Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 121 - Kebingungan Yang Tak Kunjung Hilang


__ADS_3

Secara bergantian Ling Zhen bermeditasi sambil berendam di Kolam Lima Warna, Danau Pengobatan dan Mata Air Phoenix.


Tubuh Ling Zhen menyerap semua khasiat diketiga kolam tersebut. Ling Zhen merasakan energi yang meluap-luap di sekitar titik meridiannya dan tulang-tulangnya.


‘Setiap keturunanku akan mewarisi Tubuh Jelmaan Dewa-Dewi. Jika benar, maka Rubah Putih memilihku karena ingin aku menjadi Raja Para Dewa dan kembali ke Dunia Atas...’ Ling Zhen tersenyum pucat dan menggelengkan kepalanya, ‘Dia meninggalkanku dengan seribu pertanyaan. Apa yang sebenarnya Sekte Pemuja Iblis incar di Benua Lima Warna? Dan apa yang ada diluar benua ini? Mengapa ada ras yang menjajah dua negeri di Benua Lima Warna!’


Kening Ling Zhen mengkerut memikirkan setiap tindakan Sekte Pemuja Iblis yang tidak segan-segan membantai orang tak bersalah. Jika Sekte Pemuja Iblis berniat menguasai Benua Lima Warna, maka kelompok itu seharusnya mengusir para penjajah yang menguasai Negeri Ezzo dan Negeri Jisa. Tetapi Sekte Pemuja Iblis justru memilih bekerjasama dan tindakan kelompok ini seperti ingin menggapai semua cara untuk balas dendam.


Ling Zhen sendiri mengerti bagaimana rasanya dibutakan balas dendam. Dirinya tercebur dalam kegelapan yang membuatnya sulit mengekspresikan perasaannya. Bisa dibilang Ling Zhen haus akan kasih sayang dan lemah terhadap perempuan, semua itu sebagai bentuk pelarian dari kesedihannya.


Setelah memikirkan bagaimana rencana kedepannya, akhirnya Ling Zhen mengambil beberapa Permata Roh dari Ruang Dewa dan mulai menyerap khasiat Permata Roh Hewan Buas Iblis.


Permata Roh Hewan Buas Iblis tidak terlalu membantu perkembangannya untuk menerobos Pendekar Dewa Tahap Awal.


Ling Zhen terus berlatih dengan segala cara untuk menerobos Pendekar Dewa Tahap Awal. Mulai dari terus menempa fisiknya bahkan mengasah kemampuan bertarungnya dan melakukan meditasi, namun tidak ada yang berhasil.


Saat Ling Zhen ingin mengistirahatkan diri sejenak, dirinya merasa seluruh tubuhnya dipenuhi energi yang begitu hangat. Ling Zhen baru mengetahui sekarang badan dan tubuhnya memiliki keistimewaan khusus, tubuh ini berbeda dengan Tubuh Seratus Jiwa bahkan Ling Zhen berulang kali mendapatkan ingatan samar-samar tentang tubuh ini.


Ling Zhen mengingat perkataan Kutukan Roh Dewa Kematian tentang tiga Badan Perawan Suci. Ling Zhen mengetahui Chu Xiulan pemilik Badan Perawan Suci, terlebih istri ketiganya sangat membantu dirinya.


Chu Xiulan dengan sukarela memberikan mahkotanya kepada Ling Zhen, bahkan wanita itu memberikan Ling Zhen keuntungan yang sangat besar.


Namun Ling Zhen belum menemukan cara untuk memurnikan tenaga dalamnya menjadi qi serta Aura Dewa yang merupakan energi paling murni.


Ling Zhen terus mencari cara sendiri untuk memurnikan tenaga dalamnya. Samar-samar ingatan Roh Dewa terlihat, namun Ling Zhen tidak dapat melihatnya dengan jelas.


Akhirnya Ling Zhen memilih untuk mengulas semua latihannya dan memperbaiki setiap kesalahannya.

__ADS_1


Sementara Ling Zhen sibuk dengan kegiatannya berlatih, didalam kamar terlihat Qian Yu dan Xue Lianhua yang tertidur lemas. Keduanya saling memeluk erat satu sama lain tanpa sadar.


Beberapa saat Xue Lianhua terbangun disusul Qian Yu. Terlihat Xue Lianhua menatap wajah Qian Yu yang begitu dekat.


“Bibi Qian? Kenapa kamu berada dikamar ini?” Xue Lianhua mencium aroma cairan kental, matanya melirik tubuh Qian Yu dimana tubuh bagian bawah wanita paruh baya itu terpampang jelas tanpa sehelai benang, “Hehe...”


Qian Yu pucat pasi karena tidak menyangka dirinya akan tertidur dikamar Xue Lianhua, bahkan parahnya sekarang keduanya saling berpelukan. Dan yang paling membuat Qian Yu malu adalah kondisi tubuhnya sekarang, dimana dirinya tidak mengenakan pakaian bawah.


“Lian‘er...” Qian Yu bingung ingin bicara apa.


“Bibi Qian, jadi kalian sudah melakukannya?” Xue Lianhua tersenyum dan melepaskan pelukannya lalu duduk sambil menatap tubuh wanita paruh baya itu, “Bagaimana rasanya?”


Qian Yu menelan ludah tidak percaya. Dibalik keanggunan dan kecantikan nomor satu Kekaisaran Jia ini, Xue Lianhua memiliki sifat yang berbeda membuat Qian Yu canggung.


“Lian‘er, kau tidak perlu bertanya lagi. Aku terasa lemas dibuatnya...” Qian Yu tidak menyangka dirinya akan menanggapi perkataan Xue Lianhua.


“Bibi Qian, lebih baik kita mandi dan mempersiapkan makan malam. Hari sudah gelap, bukankah malam ini kita akan melakukannya?” Xue Lianhua tersenyum manis sambil berdiri dan merenggangkan badannya.


Qian Yu tersedak mendengar ucapan Xue Lianhua, ‘Melakukannya bertiga? Kenapa Lian‘er menerimanya begitu saja? Apa anak muda sekarang suka seperti ini?’ Qian Yu menelan ludah membayangkan kegiatannya nanti malam.


Saat Qian Yu dan Xue Lianhua keluar kamar, terlihat Ling Zhen sedang duduk bermeditasi diruang tamu. Pemuda itu bahkan mengabaikan kedua istrinya yang berjalan dihadapannya.


Ling Zhen sendiri ingin memberikan benih cinta miliknya yang terbaik pada Xue Lianhua dan Qian Yu. Ling Zhen berharap Qian Yu dapat memberikan buah hati untuknya, mengingat usia wanita itu membuat Ling Zhen kembali mengembangkan Tubuh Seratus Jiwa.


Ketika hari semakin gelap, Ling Zhen, Xue Lianhua dan Qian Yu makan malam bersama. Ketiganya mengobrol dan tertawa layaknya keluarga harmonis. Tidak ada kepura-puraan, semuanya alami saat berbicara.


“Lian‘er, apa menurutmu tentang dunia persilatan Kekaisaran Jia?” Ling Zhen setelah meminum air hangat yang terbuat dari Ginseng Naga dan Jahe Dewa bertanya kepada Xue Lianhua.

__ADS_1


Xue Lianhua mencicipi cemilan buatan Qian Yu dan menikmatinya, setelah itu dia menatap Ling Zhen yang bertanya padanya.


“Dibandingkan Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Chu, dunia persilatan Kekaisaran Jia masih yang terkuat. Kehadiran Sekte Pemuja Iblis membuat kekacauan. Kelemahan terbesar dunia persilatan Kekaisaran Jia adalah kurangnya komunikasi dimana setiap sekte merasa paling kuat dan tidak ingin bekerjasama dengan sekte lainnya.” Xue Lianhua menjawab panjang lalu menambahkan jika pengaruh Sekte Pemuja Iblis membuat beberapa sekte putih dan netral mulai berubah.


“Hmmm...” Ling Zhen bergumam pelan sambil memejamkan matanya, “Menimbulkan perang tetapi mereka membantai keluarga bangsawan. Di Kekaisaran Jia, keluarga Yuan menjadi korbannya dan di Kekaisaran Qing, keluarga Ling yang menjadi korbannya. Sementara di Kekaisaran Chu, seluruh keluarga bangsawan telah dihabisi dan hanya menyisakan Chu Xiulan.”


Xue Lianhua dan Qian Yu menatap raut wajah Ling Zhen yang sedang memikirkan sesuatu.


“Ada apa, Gege? Certikan masalahmu pada kami berdua, siapa tahu kami bisa membantu.” Lembut suara dewasa Qian Yu itu membuat Ling Zhen membuka matanya.


“Aku sedang memikirkan tindakan Sekte Pemuja Iblis, kebingunganku tak kunjung hilang...” Ling Zhen menjawab lalu menghembuskan nafasnya secara pelan, “Ah, lupakan.”


Ling Zhen berdiri dan membawa mangkuk dan piring kotor kedapur. Xue Lianhua dan Qian Yu mengikuti Ling Zhen dan mencuci peralatan makan yang kotor itu.


“Gege, setelah ini kamu langsung ingin bermain dengan kami berdua atau-”


Qian Yu tersedak saat Xue Lianhua tiba-tiba berbicara demikian. Sedangkan Ling Zhen terdiam lama sebelum tersadar dari lamunannya.


“Melakukan apa? Oh, itu...” Ling Zhen lupa bahwa dirinya berniat menggempur Xue Lianhua dan Qian Yu habis-habisan malam ini, bukan hanya malam ini dirinya memang berniat menggempur keduanya sampai kedua istrinya itu mengandung bayinya.


“Aku akan memulainya dari kalian berdua.” Ling Zhen enteng menjawab lalu berjalan menuju kamar, “Aku menunggu dikamar, pastikan kalian memakai pakaian yang membuat suami kalian ini senang.”


Malam itu malam yang panjang bagi Qian Yu dan Xue Lianhua, keduanya selama semalaman mengeluarkan suara merdu yang membuat Ling Zhen semakin bergairah.


Beberapa kali Qian Yu dan Xue Lianhua meminta untuk beristirahat, namun setelah istirahat Ling Zhen kembali menggempur tubuh keduanya hingga matahari terbit.


Qian Yu dengan tubuh lemas dan nafas tidak beraturan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Wanita paruh baya itu melihat Xue Lianhua yang mengerang diatasnya lalu ambruk kesamping kirinya. Terlihat Ling Zhen membaringkan tubuhnya kesamping kanannya.

__ADS_1


Tidak ada sepatah kata yang keluar setelah mereka bertiga melakukan kegiatan malam yang panjang. Bahkan Ling Zhen tertidur pulas bersama kedua istrinya yang telah melayaninya selama semalaman.


__ADS_2