
IW 155 - Kelainan Jia Lun
Jia Ruan mengepalkan tangannya dengan erat saat mengetahui cinta pertamanya ini telah memiliki istri dan anak, terlebih Ling Zhen memiliki delapan istri dan tujuh anak.
Yang lebih mengejutkan adalah hubungan Ling Zhen dengan Gong Ning dan Jia Lun. Ling Zhen mengatakan semuanya kepada Jia Ruan dan membuat gadis itu hampir pingsan karena syok.
“Ling Zhen, kau ingin menikahi keponakan dan bibinya. Bukankah kau terlalu rakus sebagai pria?” Jia Ruan tersenyum namun senyuman itu mengandung intimidasi.
“Ruan, apa kau marah?” Ling Zhen sudah memiliki delapan istri dan dia berusaha memahami perasaan perempuan. Menurutnya Jia Ruan tidak rela jika harus berbagi dengan perempuan lain.
“Tidak, aku sama sekali tidak marah. Hanya saja aku merasa kalah sebagai seorang wanita. Dimatamu janda lebih menggoda bukan?“ Jia Ruan secara blak-blakan mengatakan itu membuat Ling Zhen dan Jia Lun tersedak secara bersamaan.
“Ruan‘er, kamu...” Jia Lun malu dan dia tidak berani menatap wajah Jia Ruan.
“Bibi Lun, sepertinya kau benar-benar telah jatuh hati pada Ling Zhen.” Jia Ruan menghela nafas panjang dan memijat keningnya.
“Itu...” Jia Lun menarik nafas panjang dan menghela nafas, “Ruan‘er, maafkan aku. Tetapi aku harus mengatakan ini didepanmu secara langsung. Aku memiliki perasaan kepada Zhen‘er. Aku tahu Zhen‘er lebih pantas menjadi anakku dibandingkan suami. Tetapi aku tidak bisa menyangkal perasaan ini. Aku menerima kondisi Zhen‘er dan siap menjadi istrinya yang entah keberapa.”
Mata Jia Ruan melebar mendengar ucapan Jia Lun seakan tidak percaya. Kemudian Jia Ruan menatap Ling Zhen yang tersenyum.
“Dasar tidak peka! Setidaknya kau minta maaf padaku!” Jia Ruan cemberut dan menatap Ling Zhen berkaca-kaca.
“Ruan, maaf tetapi inilah aku.” Ling Zhen terlihat tidak merasa bersalah.
“Bisa kau tinggalkan aku dengan Bibi Lun. Aku ingin berbicara empat mata dengannya.” Jia Ruan berucap dengan nada memerintah. Ling Zhen mengangguk dan pergi menuju ruang sebelah.
Jia Ruan dan Jia Lun saling memandang satu sama lain. Ling Zhen yang melihat itu bergidik ngeri karena bagaimanapun keduanya terlihat seperti sedang memperebutkan dirinya.
“Bibi Lun, apa benar jika Paman Bao telah mati?” Jia Ruan bertanya dan Jia Lun menceritakan yang sebenarnya kepada Jia Ruan tentang sepak terjang Ling Zhen di Ibukota Jiayang.
“Zhen‘er telah mengakhiri semuanya, Ruan‘er. Dan aku ingin mengutarakan niatku padamu tentang Zhen‘er.”
__ADS_1
Jia Lun menceritakan tentang tujuannya yang ingin menjadikan Ling Zhen sebagai Kaisar Jia. Selain mendapatkan dukungannya, Jia Lun yakin Ling Zhen akan membawa Kekaisaran Jia kearah yang lebih baik.
Dan Jia Lun ingin Jia Ruan menjadi permaisuri Ling Zhen, namun Ling Zhen tidak bisa memberikan perilaku berbeda pada istrinya karena menurut pemuda itu semuanya itu istimewa.
“Bibi Lun, aku mengerti. Lagipula Ling Zhen telah memiliki anak dari Kaisar Chu bukan? Aku bersedia menerima tujuanmu ini.” Jia Ruan menghela nafas karena akhirnya dia menerima kondisi Ling Zhen yang terkena Kutukan Dewa Kematian ataupun fakta bahwa cepat atau lambat dirinya harus berbagi dengan pengasuhnya Gong Ning dan bibinya sendiri Jia Lun untuk bersama Ling Zhen.
Jia Lun tersenyum, wanita paruh baya ini tidak menceritakan kepada Jia Ruan jika dirinya juga ingin melihat Ling Zhen mengukir namanya dalam sejarah Kekaisaran Jia dengan memiliki banyak istri bahkan Jia Lun berniat mencari wanita yang memiliki nasib yang kurang lebih sama seperti dirinya agar mengenal dan mencintai Ling Zhen.
Bisa dibilang Jia Lun memiliki masalah batin karena dirinya pernah dijebak dan dimanfaatkan Jia Bao. Sehingga Jia Lun ingin para wanita yang mengalami nasib seperti itu membuka hatinya kepada Ling Zhen.
“Kenapa Bibi Lun tersenyum sendiri?” Jia Ruan memandang aneh Jia Lun.
“Ah, tidak Ruan‘er. Bibi Lun hanya merasa bahagia karena akhirnya bisa merasakan jatuh cinta.” Jia Lun menjawab asal dan Jia Ruan mempercayainya.
“Sepertinya aku harus berhati-hati karena musuh utama ku adalah bibiku sendiri dan pengasih ku.” Jia Ruan mengeledek Jia Lun.
“Jadi sejauh mana hubunganmu dengan Ling Zhen, Bibi Lun?” Jia Ruan bertanya.
Jia Lun tersenyum penuh arti, wanita paruh baya ingin menggoda Jia Ruan sehingga dia menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Ling Zhen.
Ekspresi Jia Ruan merah padam saat mendengar cerita Jia Lun.
“Aku dan bocah nakal itu melupakan status kami. Kami berdua melewati malam yang indah dan dia benar-benar pemuda sehat yang sangat perkasa karena aku dibuat tidak bisa berjalan...” Jia Ruan memberi tanda pada Jia Lun agar berhenti bercerita.
“Hihi, Ruan‘er, kau yang ingin mendengarnya bukan? Tetapi sepertinya aku berlebihan.” Jia Lun merasa bersalah dan meminum teh hangat dengan anggunnya.
“Bibi Lun, aku belum pernah melihatmu sebahagia ini. Biasanya kau selalu bersedih saat kau mabuk dan mengoceh tentang kejadian yang menimpamu.” Jia Ruan mengetahui bagaimana Jia Lun diperkosa para pendekar Aliansi Bulan Darah.
“Semua ini karena Zhen‘er....“ jawab Jia Lun.
“Sekarang mari aku ingin menemui Bibi Ruyun dan Bibi Gong.” Jia Ruan tersenyum karena mengetahui akhirnya orang-orang terdekatnya telah selamat.
__ADS_1
Jia Lun menganggukkan kepalanya dan memanggil Ling Zhen.
“Zhen‘er, kemari Nak.”
Ling Zhen menatap Jia Lun yang memasang senyum menggoda.
‘Aku mendengar semuanya. Mereka berdua benar-benar membicarakan hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.’
Ling Zhen duduk disamping Jia Lun dan mendengarkan keinginan Jia Ruan yang ingin bertemu Yuan Ruyun dan Gong Ning.
“Tunggu Ruan‘er. Kita sudah membicarakan ini jika Zhen‘er membeli Bibimu itu termasuk semua perempuan di pelelangan. Zhen‘er sudah mengirimkan surat kepada mereka bertiga jika mereka harus bersedia menjadi istrinya.” Jia Lun mengatakan hal yang tidak pernah Ling Zhen ketahui.
“Hah? Aku-” Ling Zhen hendak berbicara namun tiba-tiba Jia Ruan menatapnya sengit.
‘Wanita ini?! Apa yang dia rencanakan?! Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya!’ Ling Zhen melihat Jia Lun tersenyum.
‘Aku ingin kau dikelilingi puluhan wanita bocah nakal. Aku yakin kau mampu membahagiakan puluhan wanita karena aku tidak ingin ada yang sepertiku lagi. Ya, ini satu-satunya jalan dan keinginanku.’ Jia Lun membatin larut dalam keinginannya sendiri.
“Baiklah, sebaiknya kita menemui Bibi Gong dan mereka bertiga.” Ling Zhen yang merasa kesal dengan Jia Lun terpancing.
“Sekalian kita membicarakan hari pernikahan kita dan pengangkatan dirimu menjadi Kaisar Jia. Kau akan menikahi tujuh perempuan sekaligus dan mungkin lebih.” Jia Lun membuat suasana semakin panas.
“Ling Zhen, aku hanya bisa mengatakan ini padamu. Jaga perasaan wanita dan aku tidak akan memaafkan dirimu jika kau melukai perasaan Bibi Ruyun!”
Jia Ruan langsung berjalan keluar rumah dengan langkah yang menghentak keras.
“Ruan, apa kau tahu dimana Bibi Gong berada?” Ling Zhen tersenyum melihat Jia Ruan yang menahan malu.
“Berhenti mengatakan hal yang tidak perlu dan cepat berjalan!”
“Mengerti, Tuan Putri.”
__ADS_1
Jia Lun tertawa lirih karena tidak menyangka semuanya berjalan sesuai dengan rencananya.
‘Membayangkan bocah nakal itu dikelilingi puluhan wanita sudah membuat jantungku berdegup kencang.’