
Gadis yang memakai gaun berwarna biru muda yang berkilau dan gambaran lekuk tubuhnya terlihat jelas dan memikat. Dua kaki jenjang seputih salju itu menjadi daya tarik sendiri.
Setelah menolong gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Jia Ruan, Ling Zhen diberi permintaan untuk mengantarkan Tuan Putri Kekaisaran Jia ini pulang ke Ibukota Jiayang.
Dalam perjalanan, Jia Ruan lebih banyak diam dan terkadang terlihat hendak mengeluh karena kelelahan namun ia lebih memilih diam.
Sementara Ling Zhen tidak pernah menyangka akan bertemu dengan sosok terpenting Kekaisaran Jia. Menemani Tuan Putri Kekaisaran Jia tentu membuatnya sedikit terbebani, tetapi dengan ini dia bisa mendapatkan informasi yang dicarinya.
Setelah berjalan bersama selama dua hari, Ling Zhen mengetahui jika Jia Ruan baru saja kembali dari Kota Zhongluo untuk menemui tunangannya yang merupakan pewaris Keluarga Zhong.
Jia Ruan dengan pemuda bernama Zhong Feng baru mengenal selama tiga tahun belakangan ini. Sejak Jia Ruan diselamatkan oleh Zhong Feng saat pertemuan empat keluarga bangsawan Kekaisaran Jia, dirinya langsung dijodohkan dengan Zhong Feng.
“Cerita yang menarik...” Ling Zhen menimpali dan memakan buah Apel Es dengan santainya, sementara Jia Ruan memakan daging bakar buatan Ling Zhen.
“Tiga tahun yang lalu, insiden yang merenggut nyawa kakek dan nenekku ini ditutupi dan dalang penyerangan itu dilakukan oleh Rumah Gaya Bulan. Tetapi dalang penyerangan ini sebenarnya bukan didalangi Rumah Gaya Bulan...” Untuk permata kalinya Jia Ruan berbicara banyak.
Ling Zhen yang sedikit tertarik mengangkat alisnya, “Apa maksudmu?”
“Pendekar dari Sekte Pemuja Iblis yang menggerakkan Rumah Gaya Bulan dan mencari pusaka yang disimpan keluargaku. Dengan hilangnya pusaka itu, empat keluarga bangsawan sepakat untuk tidak membahas lagi masalah ini karena pusaka yang menghilang merupakan pusaka peninggalan milik seorang pendekar hebat Kekaisaran Jia.” Selesai Jia Ruan bercerita, ekspresi dingin terpancar diwajah Ling Zhen. Melihat itu, Jia Ruan bergidik ketakutan.
Kejadian itu bahkan membinasakan salah satu keluarga bangsawan, sehingga sekarang hanya ada tiga keluarga bangsawan besar di Kekaisaran Jia.
“Tenang, aku tidak akan memakanmu. Lagipula apakah aku semenakutkan itu?” Ling Zhen tidak menyangka Sekte Pemuja Iblis juga melakukan pergerakan di Kejaksaan Jia.
‘Tetapi mengapa Sekte Pemuja Iblis ini mengincar sebuah pusaka? Rencana apa yang dilakukan mereka dengan mengumpulkan pusaka?’ Ling Zhen menghela napas panjang dan tertawa pelan. Suara tawanya terdengar berbeda dari biasanya.
“Kenapa kau terlihat begitu marah saat aku mengatakan Sekte Pemuja Iblis?” Jia Ruan memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
Ling Zhen berhenti tertawa dan mengalihkan pandangannya menatap bulan diatas sana, “Aku sudah berulang kali merasa putus asa, setiap kali memikirkan bunuh diri aku mengingat Ibuku dan ambisiku. Setelah semua hal yang terjadi justru menuntunku kepada cerita ini. Tuan Putri Jia, aku merasa sangat beruntung dan bersyukur karena mendengar ceritamu.”
Senyuman dan ekspresi Ling Zhen menunjukkan kesedihan, namun kemarahan yang terpancar sekilas sangat terlihat diwajahnya. Jia Ruan bingung harus menanggapi seperti apa, tetapi pada saat itu hatinya berdetak kencang.
‘Tidak boleh, aku sudah memiliki seorang tunangan. Tapi kenapa jantungku bisa berdetak kencang saat melihatnya?’ Perasaan ini tidak pernah Jia Ruan rasakan saat bersama Zhong Feng, dan ini menimbulkan pertanyaan besar dalam relung hatinya.
“Tidurlah, besok kita akan melanjutkan perjalanan. Kita sudah dekat dengan kota, bukan?” Ling Zhen berdiri dan menatap Jia Ruan yang memalingkan wajahnya.
Gadis itu mengangguk pelan, “Ya, kita sudah dekat dengan Kota Limeng.”
Jia Ruan tidur beralaskan kulit Hewan Buas Iblis milik Ling Zhen, gadis itu mencoba terbiasa menjalani kehidupan yang baru pertama kali dirasakannya.
‘Semakin menarik, bukan?’ Rubah Putih keluar dari semak-semak dan mendekati Jia Ruan.
“Ya, ini sangat menarik karena aku akan membunuh semua orang yang berhubungan dengan Sekte Pemuja Iblis.” Ling Zhen berkata dengan dingin sebelum melompat ke atas pohon dan menatap bulan yang membulat sepenuhnya.
Pikiran Jia Ruan larut dalam dunianya, tak lama dia tertidur lelap karena lelah memikirkan ucapan Ling Zhen yang terdengar olehnya.
Keesokan harinya, Ling Zhen dan Jia Ruan tiba disuatu desa yang jaraknya paling dekat dengan Kota Limeng. Jika Ling Zhen berjalan sendiri mungkin dia hanya akan membutuhkan waktu beberapa jam saja untuk sampai di Kota Limeng, tetapi dengan Jia Ruan yang menuntun perjalanannya membuat mereka memakan waktu tiga hari untuk sampai di Kota Limeng.
Ling Zhen belajar mengendarai kuda selama setengah hari sebelum membeli kuda terbaik dari sang penjual di desa itu. Setelah siap melanjutkan perjalanan, Ling Zhen menyuruh Jia Ruan untuk naik ke atas punggung kuda, namun gadis itu terlihat enggan.
“Maaf aku lupa. Kau sudah memiliki seorang tunangan, jadi kau tidak ingin dekat laki-laki lain, bukan?” Ling Zhen turun dari kuda dan menatap Jia Ruan yang menggelengkan kepalanya.
“Bukan-” Suara Jia Ruan tercekat karena perasaannya bergejolak, “Aku hanya bingung dengan perasaanku sendiri, tetapi ini tidak mungkin kan?”
“Maksudmu?” Ling Zhen tidak mengerti maksud ucapan Jia Ruan.
__ADS_1
“Tidak...” Jia Ruan menggelengkan kepalanya kembali sebelum membatin dalam hatinya, ‘Ini tidak salah lagi, sepertinya aku jatuh cinta padanya. Ibu pernah menceritakan padaku tentang cinta pandangan pertama, tetapi aku tidak menyangka lelaki yang pertama kali membuatku merasakan jatuh cinta adalah sosok Ling Zhen dan bukan Feng‘gege...’
“Baiklah, aku akan naik. Tetapi jangan berbuat macam-macam denganku!” Tegas Jia Ruan dengan mata menajam.
Ling Zhen menganggukkan kepalanya dan tidak berkata apapun saat Jia Ruan sudah duduk manis diatas punggung kuda.
“Kau...” Jia Ruan tersentak kaget saat Ling Zhen duduk dibelakangnya. Terlebih dada Ling Zhen bertempelan langsung dengan punggungnya.
“Pegangan, aku baru menguasai cara mengendarai kuda beberapa jam yang lalu. Jadi jangan terlalu menaruh harapan padaku.” Ling Zhen segera mengendari kuda menuju Kota Limeng dengan kecepatan sedang. Jia Ruan yang pertama kali merasa ketakutan, justru sekarang terlihat ceria.
“Pemandangan dari atas punggung kuda...” Jia Ruan menggumam pelan menikmati terik matahari yang semakin terbenam.
Saat hari menjelang malam, Ling Zhen memacu kudanya lebih cepat karena melihat siluet sebuah kota dari kejauhan.
“Lebih baik kita bermalam lagipula sebentar lagi sore berganti malam.” Jia Ruan menawarkan, tetapi Ling Zhen menolaknya.
“Kota Limeng sudah dekat, serahkan saja padaku.” Ling Zhen tersenyum tipis sebelum memacu kudanya lebih cepat dari sebelumnya.
“Ah, kau membuatku takut! Bagaimana jika jantungku ini lepas?!” Jia Ruan berteriak dan tanpa sadar menyandarkan kepalanya didada Ling Zhen.
“Ternyata kau bisa berteriak.” Ling Zhen berkata pelan dan terus memacu kudanya, “Jika jantungmu lepas, maka pada saat itu kau akan mati.”
Tanggapan Ling Zhen membuat Jia Ruan tersenyum lebar. Senyuman seorang Tuan Putri Kekaisaran Jia ini membius Ling Zhen sesaat.
‘Kenapa aku melupakan sesuatu?’ Saat Ling Zhen membalas senyuman Jia Ruan, dia merasakan aura pembunuh dari belakangnya.
‘Bocah manusia! Beraninya kau bermesraan dan meninggalkanku!’ Dari belakang terlihat Rubah Putih tengah mengejarnya.
__ADS_1
Melihat itu, Ling Zhen tertawa pelan dan kemudian disusul Jia Ruan yang berpikir jika Rubah Putih itu terlihat sangat menggemaskan.