
Setelah melakukan ritual penyembuhan, Ling Zhen berdiam diri dan menjauh dari Chu Xiulan yang menaruh curiga padanya. Ling Zhen menggunakan energi kehidupannya sendiri. Dia berhasil membohongi Chu Xiulan melalui perkataan manisnya.
Tetapi Ling Zhen bertekad tidak akan mati sebelum menemukan kebahagiaannya sendiri. Melihat Que Mi membuat minuman hangat yang memiliki khasiat besar menyembuhkan kondisi tubuh Ibunya, Ling Zhen tersenyum.
Bukan Chu Xiulan namanya jika tidak menyadari kejanggalan. Wanita itu menatap Ling Zhen penuh selidik.
“Zhen‘gege, aku tidak akan memaafkanmu jika setelah semua ini, kau pergi meninggalkan kami.” Chu Xiulan menatap tajam Ling Zhen yang berhenti tersenyum setelah mendengar perkataannya.
Ling Zhen memegang rambut Chu Xiulan dan mengelusnya lembut, “Aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku akan tetap ada sampai Feng‘er dan adik-adiknya dewasa.”
Beberapa saat mereka makan malam bersama, Ibu Ling Zhen meminum minuman hangat buatan Que Mi. Ibu Ling Zhen ditemani Xue Lianhua dan Que Mi. Ketiganya menjaga Ji Yanran yang masih tertidur pulas.
“Sepertinya Kakak Ranran sangat kelelahan. Aku tidak menyangka dia dapat melalui semua itu, mengingat dirinya bukan seorang pendekar.” Que Mi menatap wajah Ji Yanran yang terlihat mulai membaik dan tidak lagi pucat.
“Proses melahirkan sangat mendebarkan. Aku jadi terharu melihat perjuangan Kakak Ranran melahirkan Feng‘er.” Xue Lianhua menanggapi sambil menatap Ling Feng yang digendong Ibu Ling Zhen.
“Ibu sendiri tidak menyangka akan memiliki seorang cucu. Terlebih cucu Ibu merupakan anak dari mendiang sahabat kecilku...” Ibu Ling Zhen menatap Ji Yanran dan tersenyum tipis.
“Umur mereka terpaut sangat jauh... Zhen‘er, masihlah bocah, aku merasa begitu bersyukur melihat anakku memiliki istri-istri yang baik dan perhatian padanya.” Ibu Ling Zhen tidak memberikan kasih sayang yang seharusnya diberikan kepada Ling Zhen karena dirinya dibawah pengaruh Tidur Abadi.
Mengetahui Ling Zhen tumbuh dewasa dan memiliki enam istri yang mendukung dan menerima kondisinya tentu membuat Ibu Ling Zhen merasa bahagia.
Xue Lianhua dan Que Mi sendiri juga bersyukur karena telah bergabung kedalam Keluarga Ling yang dibentuk Ling Zhen ini.
Melihat Ling Feng yang menggemaskan membuat Xue Lianhua mengingat dirinya juga akan menyusul Ji Yanran. Cepat atau lambat, Xue Lianhua harus siap karena dia sudah membicarakan hal ini dengan Ling Zhen.
Sementara Xue Lianhua melamun, Ling Zhen yang berada di ruangan pribadi Chu Xiulan sedang melakukan ritual lainnya.
__ADS_1
Ling Zhen sendiri akan kembali ke Lembah Dewa secepatnya bersama Xue Lianhua. Kali ini Que Mi tidak ikut karena ingin membantu perkembangan fisik Ji Yanran dan membantu merawat Ling Feng.
Melepas kerinduan pada kedua istrinya menjadi malam yang indah untuk Ling Zhen. Sekarang dirinya menikmati waktu bersama Yue Rou dan Chu Xiulan yang sudah menunggu kehadirannya.
Ling Zhen menikmati kegiatan pertamanya dengan Yue Rou. Tidak ada penolakan ataupun perlawanan dari Yue Rou.
Ling Zhen menikmati setiap sensasi yang diberikan Yue Rou ataupun Chu Xiulan. Malam itu sudah tidak terhitung suara erangan dan desahan yang saling bersahutan.
Hingga pagi menjelang, akhirnya Ling Zhen mengakhiri kegiatannya. Dimana Yue Rou telah tertidur pulas dan hampir pingsan, sementara Chu Xiulan dengan kedua mata yang sayu mencoba mengimbangi keinginan Ling Zhen.
Ling Zhen menghentakkan tubuhnya dengan kuat sebelum ambruk menimpa Chu Xiulan. Cukup lama Ling Zhen mendiamkan miliknya disana sebelum berbaring miring dihimpit kedua istrinya.
Chu Xiulan sendiri akhirnya tertidur lemas karena mengikuti keinginan Ling Zhen. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan dihancurkan.
Ling Zhen memejamkan matanya dan menghela nafas puas. Setelah itu dia mengecup kening Yue Rou dan Chu Xiulan sambil mengelus perut kedua istrinya itu.
Hampir selama seminggu Ling Zhen menetap di Istana Chu. Setelah Ji Yanran terbangun, Ling Zhen menikmati waktunya bersama istri pertamanya dan sang buah hati.
“Bagaimana dengan Rourou dan Xiuxiu? Apa semuanya berjalan lancar?” Ji Yanran yang sedang memberikan ASI kepada Ling Feng tersenyum menggoda Ling Zhen yang memangku dirinya.
Ling Zhen memeluk pinggang Ji Yanran dan menatap Ling Feng yang memejamkan matanya, “Kenapa kau menanyakan itu?”
Ekspresi bersalah Ling Zhen membuat Ji Yanran tertawa kecil. Dimatanya sekarang Ling Zhen terlihat ingin dia jahili karena menunjukkan ekspresi wajah seperti saat pemuda itu kecil.
“Apa kau tidak menginginkan yang satunya?” Ji Yanran terlihat agresif menggoda Ling Zhen membuat pemuda itu menelan ludah.
“Aku tidak sampai hati mengambil hak Feng‘er...” Jawaban Ling Zhen terdengar berat suaranya. Bahkan Ji Yanran merasakan ada sesuatu yang mengganjal dibawah sana karena dirinya duduk dipangkuan pemuda itu.
__ADS_1
“Kau juga memiliki hak untuk menghisapnya, Adik Zhen.” Ji Yanran yang awalnya ingin menjahili Ling Zhen justru tidak menyangka akan menggoda suaminya itu.
Ling Zhen menelan ludah dan menahan nafas untuk sesaat, “Maaf Kakak Ji karena aku belum menjadi suami yang sempurna untukmu.”
Telapak tangan Ling Zhen sudah mulai menggerayangi tubuh Ji Yanran sambil memperhatikan sang buah hati yang tidak terganggu dengan tindakannya.
“Tunggu Feng‘er tidur...” Ji Yanran mengecup pipi Ling Zhen dan memasang ekspresi menggoda, “Zhen‘gege, aku ingin.”
Ji Yanran sudah bersabar karena tidak menerima perhatian Ling Zhen. Akhir-akhir ini Ling Zhen lebih menikmati waktunya bersama Yue Rou dan Chu Xiulan, bahkan beberapa bulan kebelakang Ling Zhen lebih fokus kepada Xue Lianhua.
Ji Yanran tidak keberatan, tetapi sebagai seorang wanita sekaligus istri pemuda itu, dia tidak ingin kalah memberikan kebutuhan batin pada suaminya itu.
“Aku mengerti, Kakak Ji. Aku juga menginginkanmu.” Ling Zhen menggigit lembut daun telinga Ji Yanran.
Setelah Ling Feng tertidur diatas ranjang, Ling Zhen dan Ji Yanran saling memeluk satu sama lain. Telapak tangan keduanya bergerak memberikan sentuhan kenikmatan pada masing-masing.
Tidak ingin berlama-lama atau membuat Ling Feng terbangun bahkan yang lainnya curiga. Ling Zhen membuka celana miliknya dan milik Ji Yanran.
Ji Yanran mengalungkan kedua tangannya keleher Ling Zhen saat pemuda itu mengangkat salah satu kakinya dan mulai melakukan penyatuan.
Sensasi berbeda yang dirasakan Ji Yanran membuat wanita itu menikmati permainan Ling Zhen.
Pemuda itu terlihat lebih mahir dari pertama kali mereka melakukannya. Ji Yanran mengimbangi gerakan Ling Zhen dan meraih puncak kenikmatan bersama sebelum akhirnya pintu kamar diketuk oleh Chu Xiulan.
“Kakak Ranran.”
Semua konsentrasi yang sudah berada di ubun-ubun membuat Ji Yanran mengabaikan ketukan pintu kamar dan terus melakukan kegiatannya bersama Ling Zhen dengan berbagai macam posisi berdiri.
__ADS_1