
Farel pun selesai dengan pekerjaannya sebelum mereka pergi Farel mengajak Ranty dan Rafi untuk melaksanakan Sholat terlebih dahulu. Setelah selesai mereka pun pergi ke sebuah rumah makan pilihan Rafi di daerah Surabaya.
Setelah sampai di rumah makan itu Rafi pun langsung masuk dan memiliki tempat yang akan mereka tepati. Karena merasa lapar Rafi dan Ranty langsung memesan makanan yang menurut Farel lebih untuk mereka bertiga makan.
"Kalian laparnya sampai pesan segini banyaknya?." Tanya Farel.
"Iya pa." Jawab Rafi.
"Oh iya mas, ini ada hadiah buat kamu. Sebenarnya aku sudah lama ingin memberikan hadiah ini kepadamu tetapi gak ada kesempatan yang tepat." Ucap Ranty sambil memberikan sebuah paper bag yang berisikan kotak.
"Hadiah apa ini? aku kan gak lagi ulang tahun." Ucap Farel sambil menerima paper bag itu.
"Sudah terima saja nanti papa nyesel kalau gak mau terlalu hadiah itu." Ucap Rafi.
"Kalian gak lagi ngepreng atau ngerjain papa kan?." Tanya Farel penasaran.
"Ya kalau papa gak mau terima hadiah itu buat kami saja, jadi papa gak boleh...." Ucap Rafi terhenti di potong oleh Farel dan saat Rafi akan mengambil kado dari tangan Farel, Farel langsung menyembunyikannya dari Rafi.
"Enak saja mau diambil ini punya papa." Ucap Farel memotong ucapan Rafi.
"Bukannya papa bilang kalau gak mau." Ucap Rafi menikmati kentang goreng.
"Papa kan gak bilang kalau gak mau. Papa buka ya." Ucap Farel mulai membuka hadiahnya.
Rafi dan Ranty hanya menganggukkan kepala mereka dan melihat respon Farel saat membuka kotak itu. Satu persatu kotak mulai di buka mulai dari kotak yang besar hingga yang terkecil terlihat wajah Farel yang penasaran. Saat kotak terakhir Farel mulai penasaran dia membolak-balik kotak yang terakhir itu.
"Dalamnya bukan bom atau binatang berbahaya kan?." Tanya Farel.
"Bukan." Ucap Ranty dan Rafi bersamaan.
Farel pun langsung membuka kotak itu saat dia melihat apa yang ada di dalam kotak itu dia tidak bisa menahan tangis dan bahagia nya saat mengetahui bahwa Ranty sedang mengandung darah dagingnya. Farel pun tanpa melihat keadaan tempat makan makan dan Rafi yang berada di depannya langsung memeluk dan mencium Ranty yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
"Sayang makasih banyak ya.... maafin aku ya." Ucap Farel.
"Pa... papa". Panggil Rafi.
"Apa sih." Jawab Farel yang tidak mempedulikan sekitar.
"Papa.... lihat dong kita di mana apa gak malu." Ucap Rafi.
"Astaghfirullah." Ucap Ranty dan Farel bersamaan.
"Papa ini." Ucap Ranty malu sambil memukul bahu Farel.
"Maaf ya Raf, papa kebawa suasana sampai gak tahu tempat." Ucap Farel.
Mereka bertiga merasakan kebahagiaan saat itu, kejutan yang di berikan oleh Ranty kepada Farel merupakan kado terindah yang di titipkan kepada Allah untuk mereka berdua.
Setelah acara makan bersama dan memberikan kejutan itu mereka langsung pulang ke rumah karena Farel sudah mengetahui bahwa Ranty sedang mengandung Farel tidak ingin istri itu terlalu capek.
"Rafi langsung masuk ke kamar ya pa, Bun." Ucap Rafi lalu langsung naik keatas dan masuk ke dalam kamar.
"Siap Bun." Jawab Rafi dari lantai atas.
Edi yang saat itu sedang di dalam kamarnya mendengar suara Ranty, Farel dan Rafi pulang langsung keluar kamar dan turun ke bawah untuk menemui mereka berdua.
"Baru pulang mbak, om?." Tanya Edi yang menghampiri mereka sedang duduk di ruang makan.
"Iya ini baru pulang." Jawab Farel.
"Gimana Om? Apa sudah sehat?." Tanya Edi yang duduk di sebelah kakak iparnya.
"Alhamdulillah aku sudah baikkan, maaf ya sudah membuat mu khawatir beberapa minggu ini karena kejadian saat itu." Ucap Farel.
__ADS_1
"Ya, Alhamdulillah kalau om sudah baikkan. Apa mbak Ranty sudah mengatakan kepada om Farel kalau mbak Ranty sedang hamil?." Tanya Edi sambil menikmati makanan yang ada di atas meja makan.
"Kamu tahu Ed kalau mbak lagi hamil?." Tanya Ranty heran karena dia belum sempat memberitahu Edi masalah kehamilannya.
"Ya tahu lah mbak, waktu mbak Ranty lagi ngobrol sama mbak Ayana dan om Billy aku lagi di kamar mbak Ranty lupa ya." Ucap Edi.
"Oh iya ya....." Jawab Ranty.
"Memang usia kandungan mu berapa bulan sayang." Tanya Farel.
"Mungkin sudah hampir sebulan." Jawab Ranty.
"Ya Allah, maafin papa mu ini ya nak. Ran maafin aku, waktu aku sakit kamu sedang hamil, pasti susah merawat ku saat aku lagi marah tidak bisa menahan emosi." Ucap Farel sambil terus mengelus perut Ranty yang masih rata.
"Iya mas." Jawab Ranty.
Tanpa menghiraukan keberadaan Edi yang ada di sana Farel tanpa ragu langsung mencium bibir Ranty. Hal itu membuat Edi yang berada di sebelah Farel hanya bisa melongo dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua kakaknya itu.
Karena sudah terlalu lama jadi obat nyamuk Edi pun langsung berkata dengan lantang. "Astaghfirullah."
Farel dan Ranty pun terkejut mereka lupa kalau Edi berada di ruang itu juga. Karena malu Ranty menatap tajam adiknya untuk menyuruhnya diam. Ranty pun langsung berjalan cepat masuk ke dalam kamar tanpa berbicara apapun. Sedangkan Farel hanya tersenyum nakal dan mengedipkan mata untuk Ranty yang meninggalkan mereka berdua di sana.
"Apa gak ada tempat lain untuk beradegan dewasa seperti itu?." Tanya Edi.
"Iya maaf tadi keblabasan. Lagian kamu juga aneh kenapa saat kami seperti itu tadi kumu gak langsung pergi." Ucap Farel.
"Ya mana aku tahu kalau om Farel mau beradegan seperti itu di ruang makan. Untung saja aku yang lihat kalau Rafi bukannya malah berbahaya." Ucap Edi.
"Benar juga kata mu. Maaf ya, lain kali gak akan aku ulangi makasih sudah mengingatkan aku." Jawab Farel.
Setelah kejadian itu mereka pun tetap melanjutkan pembicaraan dengan obrolan santai antar kakak dan adik ipar.
__ADS_1
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA