Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 99 - Tangis Haru, Reuni Dan Perasaan.


__ADS_3

Saat Ibu Ling Zhen membuka matanya, orang pertama kali yang dilihat olehnya adalah perempuan berparas cantik yang menggunakan gaun merah dan terlihat begitu anggun.


Ibu Ling Zhen memegang kepalanya dan mengingat kejadian dimana seluruh Keluarga Ling dibantai. Seketika kepalanya terasa sangat sakit saat mengingat semua itu.


“Kau... Siapa?” Ibu Ling Zhen mencoba untuk duduk namun tubuhnya begitu lemah, dengan lembut Chu Xiulan membantunya dan tersenyum seramah mungkin.


“Salam hormat, Ibu Mertua, aku adalah Chu Xiulan, istri ketiga Zhen‘gege.” Suara yang sangat lembut dan manis itu membuat Ibu Ling terperanjat kaget saat mengetahui perempuan cantik ini adalah istri anaknya.


“Anakku Ling Zhen? Dimana dia? Apa dia baik-baik saja?” Ibu Ling Zhen memegang pundak Chu Xiulan dan menanyakan keadaan Ling Zhen.


Chu Xiulan menjawab, “Zhen‘gege baik-baik saja, Ibu Mertua. Dia telah tumbuh menjadi lelaki yang hebat.”


Ibu Ling Zhen memejamkan matanya dan menangis tanpa sadar. Air mata kebahagiaan saat mengetahui anak semata wayangnya telah tumbuh dewasa merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.


“Seharusnya aku sudah mati, kenapa aku masih hidup?” Ibu Ling Zhen meraba badannya dan penasaran dengan kondisi tubuhnya.


Chu Xiulan menjelaskan jika selama dua belas tahun terakhir, Ibu Ling Zhen tidur panjang karena pengaruh Tidur Abadi. Selama itu juga Ling Zhen sudah melewati kesulitan hidup sendirian untuk mencari penawar Tidur Abadi.


“Hingga akhirnya Zhen‘gege bertemu denganku.” Chu Xiulan menambahkan jika dirinya yang membangunkan Ibu Ling Zhen dari tidur panjangnya.


“Namamu Chu Xiulan bukan? Apa benar kamu adalah istri anakku?” Ibu Ling Zhen mengusap pipi Chu Xiulan dengan lembut.


Chu Xiulan mengangguk lirih, “Benar, Ibu Mertua. Aku adalah menantumu, izinkan aku berbakti padamu.”


Mata Ibu Ling Zhen berkaca-kaca melihat sosok menantu yang sangat baik hati ini. Kemudian dia memperhatikan dengan seksama wajah Chu Xiulan.


“Betapa beruntungnya anakku memiliki istri sepertimu.” Ibu Ling Zhen tersenyum lalu menatap kearah pintu, “Bisa panggilkan Zhen‘er, aku ingin melihatnya.”


“Tentu saja bisa, Ibu Mertua...” Chu Xiulan tersenyum lalu berkata dengan suara cukup keras namun terdengar lembut.


“Zhen‘gege, kalian semua, Ibu Mertua sudah bangun. Kalian semua bisa masuk ke kamar.” Setelah Chu Xiulan menyelesaikan perkataannya, pintu kamar terbuka dan disana terlihat Ling Zhen datang bersama lima perempuan yang segera menghampiri sosok wanita paruh baya.


“Bibi!” Ji Yanran menangis histeris dan langsung memeluk tubuh Ibu Ling Zhen.


“Kamu...” Ibu Ling Zhen terkejut melihat Ji Yanran datang bersama anaknya, “Ranran bukan? Kamu sudah tumbuh besar.”


Ling Zhen berdiri mematung melihat sosok Ibunya yang telah lama terbaring kini terbangun dan bisa berbicara.


Sambil memejamkan matanya, Ling Zhen menahan air matanya, ‘Syukurlah...’ Namun sekilas Ling Zhen melihat kedua bola mata Chu Xiulan yang nampak sendu.


“Zhen‘er, apa benar ini dirimu Nak? Kau sudah tumbuh besar.” Ibu Ling Zhen menatap Ling Zhen yang berdiri didekat ranjang.


Tak lama Ling Zhen duduk dan memeluk tubuh Ibunya, lalu menumpahkan semua perasaannya.

__ADS_1


“Ibu, kau tahu selama ini aku selalu berharap bisa melihatmu berjalan dan mendengarmu berbicara? Aku takut kehilanganmu, Bu. Aku takut sendirian.” Ling Zhen seperti anak kecil menangis sejadi-jadinya dipelukan Ibunya.


Semua perempuan yang melihat sisi cengeng Ling Zhen terdiam kecuali Ji Yanran yang ikut menangis. Untuk pertama kalinya mereka melihat pemuda yang selalu tersenyum dan terlihat baik-baik saja kini sangat terlihat rapuh.


“Zhen‘er, Ibu juga sangat merindukanmu Nak. Ibu takut kehilanganmu. Maafkan Ibu yang tidak bisa merawatmu...” Ibu Ling Zhen menangis dan memeluk tubuh Ling Zhen dengan erat, “Syukurlah kau sudah dewasa. Apa kau makan dengan baik selama ini? Ibu ingin melihatmu tumbuh, tetapi...”


Ling Zhen menyeka air matanya dan air mata Ibunya, “Ibu mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun merenggut kebahagiaanku, termasuk Ibu. Izinkan anakmu ini berbakti padamu.”


Ibu Ling Zhen mengelus kepala Ling Zhen dan tersenyum, “Kau sudah berjuang keras Nak selama ini, pasti sangat menyakitkan melalui semua itu. Ibu tidak bisa membayangkan anak Ibu yang cengeng sekarang telah tumbuh menjadi lelaki tampan.”


Ling Zhen tersenyum lalu tertawa kecil, “Ibu, aku ingin memberitahu Ibu jika sekarang anakmu ini telah memiliki istri yang baik. Aku ingin memperkenalkan mereka padamu, Bu.”


Raut wajah Ibu Ling Zhen seketika menjadi penasaran. Tatapannya tajam terarah pada Ling Zhen.


Pemuda itu memperkenalkan Ji Yanran, Yue Rou dan Chu Xiulan sebagai istrinya. Kemudian tak lupa dia juga memperkenalkan sosok Xue Lianhua dan Que Mi yang akan menjadi istrinya.


Terakhir Ling Zhen memperkenalkan Mizuhara kepada Ibunya. Wajah Ibunya terlihat syok mendengar kalimat perkataan anaknya. Dia tidak menyangka anak cengeng yang selalu takut kesendirian dan sering dijahili Ji Yanran ini telah tumbuh sebagai lelaki penakluk wanita.


“Zhen‘er, umurmu baru tujuh belas tahun tetapi sudah memiliki tiga istri. Ibu tidak tahu harus berkata apa...” Ibu Ling Zhen memegang kepalanya lalu tatapan matanya terarah pada Ji Yanran.


“Ranran, Bibi tidak menyangka kau akan menjadi menantu Bibi.” Ibu Ling Zhen menatap Ji Yanran yang tersipu malu.


“Ibu hanya bisa mengatakan ini padamu Nak. Tidak ada perempuan yang rela diduakan oleh lelakinya. Kau sudah dewasa dan kau seharusnya sadar. Tetapi jika mereka semua menerimamu dan mencintaimu dengan tulus, maka kau harus bisa membahagiakan mereka semua dan bersikap adil pada semuanya.” Ibu Ling Zhen berkata dengan suara yang begitu ramah.


“Ibu, aku berjanji akan membuat mereka semua bahagia. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi.” Ling Zhen larut dalam seluruh perasaannya, kedua tangannya mengepal tanpa sadar.


Enam perempuan yang melihat ini dibuat tersipu malu bahkan Mizuhara sekalipun. Saat ini Ling Zhen terlihat begitu gagah dengan tekad dan ucapannya.


“Zhen‘er, bisa kau ceritakan pada Ibu semua yang telah kamu lalui? Ibu ingin mendengarnya.” Ibu Ling Zhen tersenyum menatap anak semata wayangnya yang telah tumbuh dewasa.


Ling Zhen menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Ibunya, “Ini akan memakan waktu yang lama Bu.”


“Tidak apa, justru itu membuat Ibu semakin penasaran.” Ibu Ling Zhen membalas.


“Baiklah jika Ibu tidak keberatan.” Ling Zhen menarik nafas panjang sebelum memulai cerita dimana dirinya terjatuh ke dalam Lembah Dewa bersama Ibunya. Kejadian selanjutnya adalah sesuatu yang tidak terduga hingga pada akhirnya membuat Ling Zhen harus memendam sendirian semua kesedihannya.


Ling Zhen tidak menceritakan beberapa bagian penting yang membuat mentalnya goyah dan hancur. Dia tidak ingin membuat Ibu dan istrinya menjadi khawatir.


Selesai Ling Zhen menceritakan semuanya, Ibu Ling Zhen memejamkan matanya dan menenangkan dirinya. Wanita paruh baya itu menyadari kesulitan yang dihadapi anaknya, tetapi anaknya tidak berbohong saat mengatakan dirinya terkena kutukan. Dia sangat mengingat ekspresi jujur Ling Zhen.


Kemudian pandangan Ibu Ling Zhen terarah pada kedua calon istri anaknya yakni Xue Lianhua dan Que Mi.


“Kalian berdua yang selama ini merawatku?” Ibu Ling Zhen membuka kedua tangannya dan memberi tanda pada Xue Lianhua dan Que Mi untuk mendekat.

__ADS_1


Xue Lianhua dan Que Mi memeluk tubuh Ibu Ling Zhen secara bersamaan.


“Terimakasih. Ibu merestui hubungan kalian, tetapi apakah kalian berdua tidak keberatan dengan status anakku itu? Aku rasa kalian bisa menemukan yang lebih baik daripada dia.” Ibu Ling Zhen ingin memastikan perasaan Xue Lianhua dan Que Mi.


“Ibu...” Ling Zhen terkejut mendengar perkataan Ibunya.


Xue Lianhua menjawab dengan mantap, “Aku sudah berjanji dan memutuskannya. Setelah Ibu terbangun, kami akan melakukan pernikahan.”


Que Mi menundukkan kepalanya dan menyembunyikan pipinya yang merah merona.


“Zhen‘er, kau tahu apa yang harus dirimu lakukan bukan?” Ibu Ling Zhen menatap Ling Zhen yang terlihat dalam kondisi siap untuk menikahi Xue Lianhua dan Que Mi.


Kemudian pandangan Ling Zhen terarah pada tatapan mata Ibunya ke Mizuhara. Dia menyadari gadis yang sebaya dengannya itu memiliki perasaan khusus padanya, Ling Zhen mengajak Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara untuk pergi bersamanya membicarakan sesuatu.


“Kenapa aku ikut?” Mizuhara heran, tetapi gadis itu tidak menolak saat Ling Zhen menyuruhnya untuk mengikutinya.


“Saudari Xue, Saudari Que, kalian berdua tunggulah disini.” Ling Zhen membawa Mizuhara ke tempat yang sepi lalu menatap gadis itu penuh perasaan.


“Mizuhara ada yang ingin kubicarakan denganmu. Aku tidak memungkiri jika diriku ini memiliki perasaan khusus padamu, aku telah membicarakan ini dengan Hayabusa dan dia menyetujuinya. Aku berjanji akan membuatmu bahagia dan merebut tempat kelahiranmu.” Ling Zhen memegang kedua tangan Mizuhara erat.


“Mungkin kau tidak menyukai lelaki sepertiku, tetapi inilah aku, Mizuhara.” Ling Zhen menatap dalam kedua bola mata gadis itu.


Mizuhara memerah wajahnya dan memalingkan wajahnya, “Lagipula seleramu itu wanita yang sudah matang bukan? Dasar aneh.”


“Maksudmu?” Ling Zhen mengerutkan keningnya.


“Tidak ada, lupakan perkataanku barusan.” Mizuhara menarik kedua tangannya dan menambahkan, “Jujur aku memiliki perasaan padamu dan aku merasa begitu bahagia karena kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tetapi aku tidak lebih dari seorang budak yang dijajah, apa kau akan menerima kondisiku ini?”


Ling Zhen memeluk tubuh Mizuhara dan mengecup belakang rambut gadis itu, “Hayabusa tidak pernah memberitahu apa yang terjadi di Ezzo. Tetapi aku dan Hei Long telah menyelidikinya secara diam-diam. Untuk itu aku ingin berlatih selama dua tahun menempa kemampuanku. Aku berjanji akan mengembalikan kebebasanmu, Mizuhara.”


“Ling Zhen...” Mizuhara membalas pelukan Ling Zhen. Gadis itu tidak menyangka Ling Zhen akan bertindak sejauh ini mengingat pertemanan Hayabusa dengannya masih dibilang baru.


“Mereka semua yang ada di Pedang Raja adalah keluargaku dan aku tidak ingin melihat salah satu anggotaku berpura-pura tersenyum saat semuanya tersenyum.” Ling Zhen tersenyum tipis dan melepaskan pelukannya.


“Mizuhara, dengarkan dengan baik. Aku tidak akan mengulanginya.” Ling Zhen mendekatkan wajahnya ke telinga kiri Mizuhara lalu berbisik lirih, “Jadilah istriku.”


Wajah Mizuhara merah padam seketika, gadis itu menundukkan kepalanya lalu mengangguk lembut. Ling Zhen tersenyum melihatnya lalu menarik tangan Mizuhara lembut dan membawanya ke tempat dimana Xue Lianhua dan Que Mi menunggu.


___


Catatan Rafli Art


Besok malam crazy up karena sudah mencapai 100 chapter.

__ADS_1


__ADS_2