
Di dalam kamar mandi Ranty hanya bisa diam sambil menggenggam tiga buah tes pack yang belum dia gunakan, perasaannya tidak menentu antara senang bila benar dugaan Ayana yang mengatakan dia hamil dan takut bila dugaan itu salah. Dia takut membuat orang yang memiliki dugaan bahwa dirinya hamil akan kecewa, walau mereka tidak menuntut Ranty harus segera hamil.
"Ya Alloh aku harus gimana? aku benar-benar tidak mau mengecewakan mereka." Batin Ranty.
Setelah terdiam dan berfikir beberapa menit Ranty pun langsung melakukan tes kehamilan tersebut tanpa memikirkan lagi dari hasil yang akan dia lihat.
"Bismillah. Aku pasrah kepada mu ya Alloh." Ucap Ranty.
**********
Di dalam kamar Farel yang mulai sadar perlahan membuka matanya, orang yang pertama kali dia lihat adalah anak dan keponakannya yang berada di sebelahnya. Rafi dan Yoga yang melihat Farel mulai tersadar langsung memanggil orang yang berada di luar kamar untuk melihat keadaan Farel saat ini. Billy, pak Herman dan beberapa orang lainnya pun langsung masuk kedalam untuk melihat keadaan Farel. Billy mendekat dan duduk di sebelah Farel yang sedang berbaring, memegang kening adiknya dan menatap wajahnya.
"Gimana keadaan mu?." Tanya Billy.
"Baik." Jawab Farel singkat.
"Di mana Ranty mas?." Tanya Farel resah yang tidak melihat keberadaan Ranty.
"Ranty ada di...." Jawab Billy yang belum sempat di teruskan nya karena terpotong oleh pertanyaan Farel.
"Ranty kemana mas? apa dia juga sakit kerena kebanyakan makan pedas dan apa sekarang dia juga pingsan?." Ucap Farel yang khawatir membuatnya segera bangun dari tempat tidur untuk mencari keberadaan Ranty.
Billy pun langsung mencegahnya dan menatap dengan perasaan kesal terhadap adiknya itu. Farel yang melihat tatapan Billy seperti itu langsung mengurungkan niatnya lalu kembali duduk. Pak Hermawan pun ikut menasehati Farel dan meminta beberapa orang yang berada di dalam kamar untuk keluar.
__ADS_1
"Ranty ada di kamar Billy bersama mama mu dan Ayana." Jawab pak Hermawan.
"Ranty gak kenapa-napa kan pa?." Tanya Farel khawatir.
"Dia baik-baik saja, yang gak baik-baik saja itu kamu yang tiba-tiba pingsan dan membuat semua orang khawatir." Ucap Billy kesal.
"Maaf, tadi aku mimpi dan di
dalam mimpiku Ranty pergi meninggalkan ku dan Rafi." Ucap Farel.
Billy menghembuskan nafasnya lalu duduk di sebelah Farel untuk menenangkannya.
"Ranty gak apa-apa cuma dia diminta oleh Ayana...." Ucap Billy terhenti karena tepukan pak Hermawan di bahunya.
"Intinya Ranty baik-baik saja dan sekarang dia di kamar Billy, kamu gak usah khawatir istirahat saja dulu dan kamu Billy temani adik mu dan jangan banyak bicara sebelum istri mu mengabari." Ucap pak Hermawan.
Billy dan Farel yang mendengar hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari pak Hermawan.
Pak Hermawan pun keluar meninggalkan mereka berdua. Farel yang berada di dalam kamar hanya bisa menunggu karena perutnya masih terasa sakit dan di tangannya terpasang infus akhirnya dia memilih membaringkan tubuhnya lagi di tempat tidur. Sedangkan Billy yang menunggu adiknya mulai mengambil hp yang berada di dalam kantong celana dan mengirim pesan kepada Ayana untuk menanyakan kabarnya dan juga Ranty.
Farel yang tidak tahan ingin tahu apa yang terjadi akhirnya mulai bertanya.
"Mas." Panggil Farel.
__ADS_1
"Heem." Jawab Billy sambil memainkan hpnya.
"Memang saat aku sedang pingsan ada kejadian yang lain ya? apa Ayana juga lagi kenapa-napa sehingga Ranty harus ke kamar mas Billy?." Tanya Farel.
"Kamu tenang saja mereka semua baik-baik saja. Ranty dan Ayana cuma mau memastikan sesuatu." Jawab Billy.
"Memang memastikan apa mas? apa terjadi sesuatu dengan mereka berdua?." Tanya Farel lagi yang mulai khawatir.
"Akan aku beritahu apa yang terjadi tetapi kamu harus bisa tenang dan mendengarkan keseluruhan yang akan aku sampaikan." Jawab Billy dengan serius.
Farel pun mengiyakan ucapan Billy sambil mengangguk kepalanya.
"Ayana meminta Ranty untuk melakukan tes kehamilan karena adanya perubahan sifat dan sikap Ranty dan juga diri mu, hal itu membuat Ayana menduga kalau Ranty sekarang ini sedang hamil. Aku tahu kamu pasti kurang setuju dengan apa yang di lakukan oleh Ayana, maka dari itu papa tidak memperbolehkan aku untuk menjelaskan kepada mu tadi." Ucap Billy.
Farel menyandarkan badannya ke sandaran tempat tidurnya, menatap keatas sambil berucap. "Sebenarnya aku juga sedikit menyadari hal itu mas, tapi aku takut akan menyakiti hati Ranty apalagi yang terjadi ini tidak seperti dugaan ku." Ucap Farel sedikit.
"Mas Billy pasti sudah mengetahui tentang masalah yang dialami oleh Ranty. Ranty memiliki kandungan yang lemah akibat kecelakaan yang dia alami itu dan dokter Diana mengatakan kalau dia akan sulit untuk hamil. Bukannya tidak bisa hamil tetapi membutuhkan waktu yang lama, maka dari itu aku tidak pernah membahasnya karena takut membuatnya sakit hati dan merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kehamilannya saat itu." Ucap Farel lagi.
"Aku tahu itu Rel, tapi kalau kuasa Allah lain gimana? dokter Diana bisa mengatakan hal itu berdasarkan prediksi kedokterannya kalau Allah sudah memutuskan kalau Ranty hamil?." Ucap Billy.
Farel pun terdiam mencerna ucapan kakak nya tersebut.
"Sudah gak perlu di pikirkan terlalu serius, di jalani sesuai dengan arusnya saja, aku yakin kalau Ranty itu kuat dan dapat menerima apa yang sudah jadi kehendak Allah." Ucap Billy sambil menepuk pundak adiknya.
__ADS_1
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA...