
Mereka pun sudah sampai di parkiran apartemen, berjalan bersama menuju apartemen yang terletak di lantai yang sama. Saat mereka sedang berjalan Farel sama sekali tidak melepaskan gandengan nya dari tangan Ranty hingga sampai di depan apartemen milik Ranty.
"Aku pulang dulu ya." Ucap Ranty berpamitan.
"Iya." Ucap Farel tak henti - hentinya menatap Ranty tanpa melepaskan gandengan nya.
"Gimana aku mau pulang dan membuka pintunya mas? kalau dari tadi tangan ku mas gandeng terus." Ucap Ranty.
"Oh iya ya, Maaf lupa gak sadar aku." Ucap Farel sambil tersenyum lebar.
Setelah melepaskan gandengan nya. Ranty pun langsung membuka pintu apartemennya, setelah sama-sama berpamitan Ranty pun masuk sedangkan Farel berjalan menuju apartemen nya yang berada di sebelah apartemen Ranty.
********
Di rumah Billy
"Orang tua Ranty meminta acaranya di adakan bulan depan mas." Ucap Farel.
"Kenapa mendadak sekali mas acaranya?." Tanya Ayana yang baru saja dari dapur dan membawakan dua gelas teh hangat.
"Iya kenapa mendadak? kamu atau orang tua Ranty yang meminta?." Tanya Billy heran.
"Sebenarnya sih aku yang meminta untuk melamar Ranty secara resminya di percepatan. Kerena aku ingin segera menghalalkan dia menjadi istri ku. Aku baru tahu kalau Ranty banyak yang suka, seenggaknya sesuatu hal yang baik kan harus di percepatan, Ibu dan ayah Ranty juga gak mempermasalahkan itu." Jawab Farel.
"Tapi semua butuh persiapan Rel, masa' kamu gak ingat acara lamaran mu dengan Nata dulu." Ucap Billy.
"Ranty tipe orang yang gak mau ribet, kemarin keluarga Ranty bilang akan meminta Lesti untuk menangani semuanya dari gedung dan makanannya saat acara lamaran di adakan di Surabaya itu pun hanya keluarga inti saja yang ikut. Nanti akan beda lagi kalau acara pernikahan ibu Dewi yang akan mengurusnya dan acaranya yang akan di laksanakan di Semarang." Ucap Farel.
"Ya sudah kalau itu keinginan kalian seperti itu, nanti mas akan menghubungi dan memberitahukan kepada Papa dan mama." Ucap Billy.
"Untuk hal - hal yang lain seperti seserahan gimana?." Tanya Ayana.
"Waduh? Coba nanti aku tanyakan Ranty dulu aku juga kurang faham, kalau memang menggunakan seperti itu tolong bantu aku untuk mengurusi ya Aya." Ucap Farel.
"Siap deh mas." Jawab Ayana.
**********
__ADS_1
Seminggu lagi sebelum acara lamaran akan dilaksanakan persiapan pun sudah hampir selesai, siang itu Ranty dan Farel sedang berjalan ke sebuah butik milik bu Cici ibu dari almarhum istri Farel Nata untuk mengambil pakaian yang akan mereka pakai saat acara lamaran.
"Gimana untuk persiapannya?." Tanya ibu Cici.
"Alhamdulillah, bu sudah hampir selesai, Ibu dan ayah besok juga datangkan?." Tanya Ranty.
"Insyaallah ayah dan ibu akan datang." Ucap Ibu Cici.
Sejak Farel memberitahukan keinginannya untuk melamar Ranty, orang tua Nata pun sangat mendukung keinginan menantunya itu, orang tua Nata pun sekarang sangat akrab dengan calon Farel dan ibu Cici juga sudah menganggap Ranty seperti anaknya sendiri.
"Ini baju untuk keluarga, sudah ibu siapa sesuai dengan keinginan mu Rel." Ucap Ibu Cici.
"Makasih bu." Ucap Farel.
"Habis gini kalian kemana?." Tanya ibu Cici.
"Kami akan menjemput Rafi dan Yoga sekolah, setelah itu ke mall bu, ada yang ingin dibeli oleh Ranty di sana sekali makan siang." Ucap Farel.
Bu Cici melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang. "Bukannya ibu mau mengusir kalian, sebaiknya kalian buruan berangkat takutnya macet karena sudah jam dua belas siang, kalau kalian mau sholat dulu buruan kasihan anak - anak akan menunggu kalian." Ucap Ibu Cici.
"Iya bu." Jawab Farel.
"Pa aku mau pipis." Ucap Rafi.
"Mas antar saja Rafi ke toilet dulu, biar aku menunggu di sana." Ucap Ranty sambil menunjuk salah satu restoran yang ada di mall itu.
"Ya sudah aku antar mereka ke toilet dulu ya, Yoga mau ke toilet juga gak?." Tanya Farel.
"Iya om." Jawab Yoga.
Mereka pun berpisah sementara, Farel, Rafi dan Yoga ke toilet, sedangkan Ranty menuju restoran. Saat masuk kedalam restoran Ranty langsung menuju meja yang terletak di paling pojok agar terlihat santai saat mereka makan. Tak lama Ranty duduk ada seorang pelayan membawa buku menu dan menanyakan ingin memesan apa. Ranty langsung memesan beberapa makanan yang disukai Rafi, Yoga dan Farel.
Saat pesanan meraka datang tiba-tiba Rasid datang menghampiri Ranty yang sedang membantu pelayanan menaruh beberapa makanan di atas meja. Ranty yang melihat Rasid pun terkejut.
"Kenapa kamu kemari?." Tanya Ranty.
"Ini tempat umum jadi aku bebas untuk ke sana ke sini." Jawab Rasid lalu duduk di depan Ranty.
__ADS_1
"Betul ini tempat umum tapi meja ini sudah saya yang pesan, jadi bapak bisa mencari meja lain untuk bapak tempati." Ucap Ranty menahan kesal.
"Hanya sebentar aku mau berbicara dengan mu." Ucap Rasid pelan.
"Gak ada yang perlu dibicarakan dan dibahas lagi hubungan kita sudah selesai." Ucap menaikkan suaranya.
Saat Ranty dan Rasid sedang beradu omongan Farel dan anak-anak pun datang, tetapi mereka lebih memilih menunggu. Farel melihat dan mendengar pembicara mereka dari balik tembok yang menghalangi, dia pun meminta anak - anak untuk diam.
Ranty melipat tangannya kedepan dadanya lalu menghembuskan nafasnya dan kasar karena merasa kesal. "Memang apa yang mau kamu bicarakan dengan ku lagi." Ucap Ranty.
"Aku mau minta maaf, aku juga tahu kalau kamu dengan orang yang bernama Farel itu belum menikah. Ran apakah kita bisa memulai lagi dari awal, aku benar-benar menyesal." Ucap Rasid.
"Apa? Apa aku gak salah denger? kembali? Memang benar aku dan mas Farel belum menikah tetapi kami akan segera melangsungkan pernikahan. Memulai dari awal, menyesal?. Pak Rasid aku bukan sebuah mainan yang biasa kamu mainkan setelah bosan kamu taruh saat kamu ingin main kamu mainkan lagi." Ucap Ranty.
"Apa kamu gak mencintai ku lagi, kita sudah lama menjalin hubungan. Apa perasaan mu sudah tidak ada buat diriku walau cuma sedikit?." Tanya Rasid.
"Aku sudah tidak ada perasaan apapun terhadap mu, semenjak kamu memutuskan untuk memilih pergi dan menikah dengan wanita lain saat kita akan melangsungkan lamaran, sejak saat itu aku sudah gak ada perasaan lagi terhadap mu. Sudah cukup jangan ganggu aku lagi, aku sudah bahagia dengan kehidupan ku saat ini." Jawab Ranty sambil memalingkan wajahnya.
"Kita bisa mencoba lagi Ran, aku sudah tidak bersama Sarah lagi Ran." Ucap Rasid sambil memegang tangan Ranty.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan tangan ku." Ucap Ranty kesar yang membuat beberapa orang yang berada di tempat makan itu melihat kearah mereka.
Farel yang berada di balik tembok mulai kesal, dia berusaha sabar tetapi kesabarannya sudah habis, Farel langsung berjalan menghampiri mereka yang diikuti Rafi dan Yoga.
Dengan cepat Farel langsung memegang tangan Ranty dan melepaskan tangan Rasid dari tangan Ranty.
"Maaf pak, setidaknya Ranty sudah menjelaskan semua kepada pak Rasid tetang hubungan anda dengan Ranty sudah berakhir, saya minta bapak sopan terhadap calon istri saya. Jadi tolong lepaskan tangan bapak." Ucap Farel sopan.
"Ini gak ada hubungannya dengan mu." Ucap Rasid kepada Farel.
"Jelas ada Pak, karena ini menyangkut calon istri saya jadi pasti ada hubungannya dengan saya." Ucap Farel.
"Kamu....." Ucap Rasid sambil menahan amarah nya.
"Dari pada bapak mengganggu calon istri orang, sebaiknya bapak perbaiki hubungan bapak dengan istri bapak, saya tahu bapak masih dalam proses cerai kenapa tidak mencoba memperbaiki nya." Ucap Farel.
Rasid hanya diam dan langsung berjalan meninggalkan mereka tanpa berkata sepatah kata pun kepada mereka. Ranty dan Farel melihat Rasid pergi heran tetapi mereka tidak menghiraukan nya.
__ADS_1
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA