
Ranty meninggalkan Farel yang sedang makan menuju ke kamar Edi. Ranty mengetuk pintu kamarnya beberapa tetapi tidak ada tanggapan dari Edi atau Rafi akhirnya Ranty memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar. Ranty tersenyum melihat Rafi dan Edi yang sedang tertidur mungkin karena kecapean bermain. Ranty pun tidak membangunkan mereka, dia langsung berjalan kembali ke ruang makan lagi untuk memberitahukan kepada Farel kalau Rafi sedang tidur.
"Lho mana Rafi?." Tanya Farel yang baru saja selesai mencuci piring.
"Rafi tidur pak mungkin kecapean bermain dengan Edi." Jawab Ranty.
"Kenapa pak Farel mencuci piring dan membersihkan meja makannya, nanti biar aku saja yang membersihkan nya." Ucap Ranty merasa tidak enak melihat Farel mencuci piring.
"Gak apa ini juga pekerjaan ku kalau ada di rumah." Ucap Farel.
"Terima kasih pak." Ucap Ranty.
"Sama-sama untuk makanannya juga."
Ranty menganggukkan kepalanya.
"Rafi tidur ya, kamu bisa bantu aku membawakan tas dan sepatu Rafi biar aku yang menggendong Rafi." Ucap Farel.
"Bisa pak, biar saya bantu." Jawab Ranty.
Mereka berdua berjalan menuju kamar Edi, Ranty dan Farel masuk kedalaman kamar, dengan pelan Farel menggendong Rafi dan keluar dari kamar Edi. Ranty membantu Farel membawakan tas dan sepatu Rafi. Mereka keluar apartemen Ranty dan menuju ke apartemen milik Farel yang berada tepat di sebelah apartemen milik Ranty.
Ranty meletakkan tas dan sepatu milik Rafi di lantai. "Biar Rafi saya gendong pak, jadi pak Farel bisa membuka pintunya." Ucap Ranty.
__ADS_1
"Gak usah kamu saja yang membuka Rafi berat, lagian posisi menggendongku sudah nyaman buat dia takut nanti dia bangun dan nangis." Ucap Farel.
"Oh. Kalau gitu biar aku bantu membukukan pintunya. Maaf pak berapa pin pintunya kalau boleh tahu?." Tanya Ranty.
"Pin nya 181014." Jawab Farel tanpa ragu.
Ranty langsung menekan tombol pin pada pintu apartemen setelah pintu terbuka Farel dengan cepat masuk kedalaman dan membawa Rafi menuju kamarnya. Farel pun keluar setelah membawa Rafi ke dalam kamarnya, di lihatnya Ranty yang masih berdiri di depan pintu.
"Kenapa gak masuk." Ucap Farel yang berada tepat di belakang Ranty.
"Astagfirullah. Pak Farel ini mengagetkan saja." Ucap Ranty sambil memegang dadanya.
"Lagian ngapain kamu gak masuk cuma berdiri saja di depan pintu. Ayo masuk." Ucap Farel yang mempersiapkan masuk.
"Waalaikumsalam." Ucap Farel.
Ranty meletakkan tas dan sepatu milik Rafi lalu melihat sekeliling apartemen milik Farel tidak jauh beda dengan miliknya cuma milik Farel jauh lebih besar dari miliknya, di dalam ruang tamu terdapat sebuah foto berukuran cukup besar yang tampak gambar Farel beserta keluarganya yang masih lengkap.
"Apa ini foto istrimu?." Tanya Ranty sambil menatap foto tersebut.
"Iya itu istri ku Natasya Anastasya." Ucap Farel.
"Apa Rafi punya saudara selain Yoga anak bu Ayana?." Tanya Ranty yang melihat dua bayi yang di gendong oleh Farel.
__ADS_1
"Iya, itu kembaran Rafi. Mereka berdua adalah salah satu korban kecelakaan lima tahun yang lalu." Ucap Farel sedih.
Ranty merasa bersalah karena sudah menanyakan sesuatu hal yang membuat Farel sedih. "Maaf pak sudah dua kali aku membuat pak Farel sedih." Ucap Ranty.
"Gak masalah kok."
"Oh iya sampai lupa menawarkan minum, mau minum apa Ran panas atau dingin?." Tanya Farel.
"Gak usah pak makasih banyak, saya pamit pulang dulu sudah mau magrib. Em... Kalau besok pak Farel dan Rafi gak ada acara, ibu mengundang pak Farel dan Rafi main ke rumah ibu mengadakan syukur kecil - kecilan karena Edi di terima di universitas negeri di Surabaya." Ucap Ranty.
"Besok?."
"Iya besok, ya kalau bapak bisa datang."
"Iya pasti, besok aku akan datang dengan Rafi."
"Ya sudah untuk jam nya nanti saya kabari, kalau gitu saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum." Ucap Ranty.
"Waalaikumsalam."
Farel pun mengantar Ranty keluar apartemen nya. Setelah Ranty pulang Farel merasa senang karena mendapat undangan dari Ranty.
TERIMA KASIH
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA