Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 137 - Sumpah Ling Zhen Dan Li Hua


__ADS_3

Kembalinya Ling Zhen dengan raut wajah sedih membuat Li Hua bertanya-tanya. Pemuda itu menjawab dengan gumaman tidak jelas saat ditanya. Akhirnya Li Hua mengantarkan Ling Zhen menuju kamar yang telah disiapkan Li Jingshan dan Li Rong.


‘Aku tidak salah dengar kan?’ Ling Zhen membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Li Hua duduk ditepi ranjang dan bertanya, “Tuan Ling, apa yang terjadi padamu? Kau terlihat begitu lelah dan sedih...”


Ling Zhen membuka matanya dan menatap sosok gadis dengan paras cantik serta keramahannya itu. Ling Zhen merasa nyaman melihat Li Hua, perlahan dia bangkit dari tidurnya dan menghela nafas panjang.


“Nona Li, maukah kau ikut denganku ke Lembah Dewa?” Ling Zhen ingin mengganti suasana hatinya. Hari ini dia merasa begitu lelah. Bukan lelah melayani Chu Xiulan dan Ji Yanran, melainkan karena mengetahui kebenaran tentang dirinya.


Li Hua memperhatikan ekspresi Ling Zhen dengan seksama. Pemuda itu terlihat sangat menderita, ada kesedihan dan kemarahan disana. Namun ekspresi yang ditujukan Ling Zhen adalah penderitaan.


“Tuan Ling, kau terlalu keras pada dirimu sendiri. Tidak bisakah kau mempercayaiku dan istri-istrimu? Kau tidak sendirian, kau harus mengingat itu.” Li Hua memegang tangan Ling Zhen penuh kelembutan.


Ling Zhen yang mendapatkan perhatian dari Li Hua terkejut. Dia menatap wajah cantik yang menatapnya ramah dan membalas sentuhan lembut telapak tangan Li Hua.


“Bisa ceritakan padaku?” Li Hua tiba-tiba memeluk tubuh Ling Zhen dengan tangan yang gemetar. Ini adalah pertama kalinya Li Hua menyentuh tubuh seorang laki-laki.


Ling Zhen tersentak kaget. Ada sengatan listrik yang mengalir ditubuhnya tepat setelah Li Hua memeluknya. Ling Zhen membenamkan wajahnya kedada Li Hua dan memejamkan matanya.


“Nona Li, terimakasih.” Ling Zhen merasa lega karena Li Hua memberikan sebuah perhatian pada dirinya.


Sambil melepaskan pelukan Li Hua, Ling Zhen mengusap wajahnya secara kasar dan menghela nafas panjang. Pemuda itu kembali membaringkan tubuhnya dan ingin segera tertidur melupakan semuanya.


Li Hua memperhatikan wajah Ling Zhen yang terlihat begitu lelah. Gadis itu memperhatikan Ling Zhen yang tertidur lelap dipangkuan pahanya.


Li Hua dengan wajah memerah mendekatkan wajahnya ke wajah Ling Zhen, lalu memberikan kecupan hangat di kening Ling Zhen.

__ADS_1


“Semoga mimpi indah, Zhen‘gege.” Pipi Li Hua bersemu merah saat mengatakan itu.


____


Pagi yang cerah menyambut dirinya. Ling Zhen menemukan dirinya tertidur disebuah ruangan yang besar. Tidak ada orang selain dirinya diruangan itu.


“Kemarin aku...” Ling Zhen memegang kepalanya dan mengingat dirinya yang menunjukkan sisi lemahnya pada Li Hua.


Mengingat itu membuat pipi Ling Zhen memerah, “Argh! Sial! Itu memalukan!” Ling Zhen mengutuk dirinya sendiri karena kejadian kemarin.


Mendengar suara teriakan Ling Zhen membuat Li Hua membuka pintu kamar yang disediakan untuk pemuda tersebut. Yang Li Hua temukan disana adalah Ling Zhen yang sedang melepaskan pakaiannya dan hendak mandi.


Wajah Li Hua merah padam tepat setelah Ling Zhen melepaskan seluruh pakaiannya. Pemuda itu terkejut melihat kedatangan dirinya sama halnya dengan dirinya yang terkejut melihat sesuatu yang panjang namun bukan pedang.


“Tuan Ling!”


Ling Zhen kikuk karena melihat Li Hua menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Segera Ling Zhen berlari kekamar mandi meninggalkan Li Hua yang mematung didepan mati.


Didalam kamar mandi, Ling Zhen tersenyum sendiri dan menahan rasa malu. Tetapi rasa malu itu tidak berlangsung lama karena mengingat ekspresi Li Hua.


Setelah mandi, Ling Zhen diundang Li Jingshan dan Li Rong untuk makan malam bersama. Diruang makan terlihat Li Hua yang malu-malu menyapa dirinya.


“Nona Li, kau terlihat begitu cantik hari ini.” Ling Zhen duduk disamping Li Hua dan menggoda.


Li Hua tersedak, “Tuan Ling, jangan menggodaku!” Li Hua menatap Ling Zhen tajam seolah-olah tidak menyukai dirinya digoda.


“Zhen‘er, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan denganmu...” Li Jingshan memulai obrolan sebelum acara sarapan pagi bersama.

__ADS_1


Li Jingshan menjelaskan kepada Ling Zhen jika pernikahan Li Hua dengan Ling Zhen akan dilaksanakan hari ini secara tertutup. Li Jingshan dan Li Rong sudah mengobrol dan berbincang selama semalaman.


Mengingat situasi di Kekaisaran Jia sedang tidak kondusif, Li Jingshan tidak ingin acara pernikahan Ling Zhen dan Li Hua yang digelar secara meriah menjadi malapetaka. Li Jingshan akan mencari sang penghulu setelah sarapan pagi.


“Paman Li, aku akan menikahi Nona Li. Karena ini sekali seumur hidup, terlebih Nona Li adalah seorang bangsawan. Aku berjanji akan menggelar pernikahan termegah di Kekaisaran Jia. Setelah aku menyelesaikan urusanku.” Ling Zhen memegang tangan Li Hua dengan lembut.


Ling Zhen berdiri dan mengeluarkan Pedang Pencabut Nyawa dihadapan Li Jingshan, Li Rong dan Li Hua.


“Dihadapan Paman Li dan Bibi Li, aku bersumpah akan menjaga dan membahagiakan Hua‘er disepanjang hidupku.” Ling Zhen menatap Li Hua penuh keyakinan, “Hua‘er, apa kau bersedia menerima diriku ini?”


Li Hua melebar matanya mendengar ucapan Ling Zhen. Dia mengangguk lembut dan berdiri, “Aku bersedia. Dihadapan Ayah dan Ibuku, aku bersumpah akan menjadi istri yang berbakti kepada suamiku dan menjalankan tugasku.”


Ling Zhen menggoreskan jari jempolnya hingga berdarah menggunakan Pedang Pencabut Nyawa. Seketika gemuruh petir memenuhi Kota Limeng. Fenomena ini terjadi selama beberapa menit sebelum menghilang.


Li Hua melihat telapak tangannya dan menemukan jika dirinya memiliki tanda petir, sementara Ling Zhen mengalami hal serupa seperti saat dirinya melangsungkan pernikahan seperti ini dengan Xue Lianhua dan Que Mi.


Selepas ritual pernikahan tertutup ini selesai, Li Jingshan dan Li Rong mengajak Ling Zhen dan Li Hua sarapan pagi bersama.


“Mulai sekarang kau bisa memanggilku Ayah Li, Zhen‘er.” Li Jingshan tersenyum cerah karena mendapatkan seorang menantu seperti Ling Zhen.


“Baik Ayah Li.” Ling Zhen mengikuti perkataan Li Jingshan.


“Kau juga bisa memanggilku Ibu Li, Zhen‘er.” Kini giliran Li Rong yang berkata.


Ling Zhen tersenyum tipis, “Baik, Ibu Li.” Sementara Li Hua tersipu malu.


Setelah sarapan pagi bersama, Ling Zhen dan Li Hua menikmati Kota Limeng bersama. Ling Zhen juga terbang menggendong Li Hua untuk menikmati keindahan alam disekitar Kota Limeng.

__ADS_1


Bersama Li Hua, Ling Zhen dapat melupakan kesedihannya. Senyum dan tawa Li Hua juga merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri dihatinya.


__ADS_2