Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 98 - Sambutan Calon Istri


__ADS_3

“Suhu disini sangat dingin, apa kau baik-baik saja Kakak Ji?” Mizuhara menyelimuti tubuh Ji Yanran menggunakan kain yang tebal.


“Ran‘er, katakanlah sesuatu. Kenapa kau diam saja?” Ling Zhen memegang telapak tangan Ji Yanran penuh khawatir.


“Mizuhara, Zhen‘gege, aku tidak kedinginan. Aku hanya takjub akan keindahan alam ini...” Ucapan Ji Yanran membuat Ling Zhen dan Mizuhara menghela nafas panjang.


Baik Ling Zhen ataupun Mizuhara sudah sangat khawatir pada kondisi Ji Yanran dimana perempuan dewasa itu sedang hamil muda.


“Aku setuju dengan Kakak Ranran.” Yue Rou tertawa ceria dan menanggapi ucapan Ji Yanran.


“Sama, aku sependapat denganmu, Yue Rou. Lihat, bukankah puncak pegunungan ini sangat tinggi.” Chu Xiulan tampak begitu antusias memandangi Pegunungan Longxue.


Ling Zhen tersenyum melihat ketiga istrinya menikmati perjalanan menuju Lembah Dewa. Tak lama tatapannya tertuju pada Mizuhara, gadis yang sebaya dengannya itu juga terlihat menyukai semua pemandangan alam di Pegunungan Longxue.


Keindahan alam dimana es membentang dengan luasnya itu berakhir disebuah segel kuno dapat ditembus oleh Rubah Putih.


Mengingat Ling Zhen memiliki aura yang sama seperti Rubah Putih maka dia dapat keluar masuk dengan mudah. Begitu juga dengan orang-orang yang dibawa Ling Zhen setelah ditandai tubuhnya dengan aura oleh Ling Zhen.


Mereka semua turun dari punggung Elang Halilintar dan berdiri didepan sebuah segel kuno yang merupakan dinding pembatas.


Ling Zhen tersenyum melihat keempat perempuan yang berdiri dihadapannya, “Disana adalah Lembah Dewa, semoga kalian menyukainya.”


Chu Xiulan dan Yue Rou saling menatap sebelum mengangguk pelan, begitu juga dengan Ji Yanran dan Mizuhara. Kemudian mereka berempat memegang kedua tangan Ling Zhen sebelum masuk melewati dinding pembatas secara bersamaan.


Apa yang ada dibalik segel kuno itu membuat mata Ji Yanran, Yue Rou, Chu Xiulan dan Mizuhara melebar. Mereka berempat terkejut melihat keindahan alam diatas Lembah Dewa.


Dimana bintang-bintang berhamburan di angkasa dengan warna hitam pekat langit yang terlihat cerah karena sinar rembulan. Membuat malam begitu indah.


“Indahnya, aku tidak menyesal meninggalkan Kekaisaran Chu.” Ucap Chu Xiulan sambil merentangkan kedua tangannya.


Yue Rou menarik nafas panjang dan tersenyum, “Zhen‘gege, kau membuatku semakin mencintaimu.”


“Kau benar, Rourou. Aku tidak menyesal menjadi istrimu, Zhen‘gege.” Ji Yanran ikut berkomentar.


Sementara Mizuhara terdiam dan terpesona dengan keindahan alam di Lembah Dewa sampai lupa dirinya hanya menjadi obat nyamuk ditengah-tengah Ling Zhen dan ketiga istrinya.


“Kita turun.” Ling Zhen mengajak empat perempuan yang ikut bersamanya menuruni puncak pegunungan di Lembah Dewa.

__ADS_1


Melihat senyuman Ji Yanran, Yue Rou, Chu Xiulan dan Mizuhara membuat Ling Zhen menikmati setiap momen sekarang. Namun sesampainya di sebuah rumah sederhana di Lembah Dewa, kedua mata Ling Zhen terpana akan kecantikan dua perempuan yang sedang berdiri didepan pintu.


“Apa mereka berdua adalah calon istri yang kau ceritakan padaku, Zhen‘gege?” Ji Yanran bertanya sambil memperhatikan kecantikan Xue Lianhua dan Que Mi.


Yue Rou dan Chu Xiulan mengangguk sambil menatap Ling Zhen menunggu jawaban pemuda itu. Hanya Mizuhara yang terlihat tidak senang.


‘Dasar tukang selingkuh! Apa tidak puas hanya dengan tiga perempuan?!’ Mizuhara tidak habis pikir jika Ji Yanran, Yue Rou dan Chu Xiulan bisa begitu mencintai Ling Zhen.


“Saudara Ling, mereka bertiga itu siapa?” Xue Lianhua mendekati Ling Zhen dan bertanya.


“Tidak bisa dipercaya! Setelah aku menanti, justru kau datang membawa empat perempuan kesini!” Que Mi tiba-tiba menghentakkan kakinya ketanah dan berekspresi kesal.


Wajah Ji Yanran, Yue Rou, Chu Xiulan dan Mizuhara memucat melihat kedua perempuan cantik itu mendekati Ling Zhen.


“Saudari Xue, aku bisa menjelaskan semua ini padamu. Dengarkan aku.” Ling Zhen mendekati Xue Lianhua dan mencoba memegang tangan perempuan itu namun Xue Lianhua menepisnya.


“Bukannya membawa penawar Tidur Abadi, kau justru membawa perempuan lain? Apa yang perlu dijelaskan?!” Xue Lianhua menatap dingin Ling Zhen.


“Mereka bertiga adalah istriku. Dan Xiu‘er memiliki kemampuan untuk membangunkan Ibuku.” Ling Zhen berbicara dengan tenang seolah-olah tidak memiliki rasa bersalah.


Xue Lianhua dan Que Mi sudah mendambakan reaksi Ling Zhen saat melihat kecantikan keduanya semakin bertambah, namun pemuda itu justru membawa wanita lain dihadapan mereka berdua.


“Jongkok?” Ling Zhen bertanya dan menatap wajah Xue Lianhua. Perempuan berparas cantik itu menganggukkan kepalanya.


“Aku akan mengizinkan kau menceritakan semuanya setelah meninggalkan Lembah Dewa saat kau berjongkok dihadapanku.” Xue Lianhua berbicara dengan nada memerintah.


Ling Zhen menuruti perintah Xue Lianhua. Semua yang melihatnya penasaran dengan apa yang akan dilakukan Xue Lianhua kepada Ling Zhen, bahkan Que Mi sekalipun.


“Dasar tidak tahu diri!” Xue Lianhua menendang wajah Ling Zhen menggunakan kaki kanannya.


Ling Zhen tersungkur ketanah, ekspresi Ji Yanran, Yue Rou, Chu Xiulan dan Mizuhara menganga tidak percaya sementara Que Mi memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya.


“Itu adalah balasan untukmu! Bahkan bagiku belum cukup!” Xue Lianhua masih menatap dingin Ling Zhen.


Ling Zhen berdiri sambil memegangi pipinya, kemudian menatap wajah Xue Lianhua dalam dan membuat perempuan itu salah tingkah.


“Apa hanya ini sambutanmu?” Ling Zhen tersenyum kepada Xue Lianhua dan Que Mi.

__ADS_1


Keduanya kebingungan melihat Ling Zhen tidak marah sedikitpun. Menurut Xue Lianhua hal yang telah dia lakukan kepada Ling Zhen tentu merendahkan harga diri Ling Zhen sebagai lelaki tetapi pemuda itu justru tersenyum padanya.


“Apa kau tidak marah?” Que Mi bertanya, sementara mulut Xue Lianhua terbuka tak bersuara dan tak berkata.


Ling Zhen menghela nafas panjang sebelum berkata, “Aku tahu aku salah. Kalian berdua telah merawat Ibuku dan berusaha menyambut kedatanganku. Aku bisa mengetahuinya hanya dengan melihat kalian berdua. Tetapi aku datang sesuai janji membawa penawar Tidur Abadi dan penghulu.”


‘Penghulu?’ Xue Lianhua dan Que Mi memperhatikan Ji Yanran, Yue Rou, Chu Xiulan dan Mizuhara secara bergantian. Namun keempat perempuan itu tidak memiliki ciri-ciri seperti seorang penghulu.


Ling Zhen mengetahui reaksi Xue Lianhua dan Que Mi yang kebingungan. Kemudian dia mengeluarkan Pedang Pencabut Nyawa dan menancapkannya ditanah.


“Pedang ini bernama Pedang Pencabut Nyawa. Dia akan menjadi saksi bisu sumpahku untuk menikahi kalian berdua. Jika aku tidak dapat membuat kalian berdua bahagia sesuai janjiku pada Tetua Agung, maka pedang ini akan mengambil alih tubuhku dan membunuhku.” Ling Zhen mengatakan itu dengan senyuman tipis diwajahnya.


Xue Lianhua dan Que Mi terkejut mendengar ucapan Ling Zhen. Pemuda itu memang telah memenuhi permintaannya, tetapi Ling Zhen bertindak terlalu jauh untuk membuktikan ketulusannya, walau ketulusan Ling Zhen sulit dikatakan tulus karena hatinya terbagi untuk beberapa wanita.


Xue Lianhua menghela nafas panjang kemudian membuka pintu rumah lebih lebar.


“Masuklah.” Xue Lianhua mendadak lemas dan syok karena calon suaminya benar-benar sulit ditebak jalan pikirannya. Tetapi dia tidak memungkiri perasaannya saat jantungnya berdegup kencang melihat sosok Ling Zhen dan tekad pemuda itu adalah bukti nyata dirinya telah jatuh hati pada Ling Zhen.


Bahkan Que Mi tidak menyangka jantungnya berdegup begitu kencang melihat sosok Ling Zhen yang beberapa bulan ini tidak dilihatnya walaupun keduanya belum saling mengenal terlalu jauh.


“Kalian berempat masuklah.” Ling Zhen mengajak Ji Yanran, Yue Rou, Chu Xiulan dan Mizuhara untuk masuk kedalam rumah.


Setelah masuk kedalam rumah, Chu Xiulan segera menghampiri sosok Ibu Ling Zhen yang terbaring lemah. Kemudian perempuan itu memperhatikan dengan seksama wajah Ibu Ling Zhen.


“Bisakah kalian semua meninggalkan aku sendirian disini. Aku ingin berdua dengan Ibu Mertua, hanya berdua.” Ucap Chu Xiulan sambil menoleh kebelakang.


Ling Zhen menatap lima perempuan lain yang berdiri disampingnya kemudian keluar menuju ruang tengah dituntun Que Mi.


Chu Xiulan memegang tangan Ibu Ling Zhen dan menangis, “Aku memang dapat membuatnya terbangun... Tetapi ini terlalu kejam...”


Chu Xiulan sadar setelah melihat wajah Ibu Ling Zhen, perempuan paruh baya yang terbaring lemah itu tidak akan bertahan lama hidupnya. Paling lama tiga tahun dan tentu itu membuat Chu Xiulan merasakan sakit yang luar biasa dihatinya.


Perjuangan Ling Zhen berakhir seperti ini dan tentu itu membuat Chu Xiulan menangis. Ibu Ling Zhen sudah melemah tubuhnya bahkan luka dalam yang menggerogoti tubuhnya membuat kondisinya sangat parah.


Chu Xiulan sebisa mungkin menolong Ibu Ling Zhen dengan menyalurkan aura tubuhnya kepada perempuan paruh baya itu.


Beberapa detik kemudian tubuh perempuan paruh baya itu bersinar. Dan warna hitam pekat memenuhi kulit putih tubuh perempuan paruh baya itu selama beberapa menit bersamaan dengan Chu Xiulan yang melepaskan kekuatan Dewi Malam.

__ADS_1


“Kehendak Dewi Malam - Terbit.” Ucap Chu Xiulan sambil memandang wajah Ibu Ling Zhen yang terlihat semakin cerah bercahaya.


__ADS_2