Itu Kamu

Itu Kamu
SUARA DI SEBRANG


__ADS_3

Semakin kulahap bibir mungilnya semakin besar pula hasratku padanya.


Aku menginginkannya, teramat sangat.


Tapi logikaku bicara, memperingatkan untuk berhenti.


Segera kulepas pelukanku darinya, sontak hal itu membuat Ria kaget.


Aku bersyukur di tempat ini hanya diterangi cahaya bulan dan bintang sehingga Ria tak dapat melihat ekpresiku.


"Kenapa? " tanyanya padaku


"Takut aja. "


"Apa yang ditakutkan? "


"Takut aku ngga bisa ngontrol diriku sendiri, karna dari awal aku nekanin diriku buat jagain kamu. " jawabku sambil membelai rambutnya dan mencium keningnya.


Lalu Ria memelukku erat bersandar pada dada bidangku,


" Tapi aku ngga keberatan, Vi. " katanya lirih.


Ku antar Ria dengan selamat sampai rumahnya. Di sepanjang perjalan tak ada satu katapun yang terucap dari bibir kami, hanya keheningan .


Namun Ria tak langsung masuk kerumah justru ia malah berdiri tepat disampingku, memainkan spion motorku.


Menunduk, tanpa menoleh sedikitpun padaku.


Matanya hanya menatap tanah , dilain sisi aku hanya memandangi wajahnya yang tertunduk.


"Masuk, sebentar lagi tengah malam." kataku memecah keheningan diantara kami.


Ria tersenyum lalu mencondongkan wajahnya ke wajahku.


Memberi kecupan kecil pada pipiku.


"Makasih buat hari ini Vi, aku happy"katanya


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Hari- hari berlalu sangat lama sejak terakhir kali aku dan Ria bertemu. Tak terasa hampir 4 bulan ia menghilang dari duniaku.


Seakan-akan romansa kami kemarin hanyalah imajinasiku sendiri.


Ria sama sekali tak menghubungiku, puluhan panggilan dan pesanku pun diabaikannya.


Namun yang paling aneh adalah kini perasaan Irina menjadi beban untukku.


Dan rasa bersalah mencintai gadis sahabatku tak lagi mengganggu pikiranku.


Aku sungguh tak berdaya dengan perasaanku sendiri yang membayangkan Ria benar-benar akan menjauh dariku.


Disaat aku mulai berpikir Ria memiliki perasaan yang sama denganku Ria selalu menghilang?

__ADS_1


Lantas mengapa di setiap kali, setelah kami bertemu Ria menghindar dariku?


Sekarang yang dapat kulakukan hanyalah menduga-duga kesalahan apa yang kuperbuat sehingga Ria tak lagi ada dalam duniaku.


Kepingan puzzle dalam hatiku seperti hilang, meninggalkan lubang yang membuat hatiku tak lagi lengkap.


Mencintai dia serumit ini, namun aku tak bisa menghapus Ria begitu saja dari kalbuku.


Aku merasa , amat merasa kehausan, haus akan Ria, akan pelukannya lagi.


Oh Tuhan, apa yang harus ku lakukan?


"Ngerokok terus" suara Irina membawa ku kembali pada kenyataan, keluar dari kekalutanku sendiri.


Setelah kumatikan rokokku Irina menggenggam tanganku, menciumnya dan tersenyum padaku.


Lalu kami berdua terdiam dan hanya menonton Bram dan Dito yang sedang asik bermain air.


Tak lama tampak Satya menghampiri kami, Irina melepaskan genggaman tangan dariku dan pergi berenang.


Satya semakin mendekat ke arahku lalu dengan gesit mengangkat badanku dan melemparkannya ke dalam kolam renang.


Satya berbadan roti sobek dan tingginya hampir sama denganku, wajar saja dia bisa dengan gampang mengangkat pria kurus seperti ku.


Teriakanku dibalas tawaan kawan-kawanku itu.


Untuk sesaat aku bisa membuang semua keresahanku.


Seperti orang munafik memang, aku masih bisa berkawan bahkan bercanda dengan Bram.


Dari Bram aku tau bahwa kini ia dan Ria menjalin hubungan,


Hanya hal itu yang selalu menusuk hatiku, menggertakkan gigiku menahan perasaan cemburu.


Aneh.


Mengapa Ria mau berciuman denganku kalau ia pun pacaran dengan Bram?


Apa arti semua itu?


Tapi aku bisa melakukan apa?


Karna aku juga melakukan hal sama sepertinya, aku menyakiti Irina dibelakangnya dan yang terparah aku menyakiti Bram.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Aku merebahkan tubuh di ranjangku seraya menatap langit-langit kamarku, kurasa akhir-akhir ini aku menderita gangguan tidur.


Lalu kuputuskan untuk belajar, karna hanya dengan belajar aku bisa fokus untuk tidak memikirkan Ria.


Apalagi aku sudah terlalu banyak menghabiskan waktukku untuk bermain sedangkan sebentar lagi ulangan kenaikan akan dilaksanakan.


Tak terasa sudah 3 jam aku belajar, waktu pun sudah menunjukan pukul 1 dini hari.

__ADS_1


Kurapikan meja ku, menata buku pelajaranku dalam tas.


Aku menyeret malas kaki ku , menyusuri anak tangga , menuju dapur untuk mengambil segelas air mineral.


Namun samar -samar aku mendengar isakan dari kamar bunda.


Tanpa berpikir panjang aku mendekati kamar bunda.


Semakin mendekati kamarnya semakin keras pula isakan itu.


Ternyata pintu kamar bunda terbuka sedikit. Aku mengintip diam-diam , kulihat jelas sosok ayahku yang mencoba menenangkan bunda. Memeluk bunda dan bunda menangis dalam dekapan ayah.


Tanganku bergerak sendiri, membuka pintu bunda semakin lebar .


Berjalan mendekati orang tuaku.


" Bunda kenapa? " pertanyaanku membuat bunda langsung menyeka air matanya.


Mendekatiku dan memelukku, sedangkan ayah hanya diam diposisinya, menatapku teduh .


"Bunda ganggu kamu tidur ya ? maafin bunda, bunda ngga papa kok. Lanjut tidur ya nak. " katanya


Lalu Bunda menuntunku keluar membelai pipiku dan masuk lagi kekamarnya.


Terdengar bunda menutup pintu lalu menguncinya.


Aku hanya terpaku, aku merasa ada yang salah dengan orang tuaku.


Lalu aku pergi meninggalkan kamar bunda, menuju kamarku.


Kuambil ponselku tanpa pikir panjang ku tekan panggilan ke Ria.


Aku ingin mendengar suaranya yang kurasa saat ini dapat menenangkanku meski aku tidak bercerita kegundahanku padanya.


Panggilan pertama Ria tetap mengabaikanku , aku berpikir positif mungkin Ria tidur.


Tapi tak selang waktu lama untuk ku putuskan memanggilnya lagi.


Dan pada deringan ke-4 panggilan itu terjawab, terdengar suara di sebrang.


"Hallo"


suara yang berat, seperti suara pria yang sudah matang.


Spontan ku akhiri panggilanku.


Lalu beberapa menit seperti orang linglung.


Ku ulangi memanggilnya dan kudengar lagi suara yang sama.


Jelas itu bukan suara Bram dan terlalu muda untuk suara ayah Ria.


Lalu siapa lelaki itu?

__ADS_1


\#BERSAMBUNG\#


__ADS_2