Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 81 - Reruntuhan Kuno Dewi Malam II


__ADS_3

“Dia ini mangsaku! Jangan menggangguku, pendekar cambuk!” Gao Yang menatap sinis Jiu Hen yang terus melepaskan sejumlah cambukan kepada Ling Zhen.


“Seharusnya kau yang minggir! Tikus ini akan kubunuh dengan tanganku sendiri! Tidak akan kubiarkan orang lain mengambil kepalanya selain diriku ini!” Jiu Hen mengalihkan incaran serangannya kepada Gao Yang.


Ling Zhen memanfaatkan itu untuk menjauh dan menyerang pendekar yang dapat dia habisi dengan mudah.


Tanpa sadar pertempuran semakin membara dimana Bendera Iblis Hitam dan Klan Dewi Malam saling membunuh satu sama lain.


Suara pedang yang bersentuhan saling bersahutan, cipratan darah dan gema teriakan kematian memenuhi Reruntuhan Kuno Dewi Malam.


Petinggi Klan Dewi Malam selain Gao Yang berhadapan langsung dengan Penasehat Xiong.


“Jika tidak salah, namamu Xiong Ni bukan?” Petinggi Klan Dewi Malam bernama Feng Zhimao menatap tajam Penasehat Xiong sebelum melepaskan tebasan pedang yang menciptakan angin kencang. Dimana tebasan tersebut perlahan menjadi badai angin.


Penasehat Xiong tertawa, “Xiong Ni? Tidak kusangka ada yang masih mengenalku...”


Xiong Ni menyatukan kedua telapak tangannya, seketika muncul pelindung tanah disekitarnya.


Pusaran angin yang kencang itu menghempaskan tubuh pendekar yang kemampuannya jauh dibawah Feng Zhimao. Namun tidak dengan Xiong Ni yang dengan mudah mempertahankan keseimbangannya.


Sementara Feng Zhimao dan Xiong Ni memulai pertukaran serangan hebat mereka, Ling Zhen kembali dikepung anggota Bendera Iblis Hitam yang memang telah memenuhi Reruntuhan Kuno Dewi Malam.


Dua pendekar yang kemampuannya setara dengan Yue Rou datang menghadang. Ling Zhen menang dalam kondisi Tanda Mata Dewa, dimana dirinya sekarang memiliki kemampuan yang sama bahkan melebihi Yue Rou.


“Kudengar kau membantai seluruh anggota Klan Tengkorak Jalanan? Andai aku yang membantai mereka dengan Pedang Haus Darah milikku ini, maka aku akan sangat merasa senang!” Pendekar yang membawa sebilah pedang ditangan kanannya tertawa keras, “Sebagai gantinya aku akan memotong kepalamu,” tambahnya.


Dalam bentuk Phoenix, Ling Zhen menyambut tebasan yang memancarkan warna kemarahan.


“Ho Chan! Jangan seenaknya memutuskan untuk menyerangnya sendiri!” Seorang pria yang secara tiba-tiba menyerang Ling Zhen dari belakang menggunakan tapak tangannya menegur tindakan dari pendekar yang bernama Jun Fan.


“Hah? Dibandingkan dengan diriku, kau menyerang seperti seorang pecundang, Jun Fan!” Ho Chan kembali melepaskan tebasan pedangnya setelah Ling Zhen dapat menahannya menggunakan Pedang Sembilan Naga.


Kedua sayapnya melindungi punggungnya dari tapak api pria bernama Jun Fan. Melawan dua petinggi Bendera Iblis Hitam tentu membuat Ling Zhen mengerahkan segenap kemampuannya.


Ling Zhen memutuskan untuk membunuh Ho Chan dan Jun Fan terlebih dahulu sebelum dirinya membunuh Xiong Ni yang telah memanipulasi perasaan Chu Xiulan.

__ADS_1


Ling Zhen memutarkan tubuhnya menendang perut Jun Fan, lalu menebaskan pedangnya mengincar leher Ho Chan.


‘Bagaimana dia bisa bergerak secepat ini?!’ Pikir Ho Chan mengingat pergerakan Ling Zhen yang begitu cepat.


Ling Zhen tersenyum saat menyadari sesuatu dalam tubuhnya terasa seperti meledak. Pertanda tubuhnya tidak mampu menampung kekuatannya akan membuatnya hancur sebagai seorang pendekar.


Namun Ling Zhen sudah memutuskannya, bagaimanapun dia yang memilih jalannya sendiri untuk membalaskan dendam keluarganya.


“Aliran Sembilan Naga Pertama ~ Satu Auman Halilintar!” Ling Zhen mengayunkan pedangnya sekuat tenaga sebelum kembali melepaskan jurus selanjutnya tepat saat Ho Chan menahannya.


“Pedang karatan tidak akan bisa melukai tanganku!” Ho Chan memusatkan tenaga dalam pada kedua tangannya.


Mendengar provokasi Ho Chan, Ling Zhen hanya tersenyum, “Benarkah?”


“Aliran Sembilan Naga Keempat ~ Murka Naga Api!”


Kedua telapak tangan Ho Chan menangkis pedang Ling Zhen, namun saat sebuah bayangan naga yang terbentuk dari api yang menyala-nyala, seketika telapak tangan Ho Chan terpotong.


“Bagaimana mungkin?!” Ho Chan berkeringat dingin menyadari betapa bodohnya dia meremehkan Ling Zhen.


“Renungkan itu dialam baka!” Ling Zhen kembali mengayunkan pedangnya memotong kepala Ho Chan.


“Apakah sayapmu itu bisa rapuh?” Sebuah pertanyaan dari Jiu Hen itu membuat Ling Zhen tertawa pelan.


“Hah? Pertanyaan itu sama saja seperti ini. Apakah otakmu lebih bodoh dari udang?” Ling Zhen sengaja mengejek Jiu Hen.


Merasa direndahkan, Jiu Hen menyerang Ling Zhen secara membabi-buta seolah-olah ingin mencambuk tubuh Ling Zhen dengan sejuta cambukan.


Tetapi Ling Zhen dengan gesit menghindari setiap serangan yang dilepaskan Jiu Hen.


Kali ini Ling Zhen menggerakkan Rantai Raja Neraka untuk menghabisi satu demi satu anggota Bendera Iblis Hitam maupun Klan Dewi Malam.


Sementara itu dia menyambut cambuk Jiu Hen menggunakan Pedang Sembilan Naga. Pertarungan keduanya berlangsung sengit, pertukaran jurus terus terjadi tepat setelah keduanya menggunakan jurus mereka.


“Kau ternyata sangat menghibur!” Jiu Hen tertawa senang sambil mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar ke cambuk kesayangannya.

__ADS_1


Cambuk milik Jiu Hen perlahan membesar sebelum mengeluarkan api yang membara dan petir yang menggelegar.


Hanya diam ditempat, Jiu Hen memperhatikan bagaimana cambuk kesayangannya bergerak mengejar Ling Zhen.


‘Apakah cambuknya bertransformasi?’ Ling Zhen berpikir keras sambil terus memperhatikan langkahnya. Namun setiap dia berpikir, secara perlahan pertahanannya melemah karena terlalu memperhatikan perubahan cambuk milik Jiu Hen.


“Apa yang kulakukan?” Ling Zhen tersenyum tipis saat cambuk milik Jiu Hen mengenai badannya, “Aku hanya perlu bertarung sampai titik darah penghabisan! Tidak perlu ada yang ku khawatirkan!”


Ling Zhen mempercepat pergerakannya diudara dan menyambut sabetan cambuk Jiu Hen yang membara. Terlihat cambuk berwarna hitam dengan api yang membara itu melilit pedang Ling Zhen.


Jiu Hen menarik cambuknya sambil tertawa lantang, “Teryata kau cukup lemah, Ling Zhen!”


Justru hal yang dilakukan Jiu Hen akan menjadi petaka baginya. Ling Zhen hanya menyeringai melihat dirinya tertarik kedepan menuju Jiu Hen.


“Seni Napas Phoenix...” Dengan tenang Ling Zhen mengatur aliran napasnya sambil mengalirkan sejumlah tenaga dalam ke ujung bilah pedangnya.


Saat dirinya merasakan tenaga dalamnya mulai berpusat diujung bilah pedangnya, Ling Zhen menusukkan pedangnya yang memancarkan aura berwarna ungu kehitaman.


Seketika suara petir yang menggelegar memenuhi Reruntuhan Kuno Dewi Malam bersamaan dengan ledakan besar akibat pertarungan yang lain.


“Aliran Sembilan Naga Keempat ~ Menghunus Langit!”


Ujung bilah Pedang Sembilan Naga menembus jantung Jiu Hen. Ling Zhen menusuknya lebih dalam sambil menyeringai menatap Jiu Hen yang melebarkan kedua mata sepenuhnya menatap dirinya.


“Kau-” Jiu Hen batuk darah dan tidak bisa mengucapkan kata celaan kepada Ling Zhen.


“Aku cukup lemah?” Ling Zhen menyindir Jiu Hen sambil menarik Pedang Sembilan Naga yang menembus jantung lawannya itu dengan secara perlahan-lahan.


“Justru dimataku kau yang terlihat lemah, Jiu Hen!” Lalu Ling Zhen mengibaskan pedangnya tepat setelah keluar dari tubuh Jiu Hen.


Saat Ling Zhen memperhatikan pertarungan disekitarnya dimana ledakan besar itu berasal, darah segar keluar dari mulutnya.


Jiu Hen tersenyum melihatnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara itu Ling Zhen merasakan efek dari Tanda Mata Dewa mulai terasa.


“Sial, aku tidak boleh kalah disini!” Ling Zhen memusatkan seluruh perhatiannya untuk menekan aliran darahnya yang tidak stabil dan meledak-ledak didalam tubuhnya.

__ADS_1


___


Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya. Bila mana ada kata typo tolong ketik dikolom komentar, biar author perbaiki, karena author gak sempat koreksi ulang.


__ADS_2