
Farel duduk berdua bersama dengan Ranty, mereka saling berbicara menceritakan tentang pengalaman mereka. Farel mulai memberanikan dirinya untuk menanyakan hal pribadi kepada Ranty walau dia merasa sedikit ragu dan takut akan membuat Ranty tersinggung.
"Ranty." Panggil Farel.
"Iya pak." Jawab Ranty.
"Aku mau minta maaf tentang kejadian saat di rumah sakit kemarin, gara - gara ucapan Monik kamu jadi marah." Ucap Farel merasa bersalah.
"Oh iya pak, aku juga minta maaf kemarin tiba - tiba marah ke pak Farel." Ucap Rantai.
"Iya. Untuk ucapan Monik kemarin jangan kamu dengarkan dan di ambil hati anak nya memang seperti itu terlalu manja, dia bukan calon istri ku, aku hanya menganggapnya sebagai adik saja gak lebih." Ucap Farel menjelaskan.
"Gak usah di bahas lagi ya pak kejadian waktu itu, bikin kepikiran lagi dan aku gak peduli siapa Monik. Yang jelas kalau dia berbuat salah wajar kan kalau aku marah dan menegur nya." Ucap Ranty.
"Ya sudah gak perlu kita bahas lagi aku cuma mau menjelaskan biar kamu gak salah paham siapa Monik itu."
Ranty hanya mengangguk mengiyakan ucapan Farel.
"Boleh aku tanya?." Tanya Farel.
"Tanya saja, kalau aku bisa jawab nanti aku akan jawab." Jawab Ranty.
"Kenapa sampai sekarang kamu masih belum menikah dan yang aku lihat kamu juga belum punya..... " Ucap Farel yang ragu untuk msneruskannya.
"Maksud bapak pacar?." Ucap Ranty meneruskan ucapan Farel.
Farel menggangukkan kepalanya mengiyakan ucapan Ranty, karena takut pertanyaan membuat Ranty tersinggung.
"Saya belum menikah dan saya juga tidak memiliki pacar." Jawab Ranty singkat.
"Kenapa?." Tanya Farel.
"Kalau soal pacar untuk sekarang ini aku gak mau pacaran lagi, karena aku bukan remaja lagi, yang aku butuhkan seseorang yang benar - benar serius menjalin sebuah hubungan dan bukan main - main lagi. Kenapa belum menikah karena belum ada jodoh yang cocok saja yang di berikan Alloh kepada ku untuk saat ini." Jawab Ranty.
"Bapak sendiri kenapa belum menikah, bukannya bapak sudah lama menduda. Rafi juga sering cerita kalau dia ingin punya bunda seperti ibu Ayana." Ucap Ranty.
"Sama seperti jawaban mu masih belum ada jodoh. Tetapi aku sedang tertarik dengan seorang gadis yang pernah aku temui dulu."
"Coba dekati dong pak mungkin saja itu jodoh bapak."
"Sekarang ini sudah aku coba mendekati nya. Tapi aku takut apa dia mau menerima ku, karena aku seorang duda punya anak satu."
__ADS_1
"Gadis itu kamu Ran." Batin Farel.
"Kenapa gak di coba saja, gak ada yang gak mungkin kalau jodoh gak akan pernah lari karena itu sudah keputusan Alloh." Ucap Ranty.
"Menurut mu gimana kalau gadis itu kamu?." Tanya Farel.
"Kalau itu aku Pak Farel harus berusaha keras untuk bisa meluluhkan hatiku agar aku bisa menerima pak Farel." Jawab Ranty dengan santai.
"Apa karena aku duda dan aku punya anak satu?."
"Jika itu aku ya pak, aku gak mempermasalahkan status bapak. Pak Farel baik, ganteng, kaya, mudah bergaul dan dari keluarga terhormat. Gadis mana yang gak tertarik, aku pun juga tertarik dengan bapak. Tetapi perasaan gak boleh dipaksa untuk harus suka dan cinta kepada bapak. Jadi bapak harus tahu betul perasaan nya dan berusaha membuat dia menjadi suka kepada bapak." Ucap Ranty.
"Jika gadis itu kamu apa aku bisa?."
"Kalau itu aku? Aku juga gak tahu harus jawab apa, yang jelas pak Farel harus mengambil hati gadis itu." Ucap Ranty sambil meminum jus nya.
Farel yang mendengar penjelasan Ranty hanya menganggukkan kepalanya. Karena dirinya mendapatkan informasi penting untuk mendapatkannya.
"Pak sudah sore dan sudah hampir magrib. Kita pulang yuk." Ajak Ranty.
"Oh iya ya, gara - gara keasikan ngobrol sama kamu sampai lupa waktu. Ayo kita pulang tapi sebelum pulang kita sholat magrib dulu soalnya sudah waktu magrib." Ucap Farel.
"OK, kita sholat di luar saja di deket tempat parkiran mobil ada mushola, kita sholat disana saja." Ucap Ranty sambil berdiri lalu memanggil Rafi dan Yoga yang sedang asik bermain.
"Iya dok." Ucap Rafi dan Yoga berlari menghampiri Ranty dan Farel yang akan bersiap - siap pulang.
Setelah asik bermain mereka pun berjalan bersamaan menuju tempat parkiran mobil. Farel membantu Ranty memasukkan belanja nya kedalam mobil, setelah itu Farel pun memasukkan belanjaannya kedalam mobilnya di bantu oleh Ranty. Setelah selesai memasukkan belanjaan mereka kedalam mobil, mereka pun berjalan menuju mushola yang tak jauh dari tempat parkiran untuk menjalankan sholat magrib. Karena hari sudah mulai malam Rafi dan Yoga harus segera pulang akhirnya mereka saling berpamitan.
"Kami pulang dulu ya dok padahal Rafi masih ingin bersama dokter." Ucap Rafi manja sambil memeluk Ranty.
"Kapan - kapan lagi kita pergi bersama, gimana." Ucap Ranty.
"Janji ya." Tanya Rafi.
"Dokter gak bisa janji, tapi dokter akan usahakan." Ucap Ranty.
"Ok." Ucap Rafi.
"Ya sudah kami pulang dulu. Maaf merepotkan kamu lagi." Ucap Farel.
"Iya pak gak apa kok. Saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum." Ucap salam Ranty.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Ucap Farel, Rafi dan Yoga bersamaan.
Setelah berpamitan mereka menuju mobil masing-masing. Farel belum bisa pulang langsung ke apartemen karena harus mengantarkan Yoga dulu pulang ke rumah. Tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai. Mereka masuk kedalaman rumah Farel memutuskan untuk mandi agar setelah sampai apartemen Farel dan Rafi bisa langsung istirahat.
"Sudah mau pulang?." Tanya Billy yang sedang duduk santai di ruang tengah.
"Iya mas aku mau pulang." Jawab Farel yang sedang bersiap - siap.
"Makan dulu ya mas sebelum pulang kasihan Rafi takutnya di apartemen mas gak ada makanan." Ucap Ayana sambil menyiapkan makan malam.
"Iya." Jawab Farel.
"Oh iya mas ini apa ya? kata Yoga ini barang titipan ku. Memang apa ini? seingatku aku gak pernah nitip untuk dibelikan barang?." Tanya Ayana sambil membuka kantong kresek itu.
"Itu...." Ucap Farel yang tidak dilanjutkan karena Ayana sudah lebih dulu tertawa.
"Ha... Ha... Ha...." Tawa Ayana.
"Ya Alloh mas apa ini, aku mana pernah nitip mas belikan ini, mas Billy saja gak pernah belikan aku ini." Ucap Ayana sambil mengeluarkan pembalut dari dalam kantong plastik.
"Memang Farel membelikan kamu apa sih sayang." Ucap Billy yang penasaran.
"Ini lho mas." Ucap Ayana yang menunjukkan pembalut sambil menahan tawa.
"Untuk apa kamu beli itu." Tanya Billy heran.
"Ini gara-gara waktu berbelanja aku gak fokus tadi ." Ucap Farel.
"Memang kamu fokus apa?." Tanya Billy.
"Pasti mas Farel fokus melihat Ranty sampai - sampai mengambil barang yang gak perlu dibeli." Ucap Ayana.
Farel hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan dari Billy dan Ayana.
"Kalau kamu serius dengan dia kami dukung Rel asal ingat kamu cari calon istri juga calon ibu untuk anak mu, jadi jangan asal pilih ingat itu." Ucap Billy yang melihat tingkah adiknya yang sudah mulai membuka hatinya.
"Iya mas." Jawab Farel.
Setelah pembicaraan itu mereka pun makan malam bersama, Farel dan Rafi mulai bersiap - siap akan pulang, mereka pun berpamitan kepada Billy, Ayana dan Yoga.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA