
Kematian empat petinggi Benteng Serakah sudah dipastikan saat Ling Zhen mengerahkan segenap kemampuannya. Mayat empat petinggi Benteng Serakah berserakan anggota tubuhnya, bahkan seluruh tubuh Ling Zhen berlumuran darah.
Ling Zhen menarik napas panjang sebelum memulihkan kondisinya, “Aku tidak menyangka mereka dapat menahanku sejauh ini...”
Ling Zhen kembali melanjutkan perjalanannya setelah memulihkan tenaganya. Tempat yang sedang dia tuju adalah Lembah Hujan, dimana sekte ini merupakan aliran netral yang tersisa dan anggotanya kebanyakan pendekar dari sekte aliran putih dan netral yang dihancurkan Sekte Pemuja Iblis, Benteng Serakah dan Lentera Kerakusan.
Ling Zhen terbang dengan kecepatan tinggi menuju lokasi Lembah Hujan sambil melihat peta yang diberikan Ji Yanran.
Perjalanannya kali memang terasa sepi karena Rubah Putih memilih untuk bersama Yue Rou. Bahkan keputusan Rubah Putih membuat Ling Zhen terkejut.
Menurut Rubah Putih, tidur diantara belahan dada Yue Rou sangat nyaman dibandingkan kepala Ling Zhen. Saat mengingat itu, seketika Ling Zhen mengepalkan tangannya dan mengumpat dalam hati.
‘Apanya yang menuntunku? Dia hanyalah rubah mesum yang cari kesempatan!’ Suara Ling Zhen dalam hati memecah kesunyiannya. Dia tersenyum tipis sebelum mempercepat langkahnya menapaki udara.
__ADS_1
Gerakan Ling Zhen begitu cepat karena khawatir dengan kondisi Kota Jihao, terlebih setelah dirinya menikahi Ji Yanran tentu saja Ling Zhen tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan di Kota Jihao.
Tidak pernah dia sangka dan tidak pernah dia duga jika dirinya akan menikah muda dengan Ji Yanran. Dan semua ini barulah awalnya, Ling Zhen tidak terlalu memikirkannya karena pada dasarnya dirinya akan membangkitkan keluarganya kembali. Dan dia membutuhkan seorang wanita yang dapat diandalkan disampingnya.
Ling Zhen memilih untuk tidak bermalam setelah matahari terbenam dan lebih memilih melanjutkan perjalanan.
Walau jarak antara Kota Jihao dan Lembah Hujan memakan waktu lima hari, Ling Zhen dapat menempuhnya lebih cepat jika tidak beristirahat.
Setelah empat hari berlalu, akhirnya Ling Zhen dapat melihat sebuah lembah yang terlihat begitu misterius karena hujan mengguyur satu tempat, sementara tempat yang lain terang benderang.
Bagi Ling Zhen menempuh perjalanan lebih cepat menuju Lembah Hujan menguras banyak tenaganya. Tetapi dalam perjalanan dirinya terus melatih kemampuannya, dan menurutnya semua itu tidak sia-sia.
Namun kenyataannya sekarang Ling Zhen benar-benar merasa mengantuk, namun saat tubuhnya terkena tetesan air hujan tepat didepan pintu masuk Lembah Hujan, sebuah aura pembunuh mendekatinya.
__ADS_1
Ling Zhen mengingat perkataan Ji Yanran yang mengatakan tentang Lembah Hujan dijaga para pendekar aliran putih dan netral yang membentuk kelompok ini.
Belum sempat Ling Zhen melepaskan aura pembunuh, sebuah pedang melingkar dilehernya.
“Anak muda, siapa yang mengirimmu kemari?” Pria sepuh berambut putih dengan jenggot putih yang panjang menarik pedangnya.
Ling Zhen tidak menjawab, melainkan menunjukkan sebuah lencana yang menandakan dirinya sebagai pemilik Paviliun Bulan Biru.
“Bagaimana mungkin?!” Pria sepuh itu terlihat waspada dengan Ling Zhen, bahkan tidak segan-segan melepaskan sebuah tebasan satu arah.
Ling Zhen mengeluarkan Pedang Sembilan Naga dan menahan tebasan pria sepuh tersebut. Lalu dengan kecepatan tinggi dia mengayunkan pedangnya.
“Aku adalah suami pemilik Paviliun Bulan Biru. Kedatanganku kemari untuk membahas Festival Naga!” Saat Ling Zhen berkata demikian, pria sepuh itu menyarungkan pedangnya dan memberi tanda kepada Ling Zhen untuk mengikutinya.
__ADS_1
Akhirnya Ling Zhen memasuki Lembah Hujan, dimana tempat itu merupakan tempat yang sangat baru baginya.