Seharusnya kami membunuh semua orang disana waktu itu!” Lin Zi berniat pergi sejauh mungkin karena bertarung melawan perempuan dihadapannya sekarang hanya akan membuatnya mengalami kerugian.
“Untuk saat ini aku akan pergi, tetapi bagaimanapun juga kau tidak akan mengejarku...” Lin Zi mengeluarkan sebuah pedang berwarna ungu dari jubahnya, lalu mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar.
“Ini adalah Pusaka Dewa. Pedang Petir Ilahi!” Lin Zi melepaskan sebuah tebasan yang membuat langit terbelah, dan seketika petir berwarna ungu berbentuk naga menghujam Ibukota Jiayang.
__ADS_1
Bersamaan dengan serangan itu, Lin Zi menghilang. Sementara serangan yang dilepaskan Lin Zi dan diperkirakan menghancurkan setengah Ibukota Jiayang itu ditahan dengan mudah oleh perempuan misterius.
“Lagi-lagi, dia melarikan diri. Sepertinya membunuh salah satu perwakilan Sekte Pemuja Iblis memang sangat sulit,” ujar perempuan misterius itu.