
Sesudah pergi meninggalkan penginapan, menjelang pagi Jia Ruan memilih untuk mendatangi kediaman Keluarga Li dan meminta Li Jingshan agar memberinya seorang pengawal untuk mengawalnya kembali ke Ibukota Jiayang.
Li Jingshan sendiri tidak menolak permintaan Jia Ruan, tetapi dia keheranan dan terkejut karena mengetahui Jia Ruan masih hidup bahkan berada di Kota Limeng.
Menurut Li Jingshan ini akan menjadi masalah besar jika banyak pihak yang mengetahui Jia Ruan dilindungi Keluarga Li. Tetapi mengingat ada sosok Ling Zhen dibelakangnya, Li Jingshan akhirnya menerima permintaan Jia Ruan.
Selain itu satu minggu dari sekarang akan diadakan pernikahan Jia Ruan dan Zhong Feng di Ibukota Jiayang. Dan hari pernikahan Jia Ruan bertepatan dengan berkumpulnya tiga keluarga bangsawan Kekaisaran Jia.
‘Apa aku harus memberitahu hal ini pada Pendekar Ling. Bukankah dia seharusnya datang kesini?’ Li Jingshan bertanya-tanya karena Ling Zhen belum menunjukkan batang hidungnya setelah kemarin mengatakan akan kembali datang ke kediamannya.
Setelah mempersiapkan kereta kuda dan persediaan makanan, Li Jingshan menyuruh sang kusir kuda memanggil Li Hua untuk menemani Jia Ruan berbincang.
Menjelang sore, barulah Ling Zhen muncul dikediaman Keluarga Li. Saat mendengar cerita Li Jingshan, tentu saja Ling Zhen terkejut karena Jia Ruan akan meminta bantuan Li Jingshan.
“Dasar tuan putri bodoh.” Ling Zhen mendecakkan lidahnya dan merasa tidak percaya karena bagaimanapun dirinya mencari keberadaan Jia Ruan seharian, namun gadis itu justru menginap di kediaman Keluarga Li.
“Jadi bagaimana Pendekar Ling? Kau akan bekerja sebagai pengawalku, sehingga kau dapat ikut serta dalam pernikahan Tuan Putri dan berkumpulnya tiga keluarga bangsawan?” Li Jingshan sendiri tidak mengetahui jika Ling Zhen dan Jia Ruan telah saling mengenal.
“Ya.” Ling Zhen menjawab secara singkat, namun entah mengapa firasatnya tidak enak. Perasaan gelisah dan kesal menumpuk jadi satu karena pertemuannya dengan Jia Ruan dan Li Hua.
___
Jarak antara Kota Limeng dan Ibukota Jiayang memakan waktu kurang lebih selama tiga hari. Selama perjalanan itu, Ling Zhen sama sekali tidak berbicara selain pada Li Jingshan.
Ling Zhen menggunakan topeng tengkorak berwarna hitam, dan menyembunyikan identitasnya dari Jia Ruan.
__ADS_1
Dalam perjalanan Ling Zhen menyadari sesuatu jika Jia Ruan sama sekali tidak mengenalnya. Setelah melakukan perjalanan bersama, seharusnya gadis itu bisa mengenal suaranya dengan baik tetapi Jia Ruan berbeda, dia terlihat tidak peduli bahkan menganggap Ling Zhen sebagai orang asing.
Malam hari pertama, Ling Zhen memilih untuk bermalam sendirian ditepi sungai. Sementara itu dia meninggalkan Rubah Putih disekitar Li Jingshan, Li Rong, Li Hua dan Jia Ruan yang sedang makan malam bersama.
Beberapa jam setelah Li Jingshan, Li Rong dan Jia Ruan tertidur, Li Hua mendatangi tempat Ling Zhen bermeditasi.
Gadis berumur dua puluh tahun itu menatap topeng tengkorak hitam yang terlepas dan memperlihatkan wajah pemuda yang menyelamatkannya.
“Nona Muda Li, mengintip itu tidak baik.” Li Hua tersentak kaget saat melihat Ling Zhen sudah berada dibelakangnya.
Belum sempat Li Hua menyadarinya, tubuh Ling Zhen yang tengah bermeditasi menjadi kobaran api yang perlahan menghilang.
“Maafkan aku, Tuan Ling. Aku tidak bermaksud...” Li Hua terlihat merasa bersalah. Ling Zhen merasa canggung dan menjauh dari Li Hua.
“Aku ingin melihatmu, karena aku belum sempat mengucapkan terimakasih padamu. Kau telah menyelamatkanku, tetapi aku mengatakan hal yang kejam padamu.” Li Hua akhirnya memberanikan diri untuk mengucapkan terimakasih secara langsung pada Ling Zhen setelah mendengar pembicaraan Ling Zhen dan Li Jingshan.
“Lalu?” Ling Zhen mengangkat alisnya, dia mengerti Li Hua ingin mengucapkan terimakasih tetapi gadis itu juga terlihat ingin menyampaikan sesuatu yang lain padanya.
“Lalu?” Li Hua memiringkan kepalanya, dia tidak percaya reaksi Ling Zhen akan seperti ini seolah-olah tidak peduli dengannya.
“Aku hanya berharap kau tidak seperti lelaki yang lain. Jadi aku ingin berbicara denganmu.” Li Hua tersenyum manis dan membuat Ling Zhen salah tingkah.
“Ah, maksud Nona Muda Li?” Ling Zhen mengingat jika Li Hua menguping pembicaraannya dengan Li Jingshan.
“Kau tahu, Tuan Ling. Aku takut dengan lelaki lain selain ayahku. Tetapi setelah berbicara denganmu dan berduaan seperti sekarang ini. Aku merasa kamu berbeda dengan laki-laki yang lain. Dan aku sangat bersyukur...” Ucapan Li Hua semakin membuat Ling Zhen salah tingkah.
__ADS_1
“Nona Muda Li, aku tidak mengerti...” Ling Zhen pura-pura tidak mengetahui. Li Hua kebingungan mendengarnya.
“Bukankah kita terikat akan perjodohan? Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, Tuan Ling. Apa aku mengganggumu?” Tatapan Li Hua membuat Ling Zhen merasa bersalah.
Ling Zhen menghela napas panjang dan menjelaskan kepada Li Hua jika dirinya memiliki dua calon istri, dia merasa tidak pantas jika harus kembali terikat perjodohan dengan Li Hua.
Li Hua justru menggelengkan kepalanya, “Aku tidak merasa keberatan.” Senyuman manis Li Hua membuat Ling Zhen salah tingkah untuk ketiga kalinya.
Ling Zhen hanya menatap Li Hua yang berjalan menjauh darinya.
Saat malam perlahan menghilang dan pagi kembali bersinar, Ling Zhen dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanan Ling Zhen merasa semakin dekat dengan Li Hua. Bahkan Li Hua yang tersenyum cerah saat bersama Ling Zhen membuat Li Jingshan dan Li Rong bahagia.
Tak terasa tiga hari telah berlalu, sekarang Ling Zhen telah sampai di Ibukota Jiayang.
Tidak ada hambatan yang berarti dalam perjalanan. Walau ada pembunuh dari Rumah Gaya Bulan, Ling Zhen dapat mengatasinya tanpa masalah.
“Rubah Putih, aku minta tolong padamu...” Ling Zhen berkata pelan.
‘Apa? Aku sedang menikmati waktu tidurku, cepat katakan?’ Rubah Putih menguap dan turun dari bahu Ling Zhen.
Ling Zhen tersenyum tipis dari balik topeng tengkorak yang dia kenakan.
“Temukan markas Rumah Gaya Bulan dan sekte aliran hitam yang ada Ibukota Jiayang.”
__ADS_1