
Farel dan Ranty sudah sampai tepat di depan ruang rawat Monik. Farel langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam dan tak lama pintu kamar pun terbuka. Tepat di depan pintu adalah pak Agam sedang membukakan pintu dan membalas salam mereka berdua. Pak Agam terkejut melihat kedatangan mereka dengan rasa canggung pak Agam pun mempersilahkan mereka berdua untuk masuk kedalam kamar untuk melihat keadaan Monik.
"Silahkan masuk Rel, Ran. Maaf om belum bisa menengok mu kemarin Ran." Ucap pak Agam.
Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam kamar setelah di persilahkan masuk oleh pak Agam.
"Terima kasih om. Saya sudah baik-baik saja dan hari ini saya sudah di perbolehkan pulang. Kemarin juga mas Jaka dan mbak Gladys di juga sudah datang untuk menengok saya." Jawab Ranty.
"Ya syukur Alhamdulillah kalau kamu sudah membaik." Ucap pak Agam.
"Gimana keadaan Monik saat ini om?." Tanya Ranty.
"Bisa kamu lihat sendiri kan kalau keadaan Monik seperti apa, bisa di bilang hidup gak hidup, mati gak mati seperti mayat hidup untuk apa juga kalian ke sini." Ucap ibu Sisil.
"Mama." Bentak pak Agam.
"Tapi benarkan pa yang aku ucapkan." Ucap ibu Sisil.
"Itu anak kita, yang kamu bilang mayat hidup itu Monik anak mu ma." Ucap Agam emosi.
"Sekarang kamu lihat sendiri keadaan anak kita seperti apa? memang aku salah mengatakan seperti itu dan papa juga mempersilahkan orang yang membuat anak kita seperti ini untuk masuk ke dalam kamar ini untuk apa, untuk mempermalukan kita atau memasukkan Monik ke dalam penjara......" Ucap ibu Sisil yang secara terus-menerus memojokkan Ranty dan Farel.
Farel yang mendengarkan ucapan ibu Sisil lama-kelamaan tidak bisa menahan emosinya, dia pun langsung berteriak tanpa mempedulikan kesopanan lagi.
"Cukup." Teriak Farel yang membuat terkejut semua.
"Aku sudah capek mendengar dan terus-terusan diam mendengarkan tante berbicara, tante bilang kalau semua yang dialami oleh Monik itu akibat dari kami berdua. Sekarang tante nyadar tidak yang mempengaruhi Monik selama ini yang untuk melakukan tindakan seperti ini, itu siapa?." Tanya Farel dengan nada tinggi.
"Sudah mas cukup kita kembali saja. Aku sudah cukup melihat keadaan Monik kok." Ucap Ranty menenangkan Farel.
"Tunggu sayang aku masih belum selesai berbicara. kalau aku jahat tante sudah aku penjarakan Monik dari dulu, tapi hal itu gak aku lakukan karena aku sayang sama monik dan sudah menganggap Monik sebagai adik ku sendiri." Ucap Farel.
"Kamu ya." Ucap ibu Sisil yang hendak menampar Farel.
"Mama." Ucap pak Agam menghentikan ibu Sisil.
__ADS_1
"Cukup ma, semua yang terjadi ini adalah kesalahan kita, bukan salah Monik, Farel atau pun Ranty. Ini adalah salah papa yang tidak bisa mendidik mama sebagai ibu yang baik untuk Monik dan salah Mama yang tidak bisa mendidik Monik menjadi anak yang baik." Ucap pak Agam.
"Kok papa menyalakan mama, jelas-jelas ini kesalahan mereka berdua....." Ucap ibu Sisil panjang lebar.
Mereka berdua pun mulai berdebat. Farel dan Ranty yang berada di sana mencoba menenangkan mereka tetapi tidak ada hasilnya, tiba-tiba alat bantu yang melekat pada tubuh Monik berbunyi yang menandakan Monik dalam keadaan kritis. Hal itu membuat pak Agam dan bu Sisil menghentikan perdebatan mereka. Ranty yang berada di sana langsung berdiri dan berjalan mendekati Monik dengan cepat Ranty menekan tombol panggilan kepada perawat dan dokter jaga yang berada di bangsal tersebut. Ranty mencoba menghubungi dokter Hadi juga karena Monik adalah pasien dokter Hadi tetapi panggilan teleponnya tidak diangkat oleh dokter Hadi. Tak lama dua orang perawat masuk ke dalam kamar. Kedua perawatan yang masuk terkejut melihat di dalam kamar ada dokter Ranty yang sedang melihat keadaan Monik.
"Dokter, Ada apa?." Tanya perawat.
"Di mana dokter Hadi dan siapa dokter jaga sekarang?." Tanya Ranty dengan penekanan.
"Maaf dok dokter Hadi sedang mengambil cuti, sedangkan dokter jaga sekarang sedang berada di IGD karena ada banyak pasien sehingga dokter jaga di panggil ke sana." Jawab perawat itu.
"Panggil kan aku sekarang dokter pras dan ambilkan catatan medis milik monik serta siapkan aku alat untuk memeriksa jantung." Perintah Ranty.
"Baik Dok." Jawab kedua perawat dan langsung melaksanakan perintah Ranty.
"Apa yang kamu lakukan, apa kamu mau membunuh Monik." Ucap ibu Sisil.
"Kalau aku membunuh dia kenapa gak aku biarkan saja dia kritis." Bentak Ranty yang mulai kesal.
Dokter Pras yang membantu dokter Ranty menangani hal itu meminta Farel, Pak Agam dan ibu Sisil untuk keluar agar mereka dapat bekerja. Mereka bertiga pun menuruti ucapan dokter Pras walau awalnya ibu Sisil menolak keluar karena tidak mau Monik di rawat oleh Ranty tetapi setelah Dokter Pras dan pak Agam menjelaskan akhirnya ibu Sisil mau keluar meninggalkan kamar.
Saat mereka bertiga di luar tidak ada satu pun yang berbicara mereka hanya diam. Ibu Sisil pun diam, dia hanya bisa menangis tanpa bersuara di sebelah pak Agam suaminya, sedangkan Farel berdiri tepat di sebelah pintu kamar menunggu Ranty untuk keluar. Perasaannya tidak karuan Farel sangat khawatir dengan keadaan Ranty karena saat ini keadaan Ranty belum sepenuhnya pulih.
Tiga puluh menit kemudian dokter Pras dan Ranty keluar dari kamar Monik dan masih sibuk berbicara, Ranty memberikan beberapa arahan kepada Dokter pras tentang keadaan Monik saat ini.
"Kamu sudah faham kan dok." Ucap Ranty menjelaskan kepada dokter Pras.
"Faham dok, kalau gitu akan aku siapkan semuanya dulu." Jawab dokter Pras.
Farel yang melihat Ranty keluar langsung menghampiri dan menanyakan seribu pertanyaan kepada dirinya, begitu juga dengan pak Agam dan ibu Sisil pun ikut menghampiri Ranty.
"Gimana keadaan mu?." Tanya pak Agam kepada Ranty begitu khawatir.
"Kok tambah tanya keadaan dia sih pa Monik dong." Ucap ibu Sisil kesal.
__ADS_1
"Sudah cukup ma." Bentak pak Agam yang membuat ibu Sisil terdiam.
"Tenang saja om, saya baik-baik saja. Ini adalah tugas saya sebagai dokter." Jawab Ranty.
"Terus gimana keadaan Monik untuk saat ini?." Tanya ibu Sisil khawatir.
"Alhamdulillah keadaan Monik sudah stabil lagi. Saya mohon maaf sudah mengambil tindakan yang tidak sesuai dengan aturan rumah sakit dan saya akan mempertanggung jawabkan tindakan yang saya lakukan tadi apabila pihak keluarga tidak berkenan, saya juga sudah menjelaskan apa yang terjadi tadi kepada dokter Hadi sebagai dokter yang menangani Monik." Jawab Ranty.
"Kami tidak mempermasalahkan hal itu. Yang penting kamu dan Monik baik-baik saja." Ucap pak Agam.
"Terima kasih om." Jawab Ranty.
"Kami pamit dulu, saya sudah meminta dokter Pras untuk memantau perkembangan dan kondisi Monik jadi om dan tante tidak perlu khawatir. Ayo mas kita kembali aku sudah sangat capek." Ucap Ranty.
"Assalamualaikum." Ucap salam Ranty dan Farel.
"Waalaikumsalam. Sekali lagi om terima kasih banyak kepada mu ya Ran, Rel." Ucap pak Agam.
Ranty menjawabnya dengan anggukan kepalanya dan saat dia akan pergi meninggalkan pak Agam dan ibu Sisil tiba-tiba ibu Sisil memanggil mereka berdua.
"Tunggu." Ucap ibu Sisil.
Farel pun berhenti saat akan berjalan dan mendorong kursi roda yang diduduki oleh Ranty.
"Ada apa lagi tante?." Tanya Farel dengan nada kesalnya.
"Aku mau minta maaf dan mengucapkan terima kasih sudah mau menolong Monik." Ucap ibu Sisil sambil menunduk kepalanya.
"Iya Tante, itu sudah kewajiban saya sebagai dokter. Kami pamit dulu, Assalamualaikum." Ucap Ranty.
"Waalaikumsalam." Jawab Ibu Sisil.
Setelah Ranty dan Farel pergi, Pak Agam dan ibu Sisil pun kembali ke dalam kamar untuk melihat keadaan Monik.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA