Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 119 - Qian Yu


__ADS_3


[Qian Yu] [Manager Paviliun Bulan Biru, Pengasuh Ji Yanran.] [Sumber : Pinterest]


____


“Zhen‘er-” Qian Yu segera berdiri dan menatap Ling Zhen sambil menjaga jarak dari pemuda itu, “Gege, apa yang kau lakukan disini?”


Gejolak semangat Ling Zhen kembali bergelora mendengar wanita paruh baya itu menyebut namanya dengan penuh rasa sayang.


“Bibi Qian, saat kita berdua panggil aku Zhen‘er. Aku lebih menyukai itu.” Ling Zhen mendekat, sedangkan Qian Yu menjauh. Namun hanya dalam beberapa langkah Ling Zhen sudah berdiri dihadapannya.


“Bibi Qian, apa kau mencintaiku?” Ling Zhen mengecup bibir Qian Yu singkat.


Qian Yu terkejut dan gelagapan, “Aku... Aku bingung harus berbuat apa Zhen‘er? Aku merasa tidak pantas untukmu, aku adalah pengasuh Nona Ji dan lebih pantas menjadi Ibumu-”


Ling Zhen kembali mengecup bibir Qian Yu, kali ini dia melakukannya lebih intens sehingga Qian Yu terlihat kikuk dan pasrah saja.


Sambil melepaskan ciumannya, Ling Zhen tersenyum, “Aku juga bingung harus berbuat apa, Bibi Qian. Tetapi malam ini aku tidak akan menahan diri dan akan mengekspresikan semua perasaanku.”


“Bibi Qian, kita kekamar. Selanjutnya adalah giliranmu.”


“Zhen‘er, tunggu aku belum-” belum sempat Qian Yu menolak, Ling Zhen sudah mengangkat tubuhnya dan menggendongnya kerumah.


Qian Yu kaget karena Ling Zhen mengangkat tubuhnya dengan mudah, karena melihat Ling Zhen tidak akan melepaskan dirinya akhirnya Qian Yu mengalungkan tangannya keleher Ling Zhen. Untuk pertama kalinya Ling Zhen dan Qian Yu sedekat ini.


Qian Yu bisa merasakan detak jantung Ling Zhen dan dada bidang pemuda itu. Akhirnya Ling Zhen menaruh tubuh Qian Yu diatas ranjang yang berada dikamar sebelah tempat Xue Lianhua tertidur.


“Zhen‘er, sebaiknya kita-” Bahkan saat Qian Yu ingin mengatakan sesuatu, Ling Zhen kembali membungkamnya dengan kecupan singkat.


“Bibi Qian, aku benar-benar menginginkan hadiah darimu malam ini. Lian‘er sudah, sisanya adalah kamu.” Ling Zhen menggenggam telapak tangan Qian Yu, dengan berani Ling Zhen mengecup kening Qian Yu penuh kelembutan.


“Zhen‘er...” Desah keraguan dan bimbang Qian Yu terdengar indah ditelinga Ling Zhen.


Qian Yu terdiam saat wajah tampan pemuda yang merupakan suaminya itu mendekati wajahnya. Sedetik kemudian bibir pemuda itu bertemu dengan bibirnya.


Kedua bola mata Qian Yu terbuka lebar pada awalnya, tetapi saat Ling Zhen ******* dan memainkan lidahnya secara perlahan kedua bola mata Qian Yu terpejam.


Qian Yu membulatkan tekad akan melakukan tugasnya sebagai seorang istri Ling Zhen dan tidak akan lari lagi. Tetapi saat kedua telapak tangan Ling Zhen bersarang digunung kembarnya, kedua bola mata Qian Yu refleks terbuka lebar.


“Zhen‘er! Mmmmhhh! Geli!” Ling Zhen membungkam mulut Qian Yu saat wanita paruh baya itu memberontak.

__ADS_1


Qian Yu melihat ekspresi wajah Ling Zhen yang bersemu merah. Sungguh tampan dan begitu menggemaskan ekspresi itu, Qian Yu akhirnya membiarkan Ling Zhen meraba, meremas dan memilin gunung kembarnya.


Batin Qian Yu berkecamuk karena ini adalah pengalaman pertamanya disentuh pria lain selain mendiang suaminya. Terlebih Ling Zhen terlihat sangat mahir, wajar saja walau usianya muda tetapi pengalaman Ling Zhen yang memiliki enam istri benar-benar membuat Qian Yu tidak menyangka.


Desahan mulai keluar dari mulut Qian Yu saat bibir Ling Zhen memberikan tanda kepemilikan dilehernya dan tengkuknya. Tangan Ling Zhen tidak pernah diam dan terus menjamah tubuh Qian Yu yang masih indah itu.


“Ssshhh...” Kedua tangan Qian Yu memegang kepala Ling Zhen saat pemuda itu melepaskan gaun atasnya dan mulai membenamkan wajahnya ke gundukan kenyal miliknya.


“Bibi Qian, ini sangat indah.” Ling Zhen menggigit ujungnya dan meremasnya keras membuat Qian Yu melenguh panjang.


Qian Yu tidak menyangka kenikmatan yang diberikan Ling Zhen sungguh luar biasa dan baru pertama kali dirasakannya. Saat telapak tangan pemuda itu bersarang dibagian paling berharga miliknya, reflek Qian Yu duduk dan menutup pahanya.


“Ini sangat basah...” Ling Zhen tersenyum dan melepaskan seluruh pakaiannya sambil menambahkan, “Bibi Qian, kau sangat cantik malam ini, sungguh beruntung aku memilikimu.”


Wajah Qian Yu bersemu merah mendengar ucapan Ling Zhen, kembali kedua matanya terbuka lebar saat melihat benda tegak dan menantang tepat dihadapan wajahnya.


“Berhenti menggodaku Zhen‘er...” Qian Yu memalingkan wajahnya. Seluruh tubuhnya seperti tersengat aliran listrik saat berulang kali pandangannya matanya menoleh melihat milik Ling Zhen yang benar-benar membuatnya bergidik ngeri.


‘Ini sangat besar... Aku tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya...’ Ling Zhen jongkok dan memegang dagu Qian Yu saat wanita paruh baya itu terlihat ragu dan larut dalam pikirannya.


“Bibi Qian...” Ling Zhen mengecup bibir Qian Yu dan mulai menjamah kembali tubuh wanita paruh baya itu.


Qian Yu kembali hanyut dalam permainan Ling Zhen yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Tangannya dituntun Ling Zhen untuk berkenalan dengan sesuatu yang membuat matanya terbuka lebar.


“Zhen‘er... Cukup... Aaahhh!” Qian Yu terkejut saat jari Ling Zhen masuk kedalam tubuhnya dan mulai mengobrak-abrik pertahanannya.


“Ini!” Mata indah Qian Yu terbuka lebar dan wanita paruh baya itu mendesis tidak percaya.


Telapak tangan Qian Yu secara tidak sadar menggenggam erat milik Ling Zhen membuat pemuda itu meringis menahan nikmat.


“Aaahhh... Zhen‘er... Tunggu sebentar...” Tubuh Qian Yu menggelinjang dan mencapai pelepasan. Ling Zhen tersenyum dan langsung menindih tubuh Qian Yu sambil memposisikan miliknya.


Qian Yu terkejut saat Ling Zhen mengusapnya. Pemuda itu sengaja agar Qian Yu melihat kebawah. Benar saja kedua mata Qian Yu terbelalak lebar, tubuhnya melengkung sementara kedua tangannya menahan badan Ling Zhen saat pemuda itu mulai mantap memposisikan miliknya memasuki tubuhnya.


Ling Zhen menahan tubuh Qian Yu dan menggigit daun telinga wanita paruh baya itu dan turun ke leher sebelah tersenyum dan mengecup bibir Qian Yu secara singkat.


“Bibi Qian, aku akan memasukkannya...” Ling Zhen mengecup singkat bibir Qian Yu kembali lalu memberikan tanda kepemilikan dileher Qian Yu yang masih terlihat mulus itu.


“Tahan sebentar Bibi Qian, malam ini aku akan membuatmu menjadi wanita yang sesungguhnya...” Ling Zhen mendesah dileher Qian Yu.


Qian Yu hanya menggelengkan kepalanya saat merasakan benda asing mulai memasuki tubuhnya. Mulutnya terkatup rapat menahan debaran jantungnya, “Zhen‘er, pelan... Ini terlalu besar...”

__ADS_1


Walau telah melakukannya dengan lembut, tetap saja Qian Yu merintih kesakitan. Tubuhnya meliuk-liuk, kedua kakinya yang terbuka lebar gemetaran dan mulutnya mengeluarkan suara tertahan.


“Aaahhh! Zhen‘er... Ssshhh!” Rumit ekspresi Qian Yu karena tidak menyangka milik Ling Zhen belum masuk sepenuhnya namun miliknya terasa penuh mencengkeram erat milik Ling Zhen.


“Bibi Qian, ini sangat sempit!” Ling Zhen meringis menahan nikmat karena miliknya dicengkeram begitu erat.


Qian Yu yang mendengar itu merasa bangga. Dia tidak menyangka Ling Zhen terlihat begitu menikmati tubuhnya.


“Aku gerakan...” Ling Zhen mengecup mesra bibir Qian Yu sambil menggerakkan tubuhnya dengan lembut agar wanita paruh baya itu terbiasa.


Dengan gerakan yang lembut dan teratur akhirnya Ling Zhen mulai memacunya lebih cepat membuat tubuh Qian Yu bergoyang dengan keras.


“Aduh... Zhen‘er! Ahk!” Kedua tangan Qian Yu memegang bahu Ling Zhen saat pemuda itu mulai mempercepat tempo gerakannya.


Qian Yu terpekik, berulang kali tubuhnya menggeliat dan Ling Zhen menahannya. Qian Yu terlihat gelisah, tangannya tanpa sadar memeluk tubuh Ling Zhen dengan punggung melengkung.


Qian Yu berulang kali memekik dan meronta saat Ling Zhen menghentakkan tubuhnya dengan keras. Hingga tanpa sadar Qian Yu sudah mencapai kenikmatan alam surgawi berulang kali.


“Zhen‘er...” Qian Yu sekarang bergerak diatas pangkuan Ling Zhen. Pemuda itu membimbingnya menuju puncak kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Melihat air mata mengalir dipipi Qian Yu, Ling Zhen dengan cepat menyapu buliran air mata dan menindih tubuh Qian Yu kembali.


Ling Zhen mendekap tubuh Qian Yu begitu erat, tubuh Qian Yu bergetar hebat. Wanita paruh baya itu membalas pelukannya dengan sangat erat dan terus meneteskan air matanya.


Ling Zhen masih terus bergerak cepat diatas tubuhnya, hingga tak lama suara erangan keduanya menggema dikamar yang menjadi saksi bisu cinta mereka.


Tubuh Ling Zhen ambruk menimpa tubuh Qian Yu. Wanita paruh baya itu memeluk Ling Zhen begitu erat saat merasakan tubuhnya kembali disiram kehangatan cinta Ling Zhen.


“Terimakasih, Bibi Qian... Ini hadiah terbaik...” Ling Zhen membaringkan tubuhnya kesamping dan tetap mendiamkan miliknya disana.


Qian Yu membisu. Dia tidak menyangka akan melakukannya dengan Ling Zhen, pemuda yang baru saja menginjak delapan belas tahun dan merupakan suaminya itu.


___


Tunjukkan suport kalian semua kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin.


Nih gak ada yang ngucapin selamat ulang tahun untuk Ling Zhen gitu? Kasih like, love atau follow author kek.


Curhat dikit ye.


Novel ini aku akui mungkin dari segi penulisan amburadul dan alurnya membosankan. Tetapi ini yang masih bisa saya ciptakan lewat karya tangan yang tercipta dalam keadaan penuh kejenuhan dan keresahan untuk kalian baca. Semoga beberapa dari kalian tetap terhibur dan terus mengikuti perjalanan Ling Zhen.

__ADS_1


Sekian, terimakasih.


__ADS_2