
“Rubah Putih, jagalah perempuan itu...” Telapak tangan Ling Zhen terbuka sebelum sebuah pedang berwarna hitam dengan corak naga berwarna merah keluar dari telapak tangannya, “Jangan tertidur dibahuku!”
Rubah Putih melompat dan berdiri dihadapan Xue Lianhua dan gadis bernama Que Mi itu.
“Pedang Jiwa ~ Pedang Sembilan Naga...”
Dalam kecepatan tinggi saat bergerak, Ling Zhen sudah berada dihadapan Situ Chu, Hao Lin dan Tan Bai. Bahkan Xue Lianhua tidak menyadari kecepatan Ling Zhen dalam bergerak.
‘Apa rubah menggemaskan ini peliharaannya?’ Xue Lianhua bertanya dalam hatinya dan melirik Que Mi yang masih gemetaran ketakutan, ‘Aku tidak menyangka sekteku akan berakhir seperti ini. Setelah semua ini, aku bersiap menanggung semuanya dengan kematianku.’
Saat Xue Lianhua melihat sekilas kecepatan Ling Zhen yang berdiri didepan tiga pendekar bumi itu, ledakan keras terjadi.
“Sembilan Ledakan Phoenix!”
Bukannya menggunakan pedang, Ling Zhen melepaskan serangan kejutan yang hampir membuat ketiganya mendapatkan luka fatal.
“Saudara Hao, Saudara Tan, kalian berdua urus yang tersisa...” Situ Chu dengan penampilannya yang tenang menarik pedangnya dan menghadang Ling Zhen.
“Sekte Lembah Perawan telah binasa, bahkan Tetua Agung yang melindungi mereka telah sekarat...” Situ Chu menyeringai dan menatap tajam Ling Zhen yang terus menahan setiap tebasan tajam pedangnya, “Tiga pemimpin Aliansi Bulan Darah sedang menuju kemari. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan saat berhadapan dengan pendekar misterius sepertimu!”
Tebasan pedang Situ Chu dipenuhi energi pedang dan membuat ledakan cukup besar pada tanah bersalju.
“Daya ledakan yang kuat, tetapi aku masih dapat mengimbangi kecepatannya...” Ling Zhen mengamati pergerakan Situ Chu dengan seksama. Tak lama pria berpenampilan tenang yang menjadi lawannya itu melompat ke atas.
Ling Zhen menyeringai dan mengejarnya, “Cakar Raja Phoenix!” Serangannya dapat ditahan Situ Chu dengan baik.
Saat Ling Zhen mulai memainkan pedangnya, Situ Chu sudah bersiap melepaskan tebasan terlihat energi pedang dan tenaga dalam yang berkumpul pada bilah pedangnya.
“Tebasan Sabit Berdarah!”
__ADS_1
Tebasan berbentuk sabit berwarna merah ini melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Ling Zhen.
“Seni Napas Naga...” Ling Zhen mengolah pernapasan dan mengalirkan tenaga dalamnya pada bilah pedangnya sebelum menahan tebasan pedang Situ Chu.
“Aliran Sembilan Naga Pertama ~ Satu Auman Halilintar.”
Saat tebasan sabit berwarna merah semakin dekat, Ling Zhen melepaskan tebasan yang menggelegar karena suara petir menyambar tebasan sabit berwarna merah itu.
Mata Situ Chu melebar saat teknik pedang miliknya dipatahkan, “Siapa kau sebenarnya?”
Akhirnya penampilan tenang Situ Chu berubah saat melihat Ling Zhen bergerak mendekatinya.
Ling Zhen tidak mempedulikan pertanyaan Situ Chu dan sudah mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar pada bilah pedangnya.
“Aliran Sembilan Naga Kedua ~ Hitam Putih Kehampaan!”
‘Aku tidak pernah mendengar tentang orang ini sebelumnya, kemampuannya ini setara dengan para pemimpin Aliansi Bulan Darah...’ Situ Chu berkeringat dingin karena mengingat dirinya yang baru menembus Pendekar Bumi Tahap Puncak beberapa hari yang lalu.
Belum sempat menahan tebasan pedang Ling Zhen, tubuh Situ Chu terbelah menjadi dua bagian dengan cipratan darah yang berjatuhan ke tanah.
“Maaf terlambat memperkenalkan diri...” Ling Zhen menatap tubuh Situ Chu yang terhempas ke tanah, “Ling Zhen. Itulah nama orang yang telah membunuhmu!”
Dibawah terlihat Xue Lianhua kesulitan menahan dua pendekar bumi, segera Ling Zhen membantunya. Namun sosok Tan Bai terlihat hendak melarikan diri.
“Jangan melarikan diri, pecundang!” Xue Lianhua berteriak dan terus melancarkan tapak demi tapak pada Hao Lin.
“Saudara Situ mati...” Hao Lin terkejut, tetapi saat ini dia harus lebih fokus menghadapi Xue Lianhua yang berimbang dengannya.
”Tinju Bulan Darah!”
__ADS_1
“Tapak Rembulan!”
Pukulan Hao Lin yang dipenuhi tenaga dalam bertemu dengan tapak Xue Lianhua. Benturan keduanya membuat hembusan angin yang kencang.
Saat Hao Lin hendak melancarkan serangan selanjutnya, dia dikejutkan dengan sosok Ling Zhen yang sudah berdiri didepan Tan Bai.
“Tidak mungkin!” Hao Lin menyadari betapa berbahayanya Ling Zhen.
“Jangan alihkan pandanganmu!” Xue Lianhua melepaskan tapak demi tapak yang memancarkan hawa dingin ke tubuh Hao Lin.
“Badai Salju!” Dengan gerakan yang cepat, Xue Lianhua melepaskan aura tubuhnya dan memanipulasinya menjadi badai salju.
Tubuh Hao Lin tidak dapat bergerak, “Perempuan keparat!” Tentu Hao Lin panik saat menyadari kondisi Tan Bai terdesak.
“Kenapa jadi seperti ini?!” Saat pikiran Hao Lin kacau, Xue Lianhua sudah bersiap melepaskan serangan penghabisan.
Sebuah aura dingin menyelimuti tubuh Hao Lin dan memenuhi sekitar Xue Lianhua, disana terlihat sebuah lingkaran berwarna putih terang yang memancarkan hawa dingin mencekam.
“Penghakiman Dewi Salju!”
Xue Lianhua menjentikkan jarinya dan dalam sekejap tubuh Hao Lin mengalami pembekuan sebelum dihancurkan sepenuhnya dengan satu tapak bertenaga dari Xue Lianhua sendiri.
Xue Lianhua memang berhasil membunuh Hao Lin, tetapi dia mengerti semua ini berkat Ling Zhen yang mengintimidasi jalannya pertarungan.
Terlihat disana Ling Zhen tidak begitu kesulitan menghadapi Tan Bai. Keduanya tengah melakukan pertukaran jurus dan menunjukkan setiap teknik yang mereka punya.
Saat Xue Lianhua hendak membantu Ling Zhen, sebuah aura pembunuh besar datang dari arah langit bersama dengan jatuhnya tubuh seorang wanita paruh baya yang terkena puluhan luka tusuk ditubuhnya.
“Tetua Agung!” Mata Xue Lianhua melebar melihat wanita paruh baya dihadapannya.
__ADS_1