Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 51 - Yue Rou Hamil?


__ADS_3

Sudah seminggu sejak pertempuran di Ibukota Qinghong, mayat yang berserakan di stadion sudah diamankan bersama dengan bangunan stadion yang hancur setengahnya juga dalam masa perbaikan.


Pertempuran itu memakan banyak korban, bahkan Lembah Hujan sudah tidak ada lagi setelah pertempuran yang memakan waktu seharian penuh itu.


Kaisar Qing merenovasi stadion dan berniat mendirikan empat patung para tetua Lembah Hujan untuk menghormati mereka.


Bing Lao sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam masalah politik, tetapi masalah yang telah terjadi tidak dapat dia abaikan begitu saja, terlebih berhubungan langsung dengan Sekte Pemuja Iblis.


Dengan kematian Wu Ming, tentu Sekte Pemuja Iblis akan melakukan serangan balasan selanjutnya, mengingat belum pernah ada perwakilan dari Sekte Pemuja Iblis yang mati selama puluhan tahun belakangan ini.


Bing Lao membantu Kaisar Qing untuk mengurus pendekar aliran hitam yang bersembunyi di Ibukota Qinghong sebelum kembali ke Pegunungan Longxue.


Kaisar Qing berniat menjadikan Bing Lao sebagai jendral dipasukannya, tetapi Bing Lao menolaknya secara halus karena menurutnya Kekaisaran Qing masih mempunyai sosok Ling Zhen yang kelak akan membangkitkan dunia persilatan Kekaisaran Qing yang temaram. Itulah yang Bing Lao yakini.


Pada akhirnya Kaisar Qing dipenuhi rasa takut dan gelisah karena kejadian Festival Naga benar-benar membuat gempar Benua Lima Warna dengan kabar salah satu perwakilan Sekte Pemuja Iblis yang mati.


Entah itu pertanda baik atau buruk, semua orang yang berada di Kekaisaran Qing merasa cemas dengan angin perubahan yang terjadi.


___


Tujuh telah terlewati, Ling Zhen masih tak sadarkan diri hingga pada akhirnya dia membuka mata setelah merasakan tubuhnya menegang.


Saat membuka matanya, Ling Zhen mendapati sosok perempuan yang membuatnya pingsan tanpa sehelai pakaian dan memeluknya.


Dadanya dan dada perempuan itu bersentuhan, sensasi lembut yang tidak karuan itu membuat napas Ling Zhen memburu.


“Situasi ini...” Ling Zhen mendecakkan lidahnya pelan, lalu bergumam dan mendorong tubuh perempuan itu sebelum melompat dari atas punggung Elang Halilintar.


“Hmmm...” Jari-jari lentik perempuan itu mengucek matanya, kemudian mencari keberadaan Ling Zhen yang menghilang. Segera dia mengambil jarum dari pakaiannya dan melemparnya kearah Ling Zhen.

__ADS_1


“Dasar pemuda nakal, berniat melarikan diri setelah melihat tubuhku. Tidak semudah itu!” Perempuan itu tersenyum tipis dan memerintahkan Elang Halilintar mengikuti Ling Zhen dengan kecepatan sedang.


Ling Zhen merasa badannya terkena tusukan jarum, segera dia mencabut jarum itu dan membuangnya.


‘Tenagaku terkuras habis, aku tidak bisa bergerak seperti biasanya...’ Ling Zhen merasakan sekujur tubuhnya mulai pulih namun rasa letih merayapi sekujur tubuhnya.


‘Siapa perempuan itu? Aku merasa berbahaya berada didekatnya...’ Ling Zhen sebisa mungkin mengontrol aura tubuh dan tenaga dalamnya agar dapat terbang dengan kecepatan tinggi.


Sambil mengamati keadaan disekitarnya, Ling Zhen mengetahui dirinya telah meninggalkan Ibukota Qinghong dan berada di hutan yang jaraknya cukup dekat dengan Kota Jihao, Ling Zhen segera terbang secepat yang dia bisa.


‘Aku akan menjelaskan tentang perempuan itu pada Senior Yue...’


___


“Nona Yue, apakah anda yakin Adik Zhen, ah tidak, maksudku suamiku baik-baik saja?” Ji Yanran bertanya penuh rasa kekhawatiran.


Selepas berkata demikian, Yue Rou menyantap hidangan yang dibuat langsung para ahli masak Paviliun Bulan Biru.


Ji Yanran mengetahui Yue Rou memiliki kemampuan yang berada diatas Ling Zhen, dan dia telah melihatnya sendiri saat Yue Rou menghabisi pendekar dari Lentera Kerakusan yang hendak menyerang Kota Jihao.


Yue Rou minum arak setelah menyantap satu porsi makanan terakhir, “Nona Ji, jika perempuan dan laki-laki tidur bersama dalam satu kamar. Apa benar sang perempuan akan hamil?”


Ji Yanran tersedak mendengar pertanyaan Yue Rou yang mendadak. Ekspresi wajah Ji Yanran rumit dan bingung harus menjawab seperti apa.


“Menurutku perempuan akan hamil jika tidur seranjang dengan laki-laki...” Cukup pelan Ji Yanran menjawabnya.


Yue Rou berkeringat dingin dan hampir muntah mendengar jawaban Ji Yanran yang membuat tubuhnya menegang.


“Jadi kata Ratu benar. Aku akan hamil, karena telah tidur seranjang dengannya...” Yue Rou berdiri dan berjalan menuju kamar mandi sebelum muntah.

__ADS_1


Ji Yanran keheranan dengan apa yang barusan terjadi pada Yue Rou. Dia bertanya-tanya dan intuisinya sebagai seorang perempuan membuatnya menatap Yue Rou penuh tatapan menyelidik.


Sesaat setelah membuang segala rasa mual dalam dirinya, Yue Rou menatap Ji Yanran yang juga menatapnya penuh keheranan.


“Nona Ji maaf...” Yue Rou pergi meninggalkan hendak meninggalkan Paviliun Bulan Biru setelah berkata demikian, namun dipintu masuk terlihat ramai saat seorang pemuda berdiri dengan kondisi berbeda saat pemuda itu berangkat dari Kota Jihao.


“Zhenzhen...” Yue Rou melebar matanya, dirinya dipenuhi kebingungan melihat pemuda itu kembali dengan selamat. Seharusnya dia senang, tetapi saat ini dirinya sedang gelisah.


Yue Rou berjalan melewati Ling Zhen yang menyapanya dan mengabaikan perkataan pemuda itu, tetapi langkahnya berhenti saat mendengar ucapan Ling Zhen tentang sosok perempuan yang dimaksud oleh pemuda itu.


“Senior Yue, kau hendak kemana?" Ling Zhen bertanya.


“Aku akan pergi menemui Ratu.” Yue Rou menghilang dari pandangan Ling Zhen setelah berkata demikian.


“Hah?” Ling Zhen menggaruk kepalanya dan mendesah pelan, sesaat kemudian Ji Yanran menghampirinya dan segera memeluknya erat.


“Adik Zhen!” Ji Yanran menangis sesenggukan, Ling Zhen membalas pelukan Ji Yanran penuh kasih sayang.


“Aku ini suamimu, Kakak Ji...” Suara perut keroncongan terdengar keras hingga membuat Ling Zhen terdiam seribu bahasa.


Ji Yanran tertawa pelan, “Mari makan...” Tangan Ji Yanran menarik lembut tangan Ling Zhen.


“Aku ingin mandi dulu.” Ling Zhen beralasan jika memakan makanan tidak akan nikmat saat dirinya belum mandi, namun Ji Yanran terus memaksanya.


“Mandilah setelah makan.” Ujar Ji Yanran mengingatkan agar Ling Zhen makan terlebih dahulu.


Ling Zhen menggaruk kepalanya dan mengikuti perkataan Ji Yanran.


“Baiklah, aku akan makan dulu.”

__ADS_1


__ADS_2