Itu Kamu

Itu Kamu
RASA SUSU COKLAT


__ADS_3

Ku tatap rupaku dibalik cermin , memperhatikan dengan detail penampilanku berusaha tampil sebaik mungkin.


Perihal Bram dan Irina mungkin saat ini akan ku kesampingkan sejenak.


"Mau kemana kamu nak, makan malam sebentar lagi loh, mbok yo pergine sehabis makan loh. " ujar Bunda ku


"Nanti makan diluar Bun" jawabku seraya mencium tangan bunda kemudian kedua pipinya .


"Yaudah, hati-hati. " balas bunda dengan mengelus lembut rambutku.


Setibanya tanpa basa basi Ria mempersilahkan aku masuk kedalam.


Seperti biasa dia menyajikan lemon tea hangat dan setoples cookies.


Ria duduk tepat disampingku, menghisap rokoknya sambil menatap langit-langit.


Sorot matanya seperti menanggung beban, tapi aku tak berani untuk menanyakannya, aku takut bila aku terlalu memasuki privacy nya dia akan menganggapku menggangu.


Maka ku putuskan berpura-pura tak menyadari tatapan kosong itu.


Kebisuan menyelimuti kami beberapa saat, sampai rokok Ria tiba pada hisapan terakhirnya.


"Vi makan keluar yok? " ajaknya tiba-tiba


"Mau makan apa tuan putri? " godaku yang secara berhasil membuat sudut bibir Ria terangkat.


" Aku mau makan Lamongan, jendral" balasnya


Akhirnua Ria memboncengku lagi, tapi kali ini berbeda karna Ria tanpa sungkan melingkarkan tangannya pada pinggangku dan menyandarkan dagunya di bahuku.


Mungkin bila aku tidak sedang menyetir, aku sudah membalikkan badanku lalu merengkuhnya dalam dekapanku, membiarkan ia mendengar debaran jantungku.


Menikmati romansa berpelukan kami.


Terdengar Ria bersenandung kecil disepanjang perjalanan, membuatku ikut menyanyi ketika Ria melantunkan lagu yang tak asing di telingaku.


Karna terlalu asik , tanpa sadar nyanyian kami semakin keras hingga membuat pengemudi lain menoleh kearah kami .


Tetapi hal itu justru membuat tawa Ria pecah dan semakin mengeraskan nyanyiannya.


Keisengannya menarikku semakin terbawa arus dengannya.


Mungkin saat ini kami hanya melakukan hal konyol berdua bersama, tapi kuharap kelak kami berdua akan merasakan semua momen bahagia, sedih, bahkan marah sekalipun bersama.


Sangat suka tertawa dan dia humoris.


Tak seperti gadis lain, Ria cenderung blak-blakan menunjukan dirinya pada siapapun, sederhana dan menyenangkan.

__ADS_1


Tidak menekankan dirinya harus selalu tampil sempurna, tanpa riasan yang berlebihan atau segala hal ribet yang dilakukan para gadis seumurannya.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


"Sambelnya mantap banget, rekomendasi yang bagus. " katanya


"Iya makanya disini laris , ini sebenernya langganan ortu aku dari jaman pacaran Ri"


" Jadi ini Lamongan turun temurun, Lamongan warisan dong hahaha"


"Bagus tuh kata-katanya Lamongan warisan, semoga kita kaya ortu aku ya Ri, jadi pelanggan tetap disini sampai nikah "


tapi gombalanku itu hanya dibalas dengan tawa terbahak-bahaknya.


Lalu terdiam, rasanya awkward banget.


Membuat kepercayaan diriku sedikit menciut, mempertanyakan sendiri adakah celahku masuk dalam hatinya.


" Mau lihat Bintang? " ajakku untuk menghilangkan kecanggungan diantara kami.


"Dimana? Baturaden?" tanyanya


"Tranggul Asih , udah pernah kesana ?"


Ria menggeleng, tapi matanya berbinar-binar menandakan Ria sangat tertarik akan ajakanku.


Saat tiba hanya beberapa kendaraan yang ada, sepi.


Tapi untungnya itu tak mambuat Ria berubah pikiran. Rasa penasaran akan pemandangan malam kota membakar semangatnya.


" Jalan dikit keatas ya, mau kan jalan naik bukit? " tanyaku


"Mau banget lah, kan meski jalan tapi sampai diatas bisa liat Bintang sama lampu dikota.


Dari sini aja keliatan dikit apalagi di atas pasti bagus banget pemandangannya . Jadinya kan puas, susah dulu tapi hasilnya dapet sesuatu yang bikin happy" jawabnya.


Dia membiarkanku menuntunnya menyusuri jalan setapak yang gelap. Kuarahkan lampu flash di hapeku ke arah kaki Ria menapak, berusaha menjaga nya tetap aman saat berjalan.


Sampai diatas, aku mencari tempat nyaman untuk kami menikmati pemandangan kota Purwokerto dan Bintang.


Sambil mencari tempat ,aku juga mencari warung kecil yang buka, di atas bukit ini banyak warung yg menjual kopi bahkan gorengan, karna tempat ini sering digunakan untuk camping jadi beberapa warga sekitar mencari penghasilan membuka warkop di sini.


" Susu coklat hangat mau? " tanyaku


Ria mengganguk.


"Bu, susu coklat anget satu. kopi susu satu ya. "

__ADS_1


pesanku.


"Itu gelasnya dibawa aja mas, di samping warung kan ada tempat dudukan mas, duduk disana aja ngga papa, pemandangannya juga keliatan kok. " kata ibu pemilik warung, ditunjuknya gazebo kecil yang tak jauh dari warungnya.


"Oh iya bu, makasih ya bu"sautku


Ria tampak takjub memandang indahnya kota Purwokerto saat malam , ribuan Bintang di atas kami. dan bulan sabit yang membuat langit semakin Indah.


"Indahnya.... " serunya


Ria tetap berdiri dan melihat sekelililing, aku hanya menatapnya dari bangku, puas rasanya melihat Ria senang berada disini.


Namun tiba-tiba Ria menggingil , dengan sigap kulepas jaketku dan memakaikan padanya.


Lalu memberanikan diri memeluknya dari belakang, berharap suhu tubuhku bisa membantu semakin menghangatkannya.


Ria mulanya tampak kaget, tapi rasa dingin membuatnya semakin masuk ke pelukanku.


Tubuh Ria mungil, sangat pas dalam pelukanku.


Membuatku ingin melindunginya.


Kami sama-sama terlarut dalam pemandangan kota, hanya diam dan menikmati tiap detik momennya.


"Diminum dulu susunya, ntar keburu dingin. Siapa tau bisa bikin kamu makin anget. "


Ria menurut dan menuju bangku, lalu duduk dengan rapi dan meminum susunya,Ria memegang gelas dengan kedua tangganya, setiap kali dia meneguk susunya Ria meniupnya terlebih dulu. Aku tersenyum melihat Ria bisa bertingkah semanis itu.


Ria sadar akan tatapanku, dan tersenyum. Menepuk bangku disampingnya, mengisyaratkan aku untuk duduk disampingnya.


Kunyalakan rokok, dan meminum kopiku.


Saat aku mulai menikmati nikotin , saat itu pula Ria bersandar pada bahuku.


Dia meletakkan gelas kemudian tanganya berpindah memelukku . Ku matikan rokokku, lalu balas memeluknya.


"Masih dingin? " tanyaku


Ria menggeleng lalu menatapku dalam, tak ada kata yang terucap , dan secara perlahan bibir kami menyatu, bibir dingin rasa susu coklat itu membuat aku terlena.


Semakin kutarik Ria masuk dalam pelukanku, semakin erat pula pelukannya.


\#BERSAMBUNG\#


nb:


Baturaden \= nama daerah di Banyumas dan tempat lokawisata Baturaden

__ADS_1


Tranggul asih \= nama salah satu bukit


__ADS_2