
Beberapa hari telah terlewati, akhirnya Ibu Ling Zhen pergi meninggalkan Lembah Dewa bersama Ji Yanran, Chu Xiulan dan Mizuhara. Sementara itu Ling Zhen menetap di Lembah Dewa bersama Xue Lianhua, Que Mi dan Yue Rou.
“Hati-hati, Bu.” Ling Zhen memeluk tubuh Ibunya, begitu juga dengan Ibunya yang mendekap erat tubuh anaknya.
“Jangan lupa untuk menjenguk kondisi istrimu yang sedang hamil. Kau boleh fokus berlatih, tetapi harus ingat jika dirimu memiliki seorang istri yang berharap mendapatkan perhatianmu.” Ibu Ling Zhen mengelus rambut anaknya itu sebelum berpamitan pergi meninggalkan Lembah Dewa.
Ji Yanran, Chu Xiulan dan Mizuhara dipeluk Ling Zhen sebelum ketiga wanita itu pergi melewati dinding pembatas Lembah Dewa.
Setelah kepergian Ibunya dan ketiga istrinya, Ling Zhen mulai membuat jadwal untuk latihannya. Yue Rou juga ikut berlatih untuk menguasai Tubuh Jelmaan Dewi Perang.
Xue Lianhua dan Que Mi juga melanjutkan latihan tertutup mereka. Xue Lianhua memfokuskan diri untuk menguasai Tubuh Jelmaan Dewi Salju, sementara Que Mi melatih ilmunya dibidang pengobatan dengan arahan Ling Zhen yang memiliki ingatan warisan Roh Dewa.
Ling Zhen sama sekali tidak memiliki bakat dibidang pengobatan, sehingga dia memberikan sejumlah resep yang dicatat hingga akhirnya membentuk sebuah catatan tebal layaknya kitab.
Que Mi menahan nafas setelah membaca catatan itu, bahkan gadis muda itu merasa sangat beruntung karena memiliki seorang suami seperti Ling Zhen.
Que Mi memutuskan secara sepihak jika dirinya juga akan melatih Ling Zhen secara pribadi dibidang pengobatan. Que Mi yakin suaminya itu memiliki bakat yang tidak terbatas.
Ling Zhen mengikuti keputusan Que Mi, karena bagaimanapun dirinya juga memahami betapa pentingnya pengobatan didunia persilatan.
Kini Ling Zhen dan Que Mi sedang berada di Kolam Lima tahun menikmati suasana tenang yang menyejukkan.
“Keluarga kah? Aku pernah kehilangan semuanya saat berumur lima tahun. Mi‘er, apa menurutmu aku begitu terobsesi membentuk sebuah keluarga sampai-sampai memiliki istri lebih dari satu?” Ling Zhen bergumam pelan sambil duduk bersila diatas batu yang ada di Kolam Lima Warna.
Que Mi menghela nafas panjang mendengar gumaman Ling Zhen. Umur keduanya bisa dibilang masih remaja, tetapi pengalaman pahit membuat Ling Zhen tumbuh lebih cepat sehingga Que Mi menyadari jika pemuda itu memiliki kelainan yang cukup memprihatinkan.
“Menurutku kau hanya lelaki mesum yang ingin memiliki banyak istri. Aku memahami kutukan yang Kakak Xiuxiu ceritakan padaku, tetapi aku sulit membayangkan ada pria yang memiliki tujuh belas istri. Membayangkannya saja sangat mengerikan...” Que Mi menggelengkan kepalanya lalu kembali menghembuskan nafas secara kasar, “Apalagi aku termasuk dari perempuan aneh yang tergila-gila padamu.”
Ling Zhen tertawa pelan mendengar ucapan Que Mi saat menanggapi ucapannya.
“Mi‘er, bagian mana yang kau suka dari diriku?” Ling Zhen tiba-tiba bertanya membuat Que Mi memiringkan kepalanya berpikir.
“Hmmm... Pertama kali melihatmu, aku menyukai sisi dirimu yang suka ikut campur masalah orang. Dan pada akhirnya kau berakhir menyedihkan karena terkena racun. Kau tidak menyadari betapa kuatnya musuh-mushmu, tetapi masih saja berdiri tegak melawan mereka. Mungkin karena itu, aku jadi menyukaimu. Kau membutuhkan seorang pendamping yang pengertian, semoga saja aku bisa memberikan yang terbaik untukmu, Gege.” Que Mi bicara panjang lebar tentang isi hatinya dan membuat jantung Ling Zhen berdebar kencang.
“Aku menyadari betapa bodohnya aku saat itu. Tetapi aku tidak menyesalinya. Jujur, aku ingin mendapatkan sebuah perhatian dan kasih sayang. Semua itu aku dapatkan dari seorang perempuan. Jadi, selama beberapa tahun ini aku merasa diriku ini sangat kesepian. Aku hanya bisa melihat Ibu yang tertidur dan tidak berbicara. Masa pertumbuhan yang kubayangkan sangat menyakitkan. Tetapi aku tidak bisa menyalahkan siapapun, karena bagaimanapun itu adalah bagaimana hidupku...” Ling Zhen berdiri lalu berjalan mendekati Que Mi yang sedang sibuk membaca catatan pengobatan buatannya.
“Mi‘er, terimakasih. Tolong jaga obrolan kita ini. Aku malu jika yang lain mengetahuinya.” Ling Zhen tersenyum sementara Que Mi menutup catatan itu dan tersenyum tipis.
“Sayangnya yang lain mendengar obrolan kita, Gege.” Que Mi mengedipkan matanya kearah dua wanita yang sedang menguping pembicaraan mereka dibelakangnya.
Ling Zhen baru menyadari Yue Rou dan Xue Lianhua bersembunyi dibelakang pohon tempat Que Mi bersandar.
__ADS_1
“Jadi ini alasanmu ingin mendapatkan kasih sayang dariku? Apa karena aku lebih tua darimu, makanya kau tertarik padaku, pemuda lemah syahwat?” Yue Rou sengaja mengejek Ling Zhen.
Ling Zhen memalingkan wajahnya, namun Yue Rou memegang dagu Ling Zhen dan berkata, “Pemuda lemah syahwat, kau mendapatkannya.”
“Rou‘er, berhenti. Aku adalah suamimu, jangan sebut aku dengan panggilan itu. Apa kau ingin mendapatkan hukuman dariku?” Mata Ling Zhen menatap tajam Yue Rou.
Melihat Ling Zhen dan Yue Rou bersitegang, Xue Lianhua dan Que Mi sedikit kebingungan.
Xue Lianhua sendiri mengerti mengapa Ling Zhen memperlakukannya dengan baik, karena pemuda itu ingin memiliki sebuah keluarga. Namun cara berpikir pemuda itu baginya sangat konyol.
‘Apa dia berpikir dengan memiliki puluhan istri bisa membuatnya membangkitkan keluarga? Aku tidak percaya akan memiliki masa depan seperti ini...’ Walau mengeluh, tetapi raut wajah Xue Lianhua bersemu merah melihat ketegasan Ling Zhen memarahi Yue Rou hanya karena candaan wanita itu.
“Aku mengerti, aku salah, Zhen‘gege.” Yue Rou menundukkan kepalanya lesu.
Ling Zhen tersenyum, “Bagus. Malam ini, tunggulah di rumah itu. Aku akan memberikanmu hukuman, Rou‘er. Ini akan lebih indah daripada malam pertama kita. Aku tidak mengizinkan penolakan, mengerti?.”
Mata Yue Rou melebar, tubuhnya gemetaran mendengar ucapan Ling Zhen.
Xue Lianhua dan Que Mi memerah wajahnya mendengar ucapan Ling Zhen. Pemuda itu menunjukkan sisi dirinya yang lain dan tentu itu membuat keduanya salah tingkah.
Xue Lianhua bisa menebak arah pembicaraan Ling Zhen dan Yue Rou, sehingga dia memilih untuk kembali berlatih. Sedangkan Que Mi pergi meninggalkan Ling Zhen dan Yue Rou di Kolam Lima Warna.
Setelah keduanya pergi, Ling Zhen tersenyum lembut kearah Yue Rou, “Apa kau sudah berlatih, Rou‘er? Maaf aku membuatmu takut...”
“Aku tidak menyangka setiap kita melakukan kegiatan itu, kita akan saling berbagi keuntungan. Aku sempat berpikir untuk tidak perlu berlatih dan memilih melakukan kegiatan itu setiap hari, Zhen‘gege.” Yue Rou tersenyum dan duduk disebelah Ling Zhen.
Kini keduanya nampak akrab, Ling Zhen memeluk pinggang Yue Rou dari samping lalu berbisik pelan, “Kalau begitu, kau tidak akan berteriak dan menangis seperti biasanya bukan?”
Bagai termakan ucapannya sendiri, Yue Rou menelan ludah, “Aku hanya tidak percaya dengan milikmu itu. Lagipula kau ini baru berumur tujuh belas tahun, kenapa bisa sebesar itu?”
“Hah? Jadi itu...” Ling Zhen bergumam pelan lalu menambahkan, “Mungkin aku selalu memakan buah-buahan disini dan daging Hewan Buas Iblis yang membuat beberapa bagian tubuhku menjadi lebih besar dari pada umumnya.”
“Hanya itu?” Yue Rou mengerutkan keningnya.
“Ada apa? Kenapa kita membahas ini?” Ling Zhen mengusap wajahnya lembut, lalu menghela nafas panjang.
“Rou‘er, tunggu aku dikamar. Aku akan mandi.” Ling Zhen berdiri dan mulai merendam tubuhnya di Kolam Lima Warna.
Yue Rou ingin menolak, tetapi tubuhnya seolah-olah bergerak sendiri menuju rumah sederhana yang berada didekat Kolam Lima Warna.
Yue Rou mandi didalam kamar mandi, lalu memakai pakaian tidurnya dan menunggu kedatangan Ling Zhen dengan jantung berdegup kencang.
__ADS_1
Ini bukan yang pertama, tetapi malam itu Yue Rou seperti biasa dibuat tidak berdaya oleh Ling Zhen. Keduanya merengkuh kenikmatan bersama hingga akhirnya tubuh Yue Rou lemas, sedangkan Ling Zhen membiarkan Yue Rou tertidur diatas tubuhnya.
“Rou‘er, aku ingin kau menerimanya...” Ling Zhen mengecup pipi Yue Rou, lalu mendekap tubuh Yue Rou dengan erat seolah-olah tidak ingin melepaskan miliknya didalam sana.
Yue Rou menggumam pelan sebelum tertidur, “Aku akan menerimanya, Zhen‘gege...”
Keduanya tertidur pulas hingga pagi tiba. Ling Zhen bangun lebih awal dibandingkan Yue Rou yang masih tertidur lelap diatas tubuhnya.
Setelah pagi tiba, Ling Zhen menidurkan tubuh Yue Rou dengan lembut lalu mencium perut istri keduanya itu.
Yue Rou terbangun dan mengusap rambut Ling Zhen pelan, “Zhen‘gege, kau sudah mengeluarkan didalam sana sangat banyak. Bahkan aku merasa diseluruh bagian tubuhku ini remuk karena kegiatan kita semalam...”
Ling Zhen tersenyum dan memeluk tubuh Yue Rou dari samping sambil telapak tangannya terus membelai perut Yue Rou lembut.
“Apa aku membuatmu kelelahan? Lain kali aku akan lebih lembut.” Ling Zhen menyatukan pipinya dengan pipi Yue Rou.
“Kau selalu bertanya tentang kesiapanku sebelum melakukannya. Perhatianmu itu tidak membuat takut, yang membuatku takut adalah ini...” Wajah Yue Rou merah padam saat telapak tangannya menggenggam bagian pribadi Ling Zhen.
“Rou‘er...” Ling Zhen menahan nafas karena genggaman erat telapak tangan Yue Rou yang gemetaran. Sensasi kelembutan itu membuat sesuatu dalam dirinya memberontak.
Yue Rou gelagapan saat telapak tangannya menyentuh sesuatu yang kian membesar dan memanjang. Bahkan tidak cukup telapak tangannya untuk menggenggamnya.
“Zhen‘gege, aku tidak bermaksud-”
Ling Zhen menindih tubuh Yue Rou dan menatap nanar istri keduanya itu. Bibirnya mengecup lembut bibir Yue Rou lalu memperdalam ciumannya hingga Yue Rou kehabisan nafas.
“Rou‘er, kau harus tanggung jawab.” Ling Zhen melepaskan seluruh pakaiannya dan mulai memposisikan miliknya kedalam tubuh Yue Rou.
“Zhen‘gege, tunggu... Akh-” Yue Rou menahan nafas saat sesuatu mulai menyeruak masuk kedalam tubuhnya. Kedua kakinya gemetaran, sedangkan rasa perih mulai terasa kembali disela paha.
“Pelan-pelan, Zhen‘gege... Sakit...” Yue Rou tersenyum dan memegang pipi Ling Zhen.
“Rou‘er, aku mulai.” Ling Zhen menahan nafas saat merasakan sesuatu yang mencengkeram kuat miliknya.
Yue Rou mengangguk lembut, “Pelan-pelan...”
Ling Zhen mengecup bibir Yue Rou dan mulai menggerakkan tubuhnya membuat mata Yue Rou terbelalak. Ling Zhen menikmati setiap momen dimana Yue Rou mendesah dan mengerang.
Yue Rou pasrah saat sesuatu yang memasuki tubuhnya semakin membesar dan melepaskan hasratnya didalam tubuhnya.
Ling Zhen melihat Yue Rou yang memeluk tubuhnya begitu erat mendiamkan miliknya lebih lama didalam sana. Cengkeraman erat itu membuat Ling Zhen tersenyum saat melihat ekspresi menggoda Yue Rou.
__ADS_1
“Rou‘er?” Ling Zhen menatap wajah Yue Rou dalam-dalam.
“Jangan... Ssshhh... Jangan bergerak, Zhen‘gege... aku bisa keluar lagi.” Ling Zhen tersenyum melihat Yue Rou menikmati kegiatan mereka dipagi ini. Tidak biasanya Yue Rou seperti ini sehingga Ling Zhen memilih untuk kembali bergerak dan terus menggoda istri keduanya itu.