
Pagi itu Farel yang sudah terlihat segar karena baru saja selesai mandi sedang membantu Ranty di kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Walau Ranty tidak meminta Farel untuk membantunya karena Ranty merasa sudah kuat dan bisa melakukannya sendiri tetapi Farel tetap memaksa untuk membantunya. Karena tidak mau berdebat Ranty pun memilih untuk menuruti kemauan suaminya.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Ranty pun juga terlihat tampak lebih segar dan sudah dapat melakukan aktifitasnya seperti berjalan dan ke kamar mandi sendiri.
Tepat pukul delapan pagi dokter Diana pun masuk ke dalam kamar Ranty untuk memeriksa keadaannya.
"Assalamualaikum, pagi dokter Ranty, pagi pak Farel." Ucap dokter Diana.
"Waalaikumsalam." Ucap Ranty dan Farel membalas salam dokter Diana.
"Pagi juga dok." Ucap Ranty.
"Gimana keadaan mu sekarang dokter Ranty?." Tanya dokter Diana.
"Alhamdulillah sudah baikkan, walau terkadang masih terasa nyeri di bagian ini." Jawab Ranty sambil mengelus perut bagian bawah.
"Jelas saja kan habis di kuret pasti akan terasa sakit di bagian itu nanti juga akan sembuh yang sabar ya." Jawab dokter Diana.
"Apa aku bisa mengandung lagi dok,? karena saat dokter menjelaskan kepada mas Farel tentang kondisi ku, aku bisa mendengarkan kalau ada masalah dengan kandungan ku setelah aku terjatuh kemarin." Ucap Ranty pelan.
"Masih bisa kok dok, tenang saja. Untuk saat ini Dok Ranty harus pulih dulu. Setelah itu saya akan menjelaskan semua tentang kondisi dokter Ranty saat ini. Tetapi dokter harus bisa sabar ya." Jawab dokter Diana.
"Baik dok." Ucap Ranty.
"Ok. semua baik." Ucap dokter Diana setelah melihat hasil tekanan darah yang di lakukan oleh suster.
"Dokter Ranty bisa pulang dua hari lagi, tetapi sebelum dokter pulang temui aku dulu ya, aku akan menjelaskan tentang kondisi dokter Ranty, saya juga akan memberikan resep obat yang harus dokter minum dan nanti obatnya akan disiapkan oleh perawat saat mengantarkan sarapan atau makanan." Ucap dokter Diana.
"Baik dok, terima kasih." Jawab Ranty.
"Terima kasih banyak." Jawab Farel juga.
"Kalau gitu saya permisi dulu, masih ada pasien yang harus saya periksa, besok saya akan datang lagi. Assalamualaikum." Ucap dokter Diana.
"Waalaikumsalam." Ucap Farel dan Ranty bersamaan.
Setelah dokter Diana pergi dan menemani Ranty sarapan, Farel meminta ijin kepada Ranty untuk pergi ke kantin untuk membeli makanan untuk sarapannya.
"Sayang, aku ke kantin dulu ya, untuk membeli sarapan." Ucap Farel.
"Gak usah ke kantin ibu bawakan kalian makanan." Ucap ibu Dewi yang baru saja datang bersama pak Purnama.
"Ibu ini nyelonong masuk saja, salam dulu. Assalamualaikum." Ucap pak Purnama.
"Maaf ibu sudak gak sabar lihat keadaan Ranty yah. Assalamualaikum." Ucap ibu Dewi.
"Waalaikumsalam." Jawab Farel dan Ranty bersamaan.
__ADS_1
"Gimana keadaan mu nak?." Tanya pak Purnama.
"Alhamdulillah baik yah." Ucap Ranty.
"Yang sabar ya." Ucap pak Purnama sambil mendekati Ranty yang berada di tempat tidur.
Ranty menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan pak Purnama. Lalu mencium tangan mereka saat mendekati Ranty yang sedang berada di tempat tidur.
"Kalian sudah makan?." Tanya ibu Dewi sambil menyiapkan makanan di atas meja
"Kalau Ranty baru saja selesai sarapan bu ini tadi saya mau ke kantin membeli sarapan." Jawab Farel yang ikut membantu ibu Dewi mengambil air mineral dan menaruhnya di atas meja.
"Kalau gitu kita sarapan sama-sama yuk, kamu ikut sarapan lagi Ran?." Tanya ibu Dewi.
"Sudah bu, Ranty sudah kenyang kalau buah itu Ranty mau." Jawab Ranty sambil menunjuk buah jeruk di atas meja.
"Banyak sekali makanan yang ibu bawa, memang ibu sama ayah mau piknik di sini?." Tanya Ranty tersenyum melihat meja yang penuh makanan.
"Kami memang belum sarapan juga, sengaja mau makan di sini bersama kalian." Jawab ibu Dewi sambil menyiapkan makanan.
"Astaghfirullah." Ucap Ranty sambil geleng-geleng kepala.
"Sudah gak usah kamu pikirkan ibu mu, ayah saja juga gak habis pikir dengan yang ibu mu lakukan, sampai-sampai ayah gak diperbolehkan makan tadi pagi di rumah." Ucap pak Purnama.
"Sudah deh yah gak usah mulai lagi. Ayo kita makan." Perintah ibu Dewi.
Mereka pun sarapan bersama kecuali Ranty yang baru saja selesai sarapan dia hanya menikmati buah jeruk sambil melihat Ayah, ibu dan suaminya membuat perasaan Ranty menjadi tenang, setelah kejadian yang membuat Ranty sedih karena kehilangan anaknya yang masih berada di dalam perutnya. Walau perasaan sedih masih ada tetapi Ranty berusaha tersenyum.
"Kamu gak apa kan sayang? cerita ke ibu yang ada di dalam sini." Ucap ibu Dewi sambil menunjuk dada Ranty.
"Ibu tahu kamu tersenyum tetapi perasaan mu sedih."
"Ibu." Panggil Ranty dengan suara parau.
"Padahal Ranty sudah berusaha tegar agar kalian gak khawatir kepada Ranty. Tapi....." Ucap Ranty terhenti lalu menangis.
"Yang sabar, anak ibu kuat." Ucap ibu Dewi.
"Terus apa kata dokter Diana?." Tanya Ibu Dewi.
"Dokter Diana belum menjelaskan spesifiknya tentang kepada ku, sepertinya mas Farel tahu, tetapi dia belum mau memberitahu ku mungkin dia takut kalau aku sedih kalau aku tahu." Jawab Ranty.
"Bisa jadi Farel menunggu mu sembuh dulu baru dia akan memberitahu mu." Jawab Ibu Dewi.
"Mungkin juga bu." Ucap Ranty.
Di saat itu pintu kamar Ranty di ketuk membuat yang di dalam kamar sedikit terkejut, Farel pun langsung berjalan kearah pintu lalu membukanya dan dilihatnya di depan pintu Lesti dengan wajah sedih sambil membawa sebuah paper bag. Tanpa mengucapkan salam Lesti langsung masuk memberikan paper bag itu kepada Farel lalu berjalan menghampiri Ranty yang berada di tempat tidur.
__ADS_1
"Ranty." Ucap Lesti dan langsung memeluk Ranty.
"Aduh, hati-hati." Ucap Ranty khawatir kepada Lesti karena sedang hamil.
"Ya mbok kalau datang itu salam dulu." Ucap ibu Dewi yang berada di sebelah Ranty.
"Maaf Tante, om, Mas Farel. Assalamualaikum." Ucap Lesti.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka semua.
"Ke sini sama siapa?." Tanya Farel sambil menaruh paper bag yang di bawa Lesti di atas meja.
"Sendiri." Jawab Lesti singkat.
"Apa!." Ucap Farel dan Ranty terkejut.
"Kemana Rico? kenapa gak mengantarkan mu. Awas saja kalau dia ke sini, bisa-bisanya membiarkan kamu ke sini sendiri." Ucap Farel.
"Kerja lah mas, kalau dia gak kerja bisa-bisa bosnya akan marah dan memotong gajinya lagi, terus gimana nasib aku dan anak ku." Ucap Lesti sambil pura-pura menangis.
"Sudah kalian berdua gak usah mulai dramanya lagi." Ucap Ranty.
"Iya iya jahat amat sih. Tante, om gimana kabar?." Ucap Lesti langsung mencium tangan ibu Dewi dan pak Purnama.
"Alhamdulillah, kami berdua baik-baik saja. Kamu sendiri gimana keadaannya?." Tanya Ibu Dewi yang melihat perut Lesti yang semakin membesar.
"Alhamdulillah baik Tante." Ucap Lesti sambil ngos-ngosan.
"Mas tolong ambilkan kursi buat bumil." Pinta Ranty.
"Makasih mas."
"Gimana keadaan mu? Maaf kemarin malam aku baru tahu tentang hal ini dan mas Rico melarang ku untuk menjenguk mu kemarin malam." Tanya Lesti.
"Alhamdulillah, baik-baik saja. Bisa kamu lihat sendiri kan keadaan ku sekarang." Jawab Ranty.
"Yang sabar ya Ran, mas." Ucap Lesti.
"Iya makasih, doain biar cepat nyusul lagi seperti kamu." Ucap Farel.
"Amin." Jawab Lesti, Ranty dan ibu Dewi.
"Beneran kamu ke sini sendiri?." Tanya Ranty yang masih penasaran.
"Iya Ran aku sendiri ke sini nya tapi tenang saja aku sudah minta ijin Mas Rico dan diantar oleh supir." Jawab Lesti yang tidak mau membuat sahabatnya khawatir.
Mereka pun saling bercerita banyak hal, Lesti sengaja tidak mau membahas masalah yang menimpa Ranty dan Farel saat itu dan lebih memilih bercanda agar Ranty bisa melupakan apa yang terjadi. Waktu pun tiba untuk Lesti berpamitan. Ibu Dewi dan pak Purnama memutuskan untuk pulang setelah melihat kondisi anaknya yang sudah membaik.
__ADS_1
TERIMA KASIH
TUNGGU KELANJUTANNYA