
Purwokerto tahun 2008 awal kisah pertama ku dengannya.
Berawal dari tempat terang , bersama ,hingga kami terlalu dalam terperosok ke dalam kegelapan.
Sangat dalam hingga menelan kami berdua, jauh dan tak terlihat lagi.
Mungkinkan saat itu dia rasakan yang sama?
Kadang aku berpikir, apakah saat bersamaku dunia terasa berwarna orange peach atau kah abu-abu?
Kesalahanku membiarkannya memegang semua alur kisah kami...
* * * * * * * * * * * * * * * * * *
"Makasih ya Vi, malah jadinya kamu bayarin aku. Lain kali aku yang bayarin ya, biar adil." ucap Ria padaku.
Memang, aku bukan laki-laki rumahan yang nggak pernah jalan sama cewek, aku hanya tak suka repot tapi bukan bearti aku tidak main-main dengan mereka. Hiburan masa puber sebutku.
Tapi makan bersama Ria terasa ada yang beda, Ria tidak caper dan menempel padaku seperti cewek-cewek yang berkencan denganku.
Tunggu, ralat, kurasa ini bukan kencan.
Karna ternyata Ria tidak menggodaku sama sekali, lalu apa maksudnya dengan ajakan makan ini?
" Ri, mau jalan-jalan sebentar lagi? Aku bawa motor, nanti biar aku yang antar kamu pulang, ngirit ongkos taxy. " Ria tersenyum dan menarik tanganku,
"Let's go! " serunya.
Kami berkeliling Sriratu, bukan seperti Mall di ibu kota. Tapi bagi kota kami yang kecil ini Sriratu termasuk supermarket yang lumayan asik untuk mejeng.
Bersama Ria hari itu terasa menyenangkan, malas rasanya untuk mengajaknya menyudahi hari.
"Aku cape ngomong sendiri terus" protesnya sambil berjalan di depanku.
"Emang dari dulu kamu sebawel ini ya? "
kuacak-acak rambutnya dan terlihat bibir tipisnya yang sedikit manyun.
"Aku bawel soalnya bingung, kamu cuma ngangguk, geleng sama iya-iya tok. " protesnya.
__ADS_1
"Hahaha maunya aku gimana deh? "
Tiba-tiba Ria berbalik dan otomatis menabrak tubuh jangkungku.
"Aduh" , lirik terdengar, di dongakannya wajahnya, menatap wajahku.
Dari posisi ini aku bisa menatap wajahnya jelas.
Cantik, bulu mata lentik, Mata bulat kecil, hidung mungil dan bibir nya yang kecil tapi penuh.
Dan baru kusadari Ria memiliki kulit yang putih , sangat putih sampai bisa kulihat sedikit urat di merah dipipinya.
"Vi sini bisikin" ,Ku dekatkan telingaku, tercium aroma sampo dan deru nafasnya ditelingaku .
Rasa menggelitik didadaku yang nyaris memecahkan konsentrasiku.
"Vi pindah aja yuk, aku mau merokok. "
Kaget, dan kutatap Ria.
"Kamu merokok? "
* * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kutatap caranya menghisap rokok itu, meniupkan asap rokok, menikmati setiap nikotin yang masuk ke paru-parunya.
Di taman ini, duduk berdua , segelas kopi pun berdua.
Sepi. Hanya ada pasangan yang saling merayu, mungkin hanya kami yang bukan pasangan disini.
"Kaget ya liat cewek ngeroko? "
"Engga, biasa aja. Itu hak perseorangan. Toh aku pun iya ngerokok, asal ngga main nakal aja" jawabku .
Ria tersenyum,
"Ngga tau kenapa kayaknya kamu bisa ngertiin" katanya lagi.
"Ngertiin apa? "
"Aku hahahaha. "
__ADS_1
Obrolon kecil ,candaan garingnya yang entah kenapa bisa menimbulkan senyumku dan membuatku terlarut dalam suara Ria .
Semakin ingin tau cewek seperti apakah Ria. Keramahannya membuatku nyaman bicara , menghilangkan kecanggungan diantara kami.
Tapi aneh , di setiap ujung senyum Ria aku bisa melihat kesepian dimatanya, kekosongan dimatanya.
Apa yang sebenarnya yang Ria pikirkan?
Apa maksud dari ajakan makan ini?
Dan apakah hanya aku yang terlalu percaya diri mengira Ria sedikit menyukaiku?
"Kamu keren Vi, daridulu kamu keren. "
katanya tiba-tiba.
"Baru sadar hhaha, Ri kenapa kamu ajak aku jalan? "
Ditatapnya aku lekat-lekat.
Lagi-lagi tersenyum "Pengen aja, emang kudu ada alasan gitu ajak kamu jalan? "
"Ngga si. aku takut kamu baper jalan sama aku hahaha"
jawabku sedikit menggoda.
Tawa Ria pecah, dibuangnya rokok ditangannya, lalu di sentuhnya wajahku lembut dan di dekatkan matanya tepat di depanku.
"Iya, aku emang baper. Udah baper, terus gimana? "
Benarkah Ria menggodaku?
Kenapa karakter Ria berubah-ubah dan membuatku penasaran seperti ini?
Apa yang harus aku lakukan?
**BERSAMBUNG**
__ADS_1