
“Ratu Chu, apa kau pikir bisa menjauhkan kami dari Ibukota Chudong? Kau sungguh naif sama seperti Ratu Chu sebelumnya!” Tubuh Shi Mubai beregenerasi dengan cepat sebelum menghilang dari pandangan Chu Xiulan.
Sebuah pukulan yang dipenuhi energi petir menggelegar dilangit, Chu Xiulan mengalirkan tenaga dalam pada telapak tangan kanannya dan menangkis pukulan tersebut.
“Sebagai orang yang memimpin negeri ini, aku tidak akan membiarkannya!” Chu Xiulan menjentikkan jarinya, seketika ratusan akar berduri mengejar tubuh Shi Mubai.
“Kali ini kami akan membunuhmu! Kami telah mengetahui kelemahanmu, Ratu Chu!” Shi Mubai menyemburkan api berbentuk awan yang besar kearah permukiman penduduk dari atas awan.
“Cobalah lindungi mereka-” Belum sempat Shi Mubai selesai berbicara, sebuah tebasan pedang hampir memotong lehernya.
“Aku melupakan keberadaan dirimu, pemuda sialan!” Shi Mubai menarik napas lega karena berhasil menghindari tebasan pedang Ling Zhen, reaksi ini membuat Chu Xiulan mengerutkan keningnya.
‘Reaksinya ini? Sepertinya kelemahan yang selama ini kami cari adalah...’ Chu Xiulan menatap tajam Shi Mubai sebelum bergerak cepat menuju bawah.
Sebelum semburan api berbentuk awan itu mengenai permukiman penduduk, Chu Xiulan memanipulasi aura tubuhnya untuk mengendalikan tanaman.
Tanaman mulai tumbuh dan membentuk sebuah kubah, kemudian Chu Xiulan menjentikkan jarinya seketika Elang Halilintar dan Kera Emas menahan semburan api berbentuk awan itu.
Kera Emas yang berdiri dipunggung Elang Halilintar memainkan sebuah tongkat berwarna emas, sedangkan Elang Halilintar membuka mulutnya lalu menyemburkan bola-bola petir.
Dan hal yang paling ditakutkan Chu Xiulan benar-benar terjadi karena bagaimanapun dia tidak ingin penduduk tak bersalah menjadi korban penyerangan ini. Tetapi saat sebuah pohon persik didekat gerbang kota meninggi, Chu Xiulan mengerutkan keningnya dan segera melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar.
“Bagaimana mungkin? Aku telah menyembunyikan mereka semua dalam ilusiku!” Mata Chu Xiulan melebar melihat ratusan penduduk mati terkena tiupan angin yang tajam dari mulut seorang pria berparas tampan.
Pria berparas tampan itu tak lain adalah pemimpin Sekte Pemuja Iblis yang bernama Tang Mu atau lebih dikenal dengan sebutan Iblis Raja.
“Tang Mu!” Chu Xiulan dipenuhi emosi dan menyerang Tang Mu secara membabi-buta.
Tang Mu menyeringai, “Dengan ratusan orang keluarga bangsawan ditambah penduduk ini maka seribu nyawa telah kubunuh dan mereka akan kupersembahkan pada Roh Iblis Laba-Laba Neraka!”
Saat Chu Xiulan hendak melepaskan dua tapak yang dipenuhi tenaga dalam, Tang Mu tersenyum lebar sebelum menghembuskan angin dari mulutnya.
Sebuah angin tajam yang kencang memotong bangunan dan saat hampir menyentuh tangan Chu Xiulan, angin tajam itu memotong tubuh Elang Halilintar menjadi dua bagian.
“Ratu! Jangan gegabah! Dia tidak akan bisa kau kalahkan dengan mudah!” Kera Emas menegur Chu Xiulan dan menatap kematian Elang Halilintar.
Tang Mu tertawa melihat kematian Elang Halilintar, “Tidak kusangka akan menjadi seperti ini. Drama yang menarik saat para pendekar dari Klan Dewi Malam mencoba mendapatkan Tombak Langit.”
Tang Mu mengeluarkan sebuah tombak berwarna putih terang dari Cincin Ruang lalu memutarnya, “Ratu Chu, malam ini kami akan menuntaskan ambisi untuk menguasai Kekaisaran Chu. Jika negeri ini tunduk padaku, maka kekacauan di dua kekaisaran yang lain akan lebih mudah.”
“Aku tidak akan membiarkannya! Aku akan melindungi para penduduk walau harus mengorbankan nyawaku sendiri!” Chu Xiulan menggerakkan akar-akar pepohonan untuk mengikat tubuh Tang Mu, namun akar-akar tersebut selalu terpotong saat Tang Mu menghembuskan angin tajam dari mulutnya.
“Sungguh naif! Kau seperti Dewi Perang saat bertarung tanpa melindungi seseorang, tetapi malam ini kau sangat lemah, Chu Xiulan!” Tang Mu bergerak dengan cepat dan melepaskan satu pukulan yang telak mengenai perut Chu Xiulan.
Kemudian Tang Mu memainkan tombaknya yang berwarna putih dan berniat menusuk perut Chu Xiulan.
Kera Emas juga memainkan tongkatnya dan menangkis serangan selanjutnya dari Tang Mu.
“Mubai! Zi! Saatnya kita mulai ritual pemanggilan Roh Iblis Laba-Laba Neraka!” Tiba-tiba Tang Mu berteriak lantang sebelum menghembuskan angin tajam dari mulutnya yang menghancurkan tubuh Kera Emas.
__ADS_1
Chu Xiulan melompat dan menghindari angin tajam itu. Ledakan dahsyat serta daya hancur dari hembusan napas Tang Mu saja sudah membuat kerusakan besar.
Menyadari dirinya tidak dapat bertarung maksimal membuat Chu Xiulan kesal. Terlebih dibelakangnya terdapat ribuan penduduk Ibukota Chudong yang ketakutan.
“Kalian semua tenanglah, aku akan melindungi kalian!” Chu Xiulan memandang penduduk yang berjumlah ribuan dan tersenyum.
“Ratu, jangan memaksakan diri! Biarkan kami yang membantumu melarikan diri!”
“Ratu, anda harus tetap hidup!”
Sejumlah penduduk berlari kearah Chu Xiulan dengan air mata yang berlinang diwajah mereka.
“Tetaplah berada dibelakangku!” Chu Xiulan berteriak dan membentuk sebuah pelindung aura yang melindungi tubuh para penduduk menggunakan seluruh aura tubuhnya.
Chu Xiulan menyisakan tenaga dalamnya untuk melakukan perlawanan pada ketiga perwakilan Sekte Pemuja Iblis, tetapi saat Chu Xiulan berniat menyerang Tang Mu, dia dikejutkan dengan Yue Rou yang terkapar disampingnya.
“Ratu, apa kau mau bunuh diri? Lalu membiarkan para penduduk dibantai setelah kau mati?!” Yue Rou berteriak kepada Chu Xiulan karena perempuan yang dia kagumi itu terlihat begitu putus asa.
Chu Xiulan tersenyum kecut, “Aku tidak akan bunuh diri-”
Tamparan keras mengenai pipi Chu Xiulan bersamaan dengan dua pedang Yue Rou yang terjatuh.
“Ratu! Apa kau tidak bisa berbagi perasaanmu itu denganku?! Aku tahu itu sangat menyakitkan, tetapi kau tidak bisa selamanya menyalahkan masa lalu karena tidak dapat melindungi Ibumu!” Yue Rou meneteskan air mata melihat Chu Xiulan seperti ini.
Beban yang ditanggung Chu Xiulan sangat berat dan perempuan itu tidak pernah mengeluh dihadapan Yue Rou.
“Sial, aku telah mencapai batasku...” Ling Zhen menggigit bibir bawahnya hingga berdarah dan merasakan kekesalan terbesar dalam hatinya, “Menjadi lemah itu sangat menyakitkan. Padahal orang yang membantai keluargaku berada dihadapanku, tetapi aku tidak dapat berbuat apapun...”
Ling Zhen dengan segala beban dan penyesalan yang dia punya kembali berdiri untuk sekali lagi, lalu menatap Chu Xiulan dan Yue Rou yang terlihat sudah saling menenangkan.
“Sungguh drama yang menyedihkan.” Lin Zi tertawa dan menyatukan kedua tangannya.
“Pemuda sialan, aku berniat membunuhmu. Tetapi sepertinya kau sudah diambang batas kemampuanmu. Aku tidak tertarik dengan orang lemah dan kau pantas menjadi makanan Laba-Laba Neraka.” Kemudian Shi Mubai menyatukan kedua tangannya disusul Tang Mu yang tersenyum lebar.
“Teknik Pemanggilan Roh Iblis — Laba-Laba Neraka!” Tang Mu meneteskan darah dari jari jempolnya sebelum menatap cahaya berwarna merah menyala yang melebar ditengah Ibukota Chudong.
Sedangkan disisi lain terlihat Ling Zhen tersenyum tipis dan menatap Chu Xiulan serta Yue Rou, “Kalian berdua lindungi penduduk disana dan urus laba-laba itu. Aku akan melawan mereka bertiga.”
Lalu Ling Zhen mengalihkan pandangannya memandang Laba-Laba Neraka yang muncul seketika dengan wujudnya yang besar bahkan melebihi gunung.
“Zhen‘gege, apa yang ingin kau lakukan-”
“Rou‘er, aku terlalu lemah sehingga kalian meragukanku dan tidak dapat bergantung padaku. Tetapi untuk malam ini lihat dan izinkan aku untuk membuktikan pada kalian berdua, jika aku pantas menjadi tempat bersandar kalian.” Ling Zhen tersenyum penuh makna kearah Yue Rou dan Chu Xiulan.
Setelah wujud Laba-Laba Neraka keluar sepenuhnya, Ling Zhen memejamkan matanya dan masuk kedalam alam bawah sadarnya.
Sosok Kutukan Roh Dewa Kematian menyeringai melihat dirinya.
“Ada perlu apa manusia? Bukankah sudah waktunya kau melarikan diri?” Kutukan Roh Dewa Kematian mengejek Ling Zhen yang tidak berdaya.
__ADS_1
“Beri aku kekuatanmu! Aku-”
“Tunggu! Kau pikir dirimu ini bisa membunuh mereka semua jika aku memberikan sebuah kekuatan padamu?!” Kutukan Roh Dewa Kematian memotong perkataan Ling Zhen sebelum menjelaskan kondisi tubuh Ling Zhen yang diambang batas.
Selain tidak dalam kondisi Tanda Mata Dewa lagi, sudah dipastikan Ling Zhen akan lumpuh jika menggunakan Tanda Mata Dewa secara paksa sekali lagi.
“Aku tidak keberatan.” Ling Zhen menjawab setelah mendengar penjelasan Kutukan Roh Dewa Kematian tentang kondisi tubuhnya.
“Kau menarik tetapi sangat gegabah, manusia.” Kemudian Kutukan Roh Dewa Kematian mengalirkan aura pada tubuh Ling Zhen.
“Biarkan aku mengambil alih tubuhmu. Akan kupastikan salah satu dari tiga orang itu mati dan tentunya aku akan membunuh makhluk dunia bawah itu.” Kutukan Roh Dewa Kematian menawarkan.
Ling Zhen berpikir sejenak sebelum menanggapi, “Apa kau tidak bisa membunuh ketiga orang itu?”
“Bisa saja tetapi jika aku berlebihan menggunakan kekuatanku, maka kau yang terkena imbasnya. Bukan hanya lumpuh, kau akan mati.” Kutukan Roh Dewa Kematian menjelaskan.
“Lakukan sesukamu. Asalkan bisa menyelamatkan mereka, itu sudah cukup.” Ling Zhen mengepalkan kedua tangannya erat.
Kutukan Roh Dewa Kematian mengulurkan tangannya kepada Ling Zhen.
“Ada apa?” Ling Zhen yang melihat Kutukan Roh Dewa Kematian mengulurkan tangan padanya kebingungan.
“Berjabat tangan. Cepat lakukan, apa kau bodoh?” Kutukan Roh Dewa Kematian terlihat kesal.
Ling Zhen menghela napas ringan dan berjabat tangan dengan Kutukan Roh Dewa Kematian.
Sekejap aura berwarna hitam pekat menyebar disekitarnya bersamaan dengan wujud Kutukan Roh Dewa Kematian yang menghilang.
Ling Zhen tertidur dialam bawah sadarnya dan tidak menyadari saat Kutukan Roh Dewa Kematian mengambil alih tubuhnya.
Saat kembali, Kutukan Roh Dewa Kematian yang berada dalam tubuh Ling Zhen membunyikan lehernya sambil memandang sekelilingnya.
“Manusia, lihatlah kekacauan yang telah kau buat ini.” Ling Zhen berbicara dan menatap dingin sekelilingnya.
Kedua bola matanya berwarna hitam pekat. Dan orang yang pertama kali menyadari perubahan Ling Zhen adalah Yue Rou dan Chu Xiulan.
“Zhen‘gege?” Baik Yue Rou maupun Chu Xiulan bisa merasakan aura mematikan yang keluar dari tubuh Ling Zhen, bahkan tanaman serta akar-akar pepohonan milik Chu Xiulan layu saat berada didekat Ling Zhen.
‘Tanda Mata Dewa...’ Dalam hati Ling Zhen membatin.
“Jadi diantara kalian bertiga siapa yang mau mati duluan?” Kemudian dengan lantang Ling Zhen berbicara sebelum tersenyum menatap kearah Tang Mu, Shi Mubai dan Lin Zi.
___
Rafli Art.
- Immortal Warrior
- Legend Of Fei Long
__ADS_1