
Kabar sosok Ratu Chu yang menikah sampai ke Kekaisaran Qing. Perempuan dewasa berumur dua puluh sembilan tahun sedang mengidam makanan pedas.
Perempuan itu adalah Ji Yanran, biasanya dia menyukai cemilan dan makanan yang manis, tetapi setelah hamil satu bulan akhirnya Ji Yanran mulai menikmati makanan pedas.
Sambil mengelus perutnya, Ji Yanran memandang langit dan menanti kedatangan Ling Zhen. Seumur hidupnya dia tidak menyangka akan jatuh hati pada pemuda tampan yang dulunya dia anggap sebagai bocah yang selalu dijahilinya.
‘Adik Zhen...’ Ji Yanran memejamkan matanya dan menikmati udara sejuk.
Sementara itu didekat perbatasan Kekaisaran Qing dan Kekaisaran Chu terlihat Ling Zhen sedang memandang dua istri yang tertidur lemas. Belakangan hari ini keduanya lebih banyak tertidur.
Ling Zhen menyadari setelah menemani dirinya selama tujuh hari tujuh malam, tentu Chu Xiulan dan Yue Rou butuh waktu untuk memulihkan stamina tubuh mereka.
Walau kedua wanita itu merupakan seorang pendekar tetapi masalah ranjang adalah hal yang berbeda.
Ling Zhen menikmati perjalanan sambil melatih kemampuannya. Setelah mengetahui cara kerja Tubuh Dewi Perang dan Badan Perawan Suci, tentu Ling Zhen tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang sempat lumpuh akibat kelemahannya sendiri.
Belajar dari sebuah kesalahan, akhirnya Ling Zhen menyadari banyak sekali teknik dan jurus pertarungan dari ingatan Roh Dewa belum sempurna dia kuasai.
Hingga tak terasa beberapa hari telah berlalu dan akhirnya Ling Zhen kembali ke Kota Jihao membawa dua istri barunya.
Ji Yanran menyambut kedatangan Ling Zhen bersama Mizuhara. Perhatian Ling Zhen tertuju kepada Ji Yanran yang terlihat sedikit gemuk bagian perutnya.
“Selamat datang, Zhen‘gege...” Ji Yanran tersenyum manis menyambut kedatangan Ling Zhen.
“Aku kembali, Ran‘er...” Ling Zhen memberikan kecupan hangat dikening Ji Yanran.
Kemudian mereka masuk ke Paviliun Bulan Biru. Ling Zhen menikmati suasana barunya dimana dirinya sekarang telah resmi memiliki tiga istri.
Didalam ruangan milik Ji Yanran terlihat Ling Zhen sedang duduk memperhatikan Ji Yanran, Yue Rou dan Chu Xiulan yang sedang mengobrol.
__ADS_1
Mereka bertiga tertawa saat mengetahui bagaimana Ling Zhen melakukan malam pertama dengan masing-masing. Tak lama Ji Yanran dan Chu Xiulan mengeledek Yue Rou yang tidak hamil dan dibohongi Chu Xiulan.
Dan Chu Xiulan meminta maaf kepada Yue Rou sekaligus Ji Yanran karena telah merebut ciuman pertama Ling Zhen.
Saat Ji Yanran menyinggung tentang selir, Ling Zhen mengatakan jika dirinya tidak akan membeda-bedakan diantara ketiga wanitanya baik itu Ji Yanran, Yue Rou ataupun Chu Xiulan.
“Jadi aku adalah istri pertama, Rourou istri kedua dan Lanlan istri ketiga. Bukankah kau cukup rakus, Zhen‘gege?” Ji Yanran sengaja ingin memarahi Ling Zhen, tetapi pemuda itu justru duduk diantara mereka bertiga dan memeluk semuanya.
“Jika aku menambah empat belas lagi apa kalian tidak keberatan?” Ling Zhen lebih muda dari ketiga istrinya, sifatnya sebenarnya kekanak-kanakan namun pemuda ini dipaksa tumbuh dewasa karena keadaan.
Reaksi ketiganya sama-sama terkejut, namun jawaban mereka berbeda-beda menanggapi keinginan gila Ling Zhen.
Pertama Ji Yanran, dia mencubit pipi Ling Zhen dengan gemas, “Saat aku hamil, kau justru mempunyai dua istri. Dan saat aku melahirkan, jangan katakan kau akan menambah lagi. Mengatakan dengan santainya ingin menikah lagi? Tidak semudah itu suamiku!”
Ling Zhen tertawa kecil mengetahui Ji Yanran telah mengandung anaknya. Tentu saja dia bahagia, tetapi sejak kecil dirinya tidak pernah membantah perempuan dewasa yang dahulu dia anggap sebagai kakak.
Kedua, Yue Rou yang terlihat biasa saja dengan keinginan gila Ling Zhen. Bahkan dengan santainya dia menanggapi, “Aku tidak masalah, tetapi apakah ada perempuan yang menyukaimu selain kami bertiga?”
Ketiga, Chu Xiulan yang terlihat tidak keberatan, “Jika kau menambah seratus istri sekalipun, aku tidak keberatan. Selama kau dapat berbuat adil kesemuanya, bagiku sudah cukup.”
Ji Yanran berdiri dan melepaskan pelukan Ling Zhen, “Kalian berdua ikut aku!” Dengan ekspresi marah, Ji Yanran berjalan menuju kamarnya diikuti Chu Xiulan dan Yue Rou yang ketakutan.
Ling Zhen sendiri terkejut walau Chu Xiulan dan Yue Rou seorang pendekar dengan nama besar, namun dihadapan istri pertamanya mereka berdua seperti perempuan biasa dan bukan siapa-siapa.
Ling Zhen keluar ruangan dan berjalan menuju luar kediaman Paviliun Bulan Biru. Dia melihat jika Paviliun Bulan Biru telah berkembang pesat, tetapi ada sesuatu yang kurang karena terlihat banyak pendekar yang berkemampuan rendah bekerja sebagai penjaga dan pengawal.
Melihat itu, Ling Zhen ingin membantu Ji Yanran mengembangkan Paviliun Bulan Biru. Bagaimanapun ini termasuk untuk masa depannya dan keluarganya.
Ling Zhen mengelilingi Kota Jihao dan mengingat sosok Rubah Putih. Dalam hidupnya dia tumbuh tanpa kasih sayang orang tua dan selalu menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya dia menyadari jika dirinya membutuhkan sebuah perhatian dan kasih sayang. Dia ingin membentuk keluarganya sendiri dan melindungi mereka.
“Sungguh keinginan yang bodoh. Untuk menjadi kuat, aku harus menghancurkan bagian diriku yang lemah...” Ling Zhen menggumam pelan memperhatikan beberapa keluarga lengkap yang tertawa bahagia.
Pandangan matanya tertuju pada seorang anak yang menangis meminta sebuah pedang kayu pada orang tuanya.
Melihat itu, dalam sekejap saja dadanya terasa sesak. Ling Zhen larut dalam lamunannya hingga tak sadar ada seorang gadis yang sebaya dengannya membawa sejumlah sayuran berdiri disampingnya.
“Kau akan menjadi Ayah dari anakmu. Kakak Ji hamil dan kau harus perhatian padanya, tuan muda mesum.” Mizuhara mengembungkan pipinya dan menatap kesal Ling Zhen.
Ling Zhen mengangkat alisnya, “Mizuhara, apa maksudmu?”
“Kau memang mesum bukan? Telah melihat tubuhku bahkan menikah lagi setelah memiliki Kakak Ji!” Mizuhara menatap kesal Ling Zhen sebelum kembali ke kediaman Paviliun Bulan Biru.
Ling Zhen sendiri tertarik dengan sosok Mizuhara. Melihat gadis itu akrab dengan Ji Yanran, tentu membuat Ling Zhen ingin menjadikan Mizuhara sebagai salah satu istrinya, dia tidak memungkiri itu.
“Aku tidak melihatnya, bukankah kau yang sembarangan masuk kedalam ruang pribadiku? Kolam air panas disana adalah tempatku menenangkan diri.” Ling Zhen mengejar Mizuhara.
Wajah Mizuhara memerah, dia mengakui itu kesalahannya. Tetapi dia tidak akan mengatakannya. Mungkin karena Ling Zhen dan Mizuhara seumuran, keduanya menjadi berdebat layaknya anak kecil.
“Pokoknya itu kesalahanmu!” Mizuhara mengakhiri perdebatan dalam sekejap, sedangkan mulut Ling Zhen terbuka tanpa sepatah kata.
Sesampainya di kediaman Paviliun Bulan Biru, Ling Zhen mandi didalam kolam air panas sambil membersihkan punggung Ji Yanran.
“Adik Zhen, malam ini aku ingin.” Ji Yanran dengan ekspresi menggoda menatap manja Ling Zhen.
Suara ludah terdengar, Ling Zhen memeluk tubuh Ji Yanran dari belakang dan mengelus penuh kasih sayang perut perempuan dewasa yang tengah mengandung anaknya.
“Kakak Ji...” Ling Zhen membisikkan sesuatu ditelinga Ji Yanran membuat wajah perempuan itu semakin merah padam.
__ADS_1
“Diam...” Ling Zhen berbisik mesra ditelinga Ji Yanran sebelum mengangkat dagu Ji Yanran dan memandang wajah istrinya itu.
Keduanya saling memandang sebelum mengangguk lembut dan menyatukan bibir mereka.