Itu Kamu

Itu Kamu
GADIS MUNGGIL ITU


__ADS_3

Diusia 16 tahun aku jatuh Cinta.


Setiap momen dengan Ria selalu bersarang diingatanku.


Waktu dan musim berganti.


Bertahun-tahun tanpanya..


Para wanita yang datang dan pergi dari hidupku.


Tak ada satupun yang bisa menggantikan posisi Ria dihatiku.


Ya aku seakan diperbudak.


Diperbudak dengan sukarela.


Dan dengan berjalannya waktu aku sadar Ria bukan sekedar angin lalu yang berhembus melewatiku.


Tapi, Ria adalah seorang gadis yang terpatri jauh dalam hatiku..


* * * * * * * * * * * * * * * * * *


Berkali-kaki kulirik wajah Ria dari spion motorku, keadaan canggung tadi membungkam mulutku.


Dan ekpresi wajah Ria masih sama, seakan tak pernah ada pembicaraan barusan.


Semakin pusing ku dibuatnya.


"Sampai sini aja ngga papa Vi, aku jalan dari gang aja. "


"Eh, udah jam 9 malem tapi ini Ri, ngga papa aku anter aja sampai depan rumah. "


Ria hanya menggeleng dan tersenyum kecil.


Dilepaskannya jaketku yang tadi kupinjamkan agar menghangatkan tubuhnya.


Dilambaikan tangannya, dan seperti itulah kami mengakhiri hari.


Masih kutatap punggung Ria yang mulai menjauh, dan menyumpahi diri sendiri karna merusak suasana hari ini.


Harusnya aku menanggapi omongan Ria tadi, Harusnya aku balas menyentuh wajahnya, bahkan harusnya aku menciumnya.

__ADS_1


Tunggu, menciumnya? Oh ini gila, bagaimana mungkin aku bisa berpikir begitu?


Malas berkutat dengan pikiran tak warasku, ku lajukan motorku dan lagi -lagi senyumku tak mau berhenti.


Angkringan Pak Pujo memang menjadi tempat ku dan kawan-kawanku menghabiskan malam.


Dari jauh sudah terlihat Dito, Bram dan Satya, bahkan kelakarnya terdengar sampai tempatku memarkir motor.


"Nah ini nih si sok sibuk, kemana aja bro. " kata Dito membuka percakapan.


Tak menanggapi, lansung ku letakkan pantatku di tikar depan Ruko tutup dan menyalakan rokokku.


"Mana nomor Ria, Vi? " kata Bram tanpa basa-basi yang langsung membuatku tersadar bahwa Ria adalah cewek incaran kawanku.


Tapi enggan rasanya memberikan nomor Ria pada Bram.


Ku buka ponselku, tiba-tiba Kring kring


Tampak jelas panggilan dari Princess di layar ponselku, tanpa sadar ku tekan tolak dan salah tingkah.


"Mana, Vi? " pinta Bram lagi


"Oh bentar, aku tanya dulu ya sama Ria, gaenak kalau asal ngasih" jawabku


Ya sebenarnya kurasa Bram cukup oke.


Dia berkulit putih dan hidung yang mancung, dan ada rasa takut jika Bram sampai mendapatkan kontak Ria.


"Jangan-jangan kamu suka juga nih sama Ria, kok berat gitu ngasih nomornya, biasanya aja asal kasih nomor cewek ke kita kita haha" goda Satya.


Sontak aku langsung berdiri, memesan kopi , alih-alih memalingkan pembicaraan.


Tak langsung duduk kembali, aku justru menunggu kopi hitamku dan berjongkong disebelah gerobak seraya mengecek ponselku.


hari ini 22.10 WIB


PRINCESS


Vi, bisa jemput aku lagi?


Tolong aku gatau minta tolong siapa lagi.

__ADS_1


Ada apa ini?


Tak menunggu lama, aku berpamitan pada kawan-kawanku dan tak memperdulikan kopiku, tancap gas menuju rumah Ria.


* * * * * * * * * * * * * * * * *


Tubuh mungil di depan gang, berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Ku posisikan motorku tepat di depannya.


Tampak jelas lebam di pipi kirinya hingga ada darah kering di sudut bibirnya, meski tangan kecil itu mencoba menutupi.


"Apa yang terjadi Ri? " tanyaku khawatir.


"Gapapa, maaf kamu jadi bolak-balik" sautnya


Kutarik Ria mendekat, kupaksa melihat wajahnya, dan lebam pada wajahnya cukup banyak.


Kupapah Ria naik ke motor dan menawarkannya ke Rumah Sakit, tapi ditolaknya mentah-mentah.


Akhinya kubeli perban dan obat seadanya di alfamart terdekat, juga es krim.


"Buat apa beli eskrim, Vi? " tanya Ria heran.


Tanpa menjawab langsung kutempelkan es krim ke pipi Ria yang lebam.


"Ngga ad es batu eskrim pun jadi, itu lebam harus dikompres biar mendingan. "


Lalu keheningan dan tatapan Ria saat ku bantu mengobati lukanya.


"Kamu mau tidur dimana? "tanyaku


"Kamu ngga penasaran aku kenapa, Vi? " bukan jawaban yang kudapat justru pertanyaan balik dari Ria.


"Ri, aku tau kamu ngga mau cerita makanya aku ngga tanya. Toh kalau kamu dari awal mau cerita sama aku, kamu ngga mungkin jawab gapapa. "


Terlihat mata Ria berkaca-kaca.


Ria memelukku, aku berharap Ria tak mendengar detak jantungku yang seperti suara tentara berjalan.


"Pokoknya aku ngga mau pulang" jawabnya terisak

__ADS_1


**BERSAMBUNG**


__ADS_2