Itu Kamu

Itu Kamu
LIAR


__ADS_3

Mendekati maghrib, dikala sore menjelang malam.


Rasa rinduku berkolaborasi dengan akalku.


"Atas nama Ria ya mas, bawa notanya? "


Kusodorkan nota itu dan mengambil cucian bersih dari mbak-mbak di depanku.


Untung saja aku yang mengantar loundry baju Ria saat ia menginap dirumahku minggu lalu.


Dan bersyukur menunda mengambil loundry dari kemarin.


Benar, ini adalah alasanku menemuinya.


Akan jadi pertemuan yang terkesan alami kan?


Ku giring motorku hingga sampai di tujuan utamaku.


Sebelum turun aku berkaca pada spion untuk memastikan tampangku natural, bersiul kecil membayangkan akan bertemu bidadariku.


Kini di depanku sudah tampak rumah munggil tanpa gerbang yang terlihat seperti rumah tak berpenghuni, banyak rumput ilalang dan temboknya tak terawat.


Kucepatkan langkahku mendekati pintunya dan saat hendak kuketuk, aku dikagetkan dengan Ria yang malah membuka pintunya dan bersandar di pintu .


Jarak kami hanya satu langkah dan satu katapun tak ada yang keluar dari mulut kami berdua, beberapa kali kucuri pandang pada Ria yang tetap diam terpaku.


Kusodorkan kantong plastik padanya lalu dengan wajah bingung ia mengambil kantong itu. mengecek isinya dan tersenyum.


"Oooh baju aku, akunya malah lupa. Makasih ya "


senyum termanis yang aku lihat hari ini.


Tapi betapa bodohnya! Aku hanya mengangguk dan melambaikan tanganku padanya, berjalan menjauh darinya menuju motorku.


Hati ingin tinggal tapi polah kikuk ku merusak semua itu, mau tak mau kurogoh saku jaketku mencari kunci motor.

__ADS_1


Hingga terasa jaketku sedikit tertarik dari belakang, Ternyata Ria sudah dibelakangku , di sudut mataku tampak Ria menunduk , mendekatkan kepalanya ke punggungku, menyandarkan disana.


" Mau masuk minum kopi? Aku sendirian. " ajaknya.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Ternyata dalam rumah Ria cukup rapi, tak banyak perabotan memang tapi penataannya membuat mata nyaman.


"Siapa yang bersihin rumah? Rapi amat" tanyaku asal


"Aku lah, aku sering sendirian, bingung jadi bersih-bersih doang kerjaannya " sautnya


"Nah makanmu gimana ? "


"Makan ya aku masak lah, daripada makan diluar kan boros, sayang uangnya."


Waaah istri idaman, pikirku, jawaban itu semakin membuatku mengagumi Ria.


Sampai aku tak peduli lagi dengan Bram, mau Ria pacarnya kek atau bukan aku sudah bodo amat.


"Kok kamu bisa tau kalau ada yang datang? Main buka pintu aja tanpa ada yang ngedor ? Kalau misal yang datang bukan aku tapi stalker gimana? Asal bukain pintu gitu? " tanyaku


Obrolan kecil yang kurindukan, suara tawa kami yang pecah bersamaan. Ingin kuhentikan waktu saat ini juga hanya untuk semakin lama menikmati momen.


Ria selalu cantik dimataku, dengan kaos kebesaran dan celana pendek yang ia kenakan kini pun dia cantik.


Saat rambutnya tergerai berantakan dan wajah tanpa polesan pun dia cantik.


Saat dia tertawa, bicara, malu, bahkan muka cemberutnya saat ku ejek , semua ekspresinya cantik dimataku.


Aku menginginkannya, teramat sangat.


"Kemarin itu cewek kamu ya yang di depan kedai eskrim itu? " ada nada penasaran dalam kalimatnya


"Nah si Bram pacarmu? " tanyaku balik

__ADS_1


"Ah kamu aku tanya malah tanya" katanya


Ria mencoba memukulku, alih-alih menahan pukulannya aku justru menahan tangannya dalam genggamanku.


Kusesapkan jariku diantara jari-jarinya.


Lalu membawa punggung tangannya pada bibirku, mendaratkan kecupan kecil disana.


Rona merah terlihat jelas diwajah Ria tapi dia membiarkan tangannya tetap dalam genggamanku.


Ku dekatkan tubuhku pada tubuhnya, menariknya semakin dekat. Tapi Ria justru mendorongku, lalu memposisikan wajahnya tepat di depan wajahku. Tangan dan lututnya menahan sendiri bobot badannya, berada tepat di atasku yang terlentang di sofa.


Ria tersenyum nakal, menyentuh wajahku pelan dengan jarinya yang Indah.


Perlahan Ria mendekatkan badannya, direbahkanmya kepalanya tepat didadaku.


Kuyakin dia bisa mendengar degup jantungku yang tak karuan.


Cukup lama Ria diam disitu sampai kembali ke posisi awal dimana mata kami beradu, Ria menulis garis lurus dengan telunjuknya dari dahi sampai dadaku,


Berkali-kali sampai telunjuk itu terhenti di bibirku.


Ditempelkan telunjuk lentik itu disana lalu mendekatkan bibirnya dan mengecup jarinya sendiri yang berada diantara bibir kami.


Tak ada kata atau gerakan dariku, hanya diam mematung dan memperhatikan semua tingkahnya.


Ria menatapku dengan posisi yang sangat dekat denganku..


Menggodaku untuk menariknya lebih jauh lagi dalam pelukku.


Dan saat tanganku menyentuh pinggang nya, Ria tersentak.


Dia tertawa kecil, memelukku, dan berbisik


"Pulanglah, waktu semakin malam. Aku ngantuk dan harus tidur. "

__ADS_1


Lalu dia berdiri, menjauh dariku menuju pintu dan mempersilahkanku pulang..


**BERSAMBUNG**


__ADS_2