
Mendengar ucapan Ling Zhen yang terdengar begitu percaya diri, Feng Lintian dan Huo Weng sangat yakin jika sekarang mereka tidak dapat keluar dari Kota Heidong dan melarikan di ke Kota Wangdian dengan selamat.
‘Sial, saat kami akan melakukan pertemuan dengan perwakilan Iblis Rakus yang baru, kami justru berhadapan dengan pendekar yang merepotkan!’ Feng Lintian mengumpat kesal, bahkan dia berharap bisa memutar balik waktu agar dirinya tidak berkunjung ke Kota Heidong hanya untuk menikmati pelayanan gadis-gadis yang menjadi budak keluarga Hei.
Saat Feng Lintian terbang dan mengamati Ling Zhen yang berdiri diudara, Huo Weng terbang dengan seluruh sisa tenaganya menuju kearah penduduk dan berniat menjadikan para penduduk sebagai sandera.
‘Pada akhirnya dia tetaplah pendekar aliran putih, kami sudah terbiasa melakukan pembantaian dengan menjadikan para penduduk sebagai sandera!’ Huo Weng berpikir setelah menjadikan penduduk sebagai sandera, maka peluang meninggalkan Kota Heidong tinggi, terlebih dirinya memiliki kesempatan untuk membunuh Ling Zhen.
Namun semua yang Huo Weng pikirkan sirna saat Ling Zhen dapat mengejarnya hanya dalam satu kali tarikan napasnya.
“Kalian benar-benar tidak mengerti! Perasaan tercabik-cabik saat tidak dapat berbuat apapun! Jadi jangan berpikir bisa melarikan diri dariku, keparat!” Ling Zhen memotong kepala Huo Weng dan menebasnya dari samping.
Feng Lintian memucat melihat bagaimana Huo Weng berakhir mengenaskan. Kurang lebih Huo Weng memiliki kemampuan jauh diatasnya, tentu melihat Huo Weng berakhir, seketika itu Feng Lintian yakin dirinya akan bernasib sama.
Ling Zhen menoleh ke belakang melihat Feng Lintian yang melepaskan aura pembunuh.
“Katakan padaku, kemana kalian mengirim para budak ini?” Ling Zhen bertanya. Walau dari jauh, tetapi suaranya membuat Feng Lintian bergetar.
Dengan hati-hati Feng Lintian mengamati Ling Zhen, namun dua detik kemudian Ling Zhen menghilang dari pandangannya dan sudah berada dibelakangnya.
‘Bagaimana mungkin?! Aku tidak melepaskan penjagaanku sama sekali!’ Feng Lintian merasakan sentuhan Pedang Sembilan Naga dilehernya.
Suara ludah yang tertelan terdengar, Feng Lintian mengatur napasnya yang memburu karena ketakutan.
“Apa kau tahu Negeri Ezzo dan Negeri Jisa? Aku dengar Sekte Pemuja Iblis memiliki hubungan dengan salah satu kelompok mengerikan dari luar benua ini. Dan kelompok mengerikan itu sekarang menjajah Negeri Ezzo dan Negeri Jisa selama sepuluh tahun lamanya. Mereka berniat menjadikan Benua Lima Warna sebagai kekuasaan mereka...” Feng Lintian menambahkan jika mungkin tidak lama lagi Kekaisaran Qing, Kekaisaran Jia dan Kekaisaran Chu bernasib sama dengan Negeri Ezzo dan Negeri Jisa.
“Untuk keparat sepertimu ternyata kau cukup penurut...” Ling Zhen melepaskan Pedang Sembilan Naga yang tadi mengancam leher Feng Lintian.
“Hehe, jadi?” Feng Lintian menoleh ke belakang mencoba melihat Ling Zhen.
“Jadi? Bukankah sudha jelas, kau akan mati!” Ling Zhen memotong tubuh Feng Lintian dengan begitu rapi.
__ADS_1
Kemudian matanya tertuju pada Hei Wu dan Hei Feng, setelah melihat Feng Lintian dan Huo Weng mati, Ling Zhen sebenarnya berniat menanyakan sosok Iblis Rakus sebelum Sekte Pemuja Iblis mempunyai perwakilan anggota yang baru.
Terlihat dibawah sana Hei Long menolong para penduduk yang hampir terbunuh oleh penjaga keluarga Hei.
Saat para penduduk bernapas lega, mereka melihat Hei Wu dan Hei Feng berlari terbirit-birit menuju Hei Long.
“Anak pelacur, tolong Ayahmu ini!” Hei Wu berteriak pada Hei Long yang berlumuran darah.
“Buka jalan untuk kami walau harus membunuh para jelata itu! Tetapi kau tidak boleh membunuh perempuan, karena mereka adalah aset berharga untuk melanjutkan keturunan keluarga Hei!” Sekarang Hei Feng yang menyuruh Hei Long.
Mendengar ucapan Hei Wu dan Hei Feng membuat Hei Long tertawa terbahak-bahak. Hei Wu dan Hei Feng berpikir jika Hei Long telah gila.
“Kalian berdua memang binatang sesungguhnya! Setelah melihat ini masih berpikir melarikan diri? Lihat diatas sana, binatang!” Hei Long menghajar wajah Hei Wu dan Hei Feng hingga wajah keduanya membiru.
“Dasar anak tidak tahu diri! Beraninya kau memukul wajah orang yang menghamili Ibumu!” Hei Wu menatap Hei Long penuh amarah, sedangkan Hei Feng meringis kesakitan dan mengerang.
Hei Long hanya tersenyum saat melihat Ling Zhen sudah berjarak dekat dengannya. Tak lama setelah Ling Zhen berada dibelakang Hei Wu dan Hei Feng, segera Hei Long menunjuk Ling Zhen.
Sekejap saja melihat Ling Zhen, wajah Hei Wu dan Hei Feng pucat pasi. Keduanya tidak dapat bergerak dan dipenuhi rasa ketakutan yang luar biasa.
“Apa kalian tahu orang yang akan membunuh kalian? Aku adalah orang bermarga Ling yang telah bersumpah sejak saat itu, aku akan membunuh seluruh keluarga Hei!” Ling Zhen memotong kedua tangan Hei Wu lalu menendang wajah kepala keluarga Hei itu.
“Hei Long adalah pengecualian, dia adalah teman pertamaku. Setelah mendengar ceritanya, aku pastikan kau tidak mati mudah, bedebah!” Ling Zhen menginjak kepala Hei Wu yang meronta dan menjerit kesakitan saat mengetahui kedua tangannya putus.
Hei Feng hendak melarikan diri namun Hei Long menahannya, saat Hei Feng hendak menggigit lidahnya dengan cepat Ling Zhen melepaskan aura pembunuh yang begitu besar hingga membuat Hei Feng tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
Lalu mata Ling Zhen menatap para penduduk yang pucat pasi melihat dirinya.
“Kalian semua pergilah dari sini! Karena yang akan terjadi mulai sekarang adalah pembalasan!” Ling Zhen melihat para penduduk segera menjauh saat mendengar ucapannya.
“Ampuni nyawaku! Aku berjanji akan menjadi manusia yang baik dan mohon jangan bunuh aku!” Hei Wu memohon sebisanya, namun setelah itu dia kembali berteriak kesakitan karena tidak dapat menahan rasa sakit dikedua tangannya yang putus.
__ADS_1
“Kau akan mati kehabisan darah, bedebah! Jangan banyak bergerak!” Ling Zhen menusuk mulut Hei Wu dengan Pedang Sembilan Naga.
Melihat itu Hei Long menatap dengan seksama bagaimana nyawa Hei Wu berakhir ditangan Ling Zhen. Tidak ada perasaan sedih selain lega dihati Hei Long saat melihat seluruh keluarga Hei dihabisi Ling Zhen.
“Hei Long, aku telah membunuhnya.” Ling Zhen tersenyum pada Hei Long yang menggelengkan kepalanya melihat dirinya.
“Ya, kau telah melakukannya Ling Zhen. Jadi satu binatang ini akan kau apakan?” Hei Long menunjuk Hei Feng yang menangis ketakutan.
Melihat itu Ling Zhen tersenyum tipis dan menjambak rambut pria yang gemar mempermainkan perempuan ini.
“Oi, ternyata kau bisa menangis?” Ling Zhen berkata dengan tenang, sebelum berteriak keras, “Apa kau berpikir dengan menangis aku tidak akan membunuhmu hah?!”
“Kau mengabaikan tangisan mereka bahkan menikmatinya! Jadi berhenti meneteskan air mata seolah-olah kau korbannya!” Ling Zhen mengakhiri nyawa Hei Feng dalam satu kali tebasan pedangnya.
“Ah, aku membunuhnya. Sial, dia benar-benar membuatku mengakhiri nyawanya dalam sekejap...” Ling Zhen tertawa sendiri setelah membunuh Hei Feng.
Hei Long melihat bagaimana Ling Zhen yang terguncang, namun pemuda itu membunuh perasaan lemahnya dan melakukan semuanya dengan sempura demi menyembunyikan kelemahannya.
“Ling Zhen...,” ucap Hei Long.
“Aku mengerti, Hei Long. Aku hanya tertawa untuk melepaskan penat.” Ling Zhen kembali tersenyum dan mengibaskan pedangnya.
Walau baru bertemu tetapi Ling Zhen dan Hei Long sudah saling mengenal. Masa lalu yang hampir serupa membuat Ling Zhen dan Hei Long menyadari betapa menyakitkannya tidak dapat berbuat apapun saat menjadi orang lemah.
“Kalau begitu, kita bisa segera tinggalkan kota ini. Aku rasa pejabat pemerintahan akan datang kesini beberapa hari lagi.” Hei Long tersenyum saat Ling Zhen menyarungkan Pedang Sembilan Naga.
“Ya, kita pergi dari sini.” Ling Zhen menarik napas panjang dan menatap tumpukan mayat, “Hei Long, kita berangkat menuju Kota Wangdian.”
“Sebelum itu mereka kita apakan?” Hei Long menunjuk orang-orang yang telah dibunuh dirinya da Ling Zhen.
“Mengubur mereka memakan waktu yang lama. Aku akan membakarnya dengan api Phoenix.” Mendengar ucapan Ling Zhen, Hei Long hanya tersenyum dan melihat bagaimana orang yang dia ikuti membakar mayat-mayat yang berserakan hingga tulang-tulangnya ikut terbakar tak bersisa.
__ADS_1