
Sebenarnya Ling Zhen ingin beristirahat di Kota Qifei, tetapi dirinya sangat membenci keramaian. Sehingga dia memilih untuk melanjutkan perjalanannya.
“Peta ini menunjukkan sebuah Padang rumput yang melintang disepanjang perbatasan Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Jia...” Ling Zhen melihat peta sambil memperhatikannya secara seksama.
Setelah meninggalkan Kota Qifei, Ling Zhen terbang selama tujuh hari sebelum sampai diperbatasan, dimana disana hanya ada sebuah hutan lebat dengan pepohonan tinggi.
Setelah melewati perbatasan, Ling Zhen menempuh perjalanan panjang melewati padang rumput. Suasana di padang rumput yang tenang membuat Ling Zhen menikmati setiap langkah kakinya dalam perjalanan.
‘Setelah meninggalkan Pegunungan Longxue, apakah kau masih ingat jalan untuk kembali kesana?’ Rubah Putih bertanya sambil merebahkan tubuhnya diantara paha Ling Zhen yang sedang bermeditasi.
Ling Zhen membuka matanya dan mengakhiri meditasi, “Aku masih mengingatnya. Daripada memikirkan itu, aku penasaran dengan penjelasan Kakek Kong tentang pergerakan Sekte Pemuja Iblis yang menghancurkan banyak sekte aliran putih dan netral di Kekaisaran Qing.”
‘Daripada itu? Kau selalu saja terlibat dengan sesuatu merepotkan. Apakah kau lupa jika ada dua wanita menunggumu di Lembah Dewa?’ Rubah Putih sebenarnya tidak ingin berdebat, tetapi melihat Ling Zhen yang seolah-olah melupakan janjinya pada Xue Lianhua dan Que Mi tentu menjadi kekesalan tersendiri bagi Rubah Putih.
Ling Zhen menatap rumput yang bergoyang karena angin malam, “Aku tidak akan melupakan janjiku pada mereka berdua, tetapi untuk saat ini aku ingin menemui Nona Ji yang dimaksud Kakek Kong...”
Rubah Putih menatap Ling Zhen, ‘Hei, kau selalu berurusan dengan perempuan. Apa tujuanmu menemui perempuan yang kau sebut barusan?’
Ling Zhen masih mengingat jika pemilik Paviliun Bulan Biru mengetahui informasi lebih cepat daripada seorang pendekar sekalipun. Menurutnya pemilik Paviliun Bulan Biru mengetahui penawar dari Racun Darah Buas dan Tidur Abadi.
‘Jadi itu alasanmu, tetapi jangan remehkan aku. Kau masih ada alasan lain bukan?’ Rubah Putih menguap setelah berteriak kepada Ling Zhen.
Ling Zhen memegang telinganya, walau Rubah Putih berkata melalui telepati namun efeknya sangat terasa ditelinga.
“Aku hanya berharap orang yang dimaksud Kakek Kong adalah Kakak Ji...” Ling Zhen bergumam pelan.
‘Hah? Kakak Ji?’ Rubah Putih menguap sebelum tertidur pulas dipangkuan Ling Zhen.
__ADS_1
Ling Zhen tersenyum tipis mengelus kepala Rubah Putih dan memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Saat pagi tiba, Ling Zhen kembali melanjutkan perjalanan melewati hamparan padang rumput yang membentang luas dengan indahnya.
Rubah Putih tetap dalam keadaan tertidur dan berada dikepala Ling Zhen. Dalam perjalanan Ling Zhen tidak bertemu dengan siapapun, mengingat kabar tentang pedagang Kekaisaran Qing yang disandera di Kota Qifei tentu saja banyak pedagang yang lebih berhati-hati untuk mendatangi Kekaisaran Jia.
Ling Zhen terus terbang selama berhari-hari, saat malam tiba dia beristirahat dan saat pagi tiba dia melanjutkan kembali perjalanan.
Sampai akhirnya Ling Zhen kembali melihat peta Benua Lima Warna, dan diujung Padang rumput terdapat sebuah jalan besar menuju kota perbatasan walau sebenarnya jauh namun kota ini yang paling dekat dengan Kekaisaran Jia.
Kota Wuzhen itulah nama kota perbatasan di Kekaisaran Qing. Sebuah kota yang berada dipinggir kekaisaran dan memiliki penduduk yang makmur.
Mengingat pertanian di Kota Wuzhen sangat luas, maka penduduk disana kebanyakan adalah petani, sementara pendatang yang menetap di Kota Wuzhen berjualan dan membuka usaha disana.
Ling Zhen memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Dia kembali melangkahkan kakinya dan bergegas menuju Kota Wuzhen.
Ling Zhen menyipitkan matanya dan melihat siluet manusia terbaring ditanah dari kejauhan.
‘Bocah manusia, aku bisa mempertahankan wujudku ini dengan tidur. Suatu saat, akan datang waktunya kau melakukan perjalanan tanpa diriku...’ Rubah Putih menguap dan menghentakkan kakinya pelan ke kepala Ling Zhen.
“Bukankah kau akan membimbingku? Berhenti bicara hal yang konyol, walau kau seekor rubah tetapi kau tetaplah seorang dewa...” Ling Zhen tertawa pelan sebelum mempercepat langkahnya untuk melihat lebih jelas siluet manusia yang dilihatnya.
Ling Zhen menemukan perempuan yang mengenakan gaun merah dengan dua pedang yang tersarung rapi. Dia memperhatikan wajah perempuan itu dengan seksama, dan alisnya perlahan mengkerut.
“Dia...” Ling Zhen memegang dagunya dan mencoba mengingat, “Kenala dia tidur disini? Bukankah perempuan ini yang ada di Ibukota Jiayang!”
‘Kemampuannya jauh diatasmu, tetapi mengapa dia bisa pingsan?’ Rubah Putih melompat dari kepala dan menginjak wajah perempuan itu.
__ADS_1
“Rubah Putih, jangan seenaknya menginjak wajah perempuan!” Ling Zhen menarik ekor Rubah Putih dan melemparnya pelan.
‘Kau! Beraninya kau memperlakukan aku seperti itu!’ Rubah Putih geram dengan tindakan Ling Zhen.
“Aku minta maaf, tetapi ini salahmu yang menginjak wajahnya.” Ling Zhen berkata sambil memeriksa denyut nadi perempuan tersebut.
“Air...” Mulut perempuan itu bergumam pelan, “Daging...”
Setelah bergumam demikian, suara perut keroncongan terdengar. Ling Zhen menggelengkan kepalanya dan menatap mata merah yang terbuka perlahan.
“Minumlah-” Belum sempat Ling Zhen menyelesaikan perkataannya, perempuan itu langsung mengambil air minum yang diberikan Ling Zhen.
Perempuan itu menghabiskan air minum yang diberikan Ling Zhen, setelah itu mengusap matanya lalu menatap wajah Ling Zhen.
“Kau...” Perempuan itu menyipitkan matanya menatap Ling Zhen dengan seksama, “Aku rasa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Kau adalah pendekar misterius bermata merah itu bukan?” Ling Zhen justru menatap tajam kedua bola mata berwarna merah milik perempuan itu.
“Pendekar misterius bermata merah? Siapa itu?” Perempuan itu berdiri dan meregangkan badannya, “Aku mengingatnya, kau adalah pemuda yang di Ibukota Jiayang. Apa kau sedang menuju Kekaisaran Chu seperti yang aku sarankan?”
“Aku sedang menuju Kekaisaran Jia.” Ling Zhen berniat melanjutkan perjalanannya setelah memberi minum pada perempuan itu.
“Aku pergi-”
“Tunggu, apakah kau mempunyai makanan? Berikan sedikit padaku.” Perempuan itu mengulurkan tangannya dan membuat Ling Zhen menggelengkan kepalanya pelan.
“Hari juga sudah mulai gelap, sebaiknya aku bermalam disini...” Ling Zhen bergumam pelan menatap matahari yang terbenam secara perlahan, “Ikuti aku.”
__ADS_1
Ling Zhen berjalan menuju sebuah bukit dipasang rumput, sementara perempuan bermata merah itu mengikutinya dari belakang.