
Pagi setelah mengantarkan Rafi sekolah, Farel langsung berangkat bekerja dan karena jadwal Farel dan Ranty berbeda sehingga hari itu mereka tidak bisa berangkat kerja bersama. Setelah sampai kantor Farel langsung berjalan menuju lift khusus. Saat akan masuk ke dalam lift tiba-tiba Monik memanggil lalu menghampirinya, sehingga membuat Farel tidak jadi masuk ke dalam lift yang telah terbuka.
"Kak Farel." Sapa Monik sambil menghampiri Farel.
"Kamu Nik, kenapa masih di lobi bukannya hari ini kamu sudah mulai magang?." Tanya Farel.
"Iya kak hari ini aku mulai magang, Aku baru saja membeli kopi. Masih jam delapan, tiga puluh menit lagi baru aku akan naik ke atas. Oh iya kak ini kopi kesukaan kak Farel, apa kakak mau." Ucap Monik memberikan kopi miliknya.
"Memang boleh?." Tanya Farel.
"Ya boleh lah, cuma kopi saja kenapa harus gak boleh." Jawab Monik.
"Kalau gitu aku terima ya, makasih untuk kopi nya." Ucap Farel sambil menerima kopi pemberian Monik tanpa curiga.
"Iya sama-sama." Jawab Monik sambil tersenyum.
"Kalau gitu kakak duluan ya." Ucap Farel lalu pergi meninggalkan Monik.
Monik yang melihat kepergian Farel merasa sangat senang karena langkah awalnya sudah akan di mulai.
"Minum kopi itu, akan aku buat hidup mu dan Ranty menderitap sama seperti kamu membuat ku menderita." Batin Monik.
**********
Sudah hampir sebulan ini perasaan Ranty tidak enak terhadap Farel, ada beberapa hal yang selalu membuat Farel marah kepadanya tanpa alasan yang jelas. Hari itu Ranty memutuskan untuk mengunjungi Lesti di rumahnya bersama dengan Rafi setelah meminta ijin Farel karena dia takut Farel akan tiba-tiba marah kepadanya kalau dirinya pergi tanpa meminta ijin. Setelah mendapatkan ijin Ranty dan Rafi langsung menuju rumah Lesti setelah menjemput Rafi pulang sekolah dan menghubungi sahabat SMA nya itu.
Di perjalanan ke rumah Lesti, Rafi tampak tenang dan tidak banyak bicara saat itu. Ada yang mengganjal dan membuat penasaran Rafi tentang kenapa papanya marah kepada bunda nya tadi malam, Rafi pun akhirnya mulai bertanya kepada Ranty.
"Bunda." Panggil Rafi.
"Iya sayang ada apa?." Tanya Ranty sambil fokus menyetir.
"Bunda sama papa lagi marahan ya." Tanya Rafi.
"Gak kok sayang kenapa kamu tanya seperti itu?." Tanya Ranty.
"Aku lihat dan mendengar papa memarahi bunda kemarin malam." Jawab Rafi.
__ADS_1
Ranty yang mendengar terlihat terkejut karena pertengkaran itu di lihat dan di dengar oleh anaknya.
"Tadi malam papa gak memarahi bunda kok, cuma papa bertanya kepada bunda sedikit mengeraskan suaranya karena waktu Papa bertanya bunda lagi di dalam kamar mandi." Jawab Ranty hati - hati.
"Apa benar itu bun?." Tanya Rafi yang tidak percaya.
"Benar, nanti waktu pulang dari rumah tante Lesti kamu tanya deh sama papa, kalau kamu tidak percaya sama bunda." Jawab Ranty.
Rafi pun menganggukkan kepalanya saja mendengar jawaban Ranty itu.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah Lesti dan Rico. Ranty memikirkan mobilnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah Lesti. Setelah di rasa cukup aman dia parkir, Ranty dan Rafi turun dan langsung masuk ke dalam rumah.
Saat mereka masuk Lesti dan Rico sudah berada di depan terasa menyambutnya kedatangan mereka berdua.
"Assalamualaikum." Ucap salam Ranty dan Rafi.
"Waalaikumsalam." Jawab Lesti dan Rico.
"Ayo masuk." Ucap Lesti mempersilahkan mereka masuk.
Lesti masuk terlebih dahulu sambil menggandeng Rafi lalu di ikuti Ranty dan Rico yang berjalan di belakang mereka.
"Alhamdulillah baik tante." Jawab Rafi.
"Lho mas Rico kok di rumah apa gak kerja?." Tanya Ranty heran melihat Rico di rumah.
"Sebenarnya sih kerja tetapi ada yang minta di temenin makan siang ya mau gak mau pulang, tapi habis gini aku balik lagi di kantor kok." Jawab Rico.
"Ada apa? Kok tumben ke sini?." Tanya Lesti.
Ranty hanya diam menatap Rafi yang sibuk dengan tabletnya. Lesti dan Rico menyadari ada yang ingin di sampaikan Ranty kepada mereka. Rico pun langsung memutuskan untuk tidak kembali kekantor.
"OK hari ini aku akan di rumah saja karena tanggung juga kalau balik kantor. Akan aku temani keponakan ku ini bermain sepuasnya. Tetapi sebelum itu Om Rico harus menghubungi papa mu dulu untuk meminta ijin. Ok." Ucap Rico.
"Beneran nih Om." Tanya Rafi.
"Benar dong, tapi sebelum itu Om ganti baju sekalian mau menghubungi papa mu." Ucap Rico sambil melihat Ranty.
__ADS_1
"Makasih ya mas." Ucap Ranty.
***********
Di halaman belakang rumah Lesti, Ranty duduk memandang Rafi dan Rico yang sedang asyik bermain di dalam kolam renang. Lesti yang berada di sebelah Ranty pun juga ikut melihat keasyikan Rico dan Rafi bermain sambil menunggu sahabat nya untuk bercerita.
"Maaf ya aku mau merepotkan kamu lagi." Ucap Ranty.
"Memang ada apa? Kamu lagi marahan sama mas Farel?." Tanya Lesti.
"Aku juga gak tahu Les, sudah hampir sebulan ini sikap dan sifat nya berubah, tiba - tiba marah tiba - tiba baik kayak wanita yang sedang lagi dapat datang bulan saja, hal itu yang membuat ku heran dan kemarahan nya itu gak masuk akal karena hanya hal sepele saja bisa membuat dia naik darah." Ucap Ranty.
"Kamu pernah tanya kenapa dia seperti itu?." Tanya Lesti.
"Gak pernah, cuma dia pernah bilang kalau ada sedikit masalah di kantor." Jawab Ranty.
Rico yang mendengarkan pembicaraan istri dan sahabat nya itu langsung menghampiri mereka.
"Maaf Ran aku dengar apa yang kamu bicarakan tadi dengan Lesti. Aku juga merasa sedikit aneh dengan Farel akhir - akhir ini. Sebenarnya aku mau menanyakan kepada mu tapi kamu dulu yang bertanya kepada kami." Ucap Rico.
"Kami di rumah gak ada masalah mas." Ucap Ranty.
Saat akan melanjutkan ucapannya, Ranty teringat Monik.
"Apa perubahan sikap mas Farel ada hubungannya dengan Monik ya mas, seingatku setelah Monik magang di kantor Hermawan Group sikap mas Farel mulai berubah." Ucap Ranty.
"Bisa jadi itu Ran. Aku gak percaya kalau dia bisa berubah secepat itu." Ucap Lesti.
"Coba mulai besok akan aku selidiki dan meminta bagian marketing untuk mengawasinya." Ucap Rico.
"Makasih ya mas dan tolong jangan sampai mas Farel tahu dulu takutnya dia akan marah lagi." Ucap Ranty sambil tersenyum.
Rico dan Lesti menjawab dengan anggukan kepala.
Saat itu Ranty merasa lega karena bisa menceritakan apa yang membuat perasaannya tidak tenang dan akhirnya Ranty bisa sedikit mulai tersenyum.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA