
"Mas Vi, ada temennya dibawah." Ujar si mbok.
"Suruh masuk aja mbok ke kamar. " sautku, tetap fokus dengan permainan gitarku.
Tapi si mbok tak menyaut, justru malah mendekatiku.
"Mas Vi kae sing teka bocah wadon, masa kon mlebu kamar, si kepriwe?" ujar si mbok kental dengan logat ngapak nya.
Dengan terburu-buru kuturuni tangga menuju ruang tamu.
Kurapikan rambutku dan memastikan mulutku tidak bau.
Bersorak karena sampai dirumah tadi aku langsung mandi.
Berdebar, berharap, sejuta pertanyaan dan jawaban spontan terlintas di otakku.
Tapi semua rasa itu sirna.
Anak gadis itu bukan Ria melainkan Irina , teman sekolahku.
"Hai Viren "sapanya.
Ku persilahkan Irina duduk, tanpa disuruh si mbok sudah membawakan segelas jus mangga segar untuknya.
"Tetep cuek deh kamunya, aku ngomong ngga jawab sama sekali." protes Irina.
"Ada apa? " tanyaku, datar dan tidak ada intonasi penasaran dalam pertanyaanku.
Irina mendekatkan posisi duduknya, tepat di sebelahku.
Dilingkarkan tangannya pada lenganku, dan menunjukan wajahnya yang..
Oke ku akui, Irina memang imut, rambut coklat kemerahannya membuat sosoknya seperti boneka porselin.
"Vi, kita pacaran kan? "tanyanya tiba-tiba.
Membuatku terbelalak.
Ya Tuhan, aku lupa kalau 3 pekan lalu aku telah mengiyakan ajakan pacaran Irina.
Sebenarnya aku tidak menyukainya, yang kusukai hanya wajahnya.
Lagipula aku hanya ingin menunjukan bahwa aku bisa mendapatkan cewek paling cantik di sekolah.
Ya, kalian boleh menggapku Brengsek.
"Gaenak nih tangannya, entar si mbok lihat. "
__ADS_1
"Aku tanya apa, jawabnya apa. Lagian kamu aneh, di sekolah ngga pernah keliatan. Setiap aku ke kelas kamu, kamu ngga ada. Pulang juga selalu sendiri-sendiri. Kita pacaran kan? " kata Irina lagi, tanpa mau melepaskan lenganku darinya.
Seandainya aku tak bertemu Ria mungkin aku tak akan bingung mengatakan Irina pacarku.
Tapi kata itu seakan tertahan.
Tunggu, apa yang aku pikirkan?
Bukannya Ria dan Bram juga sudah bersama, lagipula Irina lebih cantik daripada Ria. Benar! Harusnya aku tak usah ragu mengatakan Irina pacarku.
Ku lirik mata Irina yang mulai berkaca-kaca, ku usap lembut pucuk kepalanya.
"Iya kita pacaran, oke? "
* * * * * * * * * * * * * * *
Mumpung waktu masih menunjukkan pukul 4 sore, dan aku masih ingin memastikan kejadian tadi kuajak Irina ke kedai eskrim tempat Ria dan Bram berada.
Ku lajukan mobil Irina lambat tepat di dekat kedai eskrim, kupakai mataku baik-baik , mengawasi, mencari mereka dan benar saja kedua sosok itu masih ada.
Mereka baru saja keluar dari kedai, tanpa persetujuan Irina ku hentikan mobilnya tepat di depan mereka.
Ku turunkan kaca mobil, dan bisa ku pastikan mata Ria sangat kaget menatapku menggandeng gadis seperti Irina.
"Ciie kencan. "goda Bram padaku, Irina menutup pipinya , memastikan tak ada satupun yang melihat wajahnya semerah udang.
Bram hanya tersenyum, sedangkan Ria membuang mukanya.
"Aku balik duluan ya, makasih Bram." kata Ria, lalu pergi tanpa memperdulikan keberadaanku.
"Tunggu Ri, bareng aja. " ajak Bram pada Ria.
Mengisyaratkan tanda sampai jumpa padaku lalu berlari mengejar Ria yang semakin menjauh.
Inginku,aku yang mengejar Ria, bertanya maksud Ria tersenyum nakal dan kini justru mengabaikanku?
Seandainya hanya aku dan Ria saat ini, sayangnya seandainya tidaklah sebuah kenyataan.
"Mau masuk? "tanya Irina mengagetkan lamunanku.
"Pulang aja! " jawabku sedikit ketus, menimbulkan kerutan di dahi Irina.
Diam-diam ku maki diriku sendiri dalam hati, ku maki Bram ku maki Ria , memaki dan hanya memaki.
Tanpa memperdulikan Irina yang dalam diam menatapku sendu.
"Kamu langsung aja, aku mau kerumah Dito. Ini pulang ambil motor doang. "
__ADS_1
Irina hanya tersenyum, dan ikut turun dari mobil.
"Vi, kamu BT ya? " tanyanya.
"Nggak"
" Vi, siapapun itu meski bukan aku pun. kalau liat kamu sekarang ini pasti tau kalau kamu BT. Aku ada salah sama kamu? Aku minta maaf. "
Kata-kata Irina menyadarkanku, betapa tak memikirkan perasaannya.
Sampai-sampai Irina merasa bersalah padaku, padahal Irina tak melakukan kesalahan sedikitpun.
Tanpa menjawab ku tarik Irina kepelukanku.
Meski sedikit kaget tapi kurasakan lambat laun tangannya melingkar balik di tubuhku.
"Maaf.. "kataku pada Irina.
Irina hanya mengangguk dan merapatkan pelukannya.
Cukup lama aku memeluknya.
Cukup untuk membuatnya merasa tenang.
"Udah sana pulang udah mau maghrib. Nanti aku call. "
kataku .
Irina berjalan pelan dan masuk ke mobilnya.
Berkali-kali mencuri pandang padaku dan melemparkan senyum termanisnya.
Tetapi itu semua tidak membuat amarah di dadaku reda, tetap terekam tingkah Ria . Perasaan rumitku yang bahkan aku sendiri pun tak tau itu apa.
Apa aku temui Ria saja?
Toh aku tau rumahnya?
Namun alasan apa untukku menemuinya?
Nb: kata yang bergaris tebal artinya,
"Mas Vi, itu yang datang anak perempuan. Mana mungkin suruh masuk ke kamar. "
**BERSAMBUNG**
__ADS_1