
Pagi yang terang dan hari yang cerah kembali datang, secercah cahaya menyeruak dan menembus kaca kamar yang digunakan dua insan saling menghangatkan.
Ling Zhen membuka matanya secara bertahap dan menatap wajah Ji Yanran yang terlihat begitu letih, namun kesan kecantikan dan kedewasaannya tetap terlihat.
Satu kecupan lembut mendarat dikening Ji Yanran sebelum Ling Zhen membangunkan perempuan itu.
Ji Yanran membuka matanya dan merasakan seluruh tubuhnya begitu lelah, terlebih rasa sakit disela-sela paha, serta bekas kecupan Ling Zhen disekujur tubuhnya terutama bagian dada.
“Aku sangat lelah...” Ji Yanran mendesah pelan dan kembali memejamkan matanya, Ling Zhen tertawa lirih melihat ekspresi menggemaskan Ji Yanran.
Dengan lembut Ling Zhen mengangkat tubuh Ji Yanran dan membawanya ke kolam air panas, awalnya Ji Yanran menolak tetapi Ling Zhen tetap bersikeras sehingga dia menurutinya.
Dikolam air panas Ling Zhen memandikan tubuh Ji Yanran, sesekali dia menggerayanginya, namun melihat Ji Yanran yang begitu lelah, akhirnya Ling Zhen mengurungkan niatnya.
“Aku tidak menyangka melakukan itu akan senikmat ini...” Ling Zhen menggumam pelan dan membasuh tubuh Ji Yanran penuh kelembutan.
“Apa yang kamu gumamkan?” Ji Yanran menoleh menatap Ling Zhen.
“Tidak ada, hanya saja aku tidak percaya menjadi yang pertama untukmu, Kakak Ji.” Ling Zhen tersenyum menggoda membuat Ji Yanran mencubit pahanya, namun tangan Ji Yanran salah tempat.
Ling Zhen menjerit pelan, “Apa yang kamu lakukan?” Tangan Ling Zhen menahan tangan Ji Yanran, mata keduanya bertemu.
Wajah Ji Yanran merah padam, “Sudah, hari ini aku ingin istirahat.” Segera Ji Yanran memalingkan wajahnya dan menutupi belahan dadanya dengan kedua tangannya.
Ling Zhen tersenyum dan kembali membawa Ji Yanran menuju kamar, lalu menyuruh pelayan menyiapkan sarapan setelah berpakaian.
Ji Yanran mendesah pelan karena tubuhnya masih begitu lelah, setelah sarapan pagi bersama Ling Ling, perempuan itu kembali membaringkan tubuhnya.
“Aku ingin tidur...” Mendengar ucapan Ji Yanran, senyuman tipis menghiasi wajah Ling Zhen.
___
Ketika hari menjelang sore, Ling Zhen dan Ji Yanran sedang makan bersama, keduanya mengobrol ringan dan tertawa lirih.
__ADS_1
Beberapa saat, salah seorang pelayan mengatakan pada Ji Yanran jika Yue Rou mencari Ling Zhen, segera Ji Yanran menuju halaman depan Paviliun Bulan Biru bersama Ling Zhen.
Didepan pintu terlihat Yue Rou sedang berdiri, Ji Yanran segera berlari dan menyapa Yue Rou, sementara Ling Zhen melihat kedua perempuan itu dari dekat.
“Nona Ji, kemarin minta maaf karena aku pergi tanpa pamit...” Yue Rou tersenyum canggung, Ji Yanran menggelengkan kepalanya.
“Tidak apa-apa, Nona Yue. Aku rasa kau memiliki urusan penting.” Ji Yanran tersenyum lembut begitu juga dengan Yue Rou.
“Oh iya, Nona Ji, perkenalkan dia adalah Ratu Chu dan merupakan orang yang kukagumi.” Yue Rou menoleh ke belakang dan berkata pada seorang perempuan yang berjalan dengan anggun mendekatinya.
“Eh?” Ling Zhen tersentak kaget, sementara Ji Yanran terpesona melihat kecantikan perempuan yang disebut sebagai Ratu Chu itu.
Saat Ratu Chu dan Ling Zhen saling menatap, seketika Ratu Chu tersenyum dan melambaikan tangannya.
“Ternyata kau disini, ciuman pertamaku!” Perkataan Ratu Chu membuat ekspresi Ji Yanran berubah, sedangkan Yue Rou tersedak mendengarnya.
“Zhen‘gege...” Ji Yanran tersenyum tipis, namun senyuman itu membuat Ling Zhen menelan ludah dan berkeringat dingin, “Kenapa dia memanggilmu ciuman pertamaku?”
“Ternyata kau mengenal Ratu. Apa kau sudah meminta penawar Racun Darah Buas dan Tidur Abadi?” Yue Rou tanpa memahami situasi bertanya pada Ling Zhen.
“Senior Yue, katakan pada ratumu itu agar mengatakan hal yang tidak membuat orang lain salah paham!” Ling Zhen menatap Yue Rou dan berharap perempuan itu membantunya, namun situasi berkata lain.
Ratu Chu memiringkan kepalanya dan dengan santai berkata, “Kita berciuman di Ibukota Qinghong dan tidur berdua, lalu kau melarikan diri setelah melihat tubuhku tanpa pakaian, bahkan saat itu kita berpelukan.”
Mulut Ling Zhen terbuka tidak percaya, sedangkan Ji Yanran yang mendengar hal itu merasakan dirinya bagaikan terkena sambaran petir, rasa letihnya hilang seketika diganti dengan amarah yang luar biasa.
“Jadi itu yang terjadi, Zhen‘gege?” Ji Yanran menatap Ling Zhen tajam dan tidak menunjukkan senyuman.
Ling Zhen menggaruk kepalanya, “Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.” Ling Zhen membela dirinya, namun percuma karena Yue Rou mengatakan hal yang membuat Ji Yanran semakin tidak percaya.
“Dasar Zhenzhen, kau pemuda lemah syahwat. Bahkan sebelum menikah dengan Nona Ji, kita tidur seranjang. Karena kejadian itu, aku merasa mual saat mengingatnya.” Seketika Ji Yanran berhenti melangkah dan menarik kerah baju Ling Zhen.
“Yue Rou, jangan bilang padaku...” Ratu Chu memegang bahu Yue Rou dan menggoyangkannya.
__ADS_1
Yue Rou dengan ekspresi kesal berkata, “Iya, Ratu. Seperti yang anda ceritakan padaku, sekarang aku telah mengandung anak dari Zhenzhen.”
‘Perempuan ini mengatakan apa? Kapan aku menidurinya?’ Saa Ling Zhen menatap tajam Yue Rou, sebuah cubitan keras dihidungnya membuat dirinya kaget.
“Apa yang akan kau lakukan, Ran‘er?” Melihat Ji Yanran mengepalkan tangannya, Ling Zhen menelan ludahnya.
Sedetik kemudian, sebuah pukulan menghujami wajah dan tubuhnya, Ji Yanran menatap geram Ling Zhen.
“Aku minta maaf, Ran‘er! Aku akan menjelaskannya!” Ling Zhen sebisa mungkin menghentikan amukan Ji Yanran.
“Aku tidak peduli!” Ji Yanran berjalan memasuki Paviliun Bulan Biru dan membanting pintu.
Yue Rou dan Ratu Chu tercengang melihatnya, “Menakutkan...” Keduanya bergumam pelan.
“Aku terkejut kau masih meniduri Yue Rou setelah mempunyai istri seperti itu.” Ling Zhen tersedak mendengar ucapan Ratu Chu.
“Pemuda bernama Ling Zhen, aku dengar kau mencari penawar Tidur Abadi. Jika kau menginginkannya, datanglah ke kastilku. Aku akan menanti kedatanganmu.” Ratu Chu mendekati Ling Zhen dan memegang dagu pemuda itu, lalu menoleh ke belakang menatap Yue Rou.
“Jangan lupa kau harus bertanggung jawab menikahi Yue Rou. Aku tidak ingin bawahanku ini mempunyai anak yang tidak memiliki Ayah.” Setelah berkata demikian Ratu Chu menjentikkan jarinya, seketika Elang Halilintar muncul di langit Kota Jihao.
“Sampai jumpa, Ling Zhen.” Ratu Chu mengedipkan matanya, sementara Yue Rou menatap Ling Zhen rumit.
“Dasar lemah syahwat!” Itulah kata-kata yang diucapkan Yue Rou sebelum melompat keatas punggung Elang Halilintar.
Ling Zhen menatap kepergian Ratu Chu dan Yue Rou dengan ekspresi rumit, “Setelah membuat kesalahpahaman, mereka berdua benar-benar mempermainkanku!”
Ling Zhen merapatkan giginya dan mengumpat kesal, “Kenapa jadi seperti ini, padahal sebentar malam aku ingin...” Suara Ling Zhen tercekat saat Ji Yanran muncul dibelakangnya.
“Sebentar malam ingin?” Ji Yanran menatap Ling Zhen yang berkeringat dingin.
“Ah, itu...” Ling Zhen tidak bisa melanjutkan perkataannya.
“Tidak ada jatah untukmu malam ini!” Mendengar ucapan Ji Yanran, seketika Ling Zhen terlihat lesu.
__ADS_1
“Adik Zhen, kau berhutang penjelasan padaku.” Sorot mata tajam Ji Yanran membuat Ling Zhen menelan ludah.
Layaknya anak yang mengikuti Ibunya, Ling Zhen pasrah saat telinganya dicubit da ditarik Ji Yanran dihadapan para pendekar serta pelayan Paviliun Bulan Biru.