Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 9 - Permintaan Tetua Agung Sekte Lembah Perawan


__ADS_3

“Kau memaksaku menelan pil ini!” Situ Tang mengambil pil yang paling berharga dijubahnya dan menelannya.


Raut wajah Situ Tang tampak memburuk karena setelah menggunakan racun yang langka dan pil yang berharga, tentu semua ini tidak sepadan dengan pencapaiannya selama ini.


Karena bagaimanapun pil dan racun itu setara dengan semua penghasilannya selama empat puluh tahun terakhir.


Setelah menelan pil berwarna merah itu, aura dan tenaga dalam Situ Tang terasa lebih besar dari Ling Zhen.


“Kau benar-benar memaksaku menelan Pil Rumput Darah, bocah...” Situ Tang memusatkan seluruh aura dan tenaga dalamnya untuk melarikan diri, “Kita akan bertemu lagi, sampai saat itu tiba aku akan memberi perhitungan denganmu!”


Ling Zhen merapatkan giginya saat dirinya gagal mengejar Situ Tang. Racun milik Situ Tang mulai bekerja dan Ling Zhen mulai merasakan efeknya.


“Racun ini...” Ling Zhen memegang perutnya sambil mengatur aliran napasnya, ‘Racun Darah Buas?’


Ling Zhen memuntahkan darah dalam jumlah banyak setelah mengetahui racun milik Situ Tang.


Sekarang Ling Zhen memusatkan seluruh aura dan tenaga dalamnya untuk menekan Racun Darah Buas yang membuat tubuhnya melemah. Kemudian terbang menuju tempat keberadaan Rubah Putih bersama Xue Lianhua dan yang lain.


Namun sebelum Ling Zhen tiba ditempat Rubah Putih, tubuhnya terhempas ke bawah dengan kecepatan tinggi.


Ini adalah pertama kalinya Ling Zhen bertarung melawan tiga pendekar bumi sekaligus. Dua berhasil dibunuhnya, tetapi hanya Situ Tang yang membuat luka membekas dalam pertarungan barusan.


Aliran napas Ling Zhen begitu lemah, bahkan matanya terasa begitu berat untuk tetap terbuka. Hingga akhirnya, Ling Zhen membungkus tubuhnya dengan sisa aura tubuhnya dan membiarkan tubuhnya terjun ke bawah.


“Sial, aku menggunakan aura dan tenaga dalamku secara berlebihan. Ini lebih baik, daripada aku harus mati konyol karena mengejar bedebah sialan itu...” Ling Zhen tertawa pelan, bersamaan dengan tubuhnya yang menabrak bebatuan bersalju dengan sangat keras.


____

__ADS_1


Ling Zhen merasakan pembuluh darah dalam tubuhnya semakin mengganas, rasa sakit menjalari seluruh tubuhnya saat Ling Zhen membuka mata sepenuhnya.


Walau telah menjalani hari-hari yang berat di Lembah Dewa, Ling Zhen tidak menyangka dirinya akan terkena racun yang membuat tubuhnya melemah.


“Rubah Putih? Dimana aku?” Saat mata Ling Zhen terbuka sepenuhnya, dia melihat Rubah Putih yang tengah berdiri tepat diatas perutnya.


‘Istirahatlah, bocah manusia. Kau terkena Racun Darah Buas. Untuk mendapatkan penawar racun tidak mudah, jadi kau harus memulihkan kondisimu dan menekan racun itu sendiri.’ Rubah Putih menjelaskan kondisi Ling Zhen sekarang.


Memang sekarang yang dibutuhkan Ling Zhen adalah beristirahat, namun saat ini dia ingin mengetahui dimana dirinya berada sehingga Ling Zhen mencoba untuk duduk dan melihat keadaan sekitar.


Saat Ling Zhen mencoba duduk, dia mendengar suara seorang gadis yang terdengar dari sampingnya.


“Istirahtlah, kau terluka cukup parah.” Ling Zhen menoleh ke arah sumber suara, dimana sang pemilik suara yang terlihat cantik dan anggun ini sedang membuatnya makanan.


“Mi‘er, tolong ambilkan Wortel Es dibelakang...” Xue Lianhua terlihat sedang memasak sesuatu dan gadis bernama Que Mi mengambil Wortel Es lalu memberikannya pada Xue Lianhua.


“Maaf, aku tidak dapat membunuh orang itu...” Ling Zhen memejamkan matanya dan mengingat dirinya yang gagal membunuh Situ Tang.


“Tidak perlu dipikirkan, lagipula kau sudah terluka cukup parah karena membantuku bahkan sampai terkena Racun Darah Buas. Aku ucapkan terimakasih padamu, Saudara Ling.” Walau terlihat dingin, Ling Zhen bisa melihat jika pipi putih Xue Lianhua sedikit merona.


Setelah sup hangat buatan Xue Lianhua telah siap, Ling Zhen melihat gadis berambut hitam keperakan itu menyuruhnya untuk membuka mulut.


Ling Zhen membuka mulutnya dan merasakan sup hangat yang mengalir masuk ke dalam mulutnya, rasa panas didalam pembuluh darahnya berubah menjadi hawa dingin yang menyejukkan.


Ling Zhen menerima suapan demi suapan yang dilakukan oleh Xue Lianhua, hingga akhirnya Tetua Agung Sekte Lembah Perawan yang terbaring lemah bangun dan berbicara.


“Pendekar muda, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu...” Tetua Agung batuk darah dan mencoba memandang wajah Ling Zhen.

__ADS_1


“Tetua Agung, lebih baik anda jangan berbicara...” Que Mi terlihat begitu khawatir dengan kondisi Tetua Agung. Walau sudah diambang batas, tetapi terlihat jika Tetua Agung menekan rasa sakit tubuhnya karena sesuatu yang penting sehingga Ling Zhen memilih diam dan mendengarkan permintaan Tetua Agung padanya.


“Mi‘er, Lian‘er, biarkan aku mengatakan sesuatu yang penting untuk terakhir kalinya...” Tetua Agung menatap Que Mi dan Xue Lianhua secara bergantian.


“Ini menyangkut Sekte Lembah Perawan yang dibentuk oleh pendahuluku...” Tetua Agung menjelaskan kepada Ling Zhen, Xue Lianhua dan Que Mi jika Sekte Lembah Perawan merupakan sekte yang baru terbentuk dan berumur kurang dari seratus tahun.


Dahulu ada seorang pendekar perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual di sekte aliran putih. Pendekar perempuan ini berlatih bela diri dan menempa tubuhnya lebih kuat agar dapat membalas dendam pada orang-orang yang telah melakukan pelecehan seksual padanya.


Namun pendekar perempuan ini justru mendapatkan pengalaman yang lebih mengerikan, sehingga suatu hari dia sadar jika cukup dirinya yang mengalami semua ini, dan dia tidak ingin ada perempuan lain mengalami hal yang sama sepertinya.


“Larangan berhubungan dengan laki-laki dan larangan untuk menikah sebenarnya hanya karena aturan yang dibuat pendahuluku...” Tetua Agung berusaha menyelesaikan perkataannya dan mengatur aliran napasnya, “Beliau menyampaikan ini padaku sebelum kematiannya...”


Suatu saat pasti Sekte Lembah Perawan akan mengalami hal yang tidak diinginkan, jika saat itu tiba maka Sekte Lembah Perawan akan berakhir karena sekte ini hanyalah sekte menengah yang tidak bekerjasama dengan sekte-sekte diluar sana.


Untuk menebus penyesalan dan keegoisannya, sang pendiri Sekte Lembah Perawan berharap jika para pengikutnya akan mendapatkan kebahagiaan dengan menemukan seseorang yang dapat dipercaya dan menjaga sebuah pusaka yang ditemukannya.


“Satu-satunya penyesalan pendiri karena tidak sempat memberitahukan hal ini pada semuanya dan menghapus larangan perintah darah itu...” Saat Tetua Agung berkata demikian, Xue Lianhua dan Que Mi terkejut.


“Pendekar muda, aku ada permintaan terakhir untukmu. Waktuku tidak banyak lagi, aku ingin kau berjanji dihadapanku jika kau akan membuat Lian‘er dan Mi‘er bahagia...” Selesai Tetua Agung menyelesaikan perkataannya, dia tersenyum ke arah Ling Zhen, Xue Lianhua dan Que Mi.


“Apa?” Xue Lianhua dan Que Mi sama-sama terkejut mendengar permintaan terakhir Tetua Agung.


“Lian‘er, Mi‘er, apakah kalian berdua bersedia menerima pendekar muda ini? Aku tidak memaksa, tetapi aku yakin pemuda ini adalah orang yang tepat untuk kalian...” Sekali lagi Tetua Agung tersenyum saat melihat Xue Lianhua dan Que Mi tidak menolak permintaannya.


“Kami bersedia...” Xue Lianhua dan Que Mi tidak berpikir panjang saat melihat senyuman terakhir dari Tetua Agung, mereka menjawab permintaan Tetua Agung dengan hati yang bertanya-tanya.


“Aku bukankah orang yang baik, tetapi aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka berdua...” Ling Zhen bersujud tiga kali dihadapan Tetua Agung dan melihat wajah Tetua Agung yang tersenyum.

__ADS_1


Itu adalah senyuman terakhir Tetua Agung Sekte Lembah Perawan sebelum meninggal.


__ADS_2