
[Ji Yanran] [Pemilik Paviliun Bulan Biru, Pewaris Sah Keluarga Ji] [Sumber : Pinterest]
“Adik Zhen, hmmm, Zhen‘gege...” Ji Yanran menatap Ling Zhen yang memakan makanan dengan lahap, “Apa sebegitunya laparnya sampai kau mengabaikan aku yang berada didepanmu?”
Ling Zhen meminum segelas air lalu menatap Ji Yanran penuh makna, “Apa kau sudah makan Ran‘er?”
Ji Yanran mengangguk pelan, “Sudah. Malah balik bertanya.” Pipi Ji Yanran sedikit mengembung.
Ling Zhen beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju kolam air panas yang ada dibelakang bangunan Paviliun Bulan Biru.
Ji Yanran memerintahkan pada para pelayan agar jangan mendekati kolam air panas.
“Zhen‘gege, air panasnya sudah siap...” Ji Yanran berkata pelan dan berniat meninggalkan kolam air panas, namun tangan Ling Zhen menahannya.
“Ran‘er...” Ling Zhen memerah wajahnya sesaat dan segera melepaskan pegangan tangannya, “Lupakan saja.”
Ji Yanran kebingungan, “Aku tidak akan mengintip. Jadi tenang saja.” Ji Yanran duduk didepan ruangan kolam air panas, sementara Ling Zhen sudah berendam dan menghangatkan tubuhnya.
“Ah, ini luar biasa.” Ling Zhen menenggelamkan seluruh tubuhnya setelah berkata demikian, lalu bersandar pada bebatuan dipinggiran kolam air panas.
“Ran‘er.” Ling Zhen memanggil mesra Ji Yanran.
“Apa?” Sahut Ji Yanran.
“Aku sudah membunuh Wang Tao.” Ling Zhen menunggu jawaban Ji Yanran dan ingin melihat reaksinya.
“Lalu?” Jawaban Ji Yanran membuat Ling Zhen menghela napas panjang.
Ling Zhen membersihkan seluruh bagian tubuhnya, lalu membasuhnya dengan kain sebelum keluar ruangan dan menghampiri Ji Yanran.
“Bukankah aku sudah berjanji.” Ling Zhen menatap Ji Yanran penuh makna. Seketika wajah Ji Yanran merah padam dan tidak berani menatap Ling Zhen.
Tidak ada jawaban dari Ji Yanran sehingga Ling Zhen mendekati perempuan itu dan memegang dagunya, lalu mengecup bibirnya lembut.
“Kenapa malu?” Setelah melepas ciuman lembutnya, Ling Zhen menikmati ekspresi Ji Yanran yang malu-malu.
“Kenapa tidak memakai bajumu terlebih dahulu...” Ji Yanran menggerutu pelan, sekali lagi Ling Zhen melakukan tindakan tidak terduga dimana tangannya ditarik dan tubuhnya dipeluk mesra oleh pemuda yang dua belas tahun lebih muda darinya.
“Pakaianmu yang seperti ini mengingatkanku saat malam pertama kita...” Ling Zhen berkata cukup pelan sebelum menyatukan bibirnya dengan bibir Ji Yanran.
Baik Ling Zhen maupun Ji Yanran masih canggung melakukan ciuman, keduanya sama-sama tidak melakukan perlawanan yang berarti. Walau Ling Zhen mendominasi, tetapi ini adalah pengalaman pertamanya.
__ADS_1
“Kakak Ji, aku ingin...” Ling Zhen menggendong tubuh Ji Yanran dan membawanya kedalam kamar pengantin mereka.
“Mengapa masih memanggilku seperti itu?” Ji Yanran memukul pelan dada Ling Zhen dan menenggelamkan wajahnya kedada bidang Ling Zhen.
Jantungnya berdetak kencang saat Ling Zhen membuka pintu dan membaringkan tubuhnya dengan penuh kelembutan ke ranjang.
Ling Zhen menindih tubuh Ji Yanran dan kembali mencium bibir tipis berwarna merah muda itu.
“Mmm...” Suara Ji Yanran dan Ling Zhen saling bersahutan. Tangan Ling Zhen mulai menyentuh setiap jengkal bagian tubuh Ji Yanran yang masih tertutupi pakaiannya.
Badan Ji Yanran menggeliat pelan saat Ling Zhen meremas dua bongkahan yang padat dan berisi dari balik pakaiannya.
“Ah, geli...” Pipi Ji Yanran bersemu merah, rambutnya berantakan dan matanya tidak berani menatap Ling Zhen yang menatap tajam dirinya.
Satu per satu kain ditubuh Ji Yanran terlepas saat jari-jemari Ling Zhen membelainya dari segala arah.
Mata Ling Zhen menatap bentuk tubuh Ji Yanran yang melambangkan wanita dewasa. Umur keduanya terpaut jauh, tetapi Ji Yanran sendiri belum pernah melakukan hubungan intim dan ini adalah pengalaman pertamanya.
Tangan Ling Zhen meremas dua bongkahan yang besar dan padat, apalagi ukurannya melebihi telapak tangannya.
“Aaahhh...” Kepala Ji Yanran terlempar ke kanan dan kekiri saat Ling Zhen meremas kuat dan terkadang lembut buah dadanya.
Napas Ji Yanran memburu, darahnya berdesir. Sensasi yang baru pertama kali dia rasakan membuatnya terengah-engah saat Ling Zhen membuat tubuhnya berantakan.
“Kakak Ji...” Ling Zhen menatap nanar tubuh Ji Yanran yang telah basah, tangannya melepaskan kain yang menutupi bagian tubuhnya.
Mata Ji Yanran terbelalak, segera dia mengalihkan pandangannya dan menutupi seluruh bagian tubuhnya.
Melihat itu, Ling Zhen justru tersenyum karena Ji Yanran benar-benar terlihat sangat menggairahkan dan menggoda.
Tangan kanannya menahan kedua tangan Ji Yanran, sementara tangan kirinya membelai perutnya dan bergerak kebawah sebelum berhenti menyentuh bagian paling sensitif milik Ji Yanran.
Tampaknya Ji Yanran risih saat mulut Ling Zhen terus melanjutkan aksinya. Gigitan dan remasan Ling Zhen membuat tubuh Ji Yanran menggeliat.
“Kenapa Kakak Ji?” Ling Zhen dengan napas memburu berhenti sejenak karena mengetahui napas Ji Yanran tidak teratur.
Kedua buah dada Ji Yanran naik turun seiring napasnya yang terengah-engah, “Geli...”
Ling Zhen tersenyum dan kembali menggigitnya, Ji Yanran memekik dan mendesah pelan.
“Ssshhh... Aaahhh...”
Mendengar itu, Ling Zhen larut dalam dunianya. Dia tidak berhenti membuat Ji Yanran merintih. Beberapa saat kemudian, Ling Zhen mengecup bibir Ji Yanran dan menciumnya dalam.
__ADS_1
Ji Yanran kini terlentang diranjang, kedua kaki jenjangnya menjulur indah dan terbuka, sementara Ling Zhen memposisikan dirinya bersiap memasukinya.
Ling Zhen mengusap lembut dan membiarkan ujungnya bersentuhan langsung dengan milik Ji Yanran. Sedetik kemudian, Ling Zhen menekan tubuhnya kedalam tubuh Ji Yanran yang telah basah itu.
“Akh!” Ji Yanran memekik kesakitan, matanya terbelalak melihat tubuhnya. Tangannya memegang dada Ling Zhen, sementara kepalanya menggeleng kekiri dan kekanan, entah apa yang mau dikatakannya karena mulutnya terkatup rapat.
Ling Zhen menahan napas merasakan kenikmatan, “Kakak Ji, apa kamu siap?” Ling Zhen menggigit lembut daun telinga Ji Yanran.
“Pelan, Zhen‘gege...” Ji Yanran tampak ragu, tetapi dia sudah membulatkan tekadnya, ‘Apa bisa masuk dengan ukuran sebesar itu?’
Napas Ji Yanran tidak teratur saat Ling Zhen menekan tubuhnya secara perlahan. Walau Ling Zhen sudah melakukannya dengan lembut, tetapi tetap saja tubuh Ji Yanran menggelepar dan mulutnya mendesah.
“Aaahhh...” Ji Yanran merintih kesakitan, Ling Zhen mengecup bibirnya lembut dan menekan tubuhnya lebih dalam, bersamaan dengan tetesan darah segar yang memecahkan keperawanan.
Kedua kaki Ji Yanran bergemetar hebat saat Ling Zhen benar-benar memasuki dirinya. Beberapa kali dia memekik saat Ling Zhen menggerakkan tubuhnya.
Ji Yanran ingin melihat ekspresi Ling Zhen, namun pemuda itu membunyikan wajahnya dengan mengecup daun telinganya.
“Apa masih sakit?” Ling Zhen berbisik pelan, Ji Yanran memeluk tubuh Ling Zhen.
“Lakukanlah, Zhen‘gege...” Ji Yanran memegang wajah Ling Zhen dan jantungnya berdetak kencang melihat wajah tampan yang bersemu merah.
“Jangan melihatku...” Ling Zhen mengalihkan pandangannya, dan bergerak secara perlahan.
Ling Zhen mengigit leher Ji Yanran dan menggerakkan tubuhnya secara perlahan sebelum akhirnya tempo gerakannya mulai dia percepat.
Ji Yanran merangkul leher Ling Zhen dan terus mendesah, gerakan Ling Zhen semakin cepat bahkan Ji Yanran sudah mulai menikmati permainan itu.
Desahan dan rintihan Ji Yanran memenuhi kamar, sementara Ling Zhen berulang kali mendesis nikmat.
Tubuh Ling Zhen menguak dan menerobos bagian terdalam dari tubuh Ji Yanran. Kedua tangan Ji Yanran mencengkeram punggung Ling Zhen karena pemuda itu hampir membuat tubuhnya remuk.
Terlihat Ji Yanran telah pasrah bahkan wajahnya kaget saat merasakan Ling Zhen mempercepat tempo gerakannya. Kedua paha Ji Yanran menggeletar hebat, “Aaahhh... Aaahhh...”
Ling Zhen mendekap tubuh Ji Yanran dan menekan tubuhnya lebih dalam hingga membuat Ji Yanran merintih berkepanjangan.
Waktu terus berlalu dan Ling Zhen menghentakkan pinggulnya lebih dalam bersamaan dengan suara rintihan Ji Yanran yang terdengar merdu ditelinganya.
Ling Zhen menindih tubuh Ji Yanran lama membiarkan tubuhnya dan tubuh Ji Yanran bersatu saat dirinya melakukan pelepasan didalam.
Ji Yanran sudah tidak memiliki tenaga untuk bergerak, hanya suara napasnya yang tidak teratur terdengar memenuhi kamar dan bersahutan dengan hembusan napas Ling Zhen.
Ling Zhen melepaskan tubuhnya. Tatapannya bertemu dengan tatapan sayu Ji Yanran, kemudian dia memeluk mesra Ji Yanran dan tersenyum penuh makna.
__ADS_1
Ji Yanran memeluk tubuh Ling Zhen dengan sisa tenaganya, “Aku lelah...” Beberapa detik kemudian, Ji Yanran tertidur pulas. Ling Zhen tersenyum puas melihatnya.